“Bara, apa yang terjadi padamu? Dan apa yang kamu maksud dengan bercerai dari Queen? Lalu siapa wanita ini?” Aurelia Ziyan, ibu kandung dari Bara yang sudah terlihat jelas di mata Liandra karena kemiripan yang dimilikinya, meski ini pertemuan pertama mereka.
“Mama … “ panggil Bara seraya mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk.
“Dia adalah Liandra, wanita ini adalah kekasih Bara yang sedang mengandung anakku. Penerus keluarga Ziyan yang tidak bisa diberikan oleh Queen.” Kalimat itu bagai sebuah sambaran petir yang terjadi hari ini tepat di kediaman putranya.
“A-apa? Apa yang kamu lakukan?! Lantas bagaimana dengan Queen?!” teriak Aurelia yang sudah berderai air mata.
“Wanita itu juga sudah mengkhianati Bara, Ma.” Aurelia semakin menangis dalam diam.
“Nyo-nyonya … “ panggil Liandra pelan.
“Jangan sentuh aku!” sentak Aurelia.
“Apa maksudnya ini, Bara? Apa yang terjadi pada kalian? Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Aurelia beruntun disertai dengan tangisnya yang semakin deras.
“Mama pasti sudah mendengar jika Jf. Group menerima bantuan dari Evt. Group. Perusahaan Queen sudah mengalami krisis sejak lama dan tidak pernah meminta bantuan pada Bara meskipun aku bisa membantunya. Alih-alih meminta bantuan padaku, dia justru meminta bantuan pada Melviano. Sejak awal ia yang keras dengan keputusannya, itu semua karena pria itu, Ma!” bentak Bara mengeluarkan emosinya.
“Dia lebih dulu yang mengkhianati Bara dan itu sudah terjadi sejak lama! Dia hanya menunggu kesempatan ini!” ucap Bara yang juga ikut meneteskan air matanya.
Terlintas apa yang dikatakan oleh Kiandra saat itu di kepala Liandra. Bahwa Bara sebenarnya memang mencintai Queen. Melihat bagaimana kesedihan dan kekecewaan yang ditunjukkan oleh pria itu, sudah menunjukkan jika ia memang mencintai Queen. Beruntung baginya karena Bara terlalu bodoh untuk menyadari perasaannya pada Queen.
“Ini semua pasti hanya sebuah kesalahpahaman. Queen tidak mungkin seperti itu. Dan kenapa kamu juga menghamili wanita lain, Bara? Kamu sudah mencoreng nama keluarga kita! Tarik kembali keputusanmu bercerai dengan Queen!” Aurelia memohon dengan sangat pada putranya yang sudah membulatkan tekad.
Bara menggelengkan kepalanya. “Aku tidak akan mengubah keputusan ini. Aku tetap akan bercerai darinya dan hidup bersama Liandra dan anak kami. Yang bersalah di sini adalah Queen, bukan aku!” seru Bara tajam.
Beberapa hari kemudian
Queen berdiri di depan jendela besar di dalam ruangannya yang langsung menghadap pada gedung-gedung pencakar langit. Dibawahnya tampak kendaraan-kendaraan yang sibuk dengan aktivitas masing-masing di setiap sudut ruas jalanan. Sikap dan tindakan Queen yang ia lakukan saat ini menunjukkan jika ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Setelah sekian lama ia tidak lagi memikirkan tentang pria yang dalam beberapa hari lagi akan menyandang status sebagai mantan suaminya, ia kembali memikirkannya.
Ingatannya melayang pada saat terakhir kali pertemuan mereka ketika ia sudah mengambil keputusan bulat, memberikan surat perceraian padanya. Ekspresi yang tidak bisa dilupakannya sampai saat ini. Namun, jika kembali mengingat bagaimana sifat Bara selama ini, pria itu pasti akan merasa jika harga dirinya benar-benar dijatuhkan. Tentu saja alasannya adalah karena Queen yang mengambil keputusan dengan meminta bantuan pada Melviano, alih-alih pada dirinya.
Keputusan yang dibuatnya dengan menceraikan Bara dan langsung menikah dengan Melviano, tentu sudah Queen pikirkan matang-matang sampai pada dampak dari hubungan kedua keluarga mereka. Kemungkinan terburuknya adalah keluarga Jefferson dan Ziyan akan memiliki hubungan buruk karena kedua keluarga besar itu sama-sama memiliki harga diri tinggi, di samping persahabatan mereka.
Queen mengambil ponselnya yang berada di atas meja, dan mencari nomor seseorang. Begitu ia menyambungkan telpon, suara telpon intercom di mejanya bersamaan terdengar. Ia bergantian menjauhkan ponselnya dari telinga dan mengambil telpon intercom. Tapi lagi-lagi, bersamaan dengan itu, pintu ruangannya terbuka.
