Museum [3]

1341 Kata
"Fa, kamu kenapa sih dari tadi diam aja?" Tanya Muthia, menolehku. "Nggak kok, aku nggak papa." Jawabku, seadanya. "Kayaknya kamu pengen pulang, ya?" Tanya Muthia, menatapku penuh selidik. Aku menghela nafas. "Mut, aku tuh cuma ngerasa nggak enak aja gitu loh karena harus bikin Arfan jadi nungguin kita di luar." Jawabku, akhirnya jujur. Mendengar itu, Muthia malah menatapku jahil. "Kamu mengkhwatirkan Arfan?" Godanya, kontan membuatku mendesah. "Bukan, bukan gitu." Elakku. Muthia semakin menatapku jahil. "Terus apa? Kamu kelihatannya kayak khawatir banget tahu sama Arfan," "Aku nggak khawatir, aku cuma ngerasa nggak enak aja kalau harus bikin dia jadi nungguin kita kayak gitu, Mut. Belum lagi aku tadi lihat kayaknya Arfan itu capek." "Ya ampun Haneefa, itu berarti kamu emang benar-benar mengkhawatirkan Arfan." Gemas Muthia padaku, kentara sekali dari nada bicaranya. "Bukan," elakku lagi dengan kukuh. Sebenarnya aku juga tidak tahu apakah aku bisa dikatakan benar-benar mengkhawatirkan Arfan atau tidak, yang jelas aku hanya merasa tidak enak pada laki-laki itu yang harus menungguku dan Muthia. Muthia tersenyum. "Baiklah, ayo kita pulang. Sepertinya kamu emang benar-benar mengkhawatirkan Arfan." Tepat setelah Muthia berkata begitu, ia pun langsung menarik tanganku untuk segera keluar ruangan dan menghampiri Arfan yang sedang duduk di sebuah kursi yang berada di depan ruangan. Melihat kedatanganku dan Muthia, Arfan yang sejak tadi sedang sibuk memainkan ponselnya, atensinya pun langsung beralih padaku dan Muthia. "Loh, kenapa kalian udah keluar lagi? Kok cepet banget? Apa kalian udah selesai lihat-lihat apa yang ada di dalam ruangan sana?" Tanya Arfan, heran. Sembari masih menggandeng tanganku, Muthia tersenyum menjawab pertanyaan Arfan. "Sebenarnya belum selesai, cuma kayaknya Haneefa lagi mengkhawatirkan sesuatu." Jawab Muthia ambigu sehingga sulit untuk dicerna oleh Arfan, namun itu mampu membuatku paham apa maksud dari jawabannya. Karena itu, aku pun menatap Muthia gemas "Kamu mengkhawatirkan apa, Haneefa?" Tanya Arfan tiba-tiba padaku, kontan membuatku gelagapan. "Apa? Aku? Mm, aku ... ya khawatir," jawabku tidak jelas. Aku melirik Muthia sejenak yang saat ini malah sedang tersenyum jahil karena berhasil membuatku terjebak dalam pertanyaan Arfan. Kembali, aku melihat ke arah Arfan yang masih menatapku bingung. "Mm, aku ... aku cuma mengkhawatirkan ... waktu." Jawabku lagi dengan terbata, membuat Arfan bergeming. Karena melihat Arfan yang malah bergeming, sembari berdehem aku pun memperjelas jawabanku. "Aku khawatir kita pulang terlalu sore," .......... "Mut, kamu ada uang kecil, nggak?" Tanyaku kepada Muthia. Saat ini waktu yang aku tunggu akhirnya tiba, yakni pulang. Setelah banyak drama di dalam Museum tadi, akhirnya aku, Arfan, dan Muthia pulang. Namun tepat setelah keluar dari gedung Museum untuk pulang, aku tidak menemukan uang kecil di dalam dompetku. Uangku pecahannya besar, sedangkan untuk pulang naik angkutan umum harus menggunakan uang pecahannya kecil. "Gak ada uang kecil, ya?" Tebak Muthia, seolah paham gelagatku. Tanpa ragu, aku mengangguk. "Iya, aku uangnya besar, nih. Gimana dong?" "Ya tukerinlah, apa susahnya." Jawab Muthia dengan enteng. Mendengar jawaban Muthia, aku pun bergeming. "Ayo pulang!" Ajak Arfan yang baru kembali bergabung bersamaku dan Muthia setelah tadi ia ada urusan sebentar dengan penjaga tiket. "Tunggu dulu," cegahku dengan ragu, membuat Arfan menolehku. "Kenapa?" Tanya Arfan, bingung. Aku mulai menipiskan bibir. "Mm, uang aku besar, harus ditukerin dulu kalau mau pulang naik angkot nanti," lirihku, menjawab. "Oh, ya udah. Itu di depan ada tukang jualan, coba tukerin ke sana aja uangnya," saran Arfan dengan nada sehalus mungkin padaku. "Nah, iya. Saran Arfan boleh juga," Muthia menyetujui. Akhirnya meski ragu, aku pun mengangguk dan mulai berjalan bersama Arfan dan Muthia menuju gerobak tukang jualan gorengan yanng berada di depan pintu gerbang Museum. Setelah sampai di depan gerobak, aku, Arfan, dan Muthia tidak mendapati tukang gorengan pemilik gerobak tersebut. Akhirnya aku bertanya kepada tukang jualan lain dan ternyata tukang gorengan sedang pergi sebentar. Aku yang saat itu tiba-tiba ingin membeli gorengan, akhirnya memutuskan untuk menunggu saja kedatangan tukang gorengan tersebut. Muthia dan Arfan juga menyetujuinya. Hingga, saat dimana tukang gorengannya sudah kembali, aku langsung membeli jualannya dan menawarkan gorengan yang akan aku beli untuk Muthia juga Arfan. Muthia dengan senang menerima tawaranku, sedangkan Arfan dengan halus menolak. Meski