Sesuai kesepakatan aku, Muthia, dan Arfan sebelumnya, kami pun akan pergi ke Museum bersama dalam menyelesaikan tugas kelompok sejarah milikku dan Arfan. Aku sangat senang dengan ide cemerlang dari Muthia yang menyelesaikan kegelisahanku pagi itu, bahkan dengan baik hati ia tidak keberatan sama sekali untuk ikut pergi bersamaku dan Arfan ke Museum. Tentu saja, Arfan yang juga saat itu tidak mempermasalahkan hal tersebut, ia pun hanya bisa mengikuti. Arfan juga memang sangat baik dan aku semakin menyukainya karena itu. Eh.
Tepat setelah jam pulang sekolah, aku, Muthia, dan Arfan pun pergi ke Museum yang sudah kami rencanakan. Dengan menggunakan angkutan umum, saat itu aku semakin merasa senang. Selain karena ditemani oleh Muthia, aku juga merasa senang karena tanpa bisa aku bohongi di dalam hatiku, aku juga senang bisa sedekat ini dengan Arfan meskipun sebenarnya aku masih malu untuk berdekatan dengannya.
"Ini kita mesti jalan kaki lagi, ya?"
Setelah turun dari angkutan umum, Muthia mengatakan bahwa untuk sampai ke Museum yang dituju harus berjalan kaki lagi karena memang tempat pemberhentian angkutan umum itu tidak sampai tepat melewati Museumnya, melainkan hanya jalan searah saja. Sedangkan aku dan Arfan yang memang tidak tahu jalan, akhirnya kami berdua hanya bisa mengikuti apapun arahan Muthia yang lebih tahu. Hingga jadilah saat ini kami bertiga jalan kaki bersama untuk sampai benar-benar di Museum.
"Iya," Muthia menjawab pertanyaan Arfan.
"Masih jauh ya, Mut?" Tanyaku kepada Muthia dengan nada lirih yang entah itu dapat di dengar oleh Arfan atau tidak mengingat dia masih berjalan di belakangku dan Muthia.
"Lumayan, sih. Kamu capek ya, Fa?" Tanya Muthia menolehku meskipun keadaannya saat itu kami bertiga masih berjalan kaki.
"Hm," gumamku dengan hembusan nafas lelah.
"Mau beli minum dulu?" Terdengar suara Arfan dari belakang yang bertanya entah pada siapa.
"Boleh, kayaknya ini Haneefa kecapean, deh." Jawab Muthia yang langsung membuatku menatapnya.
Setelah Muthia berkata begitu, kami pun berhenti sejenak dari aktivitas jalan kaki tadi.
"Eh nggak kok, apaan sih Mut," aku menepuk pelan lengan Muthia. "Aku nggak papa, kok," ulangku, berusaha menutupi dan meyakinkan meskipun nyatanya aku memang merasa sangat lelah.
Saat itu entah mengapa aku merasa malu untuk berkata jujur jika aku memang sudah merasa lelah. Asal tahu saja, aku tidak biasa jalan kaki sejauh ini, rasanya saat itu pandangan mataku mulai mengabur alias berkunang-kunang. Mungkin hal itu terjadi karena aku belum terbiasa berjalan kaki dengan jarak yang cukup jauh.
"Tapi kamu keliatan capek, Haneefa," ujar Arfan, kontan membuatku malu.
Dalam hati aku bertanya. Apakah sejak tadi Arfan memperhatikanku? Ah, tidak mungkin. Terlalu percaya diri sekali aku ini.
"Nggak ko, aku.. cuma sedikit capeknya." Kataku, sedikit ragu dan terkesan berkilah.
"Ya udah kalau gitu kita beli minum, kita istirahat dulu," putus Arfan yang diangguki oleh Muthia, sedangkan aku hanya mengikuti saja.
Saat itu kami mampir ke satu warung di pinggir jalan untuk membeli air mineral dan istirahat sejenak di sana seraya meminum air mineral tersebut. Selama istirahat itu, aku diam-diam memperhatikan Arfan yang juga terlihat kelelahan. Ketika aku meniti memperhatikan wajahnya, tanpa sadar aku mengakui bahwa yang dikatakan oleh teman perempuan satu kelasku ada benarnya, Arfan memang tampan, dan menurutku tampan versinya berbeda dengan yang lain. Ah, aku sulit mendeskripsikannya, yang jelas aku iri pada Arfan yang tampan sedangkan aku biasa-biasa saja.
Hingga, ketika Arfan menoleh ke arahku, segera aku palingkan wajahku ke arah lain agar ia tidak menyadari bahwa sejak tadi aku diam-diam sedang memperhatikannya. Dalam hati aku bergumam, yaa Allaah mengapa rasanya aku semakin takut berdekatan dengan Arfan. Rasa malu, gugup, dan tidak percaya diri menjadi satu kesatuan jika aku terus berdekatan dengan Arfan. Apakah ini bentuk balasan bagiku karena sebelumnya aku sudah berbohong kepada Raihan dan Muthia mengenai perasaanku? Hingga dampaknya aku menjadi benar-benar memiliki perasaan terhadap Arfan.
Hah, aku sedih memikirkannya.
"Fa, kamu gak papa, 'kan?" Tanya Muthia tiba-tiba, membuatku tersadar dari lamunanku.
Kontan aku pun menolehnya. "Ah ya, a-aku.. gak papa, kok." Jawabku, sedikit terbata.
Lagi, aku melihat ke arah Arfan yang ternyata saat ini ia sedang menatapku dengan tatapan yang entah apa artinya itu, yang jelas aku menjadi malu sendiri karena hal tersebut.
