Hah ... hah ...
Sesampainya di depan masjid sekolah, aku langsung berdiri sembari sedikit membungkukkan punggungku dengan memegang kedua lutut. Saat itu deru nafasku juga terputus-putus karena kelelahan. Tadi ketika bel pulang sekolah berbunyi, kelasku belum bubaran karena Pak Deni yang merupakan Guru matematika meminta waktu tambahan kelas. Sedangkan aku yang memang sudah ada jadwal setelah pulang sekolah hari ini untuk kumpul ekstrakurikuler Rohis, tepat setelah kelas selesai segera saja aku langsung berjalan dengan sedikit berlari menuju masjid sekolah.
"Udah dimulai belum, ya? Kok, sepi." Gumamku, sudah kembali berdiri tegak namun masih dengan mengatur deru nafas.
Tanpa mau menunggu lagi, akhirnya aku pun melepas kedua sepatuku yang kemudian aku simpan di rak sepatu khusus akhwat.
"Haneefa," sapa seseorang tiba-tiba, berdiri di sampingku.
Kontan, aku menolehnya. "Eh ... Hanin," balasku menyapanya dengan tersenyum.
"Kamu kenapa? Kok nafasnya ngos-ngossan kayak gitu," Hanin menatapku heran.
Hanin merupakan teman yang satu eskul denganku—Rohis.
"Hehe ... iya, ini aku habis berjalan buru-buru waktu mau ke sini. Aku takut datang terlambat ke acara kumpulnya, soalnya tadi aku dapat jam kelas tambahan." Selorohku, memberitahu.
Hanin mengangguk. "Ohh, gitu. Pantas aja. Tapi, acara kumpulnya belum dimulai kok. 'Kan Kak Ilhamnya juga belum datang. Emangnya kamu gak baca pesan line di grup eskul, ya?"
Mendengar itu detak jantungku yang semula berolah raga, kini mulai tenang.
"Oh, belum dimulai ya," gumamku nyaris tak terdengar karena merasa malu pada Hanin.
Padahal aku sudah berjalan terburu-buru, tapi ternyata acara kumpulnya belum dimulai.
"Jadi iya ya, kamu gak baca pesan di grup?" tanya Hanin, lagi.
"Emm ... nggak. Aku gak bawa handphone." Jawabku, lirih.
Sejak duduk di bangku SMA, aku yang notabennya berasal dari keluarga sederhana, aku memang tidak pernah membawa ponsel ke sekolah. Selain alasan tidak memilikinya, aku juga memang tidak pernah tertarik untuk membawa ponsel ke sekolah. Meskipun jika aku membawanya, itu hanyalah ponsel milik ibuku dan untuk keperluan yang mendesak saja. Misalnya untuk mengerjakan tugas lewat internet ketika di sekolah yang memang mengharuskan memakai ponsel masing-masing.
"Ohh, ya udah kalau begitu. Yuk kita masuk!" ajak Hanin kemudian.
Akhirnya aku pun mengangguk dan berjalan di belakang Hanin untuk mengikutinya yang berjalan lebih duhulu menuju masjid.
......
"Haneefa, kamu dari mana aja?" tanya Nazla berbisik, ketika melihatku mengambil tempat duduk tepat di sampingnya.
Pada saat aku dan Hanin masuk masjid tadi, kami mendapati anak-anak Rohis sudah duduk melingkar di karpet yang juga merupakan sejadah masjid. Walaupun duduk melingkar, tempat ikhwan dan akhwat tetap dibuat untuk terpisah saat itu. Hanya saja dibatasi oleh hijab pendek, namun untuk forum diskusi tetap digabung.
"Iya, tadi aku ada kelas tambahan," jawabku lirih, menoleh Nazla.
"Pelajaran apa?" Tanya Nazla, lagi.
"Matematika,"
Nazla mengangguk paham. "Ohh."
"Eh ... kok, ada Lyana?" tanyaku seraya tersenyum senang karena baru menyadari bahwa Lyana tengah duduk di samping kiri Nazla saat ini.
"Hehe, iya, alhamdulillaah. Aku ikut gabung sama eskul Rohis mulai hari ini," jawab Lyana, memberitahu.
Mendengar itu, aku pun semakin tersenyum senang. "MasyaAllaah, alhamdulillaah Ly."
Ketika pertama masuk SMA, yang aku tahu Lyana itu memiliki ekstrakurikuler Perkusi, bukan Rohis. Maka tak heran bila aku merasa senang ketika tahu bahwa ternyata Lyana dan aku akhirnya bisa berada dalam ekstrakurikuler yang sama, yakni Rohis.
"Lyana bilang dia udah keluar dari eskul Perkusi, jadi ya udah daripada gak punya eskul sama sekali, aku ajak dia deh untuk masuk Rohis sama kita," seloroh Nazla padaku.
Mendengar itu, aku pun mengangguk sembari masih tersenyum.
"Alhamdulillaah kalau gitu, semoga istiqomah ya, Ly." Do'aku tulus kepada Lyana.
Lyana tersenyum. "Iya, aamiin."
......
"Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh," ucap salam Kak Ilham ketua Rohis, membuka pertemuan.
"Wa'alaikumussalam warahmatullaahi wabarakaatuh."
"Innalhamdalillahi nahmaduhu wanasta’iinuhu wanastaghfiruhu Wana’udzubiillah minsyurruri ‘anfusinaa waminsayyi’ati ‘amaalinnaa Manyahdihillah falah mudhillalah Wa man yudhlil falaa haadiyalah Wa asyhadu allaa ilaaha illallaah wahdahu laa syariikalah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh." Kata Kak Ilham, membaca do'a pembuka majelis.
"Ikhwah sekalian, alhamdulillaah atas rahmat Allaah Subhanahu wa Ta'ala, kita bisa berkumpul kembali di acara pertemuan Rohis hari ini."
Semua anak rohis yang berada di majelis pertemuan pun nampak terduduk tenang, menyimak semua ucapan Kak Ilham sang ketua Rohis kala itu.
"Dalam acara pertemuan Rohis hari ini, saya selaku ketua Rohis ingin menyampaikan perihal salah satu program kerja kita, yakni bersih-bersih masjid atau yang biasa sering kita sebut dengan istilah BBM," tutur Kak Ilham.
"Seperti angkatan sebelumnya, kegiatan ini wajib diikuti oleh seluruh anggota Rohis. Jika tidak bisa, maka hendaknya kalian konfirmasi terlebih dahulu kepada pihak Rohis agar kami bisa memberikan udzur." Kak Ilham menjeda sejenak perkataannya, "acara BBM ini akan diselenggarakan pada hari minggu, tepat pada pukul tujuh pagi di masjid sekolah. Jadi, saya harap kalian bisa berkumpul dengan tepat waktu."
"Izin bertanya, Kak," ucap Dava dari shaf ikhwan seraya mengangkat satu tangannya ke atas.
Kak Ilham menoleh Dava. "Ya, Silahkan."
"Apa aja yang harus kami bawa untuk acara BBM nanti, Kak?" tanya Dava dengan sopan.
"Pertanyaan yang bagus, Dava." Puji Kak Ilham, sebelum menjawab pertanyaan Dava.
"Yang perlu kalian bawa untuk acara BBM nanti, cukup bawa alat bersih-bersih yang mampu kalian bawa saja dari rumah. Mengingat alat pembersih di sekolah kita kurang jika dibandingkan dengan seluruh anggota Rohis yang banyak, maka ada baiknya untuk jaga-jaga agar kalian bawa alat pembersih dari rumah masing-masing," ucap Kak Ilham, formal.
"Izin bertanya, Kak. 'Kan kita bawa alat pembersih dari rumah masing-masing, berarti sebelum itu alat pembersihnya dinamain dulu ya, Kak, supaya gak ketuker nanti?" Tanya Gia.
"Iya, diberi nama. Jadi, kalian jangan lupa, ya. Sebelum bawa alat pembersih dari rumah masing-masing, kalian harus beri nama dulu alat pembersihnya supaya gak ketuker sama anggota Rohis lain waktu lagi bersih-bersih di sekolah nanti." Jawab Kak Ilham, membuatku lagi-lagi hanya terdiam menyimaknya.
"Kalau untuk pakaiannya bagaimana, Kak? Pakai baju apa kita nanti waktu kegiatan BBM?" tanya Nurul.
"Untuk pakaian, kalian memakai pakaian seperti biasa saja. Untuk akhwat pakai baju gamis dan jilbab syar'i, sedangkan untuk ikhwan pakai baju biasa yang tak lupa dengan celana cingkrang di atas mata kaki," jawab Kak Ilham.
Perlu diketahui bahwasanya celana di atas mata kaki adalah sunnah dan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini dikhususkan bagi laki-laki, sedangkan wanita diperintahkan untuk menutup telapak kakinya. Kita dapat melihat bahwa pakaian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berada di atas mata kaki sebagaimana dalam keseharian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dari Al Asy’ats bin Sulaim, ia berkata,
"Saya pernah mendengar bibi saya menceritakan dari pamannya yang berkata, 'Ketika saya sedang berjalan di kota Al Madinah, tiba-tiba seorang laki-laki di belakangku berkata, ’Angkat kainmu, karena itu akan lebih bersih.’ Ternyata orang yang berbicara itu adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku berkata, 'Sesungguhnya yang kukenakan ini tak lebih hanyalah burdah yang bergaris-garis hitam dan putih,' Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 'apakah engkau tidak menjadikan aku sebagai teladan?' Aku melihat kain sarung beliau, ternyata ujung bawahnya di pertengahan kedua betisnya." (Lihat Mukhtashor Syama’il Muhammadiyyah, hal. 69, Al Maktabah Al Islamiyyah Aman-Yordan. Beliau katakan hadits ini shohih).
Dari Hudzaifah bin Al Yaman, ia berkata, "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang salah satu atau kedua betisnya. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 'Di sinilah letak ujung kain. Kalau engkau tidak suka, bisa lebih rendah lagi. Kalau tidak suka juga, boleh lebih rendah lagi, akan tetapi tidak dibenarkan kain tersebut menutupi mata kaki'." (Lihat Mukhtashor Syama’il Al Muhammadiyyah, hal.70, Syaikh Al Albani berkata bahwa hadits ini shohih).
Dari dua hadits ini terlihat bahwa celana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berada di atas mata kaki sampai pertengahan betis. Boleh bagi seseorang menurunkan celananya, namun dengan syarat tidak sampai menutupi mata kaki. Ingatlah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagai teladan terbaik bagi kita dan bukanlah professor atau doctor atau seorang master yang dijadikan teladan.
Allah Ta’ala berfirman,
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab [60] : 21).
"Ada yang ingin ditanyakan lagi?" tanya Kak Ilham, membuatku yang tadi sempat melamun kontan terkejut.
"Baik, jika tidak ada pertanyaan lagi, pertemuan hari ini kita cukupkan sampai di sini saja." Putus Kak Ilham, ketika tidak ada yang kunjung menjawab pertanyaannya.
"Subhaanakallohumma wa bihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik." Ucap Kak Ilham, menutup pertemuan Rohis dengan membaca do'a kifaratul majelis.
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang duduk di suatu majelis lalu banyak senda guraunya (kalimat yang tidak bermanfaat untuk akhiranya), maka hendaklah ia mengucapkan sebelum bangun dari majelisnya itu, ‘SUBHAANAKALLOHUMMA WA BIHAMDIKA, ASYHADU ALLA ILAHA ILLA ANTA, ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIK’ (Mahasuci Engkau, wahai Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Aku meminta ampun kepada-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu); kecuali diampuni baginya dosa-dosa selama di majelisnya itu.” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih). (HR. Tirmidzi, no. 3433. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih).
- Bagaikan Dandelion -
Sfrdssyh