Hari ini aku sedang berada di depan pintu gerbang rumah Nadya. Pada hari jum'at yang sedang libur sekolah saat ini, sesuai rencana dan kesepakatan kelompokku dalam tugas sejarah Indonesia, kami akan pergi ke Museum. Sebelum pergi ke Museum, aku yang memang semalam sudah chatting dengan Nadya, kami memutuskan untuk pergi ke sekolah bersama untuk menunggu Arfan di sana nanti. Sebelum benar-benar pergi ke Museum, kami bertiga membuat janji untuk bertemu di sekolah terlebih dahulu.
"Assalamu'alaikum, Nadya!!" Panggilku, sedikit berteriak dari pintu gerbang rumah Nadya.
"Dimana bel rumahnya, ya?" Gumamku seraya melihat-lihat pagar dan tembok rumah Nadya, barangkali ada bel.
"Haneefa!!!"
Belum sempat aku menemukan bel rumah, kontan pandanganku beralih kepada Nadya yang berteriak dari ambang pintu rumahnya. Saat itu aku melihat Nadya mulai berlari kecil menuju gerbang untuk menghampiri dan membukakan pintu gerbang.
"Hai Haneefa, maaf, ya, lama menunggu di depan gerbang." Seloroh Nadya, tersenyum malu setelah membuka pintu gerbang rumahnya untukku.
Mendengar itu, aku tersenyum.
"Mmm, gak apa-apa, kok, Nad. Aku juga baru sampai tadi." Ucapku.
"Ohya?" Tanya Nadya, dengan mata berbinar.
Aku mengangguk. "Hm, iya."
"Syukurlah kalau gitu, ya udah, ayo masuk dulu ke dalam rumah. Aku masih siap-siap, nih." Kata Nadya, membuatku tersenyum ketika kami berdua mulai berjalan memasuki area rumahnya.
"Silahkan kamu duduk di sofa, ya. Aku mau pergi ke kamar dulu, cuma sebentar, mau nyelesaiin make up, hehe." Seloroh Nadya sembari cengengesan dan langsung saja melegang pergi menuju kamarnya
Melihat tingkah Nadya seperti itu, hal itu membuatku kontan tersenyum seraya menggelengkan kepala. Padahal saat itu wajah Nadya sudah cantik dengan make up yang natural dan menurutku itu sudah cukup. Entah apa yang akan ditambahkan lagi pada wajahnya, Nadya memang salah satu teman satu kelasku yang suka sekali berdandan.
"Eh, Neng, mau minum apa?"
Pandanganku kontan beralih pada sosok wanita setengah baya dengan pakaian rumahan yang sedang berjalan mendekatiku. Sepertinya ini asisten rumah tangga di rumah Nadya.
Aku pun tersenyum padanya. "Gak usah, Bi. Aku bawa bekal minum, kok. Gak perlu repot-repot." Kataku ramah, tidak ingin merepotkan.
Bibi itu tersenyum menatapku. "Udah gak apa-apa, Neng. Ayo, mau Bibi buatkan apa?"
Masih dengan senyuman, aku menjawab dengan sungkan.
"Gak usah, Bi. Makasih."
"Eh, ada Bibi." Sahut Nadya, sudah kembali dari kamarnya dengan pakaian rapi, wajah yang ber-make-up lebih tebal dari yang aku lihat sebelumnya, dan tidak lupa aroma wangi parfum Nadya yang seketika tercium pekat memenuhi ruang tamu.
Aku yang memang tidak suka wangi parfum yang terlalu menyengat, aroma tubuh Nadya sudah cukup membuat kepalaku tiba-tiba merasa pusing meskipun hanya sedikit.
"Bibi masuk ke dapur aja, ya. Aku sama Haneefa mau pergi sekarang." Kata Nadya kepada asisten rumah tangganya.
"Tapi Mbak Nadya, Neng itu baru sampai, 'kan, tadi. Apa gak apa-apa, gak minum atau makan dulu?" Tanya Bibi, terlihat sungkan.
Mendengar itu, Nadya kontan menolehku.
"Apa kamu mau minum atau makan dulu, Haneefa?" Tanya Nadya kepadaku.
Aku tersenyum tipis.
"Nggak, gak usah, makasih. Sebaiknya kita pergi ke sekolah aja, aku takut Arfan udah nunggu di sekolah." Jawabku, lembut.
Setelah mendengar jawabanku, Nadya pun mengangguk sebelum kembali menoleh asisten rumah tangganya yang masih berdiri di sampingnya.
"Baiklah, Bi. Kalau gitu Bibi pergi ke dapur aja." Perintah Nadya sopan dan lembut, kemudian.
Dengan senyuman, Bibi itu pun pamit ke dapur.
"Ya udah, Bibi ke dapur dulu, ya. Kalian hati-hati perginya nanti, permisi."
"Ayo, Haneefa!" Ajak Nadya yang membuyarkan lamunanku dari menatap punggung asisten rumah tangganya yang sudah melegang pergi berjalan menuju dapur.
Aku menoleh Nadya sebelum beranjak.
"Baiklah, ayo!"
Tepat setelah itu, aku dan Nadya pun berjalan pergi keluar rumah. Dengan hanya bermodalkan jalan kaki, selama diperjalanan menuju sekolah, aku dan Nadya tidak henti-hentinya mengobrol ringan. Jarak rumah Nadya dan sekolah memang tidak terlalu jauh, sama sepertiku. Jadi tidak aneh bila saat ini kami hanya berjalan kaki menuju sekolah.
"Arfan tadi chat aku lewat bbm." Kata Nadya memberitahu, setelah kami sampai di sekolah. Tepatnya kini kami sedang berdiri di depan pintu gerbang sekolah.
Aku menoleh Nadya yang berdiri di sampingku.
"Ohya? Apa katanya? Kenapa dia belum sampai?" Tanyaku.
"Kata Arfan, sih, tadi line-nya error, jadi dia chat lewat bbm. Dia sekarang lagi dalam perjalanan, sebentar lagi sampai di sekolah." Jawab Nadya sembari sibuk bercermin dengan cermin kecil yang ia bawa dari rumah.
Nadya memang terlihat sangat memperhatikan penampilannya, berbeda sekali denganku yang cenderung cuek akan hal itu. Saat itu aku hanya memakai baju lengan panjang, celana jeans, kerudung segi empat, dan tas sekolah yang bertengker di bahuku. Tentu aku tidak memakai make-up apapun di wajahku, baik itu lipstik, maskara, dsb. Aku hanya memakai bedak bayi untuk wajahku. Sederhana dan biasa saja bukan?
Beberapa menit berlalu, Arfan yang ditunggu tidak juga menampakkan dirinya dan itu membuat Nadya mulai bosan.
"Fa, coba kamu chat Arfan lewat bbm. Aku lagi malas buka hp, hp ada di dalam tas." Kata Nadya, tiba-tiba.
Aku mulai menatapnya, bingung.
"Tapi aku gak tahu pin bb Arfan, aku juga gak satu kontak sama dia." Selorohku.
Saat itu aku memang membawa ponsel, meskipun saat ke sekolah jarang sekali aku membawanya. Tapi untuk hal seperti ini, ibuku selalu menyuruhku untuk membawa ponsel agar bisa mengetahui kabar kapan aku akan pulang.
Nadya membuang nafasnya. "Aku hafal pin dia."
"Ohya? Berapa?" Tanyaku, sedikit antusias. Bukankah ini artinya aku akan satu kontak dengan Arfan di bbm? Aku cukup senang karena itu.
Setelah Nadya menyebutkan pin bbm milik Arfan, aku segera memasukkan pin itu ke dalam daftar kontak bbmku. Lalu ketika nama kontak Arfan telah terdaftar dalam kontak bbmku, segera saja aku chat, meskipun saat itu dalam diam detak jantungku berdetak dengan cepat.
Haneefa:
Arfan, ini aku Haneefa. Kamu ada dimana? Aku sama Nadya udah ada di sekolah.
Tidak lama setelah pesan itu berhasil aku kirimkan kepada Arfan melalui bbm, Arfan pun membalasnya.
Arfan:
Ohiya, maaf membuat kalian menunggu. Ini sebentar lagi aku sampai di sekolah.
Walaupun hanya pesan sederhana seperti itu, entah mengapa hal itu mampu membuat sebuah senyuman terbit begitu saja di bibirku. Rasanya aku senang bisa chatting dengan Arfan seperti ini meskipun untuk keperluan tugas. Pengecut memang aku ini, dalam chat aku senang dan berani bisa seakrab dan sedekat itu dengan Arfan, tapi pada saat kami bertemu langsung, aku lebih suka menjauh darinya karena terlalu malu dan gugup.
"Itu Arfan!!"
Lamunanku seketika lenyap saat mendengar pekikan Nadya yang sudah berdiri di sampingku. Seraya mengikuti arah pandang Nadya, aku bisa melihat di sana Arfan sudah sampai di sekolah, bahkan kini laki-laki itu sedang berjalan menghampiri.
"Assalamu'alaikum." Ucap salam Arfan setibanya di hadapanku dan Nadya.
"Wa'alaikumussalam." Jawab salamku dan Nadya secara bersamaan.
"Maaf, ya, aku bikin kalian nunggu kayak gini. Tadi aku ada urusan sebentar sebelum berangkat." Seloroh Arfan, terlihat tidak enak padaku dan Nadya.
"Iya, nih, kamu lama banget, deh!" Balas Nadya, merajuk.
Berbeda dengan Nadya yang merajuk, aku malah tersenyum tipis sebelum menjawab perkataan Arfan.
"Iya, gak apa-apa." Lirihku.
"Baiklah! Ayo kita pergi sekarang!" Ajak Nadya, kemudian.
Arfan mengangguk. "Iya, ayo!"
Saat itu juga, akhirnya aku, Arfan, dan Nadya pergi menuju Museum dengan menggunakan angkutan umum. Selama dalam perjalanan, hanya ada keheningan di antara kami bertiga. Terlebih saat itu Nadya sibuk sendiri dengan ponselnya, sementara aku dan Arfan hanya diam menikmati perjalanan kami di dalam angkutan umum.
Dalam diam itu sebenarnya aku merasa tidak nyaman karena Arfan duduk tepat di depanku, aku merasa cukup malu berada sedekat itu dengan Arfan. Disaat mata bergerak gelisah, aku juga semakin menautkan kedua telapak tanganku dengan erat.
Sungguh, aku sangat gugup. Meskipun Arfan tidak melihat ke arahku.
Bagaikan Dandelion
08.04.21
Sfrdssyh