Let's Stop It

1049 Kata
Sejak hari dimana Arfan mengungkapkan perasaannya kepada semua teman di kelas dalam permainan TOD beberapa waktu yang lalu, sejak saat itu juga aku mulai membiasakan diri mencoba untuk bersikap biasa kepada Arfan. Bahkan aku bertekad akan melupakan perasaan semuku terhadap laki-laki itu. Perasaan ini aku sebut semu karena memang dilarang dalam agama islam. Tidak seharusnya kita lebih mencintai hamba-Nya daripada Sang Pemilik cinta itu sendiri, yakni Allah Subhanahu wa Ta’ala. Terlebih, jika mengingat bahwa Arfan yang memang bukanlah siapa-siapaku, jadi tidak sepantasnya aku mencintai atau memiliki perasaan lebih padanya tanpa adanya ikatan yang halal. Aku sadar bahwa perasaanku terhadap Arfan itu bukan suatu hal yang salah, namun jika aku lebih mencintai Arfan dan cenderung terus memikirkannya daripada Allaah, maka inilah yang salah. Tapi, kini aku akan lebih berusaha lagi untuk menata hatiku agar dapat mencintai Allaah dengan benar. “Fa, kamu kenapa? Kok, kelihatannya murung?” tanya akak Joshua, melihatku terus terdiam sembari melamun. Saat ini setelah pulang sekolah, aku sedang ada kegiatan latihan untuk persiapan lomba cerdas cermat islam. Jadi, aku berkumpul dengan teman dan Kakak kelas dari Rohis di lantai dua, tepatnya dekat dengan masjid sekolah untuk belajar bersama. Aku menoleh ke arah Kak Joshua. “Aku baik-baik aja, Kak.” Jawabku, menutup diri. “Kamu yakin?” Tanya Kak Joshua, menatapku penuh selidik. “Ya ampun Jo, kamu ini kenapa, sih? Perasaan, ya, kalau aku lihat kamu ini terlalu perhatian sama Haneefa. Padahal, 'kan, dia gak apa-apa.” Seloroh Kak Syifa, menimpali. Mendengar itu, Kak Joshua pun melirik Kak Syifa sejenak, merasa jengah. “Cerewet banget kamu, Syifa!” Decak Kak Joshua, sebal. Kak Syifa pun mendelik mendengar itu sembari menatap Kak Joshua sama sebalnya. “Fa, kalau Joshua suka sama kamu, gimana?” tanya Kak Baim kepadaku, tanpa berpikir terlebih dahulu. Mendapat pertanyaan seperti itu yang menurutku sudah keluar dari zona aman, aku pun mulai gelagapan dan salah tingkah. “Mm ... apa, sih, Kak. Gak gitu, kok.” kilahku. Kak Joshua kontan tersenyum melihatku yang tiba-tiba bersemu malu karena ucapan Kak Baim. “Aku ini tampan loh, Fa.” Goda Kak Joshua, membuatku diam-diam merasa geli. Aku pun melihat sekilas ke arah kak Joshua. “Udah, Kak. Lanjut lagi, ini gimana materi untuk cerdas cermatnya?” tanyaku, mengalihkan pembicaraan karena tidak ingin membahas apapun yang berkaitan dengan perasaan. Seolah mengerti, akhirnya Kak Joshua pun terkekeh kecil dan kembali berusaha fokus pada tujuan. “Ya udah, sini. Kakak beritahu, ya.” Saat itu juga Kak Joshua mulai kembali fokus pada materi cerdas cermat. Sedangkan aku yang melihatnya seperti itu, akhirnya aku bisa bernafas lega. Bagaimanapun caranya, aku harus tetap menjaga jarak dengan laki-laki manapun yang bukan mahrom-ku. Termasuk Arfan atau Kak Joshua sekalipun. ...... Setelah jam ujian mata pelajaran olahraga berakhir, kini aku yang berada kembali di dalam kelas, aku sedang duduk di bangkuku sembari sibuk mengipas-ngipas diriku sendiri menggunakan buku tulis. Saat itu aku merasa kegerahan akibat telah melakukan latihan senam lantai untuk ujian praktek akhir semester dalam mata pelajaran olahraga nanti. Suasana kelas juga sedang santai kala itu. Ada yang pergi ke kantin untuk membeli makanan, ada yang pergi ke kamar mandi dan ada juga yang memilih untuk beristirahat dengan hanya berada di dalam kelas saja sama seperti yang kini sedang aku lakukan. Sementara Muthia, setelah usai melakukan latihan senam lantai tadi, ia langsung memilih pergi ke kantin bersama Lina dan Desy. Sampai akhirnya, jadilah hanya aku saja seorang diri di mejaku, tanpa Muthia yang menemani dengan duduk di sampingku seperti biasanya. Aku sendiri, aku memang tidak berniat untuk pergi ke kantin karena aku sudah membawa bekal makan dan minum dari rumah, terlebih saat itu aku sedang menghemat uang jajanku, jadi aku ingin sedikit mengurangi pengeluaran uang saku jajan jika dirasa tidak terlalu dibutuhkan. “Muthia kemana, sih? Katanya sebentar pergi ke kantinnya, tapi, kok, ini lama, ya?” Gumamku seraya masih mengipas-ngipas diriku sendiri menggunakan buku tulis, menanti kedatangan Muthia kembali ke kelas. Pada saat aku masih sibuk mengipas-ngipas diriku menggunakan buku tulis, entah mengapa saat itu aku juga merasa seperti ada seseorang yang sedang memperhatikanku. Sembari mengurangi tempo gerakan mengipas diriku sendiri menggunakan buku tulis, aku mulai menoleh ke arah kiri dan kananku untuk memastikan apa yang aku rasakan itu benar atau hanya perasaanku saja. Tidak ada. Aku tidak menemukan siapapun yang menurut perasaanku seperti ada yang sedang memperhatikanku sejak tadi. Namun walaupun sudah memastikannya, entah mengapa aku masih tetap merasa seperti ada yang sedang memperhatikanku. Perasaan apa ini? Akhirnya untuk membuat diriku tenang, aku pun memutuskan untuk menoleh ke arah belakang yang dimana di belakangku itu adalah tempat duduk Arfan. Lalu, betapa terkejutnya aku saat menoleh ke arah belakang, ternyata Arfan yang sejak tadi sudah membuat diriku merasa gelisah tidak jelas karena merasa seperti ada yang sedang memperhatikanku. Ya, bertepatan saat aku menoleh ke arah belakangku, aku mendapati Arfan yang duduk di bangkunya sedang menatap lekat ke arahku yang duduk di depannya. Saat itu dapat aku tebak bahwa Arfan sudah lama melakukan itu tanpa aku sadari, sebab saat aku langsung menoleh ke arah belakang, disaat itu juga ekspresi wajah Arfan nampak terkejut dan langsung ia alihkan pandangannya ke arah lain. Melihat hal tersebut, aku yang merasa malu, langsung saja aku terdiam cengo sembari masih menoleh ke arah Arfan. Dengan ekspresi wajah yang sulit untuk diartikan, saat itu baik aku maupun Arfan, kami malah sama-sama terdiam. Padahal normalnya, jika aku menoleh ke arah Arfan tadi, seharusnya Arfan meresponnya dengan bertanya “ada apa?” atau yang semacamnya untuk sekedar basa-basi karena melihatku yang tiba-tiba menoleh ke arahnya. Tapi lihatlah, saat melihatku yang menoleh ke arahnya secara tiba-tiba, reaksi Arfan malah sebaliknya, yakni membuang pandangannya dariku seolah Arfan sedang menutup rasa malunya karena sudah ketahuan sejak tadi memperhatikanku dalam diam dari belakang. Menyadari bahwa aku malah terus terdiam sembari masih menatap ke arah Arfan, aku pun dengan segera membalikan tubuhku kembali ke arah depan. Dengan detak jantung yang berdebar cepat, aku tak henti-hentinya beristighfar. Selain karena merasa malu, saat itu aku juga merasa aneh. Apakah benar jika tadi Arfan memperhatikanku dalam diam dari belakang? Jika iya, untuk apa dan mengapa? Jika tidak, lantas mengapa Arfan membuang pandangannya dariku saat aku menoleh ke arahnya? Astaghfirullaah. Jangan terlalu percaya diri, Haneefa! Ingatlah bahwa selama ini Arfan itu menyukai Ghasanni, bukan dirimu!! Let's stop it! Bagaikan Dandelion 10.04.21 Sfrdssyh
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN