Saat ini di kelasku sedang ada dalam mata pelajaran sejarah Indonesia, namun guru tersebut belum datang memasuki kelas. Pada saat kondisi seperti itu, aku seperti biasa selalu duduk di bangkuku dengan tertib layaknya anak usia dini yang penurut dalam suatu lembaga pendidikan seperti Taman Kanak-kanak. Kala itu guru sejarah belum tiba di kelas, sehingga kelas nampak terkesan berisik dan tidak tertib.
"Fa, aku ingin cerita, nih." Seloroh Muthia yang duduk di sampingku, membuka obrolan yang lantas membuatku menolehnya.
"Ya, kenapa?"
"Sore ini aku di Madrasah ada ujian sejarah islam, aku belum belajar. Gimana, ya?" Seloroh Muthia lagi, terlihat jelas bahwa saat ini ia sedang merasa khawatir.
"Kenapa kamu gak belajar?" Tanyaku, menatapnya aneh.
"Aku kemarin malas gerak, Fa. Sekarang pun masih kayak gitu." Jawab Muthia menyendu, membuatku tersenyum.
"Insyaallaah, kamu pasti bisa. Sekarang kamu belajar aja dulu." Saranku dengan nada lembut.
"Tapi aku gak yakin." Muthia terlihat ragu.
"Ya, harus yakin, dong." Aku langsung menimpali cepat, membuat Muthia membuang nafas berat.
"Hahh ... baiklah. Aku akan belajar," ucap Muthia, sebelum akhirnya ia membuka buku untuk belajar mempersiapkan ujian di Madrasahnya nanti.
Tepat setelah itu suasana di antara aku dan Muthia kembali hening. Muthia sudah mulai sibuk belajar, sedangkan aku mulai sibuk dengan alam pikiranku sendiri sembari duduk diam di bangkuku. Saat itu aku tidak melakukan aktivitas apapun selain diam dan melihat teman-teman di kelasku yang berjalan ke sana kemari. Aku bingung, entah harus melakukan apa di saat sedang tidak ada guru seperti ini.
"Waw Lia, SMP kamu dulu itu ternyata bagus juga kamar mandinya." Pekik Lala, heboh dari belakangku.
Mendengar suara itu, kontan membuat atensiku beralih pada sumber suara yang berasal dari belakang bangkuku. Tanpa berniat menoleh, aku bergeming sembari menyimak obrolan teman-temanku yang berada duduk di baris meja setelahku.
"Iya, dong. SMP bekas sekolah aku dulu itu memang bagus fasilitasnya. Makanya kenapa aku heran waktu masuk SMA kita ini, fasilitasnya agak kurang. Aku gak nyaman, belum terbiasa gitu." Kata Lia, terdengar berkelas.
"SMP kamu itu termasuk SMP favorit, 'kan, Ya?" Tanya Hendra, teman satu bangkunya Arfan.
Ya adalah panggilan Lia di sekolah.
"Yah ... begitulah." Jawab Lia, sekenanya namun meninggalkan kesan berbangga diei.
"Kamu hebat, deh, Ya. Pantas aja di SMA kamu pintar." Puji Lala, sahabat dekat Lia.
"Kenapa kamu memutuskan untuk masuk ke SMA ini?"
Kali ini, terdengar suara Arfan yang ikut mengajukan pertanyaan kepada Lia. Aku bisa mendengar itu.
"Aku ditolak di SMA favorit, Fan. Nem aku kurang koma saat itu untuk masuk SMA favorit aku." Jawab Lia, terdengar kecewa.
"Tapi SMA kita ini cukup favorit juga kok, Ya." Kata Dewi, menengahi.
"Hmm, benar itu. SMA kita ini juga bisa dibilang favorit, yah ... meskipun terkenal sebagai SMA bar-bar di kota ini." Sambung Hendra, ikut menimpali.
"Kayaknya di kelas kita udah terlihat, deh, siapa sosok yang akan dapat peringkat satu lagi di kelas dalam ujian akhir semester satu nanti." Seloroh Lala, berprasangka.