“Ada apa kamu menelponku, Queen?” tanya pria tersebut dengan senyum lembut khasnya dan telpon yang ditempelkannya pada telinga.
“Tuan Melviano ada di kantor, Nona.” Itu suara Anne yang terdengar lewat telpon intercom.
Queen menghembuskan napas pelan sambil menutup mata kemudian tersenyum tipis. Ia menutup kedua telpon dan berjalan ke arah Melviano yang masih berdiri di depan pintu. Pria di depannya seolah mengetahui jika dirinya tengah membutuhkannya.
“Duduklah, Melvin.” Tanpa berbicara formal, Queen mempersilahkannya untuk duduk untuk berbincang santai dengannya.
“Terima kasih,” timpal Melviano seraya berjalan ke arah sofa dan duduk berhadapan dengan Queen.
Sebelum mereka memulai pembicaraan, sekretarisnya, Anne, tanpa diperintah sudah mengirimkan pekerja untuk menghidangkan minuman. Tanpa dipersilahkan Queen, Melviano mengambil gelas yang masih mengepulkan uap panas itu dan menyeruput isinya pelan.
“Apa yang membawamu kemari, Melvin?” tanya Queen memulai pembicaraan dengan rasa nyaman karena Melviano yang tidak bersikap canggung dengannya di kantor.
Melviano tidak langsung memberikan jawabannya pada Queen. Ia lebih dulu menatapnya ke dalam netra milik Queen dan tak lama senyum manis itu lagi-lagi kembali terbit di bibirnya.
“Anggap saja aku memiliki pengetahuan kalau kamu sekarang sedang membutuhkanku,” jawab Melviano.
“Karena kamu mengatakannya,” timpal Queen yang kehabisan kata untuk memperpanjang ini.
“Bagaimana menurutmu jika keluarga Jefferson dan Ziyan berseteru karena keputusanku?” tanya Queen langsung pada topik pembicaraan yang ingin ia katakan.
“Itu mungkin sudah menjadi hal yang pasti. Tapi yang utama adalah karena keluarga Ziyan yang tidak memiliki rasa malu atas kesalahan putranya.” Queen terkejut karena Melvaino yang menjawab cepat. Sekilas juga ia mendengar nada bicara Melviano yang baru pertama kali ia dengar sangat dingin.
“Jangan terlalu merasa terbebani dengan pendapat orang-orang, Queen. Yang bersalah adalah pria itu, berbeda denganmu yang mengambil keputusan ini untuk kebaikan perusahaan keluargamu. Kita menikah juga untuk saling membantu, bukan atas dasar perselingkuhan seperti yang dilakukannya.” Entah mengapa sesuatu yang dikatakan Melviano seolah adalah yang dibutuhkannya sekarang untuk meyakinkan Queen atas kekhawatirannya.
“Yang terpenting adalah keluarga dan orang-orang terdekatmu yang harus mengetahui secara garis besar kebenarannya,” lanjut Melviano.
“Sekarang aku tenang dan lega. Terima kasih, Melvin.” Queen tersenyum lembut. Meski begitu, ia tidak bisa sepenuhnya menghilangkan kegelisahannya ketika hendak membicarakan semua ini pada orang tuanya.
“Bagaimana kalau aku juga bertemu dengan orang tuamu saat kamu akan memberitahu mereka?” tanya Melviano.
“Tentu saja,” timpal Queen.
“Ngomong-ngomong, aku penasaran dengan pertanyaanmu. Sepertinya kamu juga merasa yakin jika keluarga Jefferson dan Ziyan akan berselisih,” ucap Melviano.
“Ya, setelah aku mengenal Bara selama puluhan tahun, aku yakin dia tidak akan mau menjadi yang bersalah. Dan aku memberikan dia kesempatan untuk menyalahkanku. Keluarganya tentu akan mendukungnya 100%. Selain itu, wanita itu juga mendapatkan keberuntungan karena pembuktiannya yang bisa menjadi salah satu senjata keluarga Ziyan untuk menyalahkanku juga.” Queen mengangkat bahunya tak acuh seolah semua yang ia katakan memang akan terjadi.
“Sepertinya ini juga termasuk kesalahanku,” lanjut Queen dengan suara lirih.
“Tidak, sifatmu itu bukan kesalahanmu. Kamu hanya perlu seseorang yang membuatmu lebih banyak terbuka. Dan mengenai wanita itu, apa kamu juga merasa yakin jika itu anaknya?” Pertanyaan yang meluncur dengan santai dipadukan dengan wajahnya yang tersenyum membuat Queen tidak bisa mengenali bagian lain dari diri Melviano.
Salah satu suara ponsel mereka terdengar di tengah pembicaraan keduanya. Queen menoleh pada ponselnya dan langsung mengangkatnya ketika nama Kennard tertera di layar ponselnya.
“Apa ap-”
“Pulang ke rumah orang tua kita sekarang juga, Queen!”
-
-
-
To be continued