Presentasi Tugas

1375 Kata
"Fan, tugas sejarah yang kelompok kamu udah belum?" tanya Lia, duduk di sebrang bangku Arfan dan bersebelahan dengannya pada baris yang berbeda. Aku yang sejak tadi sedang sibuk merapikan alat tulis di atas meja, kontan terhenti setelah mendengar suara Lia yang bertanya kepada Arfan di baris belakangku. "Udah," jawab Arfan, masih mampu aku dengar meskipun tidak menoleh ke arahnya. Tak lama setelah itu, Guru yang sejak tadi ditunggu akhirnya tiba di kelasku. Setelah pergantian jam kelas pada perlajaran pertama, kini ketika jam kelas kedua aku ada kelas mata pelajaran sejarah peminatan atau sejarah yang dikhususkan hanya untuk anak IPS karena kerinciannya. "Assalamu'alaikum, anak-anak." Ucap salam Pak Budi seraya berjalan memasuki kelas yang tak lain adalah Guru sejarah peminatan. "Wa'alaikumussalam," jawab semua murid di kelasku secara bersamaan. "Hah ... alhamdulillaah, akhirnya bapak sampai juga di kelas kalian." Kata Pak Budi, setelah duduk di bangku khusus Guru yang berada di kelasku. Saat itu pak Budi nampak kelelahan, jelas sekali dari deru nafasnya yang tidak teratur. "Memangnya ada apa, Pak? Kok kelihatannya lelah," sahut Alya. "Iya, Bapak emang lelah, kelas kalian 'kan ada di lantai dua. Karena berat badan Bapak yang lumayan gemuk, jadi agak ngos-ngossan setelah naik tangga tadi," jawab Pak Budi, bermaksud jenaka. Mendengar itu, gelak tawa teman-teman di kelasku pun kontan menggema. Namun seperti biasa, di saat kondisi seperti ini aku hanya bisa mesem, tidak tertawa lepas seperti yang lainnya. "Sudah ah! Jangan tertawa," ucap Pak Budi sembari tersenyum. "Dietlah, Pak!" kata Fauzan. "Ya ya ya, sudah Bapak coba. Tapi apa daya." Kali ini tawa semua murid di dalam kelasku pun tak terelakkan lagi dan malah semakin menggema. Bahkan Muthia yang notabennya teman satu bangkuku, ia sampai memegang perutnya karena menertawakan Pak Budi yang menurutnya lucu. Padahal bagiku, lucu apanya coba? Pak Budi bisa bersikap seperti itu terhadap muridnya karena beliau termasuk salah satu Guru yang masih muda. Jadi wajar bila Pak Budi bisa seperti itu, mengingat anak didiknya adalah anak SMA, sudah pasti sikap tidak formal antara Guru dan murid itu bisa saja terjalin. "Sstt ... sudah ah! Jangan bercanda terus," Pak Budi mulai membuka map yang telah ia bawa. "Tugas dari Bapak pada minggu yang lalu sudah selesai dikerjakan, belum?" Tanya Pak Budi kemudian. Dari pertanyaan Pak Budi itu, aku dapat mendengar jawaban dari teman-temanku yang cukup beragam. Ada yang menjawab sudah, baru sebagian, lupa, dan lain-lain. Sedangkan aku sendiri saat itu malah lebih cenderung diam, tidak menjawab. Hal itu aku lakukan karena mengingat anggota kelompokku yang tidak kompak, aku menjadi merasa kesal sendiri. "Pokoknya Bapak tidak mau tahu, hari ini sesuai perjanjian, Bapak ingin kalian mempresentasikan hasil kerja kalian, selesai tidak selesai." Putus Pak Budi, sarat memerintah dan tegas. Mendengar itu, semua murid yang berada di kelas pun bergeming. Mereka lebih memilih diam dan patuh saja. "Perwakilan kelompok harap maju ke meja Bapak, kalian harus mengambil kertas giliran untuk presentasi." Akhirnya masing-masing perwakilan dari kelompok di kelasku mulai menghampiri meja Pak Budi sesuai perintahnya, sedangkan aku yang merasa kelompokku belum ada yang maju untuk menghampiri meja Pak Budi, dengan memberanikan diri aku pun membalikkan tubuhku ke arah belakang, tepatnya ke arah dimana tempat Arfan duduk. Jika kalian lupa, Arfan duduk tepat di belakang bangkuku. "Tenang, biar aku yang maju." Seolah paham dengan kegundahan hatiku, ketika aku menoleh ke arah belakang Arfan pun langsung berujar lirih padaku seraya beranjak dari duduknya, kemudian berjalan menghampiri meja Pak Budi. Melihat apa yang dilakukan oleh Arfan, tanpa sadar aku menggigit bibir bawahku seperti biasa. Saat itu aku merasa tidak enak karena apa-apa yang berhubungan dengan tugas kelompok sejarah ini selalu saja Arfan yang lebih banyak bertindak. Sedangkan anggota lain? Jangan ditanya, mereka masih saja terlihat enggan jika sesuatu yang berhubungan dengan tugas ini. Pemalas sekali, bukan? Lebih banyak Arfan yang bertindak di sini bukan berarti aku juga tidak ikut membantunya, aku ikut untuk membantu Arfan. Namun hanya sebatas apa-apa yang diperintahkan oleh lelaki itu saja. Arfan sendiri terkesan lebih kuasa dalam menentukan sesuatu dalam tugas kelompok ini. Terlebih aku yang tidak bisa banyak berbicara, apalagi terhadap Arfan, aku pun hanya bisa menurut saja apa yang laki-laki itu katakan. Setelah dari meja Pak Budi tadi, nampak semua perwakilan kelompok sudah berjalan kembali menuju bangkunya masing-masing, termasuk Arfan. "Kebagian nomor berapa Fan buat presentasinya?" suara ini bukan berasal dariku ketika Arfan sudah berdiri tepat di samping mejaku. Suara itu adalah suara Muthia yang duduk di sampingku dan kini sedang menatap Arfan penasaran. "Nomor tiga," jawab Arfan seraya menunjukan nomor yang telah ia dapatkan dari Pak Budi. Mendengar jawaban Arfan, aku masih saja enggan untuk bicara. Entahlah, saat itu aku masih lebih memilih untuk diam. Namun di dalam hatiku aku juga merasa cukup lega, setidaknya kelompokku tidak mendapat nomor satu untuk mempresentasikan hasil kerjaku dan Arfan nanti. Meskipun sebetulnya tidak semua tugas kelompok ini murni hasil kerja aku dan Arfan saja, tapi tetap saja yang banyak berusaha untuk menyelesaikan tugas ini dengan segera adalah Arfan, sedangkan aku hanya membantu semampuku. Setelah menjawab pertanyaan Muthia, Arfan kembali berjalan beberapa langkah menuju tempat duduknya yang berada tepat di belakangku. Aku sendiri sambil menetralkan perasaanku, aku terus beristighfar di dalam hati. Saat itu tanpa bisa dibohongi, aku merasa gugup lantaran nanti akan mempresentasikan tugas hasil kelompokku di depan Pak Budi dan semua teman yang berada di dalam kelasku. Walaupun aku tidak sendiri ketika presentasi nanti, melainkan ditemani oleh anggota kelompokku lainnya, tapi tetap saja aku merasa gugup. Aku ini termasuk orang yang paling belum bisa menjadi sosok yang maju dan tampil di hadapan semua orang. Mengingat diriku yang cenderung sangat pemalu dan pendiam, alasan ini sudah menjadi sesuatu yang tidak mengherankan, bukan? "Fan, waktu presentasi nanti aku minta kamu kontrol setiap slidenya aja, ya. Biar nanti aku aja yang banyak bicara untuk presentasinya." Bisik Husein kepada Arfan yang masih dapat terdengar jelas olehku, meskipun aku tidak menoleh ke belakang—tempat dimana Arfan duduk. "Iya," jawab Arfan seadanya, terkesan tidak keberatan. "Sip!" ucap Husein yang terdengar seperti sembari menepuk pelan pundak Arfan, sebelum kemudian kembali berjalan pergi menuju tempat duduknya. Setelah itu tanpa menoleh ke belakang, aku tidak mendengar lagi jawaban dari Arfan. Tanpa Arfan sadari, dalam diam aku merasa kesal bukan main kepada Husein dan anggota kelompokku yang lain. Terlebih Husein yang terkesan banyak mengatur untuk presentasi tugasnya nanti. ...... "Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh," ucap Husein membuka acara presentasi kelompokku di depan Pak Budi dan semua teman kelasku. "Wa'alaikumussalam warahmatullaahi wabarakaatuh." Saat ini setelah nomor antrian presentasi kesatu dan kedua selesai, kini giliran kelompokku yang melakukan presentasi. Sembari berdiri berjajar membentuk garis horizontal di depan papan tulis dan layar proyektor, aku dan anggota kelompokku mulai mempresentasikan tugas kami. Ketika berdiri di hadapan Pak Budi dan semua teman kelas itu, aku yang berdiri paling ujung di sisi kanan cenderung lebih banyak menunduk atau tidak banyak bersikap. Saat itu aku merasa cukup malu ketika menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di dalam kelasku. "Kami dari kelompok lima. Sebelum memulai presentasi materi yang telah kami bawa, izinkan saya sebagai moderator dari kelompok ini untuk membuka dengan mengenalkan diri terlebih dahulu yang nanti akan dilanjutkan oleh pengenalan anggota kelompok saya yang lainnya," kata Husein formal memimpin acara presentasi kelompok. "Nama saya Husein." Sambung Husein, memperkenalkan dirinya. "Nama saya Arfan," lanjut Arfan yang berdiri tepat di samping Husein. "Saya Indah," "Saya Fikri," "Saya Tasya," "Saya Haneefa," "Rohman?" sahut Pak Budi heran sembari membaca makalah hasil tugas yang terdapat daftar nama anggota kelompok, namun Pak Budi tidak menemukan sosok Rohman ketika presentasi berlangsung. "Rohman tidak masuk Pak, dia sakit." Jawab Arfan, mewakili kelompokku. Pak Budi pun mengangguk paham seraya mencatat keterangan absen Rohman. "Baiklah, silahkan lanjutkan kembali presentasi kalian." Kata Pak Budi, mempersilakan kembali kelompokku untuk melanjutkan presentasi. Helaan nafas Husein berhembus sebelum melanjutkan kembali memimpin presentasi kelompok. "Baik, kami dari kelompok lima. Di sini kami akan menjelaskan tentang evolusi manusia purba, yang terkenal dikemukakan oleh ilmuan sejarah yakni Charles Darwin.." Dalam waktu dua puluh lima menit, kelompokku disibukkan dengan menjelaskan isi materi yang ada di layar dengan menggunakan proyektor dalam bentuk power point. Ketika presentasi berlangsung, yang cenderung lebih aktif berbicara adalah Husein dan Arfan. Sedangkan yang anggota kelompok lainnya—termasuk aku—kami terkesan tidak terlalu aktif dalam menjelaskan setiap point materi. Yang lain hanya sesekali menjelaskan, itupun dengan cara membaca slide power point yang ada di layar proyektor. - Bagaikan Dandelion - Sfrdssyh
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN