Arfan mulai mendiktekan apa yang ia baca agar aku tulis. Awalnya cara Arfan mendikte cukup terkesan santai, namun entah mengapa lama-kelamaan cara mendiktenya mulai terasa cepat bagiku yang sedang menulis. Karena itu, aku pun mulai merasa sedikit kesal padanya, tapi kekesalan itu masih mampu untuk aku tahan.
"Tengkorak homo sapiens, manusia pintar," ucap Arfan ketika sedang mendikte.
"Volume otak dan bentuk rahang,"
"Bentuk hidungnya juga tulis."
Karena mulai semakin merasa geram dan tidak tahan dengan ucapan Arfan yang tidak bisa pelan dan santai seperti di awal, aku yang sejak tadi sedang sibuk menulis apa yang ia ucapkan pun akhirnya merasa kewalahan dan mengeluarkan protesanku padanya.
"Arfan cukup! Biar aku aja yang baca sendiri. Kamu terlalu cepat mendiktenya," kataku, agak sewot.
Mendengar itu Arfan pun tersenyum malu seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Maaf."
Aku tak berniat menjawab perkataannya, aku lebih memilih untuk kembali menulis dan mulai membaca sendiri untuk apa saja yang harus aku tulis setelah tadi sempat terhenti dan tentu saat itu sudah tanpa Arfan lagi yang mendikteku seperti tadi.
"Biar giliran aku aja yang nulis," ucap Arfan, terdengar merasa tidak enak.
"Nggak usah, biar aku aja." Tolakku sedikit ketus, tanpa menatapnya yang masih berdiri tepat di sampingku.
"Ternyata selain pemalu, kamu bisa ketus juga ya," kata Arfan tiba-tiba yang kini terdengar seperti menggodaku.
Mendengar itu, aku pun langsung terhenti dari aktivitas menulisku dan entah bagaimana saat itu juga aku mulai merasakan lagi letupan jantungku yang meletup-letup kencang.
"Fa," bisik Arfan walaupun tak sepenuhnya berbisik ketika melihatku bergeming.
"Ya," sahutku cepat meskipun terdengar sedikit kaku karena tiba-tiba kembali merasa gugup. Saat itu aku juga masih enggan untuk menoleh ke arah Arfan yang masih setia berdiri di sampingku.
"Aku pikir kamu tidur," ucap Arfan dengan kekehan kecil seraya berjalan ke arah lain meninggalkanku yang masih terdiam gugup.
Tepat setelah Arfan benar-benar telah pergi dari hadapanku saat itu, aku langsung saja menyentuh dadaku yang masih terus berdetak kencang karenanya. Entah mengapa, sekarang aku mulai merasa tidak yakin jika ke depannya aku mampu untuk bertahan berada di dekat Arfan.
..........
"Tugas kelompok kita udah selesai, kita cuma tinggal membuat laporannya." Kata Arfan padaku.
Setelah lama berkeliling Museum sambil mencatat apa yang bisa aku catat untuk menyelesaikan tugas, akhirnya tiba saatnya untuk pulang. Saat itu jam masih menunjukkan pukul 16.25 WIB, tidak terlalu sore juga jika aku harus pulang pada jam itu. Tapi harapanku untuk segera pulang dan berpisah dengan Arfan harus pupus karena sebuah ajakkan dari Muthia yang masih ingin berlama-lama di dalam Museum, bahkan kini Muthia malah mengajakku berfoto di depan bola dunia yang cukup besar dan ia meminta tolong kepada Arfan agar memfotokan kami berdua di dekat sana.
Tentu saja awalnya aku menolak keras ajakkan Muthia, jangankan berpose untuk foto di depan Arfan, tersenyum padanya saja rasanya aku merasa sangat malu. Tapi apa daya, Muthia sahabatku ini memang pemaksa, akhirnya dengan sedikit kesal namun ditahan, aku pun menuruti permintaan Muthia dan berfoto bersamanya di depan bola dunia yang cukup besar dengan Arfan sebagai fotographernya.
Cekrek..
Terlihat Arfan tersenyum puas setelah melihat hasil jepretannya. "Bagus," Arfan memberikan jempolnya kepada Muthia setelah melihat hasil jepretannya.
"Foto sekali lagi, Arfan!" Pinta Muthia lagi entah sudah keberapa kalinya dan aku hanya bisa pasrah dan berpose dengan enggan bersamanya.
"Oke." Arfan kembali memenuhi permintaan Muthia.
Dan ..
Cekrek.
Lagi, Arfan tersenyum setelah melihat hasil jepretannya. "Bagus, cuma kayaknya Haneefa malas tersenyum ya," kata Arfan yang kini di akhiri dengan kekehan. Entah itu untuk mengejek atau menggodaku, yang jelas karena itu aku semakin merasa malu dan kesal.
"Iya nih, Haneefa emang pemalu banget, deh. Jangan maluan kenapa sih, Fa." Muthia menimpali sembari menatapku gemas.
Aku mendelik menoleh Muthia. "Apa sih, Mut!" Kataku membalas, namun malah membuat Muthia tersenyum seraya menunjukkan dua jarinya membentuk huruf V.