menolak, tidak urung aku tetap membelikan gorengan untuknya. Selesai masalah menukarkan uang, kini aku, Arfan, dan Muthia sudah berada di dalam angkutan umum untuk pulang. Gorengan milik Muthia yang tadi aku beli sudah aku berikan padanya, tinggal gorengan milik Arfan yang belum aku berikan padanya. Dengan melawan rasa malu dan gugupku, aku memberanikan diri menawarkan gorengan yang tadi aku beli kepada Arfan. Bukan tanpa sebab aku melakukan itu, aku hanya merasa tidak enak, masa iya aku dan Muthia makan, tapi Arfan tidak. "Mm, Arfan ... ini gorengan buat kamu." Kataku seraya memberikan plastik gorenganku kepada Arfan. Untung saja keadaan di dalam angkutan umum itu sepi, hanya ada aku, Muthia, dan Arfan saja di kursi penumpang belakang. "Di dalam plastik ada dua gorengan yang belum di makan, ambil aja kalau kamu mau," ujarku kepada Arfan. Mendapat perlakuan itu dariku, Arfan menatapku untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia tersenyum tipis kepadaku. Jangan ditanya bagaimana keadaan hatiku saat itu, tentu saja aku rasanya ingin tenggelam saja. Aku merasa malu, sangat malu. Tapi keadaan yang memaksaku untuk bersikap seperti itu di hadapan Arfan. Akhirnya, Arfan pun menerima plastik gorengan milikku dan mengambil satu jenis gorengan untuk ia makan. "Baiklah, aku mau satu. Makasih ya, Haneefa," kata Arfan dengan lembut kepadaku. Tanpa menjawab dengan suara, aku hanya mengangguk dan langsung aku palingkan wajahku ke arah Muthia yang duduk di sisi kananku yang kini sedang tersenyum geli menatapku. Aku tahu, Muthia pasti menganggapku gadis aneh karena terlalu malu dengan Arfan. Tapi sungguh, inilah aku dan aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apalagi. Beberapa menit berlalu, Muthia mengatakan padaku bahwa ia akan turun dari angkutan umum lebih duhulu karena rumah neneknya sebentar lagi sampai. Tentu saja aku panik mendengar itu, jika Muthia pergi lebih duhulu, itu artinya nanti hanya tinggal aku dan Arfan saja yang berada di tempat duduk penumpang angkutan umum. Parahnya, belum ada penumpang lagi selain aku, Muthia, dan Arfan sampai saat ini. Sungguh, aku ingin menangis saat itu juga jika tidak ingat dengan rasa malu. "Kiri," kata Muthia memberhentikan mobil angkutan umum tersebut, sebelum akhirnya ia menoleh padaku. "Haneefa, rumah nenekku udah sampai, aku duluan turun ya." Pamit Muthia mengulum senyumnya menatapku yang sedang dilanda cemas, aku yakin Muthia mengerti diriku saat itu, namun ia tidak peduli dan malah senang karena itu. Muthia beralih menoleh ke arah Arfan yang juga sedang menatapnya. "Arfan, aku duluan ya," Arfan tersenyum. "Iya, Mut. Makasih sebelumnya," balas Arfan ramah. Muthia tersenyum mendengar itu sebelum akhirnya ia benar-benar turun dari mobil angkutan umum menyisakan aku dan Arfan yang masih berdua di dalamnya. "Rumah kamu dimana, Haneefa?" Tanya Arfan tiba-tiba, kontan membuatku terkejut. Sekitar lima menit berlalu setelah kepergian Muthia dan mobil angkutan umum kembali melaju, saat itu di kursi penumpang belakang hanya ada aku dan Arfan saja yang duduk berhadapan berdua. Dengan memberanikan diri, aku pun menjawab pertanyaan Arfan. "Dekat daerah sekolah, di jalan permata indah," jawabku lirih, tanpa berniat bertanya balik kepada Arfan karena aku merasa sangat malu dan tidak berani. Mendengar jawabanku Arfan hanya mengangguk dan setelahnya kami isi perjalanan dengan saling diam. Hingga, mobil angkutan umum mulai mendapatkan lagi penumpang dan kini keadaannya tidak lagi hanya aku dan Arfan saja di dalam kursi belakang. Tentu saja, aku bersyukur kepada Allaah karena itu. Sampai tiba waktu dimana aku harus turun karena mobil angkutan umum sudah dekat dengan jalan alamat rumahku, aku pun segera berpamitan kepada Arfan dan aku juga sedikit tidak menyangka jika ternyata aku yang akan turun lebih duhulu daripada Arfan. "Mm, Arfan. Aku pamit pulang duluan ya, rumah aku sebentar lagi sampai," lirihku kepada Arfan yang masih duduk berhadapan denganku sebelum aku benar-benar memberhentikan mobilnya kepada supir angkutan umum tersebut untuk turun. Arfan menolehku. "Oh iya, hati-hati di jalannya ya," balas Arfan dengan lembut seraya tersenyum hangat kepadaku. Aku mengangguk. "Iya, kamu juga hati-hati," ujarku tak kalah lembut dan percaya atau tidak, kalimat itu aku ucapkan secara tidak sadar karena setelah aku benar-benar turun dari mobil angkutan umum tersebut, aku langsung dibuat malu sendiri setelah sadar apa yang baru saja aku katakan tadi kepada Arfan. Iya, kamu juga hati-hati. Arrrrggghhhh! - Bagaikan Dandelion -
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN