Bab 7 : Kegelisahan Bara dan Liandra

1137 Kata
Liandra menggigiti kuku ibu jarinya dengan wajah penuh kegelisahan. Kakinya tidak bisa berhenti untuk terus menghentak seiring dengan kepalanya yang dipenuhi pikiran karena ketakutan yang melanda dalam dirinya. Alasannya hanya ada satu penyebab dari kegelisahannya ini. Yaitu Bara yang tak kunjung datang ke apartemennya sejak hari itu. Hari dimana Queen mengatakan niatnya untuk bercerai dari Bara. Ini adalah kabar gembira baginya. Seharusnya, ini juga menjadi kabar gembira bagi Bara. Namun pada kenyataannya, pria itu sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya semenjak menerima surat perceraian yang entah sudah ditandatangani atau belum. Setelah semua yang Bara katakan pada dirinya mengenai keluhannya tentang Queen, ia memberikan kasih sayang yang tidak diberikan oleh istrinya itu. Ia juga sudah memberikan anak yang selama ini diidam-idamkan oleh Bara, tapi pria itu sekarang sedang mengabaikannya. “Tidak, ini tidak boleh terjadi. Bara tidak boleh meninggalkanku!” kata Liandra bernada cemas sambil menggelengkan kepalanya. Ting tong! Ditengah rasa gelisah itu, suara bel apartemennya yang berbunyi membuat Liandra menoleh cepat ke arah pintu. Ekspresi wajahnya berubah drastis, seolah kegelisahan dan ketakutan yang tadi ia rasakan lenyap begitu saja. “Bara!” seru Liandra yakin seraya beranjak dari duduknya untuk membuka pintu. “Bara, aku-” “Kejutan, adikku!” Belum sempat selesai ucapan Liandra keluar, seseorang yang berdiri di depan pintu, mendorongnya masuk sambil menabrak tubuhnya. “Kak Kiandra? Bagaimana bisa kamu kemari? Kenapa kamu kemari?” tanya Liandra setengah kesal bercampur kecewa sambil mendorong saudara perempuannya itu untuk melepas pelukan mereka. “Apa aku tidak boleh kemari?” tanya balik Kiandra, memegang kedua bahu Liandra dan menatap intens kedua netra adiknya yang bergetar. Liandra diam tidak bisa menjawab. Ia membuang wajahnya ke samping, menyembunyikan kernyitan di dahinya. Pertanda ketidaksukaannya dengan kedatangan saudara kembarnya yang sudah cukup lama tidak menghubunginya dan sekarang datang secara tiba-tiba. “Ada apa kamu kemari?” tanya Liandra tanpa repot-repot mau berbasa-basi atau menatapnya. “Aku hanya merindukanmu saja. Ngomong-ngomong, kenapa kamu sangat ketus seperti ini? Jangan lupa bahwa akulah orang yang sudah membuatmu bisa merasakan ini semua, Liandra.” Kiandra berkata sembari masuk ke dalam apartemen Liandra tanpa permisi. Meski tak melihat wajah itu, Liandra mulai merasa tidak nyaman karena ketakutan yang melingkupinya. Ia masih berdiri di depan pintu tanpa bisa mencegah atau menolak kedatangan Kiandra hingga pada akhirnya ia menutup pintu apartemen juga. “Tapi kamu yang memaksaku melakukan ini,” bantah Liandra setelah mengumpulkan keberaniannya. Kiandra berbalik padanya dan tersenyum mengejek. “Kamu yang terpaksa, tapi pada akhirnya menyukai dan menikmati kekayaan Bara dengan menjual dirimu dan anaknya juga." “Ah, aku melupakannya. Dia anak-” “Dia anakku dan Bara!” teriak Liandra memotong ucapan Kiandra dengan mata menyalang marah. “Kalau begitu pergi ke rumahnya dan rayu dia lagi supaya dia tidak goyah untuk kembali pada istrinya. Bukan menunggu gelisah di sini seperti pecundang, Liandra.” Kiandra langsung membalas dengan tajam, menekan keberanian Liandra. Kiandra berjalan kembali mendekat pada Liandra dengan tatapan dingin khasnya. Kemudian menyentuh bahu Liandra, meremasnya pelan. “Meski kamu mencintainya, jangan bertindak bodoh. Dia tidak mencintaimu dan hanya mencintai istrinya meski dia tidak mengatakannya. Cepat gunakan kartumu untuk membuat ia yakin akan keputusannya dengan bercerai dari wanita itu.” Liandra tidak bisa berhenti gemetar ketika tangan itu semakin meremas kuat bahunya. Air mata tanpa disadari menetes jatuh membasahi pipinya. “Aku akan kembali sekarang, jaga dirimu baik-baik adikku. Lakukan tugasmu dengan baik demi keluarga kita.” Begitu selesai mengatakannya, Kiandra dengan sendirinya berjalan ke arah pintu. “Satu hal lagi, Bryan mengatakan jika dia merindukanmu,” ucap Kiandra sebelum akhirnya ia benar-benar keluar dari apartemen Liandra. Liandra mulai berderai air mata dengan tubuh gemetar di tempat ia berdiri. Menangis tanpa mengeluarkan suara sedikitpun bahkan bergerak seinci pun. Meski Kiandra sudah keluar beberapa menit yang lalu, Liandra masih belum bisa mengontrol tubuhnya dari ketakutan yang masih menguasai dirinya. Kondisi kamar yang semula tertata rapi dan bersih, kini terlihat lebih menyerupai sebuah kapal pecah akibat amukan badai dari kemarahan seseorang. Sudah seminggu berlalu kondisi kamar sama sekali tidak mendapatkan penerangan apapun. Pria itu juga sudah seminggu penuh menghuni kamar berantakan dan gelap itu. Tidak membiarkan siapapun memasuki kamar tersebut. Beberapa waktu lalu Bara baru saja terkejut karena keputusan Queen yang memang sudah berniat menceraikannya. Tak lama kemudian, ia kembali dibuat terkejut dengan keputusan lain Queen yang lebih memilih bekerja sama dengan perusahaan Evt. Group daripada perusahaan dirinya. "Sudah kukatakan, aku lebih suka tidak menerima bantuan darimu, daripada harus membuang-buang waktuku lebih lama denganmu, Bara. Lebih baik semuanya diakhiri sekarang." Perkataan Queen saat itu tiba-tiba saja terlintas dalam pikirannya. Bara terkekeh hambar dibuatnya seorang diri bagai seseorang yang kehilangan akal. Didukung oleh tatapan kosongnya. “Jadi begitu, Queen. Semua yang aku pikirkan tentangmu benar. Dan yang bersalah atas semua ini bukan aku, melainkan dirimu. Semuanya sudah kamu rencanakan dengan matang. Aku sangat mengaguminya.” Bara bergumam seorang diri. Tatapan kosong itu perlahan berubah menjadi sebuah pancaran kemarahan. Menatap lurus tajam ke depan membayangkan jika di depannya adalah Queen, dengan tangan tangan terkepal kuat hingga buku jarinya memutih. Ekspresi penuh dendam yang ditunjukkan pada Queen. Bara berdiri dari duduknya dan melangkah dengan lunglai ke arah pintu. Berpikir jika sudah cukup dirinya menyiksa diri dengan rasa penyesalan tak berarti untuk wanita yang sia-sia. Begitu membuka pintu, ia menyerngit tak nyaman karena cahaya yang langsung menyorot tepat pada wajahnya. “Bara!” seru seorang wanita pada Bara tepat setelah ia membuka penuh pintu dan berdiri di depan pintu kamarnya. “Liandra, apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Bara lemah. “Bara!” Belum sempat Liandra menjawab, tubuh Bara yang sudah tidak menerima asupan apapun, hampir saja jatuh karena oleng. Dengan sigap Liandra menahan tubuh Bara meski kesulitan dan memapahnya kembali ke kamar dan membaringkannya di sana. “Apa yang terjadi?” tanya Liandra khawatir. “Panggil Anggi,” perintah Bara. Tak banyak bertanya apapun, Liandra keluar dan memanggil seseorang yang dimaksud oleh Bara. Tak berapa Liandra kembali masuk ke dalam kamar yang sudah dinyalakan bersama dengan seorang wanita paruh baya yang adalah satu-satunya pembantu di rumah tersebut. Liandra mendengarkan dari sampingnya apa-apa saja yang diperintahkan Bara pada pembantunya. Setelah selesai memberikan instruksi, pembantu bernama Anggi ini keluar kamar untuk melaksanakan perintah Bara. Liandra mendekat dan duduk di sisi ranjang Bara sambil mengambil tangannya. “Apa yang terjadi padamu?” Liandra baru sekarang bertanya kondisi Bara. “Aku baik-baik saja, jangan khawatir.” Bibir pucat itu menampilkan senyum menenangkan untuk Liandra. “Apa ini semua karena kamu kesulitan mengambil keputusan untuk bercerai dari Queen?” Pertanyaan Liandra kali ini tidak mendapatkan respon apapun dari Bara. “Aku sudah memutuskan dengan bulat aku akan bercerai dari Queen.” Jawaban Bara menerbitkan senyum tipis penuh kelegaan di wajah Liandra. “Apa maksudnya itu, Bara?” Suara seseorang dari arah yang tak jauh dari mereka membuat keduanya terkejut dan menoleh cepat pada sumber suara. - - - To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN