Penyesalan

1019 Kata
"Jadi gimana?" Setelah bel istirahat berbunyi, kini aku sedang berada di meja Arfan dengan membalikkan tubuhku menghadap ke arahnya. Saat itu aku, Arfan, dan Nadya yang memang satu kelompok dalam sejarah Indonesia, kami berencana untuk membicarakan perihal tugas tersebut. Dalam tugas sejarah Indonesia kali ini memang setiap anggota kelompok hanya beranggota tiga orang. Kelompokku saat itu ditugaskan untuk mencari bukti prasasti zaman bebatuan ke Museum. Ya benar, lagi-lagi aku ditugaskan harus pergi ke Museum yang sama seperti beberapa waktu yang lalu bersama Arfan dan Muthia. Yang membedakan kini bukan dengan Muthia, melainkan dengan Nadya. "Kayak hari jum'at aja kita pergi ke Museumnya." Saran Nadya, berdiri di samping meja Arfan. Sedangkan Arfan duduk di bangkunya yang berhadapan langsung denganku. "Jum'at, sekarang?" Tanya Arfan menoleh Nadya. Nadya mengangguk. "Ya, jum'at minggu ini, aja. Apa bisa?" Arfan beralih menatapku yang duduk terdiam di depannya. "Haneefa, apa kamu bisa?" Tanya Arfan padaku, kontan membuatku menatapnya meskipun sejenak. Sembari terus berusaha menekan rasa gugup karena berada di dekat Arfan, akhirnya aku memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan laki-laki itu. "Insyaallaah, aku bisa." Jawabku, singkat dan cepat. "Aku juga bisa." Kata Nadya, ikut menimpali. Mendengar itu, Arfan pun mengangguk. "Baiklah kalau begitu, berhubung jum'at sekarang tanggal merah dan libur sekolah, kita pergi ke Museumnya hari itu, aja." Putus Arfan. Nadya mengangguk, setuju. "Ya, aku setuju." Meskipun enggan bersuara, namun dalam diam aku menyetujui keputusan Arfan. Tepat setelah forum diskusi kelompokku berakhir, tanpa menunggu lagi, segera aku kembali membalikkan tubuhku ke depan setelah tadi duduk menghadap ke arah Arfan yang duduk di belakangku. Setelah kembali pada posisi semula, aku membuang nafasku dengan gugup. Perlu diketahui bahwa selama aku duduk di bangku yang berada di depan Arfan, aku kerap kali dibuat tidak nyaman dan gelisah. Selain karena malu, aku juga entah mengapa selalu merasa seperti diperhatikan. Entah itu diperhatikan oleh Arfan ataupun Hendra, yang jelas aku merasa tidak nyaman dan malu duduk di depan laki-laki. Bahkan ruang gerakku di bangkuku sendiri saja rasanya sangat terbatas, berbeda sekali dengan Muthia yang duduk di sampingku yang nampak biasa saja. Aku berpikir, mungkin aku menjadi seperti ini karena aku menaruh rasa pada seseorang yang duduk di belakangku. Ya Allaah, sampai kapan rasa ini akan selalu tinggal di dalam diriku? ...... Cinta yang tumbuh karena iman, amal sholeh, dan akhlak yang mulia, akan senantiasa bersemi. Tidak akan lekang karena sinar matahari, dan tidak pula luntur karena hujan, dan tidak akan putus walaupun ajal telah menjemput. الأَخِلاَّء يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلاَّ الْمُتَّقِينَ. الزخرف "Orang-orang yang (semasa di dunia) saling mencintai pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa." (Qs. Az Zukhruf: 67). Saudaraku! Cintailah kekasihmu karena iman, amal sholeh serta akhlaqnya, agar cintamu abadi. Tidakkah anda mendambakan cinta yang senantiasa menghiasi dirimu walaupun anda telah masuk ke dalam alam kubur dan kelak dibangkitkan di hari kiamat? Tidakkah anda mengharapkan agar kekasihmu senantiasa setia dan mencintaimu walaupun engkau telah tua renta dan bahkan telah menghuni liang lahat? Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ. متفق عليه "Tiga hal, bila ketiganya ada pada diri seseorang, niscaya ia merasakan betapa manisnya iman: Bila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dibanding selain dari keduanya, ia mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah, dan ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan dirinya, bagaikan kebenciannya bila hendak diceburkan ke dalam kobaran api." (Muttafaqun 'alaih). Saudaraku! hanya cinta yang bersemi karena iman dan akhlaq yang mulialah yang suci dan sejati. Cinta ini akan abadi, tak lekang diterpa angin atau sinar matahari, dan tidak pula luntur karena guyuran air hujan. Yahya bin Mu'az berkata, "Cinta karena Allah tidak akan bertambah hanya karena orang yang engkau cintai berbuat baik kepadamu, dan tidak akan berkurang karena ia berlaku kasar kepadamu." Yang demikian itu karena cinta anda tumbuh bersemi karena adanya iman, amal sholeh dan akhlak mulia, sehingga bila iman orang yang anda cintai tidak bertambah, maka cinta andapun tidak akan bertambah. Dan sebaliknya, bila iman orang yang anda cintai berkurang, maka cinta andapun turut berkurang. Anda cinta kepadanya bukan karena materi, pangkat kedudukan atau wajah yang rupawan, akan tetapi karena ia beriman dan berakhlaq mulia. Inilah cinta suci yang abadi saudaraku. Saudaraku! setelah anda membaca tulisan sederhana ini, perkenankan saya bertanya: Benarkah cinta anda suci? Benarkah cinta anda adalah cinta sejati? Buktikan saudaraku... Air mataku seketika menetes tanpa permisi membasahi kedua pipiku tepat setelah aku habis membaca artikel yang telah ditulis oleh seorang ustadz. Ya, malam ini aku sedang berada di dalam kamarku sembari duduk di atas kasur dan memainkan ponsel. Malam ini, entah menapa aku merasa tersentuh dengan tulisan yang baru saja aku baca, dan entah menapa juga aku menjadi teringat akan perasaanku terhadap Arfan. Apakah cintaku terhadap Arfan hanya karena sebuah kebohongan yang telah aku perbuat sendiri atau hawa nafsu atau karena iman? Apakah aku mencintai Arfan karena Allaah? Kontan, aku menutup wajahku menggunakan kedua telapak tanganku sembari mulai menangis lirih. Sungguh, aku tidak tahu apa yang mendasari perasaanku terhadap Arfan. Aku takut bahwa perasaanku padanya hanya karena hawa nafsu semata. Aku takut, aku tidak mau seperti itu. Hiks.. Hikss... Hiksss... Tangisku semakin jelas terdengar. Meskipun aku baru hijrah, namun setelah aku masuk eskul Rohis di sekolah dan mengikuti beragam kajian islam, aku perlahan mulai paham mengenai beberapa hukum dalam islam. Termasuk hukum jatuh cinta kepada lawan jenis yang bukan mahrom. "Apakah aku menyukai Arfan karena dia tampan?" Tanyaku, bermonolog disela isak tangis lirih. "Apakah aku menyukainya karena dia adalah sosok laki-laki yang pintar dan cukup dihormati di kelas?" Hiks.. Kembali, aku menutup kedua wajahku, namun kini menggunakan bantal. Aku menjatuhkan tubuhku berbaring tengkurap pada bantal. Aku menangis lirih di sana hingga bantalku menjadi basah karena air mataku sendiri. Malam itu dalam tangis aku berharap semoga perasaanku terhadap Arfan segera hilang. Aku benar-benar menyesal karena pernah membohongi Raihan waktu itu, sampai akibatnya aku menjadi jatuh cinta sungguhan terhadap Arfan. Bahkan aku menjadi melupakan perasaanku terhadap Malik. Sungguh, aku sangat menyesal. Bagaikan Dandelion 07.04.21 Sfrdssyh
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN