Kegiatan BBM

1006 Kata
Setelah satu bulan berlalu duduk di bangku kelas X SMA, akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti eskul Rohis. Seperti yang telah kalian ketahui bahwa aku mengikuti eskul Rohis karena memang termotivasi oleh teman satu bangkuku yang sosoknya terlihat agamais. Ya, aku terinspirasi ingin hijrah setelah mengenal dan dekat dengan Muthia, teman satu bangkuku. Aku merasa berbeda ketika bersahabat dengannya jika dibandingkan dengan sahabat-sahabatku sebelumnya. Aku merasa lebih tenang dan nyaman bila sedang bersamanya. Mungkin inilah salah satu kebaikan jika kita berteman atau dekat dengan teman yang shalihah. Para ulama memiliki nasehat agar kita selalu dekat dengan orang shalih. Al-Fudhail bin 'Iyadh berkata, نَظْرُ المُؤْمِنِ إِلَى المُؤْمِنِ يَجْلُو القَلْبَ "Pandangan seorang mukmin kepada mukmin yang lain akan mengilapkan hati." (Siyar A'lam An- Nubala', 8: 435). Maksud beliau adalah dengan hanya memandang orang shalih, hati seseorang bisa kembali tegar. Oleh karenanya, jika orang-orang shalih dahulu kurang semangat dan tidak tegar dalam ibadah, mereka pun mendatangi orang-orang shalih lainnya. 'Abdullah bin Al-Mubarak mengatakan, "Jika kami memandang Fudhail bin 'Iyadh, kami akan semakin sedih dan merasa diri penuh kekurangan." Ja'far bin Sulaiman mengatakan, "Jika hati ini ternoda, maka kami segera pergi menuju Muhammad bin Waasi'." (Ta'thir Al-Anfas min Hadits Al-Ikhlas, hlm. 466). Rohis 5'16 5'17 5'18(70) Joshua: Duh, ingin bertanya, nih. Nama adik kelas anak IPS teman dekatnya Nazla itu siapa, sih, namanya? Kok, aku lupa. Syifa: Untuk apa bertanya tentang dia, Jo? Baim: Hah.. paling juga dia mau nembak :v Saska: Widih, gila. Jo jatuh cinta. Ingat dosa zina oy! Joshua: Apa, sih, kalian semua, sewot amat. Ilham: Bismillaah, jangan lupa ya besok kita berkumpul di sekolah pada pukul tujuh pagi untuk acara BBM. Syifa: Siap, kakak! Alena: Mesti jam pagi begitu ya kumpulnya? Aku gak enak harus beres-beres rumah dulu @Ilham. Saska: Santai aja Len, jam karet wkwkwk. Tama: Parah nih anak_- Ilham: Pokoknya pukul tujuh harus sudah pada berkumpul di sekolah @Alena. Alena: Ya udah, deh. Nurul: Bismillaah, Kakak-kakak semua untuk alat pembersih yang harus dibawa dari rumah tidak apa-apakah kalau aku cuma membawa sapu aja? Syifa: Gak apa-apa, ya, 'kan, Ham? @Ilham. Ilham: Bebas, asal bawa, saja. Joshua: Bawa kanebo aja juga gak masalah kali, yak :v Ilham: Serah! Baim: Haha.. balas chat Jo singkat amat, sih, Ham wkwk. Joshua: Hey guys, kalian mengabaikan pertanyaanku tadi. Siapa, sih, nama anak IPS teman dekatnya Nazla? Saska: Buat apa, sih, Jo? Syifa: Kamu naksir, ya? Tama: Zina zina zina. Ilham: Nah, awas zina cuy @Joshua. Joshua: Sentimen amat kalian, nih. Ada yang tahu gak nama dia siapa? Membaca rentetan pesan di grup line Rohis tersebut, kontan membuat keningku mengercit bingung. Teman dekatnya Nazla? Siapa? Aku? Haneefa: Bismillaah, Kakak-kakak besok jadi, 'kan, acara BBMnya? Syifa: Scroll up. Ilham: Jadi @Haneefa. Joshua: Nah, akhirnya. Kamu, 'kan, temannya Nazla? @Haneefa. Saat ini aku tengah berada di rumah nenekku yang tidak jauh dari rumahku. Malam ini aku pergi ke rumah nenek ikut Wifi untuk sekedar mengecek grup Line Rohis. Saat itu aku tidak memiliki kuota walau hanya sekedar untuk membuka Line. Jangankan Line, internet saja pun tidak bisa. Setiap ada hal penting