"Ya, aku tahu. Kayaknya orang itu adalah Lia." Kata Nadya, sabahat sekaligus teman satu bangku Lia.
Mendengar itu, Lia terkekeh.
"Kalian ini, belum tentu juga." Kekeh Lia, berkelakar.
"Dan peringkat dua di kelas pasti Arfan lagi, nih." Kata Wita.
"Arfan dan Lia emang benar-benar hebat, sama-sama pintar." Puji Dewi.
"Gak gitu juga, sih." Sahut Arfan, merendah.
"Emang kenyataannya kayak gitu kali, Fan." Kata Lala, terdengar jengah dengan Arfan yang merendah.
Tanpa mereka sadari, aku yang sejak tadi mendengar semua obrolan tersebut tanpa menoleh ke belakang, aku pun masih bergeming ditempatku duduk. Dengan mendengar semua obrolan mereka, entah mengapa aku merasa kecil.
Memang sudah akhir-akhir ini di kelasku mulai nampak kubu-kubu dalam pertemanan, baik laki-laki maupun perempuan. Seperti tadi, orang-orang yang mengobrol di belakang barisanku, yakni Arfan, Lia, Lala, Dewi, Nadya, Wita, dan Hendra, mereka adalah salah satu kubu dalam kelasku. Mereka adalah kubu orang-orang yang sangat dihormati dan cukup disanjung karena kepintaran dan kedudukan yang mereka miliki di kelas. Tentu orang terpintar di antara mereka adalah Lia dan Arfan, karena Lia pernah mendapat peringkat kesatu di kelas, sedangkan Arfan mendapat peringkat kedua saat ujian tengah semester satu beberapa waktu yang lalu.
Sebagai perempuan pemalu, pendiam, dan tidak terlalu pintar dalam urusan akademik, aku selalu merasa kecil di hadapan mereka. Aku tidak pernah sekalipun mau turut ikut dalam setiap perkumpulan atau obrolan mereka. Terlebih di sana terdapat Arfan, sosok yang saat ini aku sukai dalam diam. Semakinlah aku merasa tidak mau dekat dengan mereka. Terkadang, aku juga selalu merasa malu. Bagaimana bisa aku menyukai sosok Arfan yang sangat berbanding terbalik kepribadian dan kedudukannya dengan diriku.
"Pak Tedy, datang!!"
Mendengar suara Husein yang sedikit berteriak di dalam kelas, kontan mencuri antensiku yang sejak tadi melamun mengenai Arfan, dkk.
Dengan segera, semua siswa di kelasku bersiap dan mulai menutup mulut mereka untuk menjaga sikap akan kedatangan guru sejarah indonesia yang sejak tadi kami tunggu.
"Assalamu'alaikum." Ucap salam Pak Tedy seraya berjalan memasuki kelas, membawa sebuah map yang berisi bahan materi untuk mengajar.
"Wa'alaikumussalam." Jawab salam semua teman di kelasku secara bersamaan.
"Apa kabar kalian hari ini?" Tanya Pak Tedy yang kini sudah duduk di bangku guru.
"Baik, Pak."
"Alhamdulillaah, baik, Pak."
"Bagus kalau begitu." Kata Pak Tedy sembari mulai membuka map yang tadi ia bawa.
"Baiklah, kita mulai pembelajaran hari ini, ya."
Menit-menit pun berlalu, saat itu pembelajaran kelas Pak Tedy berlangsung cukup baik, meskipun hal itu sering kali membuatku yang duduk di baris paling depan menguap beberapa kali. Ya, selama kelas berlangsung aku tidak terlalu konsentrasi dalam belajar karena mengantuk. Jujur saja, Pak Tedy ini termasuk guru yang memang selalu membuatku mengantuk ketika di kelas. Selain karena beliau sudah tua usianya, dengan kata lain beliau adalah guru senior, cara mengajar Pak Tedy juga sangat membosankan menurutku. Namun meski begitu, aku tetap menghormatinya sebagai guru.
Lama-lama duduk seraya terus berusaha melawan rasa kantuk dan memperhatikan setiap materi di kelas, seketika semua hal yang aku rasakan itu seolah menguap ke udara tepat setelah Pak Tedy mengatakan bahwa akan ada tugas kelompok.
"Tugas kalian adalah dengan mencari tahu berbagai peninggalan prasejarah mengenai zaman-zaman bebatuan ke Museum." Kata Pak Tedy yang mencuri atensiku.
"Ini adalah tugas kelompok." Kata Pak Tedy lagi, sebelum menoleh ke arah Lia yang kala itu duduk di baris kedua bersebrangan dengan barisanku.
"Lia, siapa sekretaris di kelas ini?" Tanya Pak Tedy kepada Lia.
"Sekretaris?" Lia kontan membeo, terkejut mendapatkan pertanyaan yang tiba-tiba dari Pak Tedy.
"Iya." Jawab Pak Tedy.
"Mm .. kalau gak salah ..." Gumam Lia menoleh ke arah Nadya sejenak yang duduk di sampingnya, sebelum kembali bicara.
"Itu Lala, Pak."
"Yang mana yang bernama Lala?" Tanya Pak Tedy, to the point setelah mendapat jawaban dari Lia.
Seraya mengangkat tangan kanannya ke atas, Lala yang duduk di bangku paling depan di baris ujung pun menyahut.
"Saya, Pak!"
Mendengar itu, kontan Pak Tedy menoleh ke arah Lala.
"Oh jadi kamu, baiklah. Silahkan tulis nama kelompok yang ada di kertas ini ke papan tulis, ya." Perintah Pak Tedy, menghampiri meja Lala dan memberikan selembar kertas padanya.
Lala pun menerima kertas itu dan beranjak dari duduknya untuk berjalan mendekati papan tulis kelas.
"Baik, Pak."
Saat itu juga suasana kelas mulai nampak heboh setelah melihat nama-nama yang tertera pada papan tulis kelas yang telah Lala tulis sesuai perintah Pak Tedy tadi. Tulisan di sana menunjukkan nama-nama anggota kelompok untuk tugas sejarah Indonesia. Awalnya aku bersikap biasa saja melihat semua itu, namun seketika tubuhku menegang saat setelah melihat namaku tertera di papan tulis, dimana di sana namaku berada di dalam satu kelompok terdapat nama Arfan.
Kami satu kelompok? Lagi?
"Fa, kamu satu kelompok lagi sama Arfan." Bisik Muthia, menatapku jahil setelah ia melihat nama anggota kelompokku di papan tulis kelas.
Aku pun menoleh Muthia dengan ekspresi wajah sedikit cemberut.
"Apaan, sih, Mut! Jangan mulai menggoda lagi, deh."
"Hih, siapa juga yang menggoda." Kata Muthia menyebalkan, membuatku diam.
"Eh, tapi, aku sedih. Kenapa, ya, perasaan kita gak pernah satu kelompok?" Tanya Muthia kemudian padaku.
"Entahlah, aku gak tahu." Jawabku, seadanya.
"Hah .. ini sama sekali gak adil!" Muthia berdecak, namun aku tidak menanggapinya.
Saat itu dalam pikiranku masih tertuju kepada Arfan. Mengapa aku selalu disatukan dalam kelompok yang sama dengannya? Tidak tahukah bahwa hal itu semakin membuatku merasa tidak nyaman?
Ya, meskipun aku menyukai Arfan, bukan berarti aku suka berada di dekatnya. Aku selalu merasa malu dan gugup jika harus berdekatan dengannya. Terlebih mengingat Arfan adalah sosok yang pintar dan sangat disukai oleh banyak perempuan di kelasku, hal itu semakin membuatku enggan untuk dekat dengannya karena aku merasa malu dengan diriku yang belum ada apa-apanya.
Bagaikan Dandelion
07.04.21
Sfrdssyh
Tandai jika ada kesalahan atau typo. Terima kasih❤