"Gimana tadi kelasnya?"
Aku yang sedang menilapi mukena, kontan menoleh ke arah di sampingku untuk menatap seseorang yang baru saja mengajakku bicara. Istirahat pertama di sekolah ini memang sudah menjadi waktu bagiku untuk menyempatkan diri melakukan sholat sunnah dhuha meskipun tidak sering. Sejak aku memutuskan untuk berubah, aku memang menjadi mulai rajin mengamalkan amalan sunnah meskipun futur terkadang masih saja terkadang menghampiriku.
"Ya gitu, sedikit ngantuk," jawabku sembari kembali menilapi mukena yang sempat tadi terhenti.
Nazla menganggukkan kepalanya paham, mengerti maksud jawabanku walaupun terkesan ambigu.
Ya, seseorang yang baru saja mengajakku bicara tadi adalah Nazla, sahabatku.
Setelah memutuskan untuk hijrah, selain dekat dengan Muthia, aku juga lebih sering dekat Nazla yang tak lain adalah sahabat satu jurusanku di IPS meskipun kami berbeda kelas. Nazla adalah anak dari jurusan IPS yang letak kelasnya bersebelahan dengan letak kelasku. Selain sahabat satu jurusan, Nazla juga merupakan sahabat satu ekstrakurikuler denganku, yakni Rohis.
Setelah memutuskan berhijrah, aku juga memutuskan untuk memilih kegiatan eskrakulikuler Rohis di sekolahku. Bahkan aku cenderung lebih mudah bergaul dengan orang-orang yang menurutku sama denganku sedang berproses hijrah daripada dengan orang yang bertolak belakang denganku. Bukan maksudku dengan memilih-milih teman yang sama denganku karena aku termasuk orang yang sulit untuk bergaul, hanya saja aku teringat akan suatu hadist dari Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam, bahwa agama seseorang itu tergantung lingkungan pergaulannya.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Seseorang itu akan mengikuti agama teman dekatnya. Oleh karena itu hendaknya kalian perhatikan siapakah yang kalian jadikan sebagai teman dekatnya" (HR Abu Daud no 4833, dinilai hasan oleh al Albani).
Karenanya tidaklah salah jika orang Arab memiliki pepatah,
الصاحب ساحب
"Sahabat itu menyeret".
Artinya lingkungan yang baik akan menyeret orang untuk menjadi baik. Sebaliknya lingkungan yang buruk akan menyeret orang untuk menjadi buruk.
Aku lebih memilih berteman dekat dengan orang-orang yang sejalan denganku karena aku ingin menjaga kualitas keistiqomahan diriku yang ingin berhijrah. Kalaupun tidak sejalan, aku tetap selalu bersikap baik kepada semua temanku, walaupun sedikit membuat jarak agar tidak mudah terbawa arus pergaulan yang bebas.
"Lyana dimana?" tanyaku, setelah selesai menilapi mukena dan menaruhnya kembali di lemari masjid khusus mukena akhwat. Setelah itu aku kembali mengambil tempat duduk untuk duduk di sebelah Nazla saat ini.
"Masih di kelas, kayaknya sih dia lagi sibuk jualan," Nazla menjawab dengan pandangan mata yang tertuju pada layar ponselnya yang sedang ia mainkan. Nazla dan Lyana memang satu kelas.
"Lyana menjual kripik lagi?" Tanyaku, lagi.
"Iya, kamu tahu 'kan Lyana kayak apa. Dia selalu jualan kripik yang dia bawa dari rumah." Jawab Nazla, menghentikan aktivitas memainkan ponsel dan beralih menatapku.
Mendengar itu aku pun hanya mengangguk paham.
"Eh, Muthia dimana? Dia gak ikut sholat dhuha juga?" tanya Nazla kemudian seraya matanya mencari-cari keberadaan Muthia.
"Muthia lagi di kelas, dia lagi halangan jadi gak ikut ke masjid," jawabku.
"Oh, gitu. Ohiya tugas kelompok sejarah yang dikasih sama Pak Budi, apa udah kamu ngerjain atau belum? Kamu kebagian tugas yang mana?" tanya Nazla beralih topik.
Mendapat pertanyaan seperti itu, kontan aku menggigit bibir dalamku sembari mataku yang melirik ke arah lain. "Udah, tinggal dipresentasikan. Aku kebagian tugas yang datang ke Museum."
Saat itu juga aku tiba-tiba menjadi teringat dengan kejadian beberapa hari yang lalu ketika aku pergi ke Museum bersama Arfan dan Muthia. Mengingat hal itu tanpa Nazla sadari, bibirku melengkung ke bawah. Sungguh, sejak dari Museum itu tidak henti-hentinya aku selalu dibuat gelisah jika sedang berada di dalam kelasku. Aku merasa perasaanku pada Arfan semakin sulit untuk dikendalikan, karena pada kenyataannya rasa itu malah semakin tumbuh di dalam hatiku terhadapnya.
Sejak aku mengenal Muthia dan memutuskan untuk hijrah, aku menjadi sedikit tahu mengenai bagaimana seharusnya sikap kita bila menyukai lawan jenis dan aku tahu bahwa perasaanku terhadap Arfan saat ini belum benar, sebab dalam islam mencintai seseorang yang belum halal untuk kita, maka itu tidak diperkenankan. Inilah yang membuatku gelisah, bagaimana aku bisa hijrah bila ujian cinta yang tidak halal sedang melandaku. Aku tidak ingin rencana hijrahku menjadi gagal hanya karena sebuah perasaan semu yang berawal dari kebohonganku sendiri.
"Wah enak dong kalau tinggal dipresentasikan, kompak juga kelompok kamu sampai ngerjainnya cepat kayak gitu," Nazla menatapku dengan tatapan yang sulit untukku artikan.
Nazla tidak tahu makna kelompokku yang katanya kompak itu, mengingat yang mengerjakan tugas tersebut hanya diriku dan Arfan saja, sedangkan anggota lainnya tidak peduli. Itupun disertai Muthia yang notabennya bukan termasuk anggota kelompok kami, tapi Muthia yang malah ikut andil pergi ke Museum waktu itu, walaupun tugasnya hanya menemani.
"Iya, alhamdulillaah," alih-alih mencurahkan isi hatiku, aku malah berkata demikian untuk menanggapi perkataan Nazla.
Aku tidak mau bercerita kepada Nazla perihal naasnya anggota kelompokku yang bersikap tidak peduli. Aku lebih memilih mensyukuri apapun yang sudah terjadi. Yang penting tugas itu sudah selesai dikerjakan.
"Ke Museumnya sama siapa kamu waktu itu?" tanya Nazla, membuatku terkesiap setelah lama terdiam.
"Apa Naz?" karena terkesiap, aku seolah belum siap dengan pertanyaan yang baru saja Nazla tanyakan padaku, sehingga aku tidak bisa mendengar jelas pertanyaannya itu.
"Kamu ke Museumnya waktu itu sama siapa?" Nazla kembali mengulang pertanyaannya dengan sabar.
"Ohh, itu. Aku pergi sama Arfan dan Muthia."
"Arfan?"
Aku mengangguk. "Iya, Arfan."
"Anak yang sering dapat peringkat kedua di kelas kamu itu, ya? Yang suka dekat dengan Lia?" tanya Nazla, beruntun.
Aku mengercitkan keningku setelah mendengar itu. "Kamu tahu Arfan?"
Nazla mendengus. "Ya, iyalah aku tahu. Bukankah Arfan itu terkenal pintar di IPS, sama kayak Lia yang sering dapat peringkat ke satu di kelasnya? Kamu 'kan satu kelas sama mereka berdua, emang kamu gak tahu seberapa hebohnya mereka sering digosipin sama anak IPS dari kelas lain?" Seloroh Nazla memberitahu, kontan membuatku terdiam. Ah tidak, lebih tepatnya mencerna ucapannya.
Satu hal yang baru aku sadari saat itu juga, ternyata Arfan bukanlah orang biasa. Ternyata dia cukup dikenal oleh banyak orang di sekolah. Yah ... setidaknya dia cukup familier namanya.
"Aku gak terlalu memperhatikan itu," alih-alih menjawab benar, aku malah terlihat seolah tidak tertarik dengan apa yang baru saja Nazla katakan padaku tentang Arfan dan Lia.
"Pantas aja tugas kamu cepat dikerjakannya, ternyata ada anak pintar di dalam kelompok kamu," gumam Nazla yang masih bisa terdengar olehku.
Sejujurnya aku memang tahu betul mengenai Arfan dan Lia itu bagaimana ketika di kelas, mengingat keduanya adalah teman satu kelasku. Tapi aku juga tidak sepenuhnya berbohong. Aku memang tahu mengenai keduanya, namun untuk sampai gosip yang Nazla maksud, aku sama sekali tidak tahu-menahu. Bahkan aku memang tidak mau tahu. Untuk apa pula aku sampai harus tahu mengenai gosip keduanya seperti itu?
Aku juga menjadi sedih sendiri tatkala mengingat kejadian di Museum beberapa hari yang lalu, terlebih tentang Arfan yang memang notabennya sosok yang pintar dan banyak disukai oleh kaum hawa. Bahkan di kelasku sendiri pun aku pernah mendengar bahwa ada beberapa dari teman kelas perempuanku yang menyukai Arfan dalam diam.
Sikap Arfan menanggapi hal itu bagaimana?
Tentu, seolah tidak mau ambil pusing walaupun dirinya sudah tahu bahwa dirinya disukai oleh banyak perempuan, Arfan tetap enggan berkomentar. Laki-laki itu terkesan tidak peduli dengan hal itu. Aku sendiri sesekali mengeluh, mengapa pula diriku juga termasuk ke dalam daftar menyukai laki-laki itu dalam diam? Bukan aku menyalahkan sebuah rasa yang tiba-tiba saja tumbuh padanya tanpa permisi, hanya saja aku selalu merasa kewalahan tatkala berkontak langsung dengan Arfan saat berada di kelas. Lain halnya dengan teman kelas lainnya yang menyukai Arfan, mereka lebih cenderung suka berdekatan dengannya.
Sedangkan aku?
Jangankan berdekatan dengan Arfan, berkontak langsung hanya untuk membicarakan mengenai tugas sekolah dengannya saja, aku selalu merasa tidak nyaman. Aku lebih suka menjauh dan menjaga jarak dengan Arfan daripada berdekatan dengannya.
Benar, pada akhirnya kebohonganku kepada Raihan dan Muthia waktu itu kini benar-benar menyiksaku. Aku menjadi menyukai Arfan dan rasa itu menjadi penyebab kegelisahanku saat ini.
- Bagaikan Dandelion -
Sfrdssyh