melalui handphone milik ibuku jika berkaitan dengan sekolah, untuk mengetahui semuanya, aku harus pergi ke rumah nenekku yang tersedia Wifi milik sepupuku. Dengan cara seperti itu, aku baru bisa tahu informasi mengenai grup kelas atau grup lainnya tentang sekolah. Saat itu keluargaku memang berkecukupan dan tidak begitu memprioritaskan mengisi kuota internet. Haneefa: Iya, kenapa, Kak? Sembari menatap layar ponsel dengan serius, aku mulai tegang menunggu balasan dari Kakak kelas Rohis itu yang bernama Joshua. Memang sudah akhir-akhir ini Kak Joshua sering menggodaku tatkala bertemu di sekolah atau sedang berkumpul Rohis. Melihat dari gelagatnya, bisa aku simpulkan bahwa Kakak kelas itu sedikit tertarik padaku. Namun walaupun aku menyimpulkan demikian, tak jarang aku selalu menepis pemikiran semacam itu. Aku tidak ingin terlalu percaya diri. Joshua: Besok ikut acara BBM, 'kan? Baim: Saya mencium bau-bau modus di sini. Syifa: Wkwkwk @Baim. Baim: Apa Syifa? Ketawa? Syifa: Apa aja_- Haneefa: Insyaa Allaah, ikut, Kak. Ilham: Bagus @Haneefa Joshua: Sampai ketemu besok, ya Haneefa :) Tanpa berkedip, saat itulah ekspresi wajahku setelah membaca balasan pesan dari Kak Joshua. Bahkan, aku sampai menahan nafasku saat membaca pesan tersebut. Bukan aku merasa bahagia karena mendapat pesan seperti itu dari Kakak kelasku. Aku hanya merasa cukup malu saat itu, mengingat itu ada di dalam grup Rohis tiga angkatan di sekolahku, aku merasa malu dengan yang lain karena ulah Kak Joshua. Apa kata Kakak kelas yang lain mengenai ini tentang diriku dan Kak Joshua? Ah, memikirkannya saja kepalaku rasanya ingin pecah. ...... "Kamu mau pulang?" Tanya Kak Joshua padaku, setelah acara BBM Rohis selesai. Saat ini aku memutuskan untuk segera pulang setelah kegiatan BBM yang diadakan hari minggu di sekolah selesai. Aku memutuskan untuk segera pergi karena merasa tidak nyaman dengan kehadiran Kak Joshua di sekolah yang selalu berusaha mendekatiku dalam kegiatan BBM. Bahkan, Kak Joshua sampai menggodaku di hadapan teman Rohis lainnya. Sungguh, aku merasa tidak nyaman dan malu. Tanpa menatap Kak Joshua, aku pun menjawab pertanyaannya tadi dengan lirih. "Iya, Kak." "Yakin gak akan ikut makan-makan dulu bersama kami?" Tanya Kak Ilham, tiba-tiba menengahi obrolan. Kontan, aku pun mengangguk tanpa menatap Kak Ilham. "Iya, Kak, maaf." Tepat setelah mendengar jawabanku, aku mendengar Kak Ilham menghela nafasnya. Dia pasti paham dan tahu betul dengan gelagatku yang memang terlihat tidak nyaman sejak aktivitas BBM dimulai. "Ya sudah, kalau begitu kamu diizinkan untuk pulang lebih dulu, hati-hati." Kata Kak Ilham, bijak. Tanpa berniat untuk kembali bersuara sebagai jawaban, aku pun hanya mengangguk menanggapi ucapan Kak Ilham seraya langsung bergegas pergi dari hadapannya dan Kak Joshua yang masih diam di tempatnya. Saat itu aku benar-benar sudah merasa tidak nyaman jika terus berdekatan dengan laki-laki nonmahrom. Dan meskipun saat itu Kak Joshua tidak begitu kentara atau mengungkapkan secara langsung bagaimana perasaannya padaku, tapi aku sudah bisa merasakannya. Bahkan hal itu akan berakhir tidak baik jika aku masih terus bersikap biasa saja atau diam tanpa melakukan tindakan berarti untuk menjaga diri dari fitnah. Semoga apa yang aku lakukan ini tidaklah salah. Aamiin. - Bagaikan Dandelion -
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN