Manusia Tak Punya Hati
Tahun 2008
Apa yang lebih menyakitkan dibandingkan tidak dicintai dan diinginkan oleh ibu kandungmu sendiri?
Namanya Ayun Prameswari, seorang anak yang lahir diluar nikah. Seharusnya ia tidak dibenci, karena ia hadir ke dunia ini bukan atas dasar kemauannya sendiri. Melainkan atas kesalahan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya. Jadi pantaskah dia dibenci, bila akhirnya hidup sang ibu berat dan penuh perjuangan saat melahirkan dan membesarkannya seorang diri?
Tentu jawabannya adalah tidak!
Tapi justru itulah yang terjadi. Apalagi sejak ibunya menikah ... hidup Ayun yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang layaknya anak-anak yang lain, semakin bertambah sulit. Sedari kecil, ia sudah dijadikan pembantu di rumah suami ibunya sendiri.
"Mas, gimana sekolahnya Ayun? Dia sudah lulus SMP sekarang." Ayun menajamkan telinganya demi mendengarkan percakapan kedua orang tuanya sembari menyetrika pakaian mereka. Ya, semua pekerjaan rumah mulai dari memasak, membersihkan rumah dan lainnya menjadi tanggung jawabnya. Lalu kedua orang tuanya? Mereka bekerja, berangkat pagi dan pulang sore harinya.
"Buat apa sekolah? Toh ... anak itu nggak pintar-pintar amat. Suruh aja dia kerja di tempat Bos kamu jadi pembantu kek, cuma itu kan keahliannya," jawab Surya enteng sembari mengganti channel TV 21 inch di hadapannya.
"Tapi Mas ...." Ayun sudah hampir menangis di kamar sempitnya. Namun ia sedikit terhibur, paling tidak kali ini ibunya sedikit menentang keputusan suaminya. Apa itu artinya ibunya peduli dengan masa depannya?
"Tapi apalagi? Kamu tidak lihat perut kamu sudah mulai membesar, sebentar lagi kamu akan melahirkan, butuh biaya besar. Belum nanti setelahnya sibuk mengurus anak. Sudah pasti kamu tidak bisa bekerja lagi dan hanya aku yang banting tulang untuk menghidupi kalian." Suara Surya mengeras. Setelah itu hanya keheningan yang terhampar di rumah minimalis itu. Ibunya memang sangat mencintai sang suami dan tak memiliki keberanian untuk melawan karena takut ditinggalkan oleh pria yang mau menerima dirinya apa adanya itu.
Ayun mengusap air matanya bersama harapannya yang hilang dalam sekejap. Sepertinya ia benar-benar hanya akan menjadi lulusan Sekolah Menengah Pertama.
Kenapa?
Kenapa Tuhan tidak pernah adil padanya?
Padahal ia sudah berjuang keras diujian kali ini demi mendapatkan nilai yang bagus. Usahanya pun tak sia-sia, ia berhasil masuk 50 besar di sekolahnya, yang memberikan kebanggaan tersendiri untuk Ayun. Karena ini pertama kalinya ia berada diposisi ini. Lalu sekarang apa gunanya itu, jika akhirnya ia tak bisa meneruskan pendidikannya?
"Ayun." Suara Yani yang terdengar dibelakangnya membuat Ayun membeku dalam tangisnya yang tanpa suara. Gadis itu masih diam, ia takut jika bersuara ibunya akan mengetahui kalau kini ia tengah menangis dan membuat wanita yang telah melahirkannya itu jengkel kapadanya.
"Kamu mau sekolah di desa? Simbah katanya mau membiayai sekolah kamu," ucap Yani. Bukan dengan kalimat yang lembut memang namun kalimat itu tetap menjadi harapan Ayun untuk tetap bisa melanjutkan pendidikannya.
Tapi ... bukankah simbah sudah tua?
***
Tahun 2009
SMK TERNAK!
Kenapa sekolah yang rata-rata muridnya adalah siswi putri ini mendapatkan julukan se-ekstrim itu?
Jawabannya adalah karena banyak muridnya yang hamil diluar nikah, dikeluarkan dari sekolah dan akhirnya putus sekolah karena mau tak mau harus menikah. Seperti itulah sejarahnya ...
Dan disinilah Ayun berada selama kurang lebih setahun ini. Disekolah dengan reputasi buruk itu. Lalu bagaimana suasana disekolah ternak ini?
Pemandangan siswi memoles wajahnya dengan bedak, lipbalm ke bibir dan menyisir rambutnya setiap berganti mata pelajaran adalah hal yang biasa. Hampir semua melakukannya ... kecuali Ayun dan beberapa anak kutubuku lainnya. Jangankan untuk membeli bedak, uang jajannya saja hanya lima ribu perak. Untuk naik angkot bolak-balik saja empat ribu rupiah. Jadi hitung sendiri sisa uang yang bisa ia gunakan untuk membeli jajan demi mengganjal perutnya.
Uang itu bagi Ayun. Daripada ia belikan makanan ringan yang tak seberapa mengenyangkan. Lebih sering ia gunakan untuk meminjam komik atau novel di " Naomi Comic" yang tak jauh dari sekolahnya. Membaca adalah hobinya sejak dulu, jadi jangan heran jika ia rela tak jajan demi bisa membaca komik atau novel favoritnya. Bahkan terkadang ia berjalan kaki sekitaran 8 kilometer untuk mencapai rumahnya demi menyimpan uang jajannya yang tak seberapa itu. Bagi seorang Ayun, uang seribu rupiah itu sangat sangat sangatlah berharga.
Kembali ke suasana sekolah.
Pemandangan labrak melabrak, jambak-jambakan, dengan membawa gengnya karena rebutan gebetan atau pacar. Hampir setiap hari ada!
Ayun hanya menjadi penikmat pertunjukkan itu. Meski tak habis pikir juga dengan tindakan mereka. Meng-ge-li-kan! Begitu menurut Ayun.
Lalu ... pemandangan mengerjakan PR dengan mencontek milik teman beramai-ramai sebelum kelas dimulai. Itu juga hal lumrah.
Bahkan saat ujian pun, gotong royong dalam hal contek-mencontek seperti ini didukung oleh beberapa guru. Miris memang untuk hal satu ini, terutama bagi siswa yang sudah berjuang keras untuk belajar. Nilai mereka pun tak jauh berbeda dari mereka yang hanya bermodal menyalin. Tapi mau bagaimana lagi, ini sudah menjadi tradisi turun menurun disekolah ini. Pelit berarti dijauhi!
Sekarang Ayun sudah duduk dibangku kelas sebelas. Setahun disini, sedikit banyak Ayun sudah mengerti bahasa jawa yang menjadi bahasa sehari-hari teman-temannya. Meskipun untuk berbicara ia masih kagok tapi ia mulai paham apa yang dikatakan oleh teman-temannya.
Seperti biasa, setelah turun dari angkot, gadis bertubuh mungil itu mampir dulu ke Naomi Comic untuk mengembalikan komik yang dipinjamnya serta meminjam komik yang baru.
Tangan mungil itu menggapai dua komik Detektif Conan vol selanjutnya dari yang ia baca sebelumnya.
"Makasih, Mbak," ucap gadis manis itu riang setelah membayar seribu rupiah untuk dua komik yang dipinjamnya.
Langkah kakinya ringan melanjutkan perjalanan menuju sekolahnya seraya bersenandung lirih. Sampai seekor kucing kecil yang ingin menyeberang jalan menyita perhatiannya. Ayun memandang jalanan yang cukup ramai pagi itu, karena memang siswa disekolahnya banyak yang mengendarai sepeda motor untuk ke sekolah.
"Meongg! Sini sini!" Panggil Ayun, untung saja beberapa motor yang melintas mengetahui keberadaan si kecil berbulu abu-abu putih itu dan membelokkan arah motornya. Hingga si kecil masih dalam keadaan aman.
Namun, ketika Ayun hendak melangkah mengambil kucing itu dari tengah jalan. Sebuah motor dengan kecepatan tinggi membuat langkah Ayun terpaksa terhenti dan memekik kencang ketika ban motor itu nyaris saja melindas kucing malang itu. Tapi syukurlah si pengendara berhasil mengerem laju motor tepat waktu dan si abu putih terselamatkan.
"Hufft ...." Ayun menarik nafas lega. Jantungnya hampir saja copot membayangkan ia akan menyaksikan kecelakaan yang bisa saja menewaskan si kucing imut itu.
Tapi Ayun salah menduga ... nasib si kucing belum selesai sampai disiturupanya. Sebuah tendangan yang kaki panjang itu layangkan ditubuh kucing kurus itu membuatnya terlempar jauh menabrak pagar besi kantor pos tepat dibelakang Ayun.
"Meongg!" Pekikan memilukan kucing itu membuat hati Ayun teriris. Matanya membelalak sempurna menghampiri kucing malang itu untuk menolongnya. Sekilas ia bersitatap dengan si pengendara yang mengenakan helm hitam itu dengan amarah yang membuncang. "Dasar manusia tak punya hati!" geram Ayun dalam hati.
Namun si pengendara motor itu nampak acuh dan meneruskan kembali perjalanannya. Dari tempatnya Ayun masih menatap laki-laki yang membelokkan motornya menuju gedung sekolahnya itu sembari mulutnya terus mengumpati tak berkesudahan. Sementara tangannya tampak mengelus tubuh kurus kucing jalanan itu.
"Sabar ya, Mpus." Ayun mengeluarkan bekal makan siang yang dibuatkan neneknya. Ia tak tega melihat keadaan kucing malang yang nampak kembang kempis itu, perutnya cekung kedalam, sementara tulang-tulangnya menonjol disana-sini.
Untung saja, hari ini ada pelajaran Olahraga sehingga Ayun mempunyai bekal makanan hari ini untuk ia bagi ke kucing malang itu. Bukan ayam ataupun ikan memang, melainkan hanya telur, telur ayam kampung milik neneknya yang diambil dari tarangannya.
Sedikit mencampur telur dadar itu dengan nasi Ayun memberikannya pada si Mpus. Tak disangka, kucing itu langsung lahap menyantapnya, membuat senyum terkembang sempurna dibibir merah muda itu meski tanpa polesan dari lipglos atau lipbalm sama sekali.
"Kakak tinggal dulu ya, Mpus." Setelah membereskan bekalnya. Ayun dengan berat hati meninggalkan kucing itu. Ia ingin membawanya pulang tapi tak mungkin ia membawa kucing itu ke dalam kelasnya sampai jam pulang nanti. Bisa-bisa teman-teman dan gurunya protes.
"Dah Empuss!" Ayun masih terus berdadah-dadah ke kucing itu. Padahal si Mpus juga acuh sibuk memakan nasi campur telur pemberiannya.
"Huff ... dasar manusia nggak punya hati! Nggak punya perasaan!" Ayun masih saja mendumel mengingat perlakuan kasar murid laki-laki tadi. "Tapi dia masuk sini tadi ... jangan-jangan dia murid disini juga lagi. Tapi aku kaya baru lihat tuh manusia laknat!"