"Masih capek?" Tanya Arfan terdengar lembut kepadaku.
"Nggak, udah baikkan, kok." Jawabku tanpa berani menatap Arfan yang sudah berdiri menjulang tinggi di depanku.
"Ya udah, kalau gitu ayo kita lanjut jalan kaki lagi. Sebentar lagi sampai kok di Museumnya," ajak Muthia antusias sebelum akhirnya menarik tanganku untuk ikut berjalan bersamanya lebih duhulu yang disusul kemudian oleh Arfan.
..........
"Wahhh, Museumnya bagus banget." Muthia berdecak kagum ketika aku dan dia sudah berada di dalam Museum. Kini kami sedang menunggu Arfan yang masih berada di tempat penitipan barang.
Aku ikut tersenyum seraya melihat kerangka Dinosaurus yang besar yang saat itu berada tepat di hadapanku dan Muthia. "Iya ya kamu benar, ini bagus banget." Kataku, menanggapi.
"Barang kita udah aku titipkan ke penitipan barang."
Mendengar suara seseorang yang tiba-tiba itu, aku dan Muthia seketika menoleh ke arahnya yang kini sudah berdiri di hadapan kami berdua dan ternyata itu Arfan.
"Aku cuma bawa hp, pulpen dan buku tulis buat nyatet apa aja yang harus dicatet di dalam Museum ini nanti." Arfan kembali memberitahu.
Memang dalam tugas sejarah kali ini kelompokku diperintahkan oleh Guru pergi Museum dan mencatat apa saja yang berada di dalamnya untuk dibuat beberapa dokumentasi sebagai bukti tanpa melanggar aturan Museum yang nanti setelah itu aku beserta anggota kelompokku akan membuat laporan makalah dan power point-nya untuk dipresentasikan di kelas.
"Ya udah, ayo kita jelajah Museum ini!" Ajak Muthia dengan semangat.
Tanpa menunggu lagi, aku dan Arfan pun ikut berjalan mengikuti Muthia yang sudah berjalan lebih duhulu dari kami. Entahlah, teman satu bangkuku itu memang lucu. Padahal ini bukanlah tugasnya, tapi mengapa malah ia yang terlihat lebih bersemangat, ya?
Selama di dalam Museum, Arfan yang saat itu membawa ponsel, ia pun mulai terlihat sibuk memotret apapun yang bisa ia foto untuk dijadikan dokumentasi dalam laporan makalah tugas kelompok kami nanti. Sementara aku yang membawa buku catatannya, aku hanya bisa mencatat apapun yang bisa aku catat untuk laporan tugas tersebut.
"Wawww keren!!" Pekik Muthia dari arah belakangku.
Aku pun segera menghampiri Muthia karena penasaran dengan apa yang baru saja ia lihat sampai bisa kembali berdecak kagum seperti itu.
"Ada apa?" Tanyaku saat sudah berdiri di samping Muthia dengan tak lupa di belakang kami berdua saat itu terdapat Arfan yang sedang melihat-lihat bagian Museum lainnya.
Muthia tersenyum menolehku. "Kamu lihat! Ini adalah koin uang kuno. Keren banget!!" Katanya.
Mendengar itu aku pun langsung melihat ke sebuah lemari kaca yang berada di depanku yang memang terdapat beberapa macam uang kuno di sana.
"Bagus, 'kan?"
Aku kembali menoleh Muthia. "Iya, bagus," jawabku, seadanya.
"Apa yang lagi kalian lihat?" Tanya Arfan yang tiba-tiba berdiri tepat di sampingku.
Jangan ditanya bagaimana perasaanku ketika Arfan yang tiba-tiba berdiri tepat di sampingku. Karena jika saja kalian tahu, aku kembali dibuat gugup dan malu saat itu.
"Kita lagi lihat uang kuno, Fan," jawab Muthia, membuat Arfan menoleh ke lemari kaca yang terdapat beberapa uang kuno di sana.
"Aku suka banget berkunjung ke Museum kayak gini," seloroh Muthia, membuatku diam-diam tersenyum.
"Baiklah, ayo sekarang kita ke tempat yang terdapat sejarah tentang manusia purba," kata Arfan.
"Ayo!" Ajak Muthia dengan semangat seraya menarik tanganku untuk segera meluncur ke tempat yang Arfan maksud.
Selama di dalam Museum, terkadang aku selalu gagal fokus karena kehadiran Arfan saat itu. Memang ini semua karena berawal dari kebohonganku kepada Raihan dan Muthia, sampai akhirnya aku benar-benar termakan oleh kebohonganku sendiri. Aku menjadi semakin yakin, bahwa aku memang benar-benar telah menyukai Arfan saat ini. Semua itu terbukti dengan melihat kehadirannya jika sedang berada dekat denganku, aku selalu merasa benar-benar dibuat gugup dan malu dalam waktu bersamaan.
"Haneefa," panggil Arfan padaku yang membuatku menolehnya.
"Ya?" Sahutku, spontan.
"Kita tulis ini," kata Arfan se.bari menunjuk sebuah lemari kaca yang terdapat beberapa tengkorak kepala manusia purba.
"Kamu tulis semua nama jenis tengkorak yang ada di lemari kaca ini dan aku yang akan mendikte kamu," kata Arfan, lagi.
Mendengar itu, aku pun mengangguk dan mulai berjalan beberapa langkah untuk mendekat ke arah Arfan. Dengan terus berusaha mengendalikan perasaanku, aku mulai menyiapkan alat tulis untuk menulis apa saja yang akan Arfan diktekan kepadaku.
- Bagaikan Dandelion -