Arfan terkekeh. "Ya udah, gak papa. Habis ini kita mau kemana lagi?"
Saat itu Muthia yang masih ingin melihat-lihat seisi gedung Museum, ia pun kembali mengajak aku dan Arfan untuk berkunjung ke lantai dua yang terdapat beberapa penjelasan mengenai bencana alam.
"Karena aku masih mau di sini, gimana kalau kita ke lantai dua aja?" Tawar Muthia, antusias.
"Ya sudah, ayo kita ke lantai dua." Arfan kembali menyetujui permintaan Muthia dengan mudah.
"Eh tunggu, tapi 'kan kalau kita masih di Museum ini, nanti kita pulangnya jadi kesorean." Kataku sedikit memprotes dan membuat Muthia cemberut.
"Ayolah, Fa! Nggak akan lama kok, aku janji." Kata Muthia, memohon padaku.
"Tapi nanti kita bisa pulang kesorean, Mut." Kataku, mengingatkan.
Arfan pun menghela nafas sembari menatapku yang berdiri di hadapannya. Mungkin ia merasa pusing dengan adu mulutku dan Muthia saat ini.
"Kita lihat ke lantai dua aja dan nggak akan lama. Aku juga bakal nungguin kalian kok." Putus Arfan.
Bukan masalah sebenarnya bagiku jika Muthia masih ingin berlama-lama di Museum, namun yang membuatku merasa ini adalah sebuah masalah tatkala aku masih harus berlama-lama dekat dengan sosok laki-laki yang mulai aku sukai. Belum lagi, setelah kejadian dimana Arfan menggodaku tadi ketika sedang mengerjakan tugas, entah mengapa saat itu juga aku mulai merasa tidak akan sanggup lagi jika berlama-lama dekat dengannya. Jantungku selalu saja terus berolahraga cepat jika dekat dengan Arfan, bahkan aku tidak bisa menahan rasa getar pada tubuhku akibat terlalu gugup karenanya.
Setelah berpikir panjang demi menjaga perasaan Muthia, akhirnya aku memilih mengalah dan membiarkan diriku terus berada dalam kegelisahan karena masih harus berlama-lama berada dekat dengan Arfan.
"Ya udah, ayo kita ke lantai dua." Kataku dengan seulas senyum dan terkesan pasrah.
Mendengar itu, Muthia pun bersorak senang. "Yeayyy!! Terima kasih, Haneefa." Ucapnya yang hanya aku jawab dengan anggukan kepala.
Setelah itu aku, Muthia, dan Arfan langsung pergi ke lantai dua yang berada di Museum untuk melihat-lihat ada apa saja di sana yang terdapat penjelasan mengenai bencana alam. Ketika sudah sampai di lantai dua, Muthia tidak henti-hentinya tersenyum senang seraya terus memegang tanganku untuk tetap berada di sampingnya. Sementara itu, dalam diam aku memperhatikan Arfan yang dilihat sepertinya laki-laki itu juga menikmati apa-apa yang berada di lantai dua Museum.
"Kita masuk ke dalam yuk!" Ajak Muthia padaku untuk masuk ke dalam ruangan yang terdapat penjelasan lebih detail mengenai beberapa bencana alam.
"Ayo," jawabku, menurut saja.
"Kalian aja yang masuk ke dalam ya, aku tunggu di luar." Kata Arfan yang membuatku dan Muthia menolehnya heran.
"Kenapa nggak ikut masuk aja sih, Arfan?" Tanya Muthia terdengar gemas.
Arfan tersenyum. "Nggak, aku tunggu aja di kursi yang ada di luar. Aku mau istirahat di sini." Jawab Arfan, kontan membuatku merasa tidak enak.
Inilah salah satu alasanku juga mengapa aku sempat menolak permintaan Muthia yang ingin ke lantai dua. Sejak selesai mengerjakan tugas, aku melihat gurat lelah di wajah Arfan. Aku tidak enak padanya jika harus terus berlama-lama di dalam Museum sedangkan ia sudah merasa lelah.
Setelah mendengar ucapan Arfan, tanpa berpikir panjang Muthia pun tersenyum. "Ya udah, kamu tunggu aja di luar. Aku sama Haneefa mau masuk ke dalam dulu, kita nggak akan lama, kok." Kata Muthia sebelum menarik tanganku untuk ikut masuk ke dalam sebuah ruangan bencana alam dengan meninggalkan Arfan sendirian di luar.
Selama di dalam ruangan yang menjelaskan mengenai beberapa macam bencana alam itu, aku kerap kali dibuat terdiam. Berbeda sekali dengan Muthia yang begitu senang dan terus penasaran. Jika saja kalian tahu, saat berada di dalam ruangan itu berulang kali aku menghela nafas meskipun sesekali menikmatinya juga. Entahlah, saat itu pikiranku tidak keruan dan malah melayang pada Arfan yang sedang menunggu di luar. Sungguh, rasanya aku ingin segera pulang dari Museum karena aku merasa tidak enak harus membuat Arfan menunggu seperti itu.
- Bagaikan Dandelion -