"Nak Kalingga, sudah lama nggak ke sini. Sibuk terus sama pekerjaan, ya?" Ibu Yessi menyambut dengan ramah kedatangan lelaki yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri. Dipersilakannya Kalingga untuk duduk di ruang tamu.
Setelah Kalingga menuruti ucapan Yessi untuk tidak menemui gadis itu sama sekali. Dia menghabiskan hari-harinya dengan bekerja gila-gilaan demi memberi Yessi ruang untuk diri sendiri.
Hingga pada akhirnya Kalingga tidak dapat menahan, setelah lebih dari sebulan mereka tidak bertemu. Pun juga tidak berkomunikasi padahal biasanya cukup rutin berkirim pesan. Kalingga tetap tidak bisa melupakan rasa bersalahnya. Merasa waktu yang diberikan untuk Yessi menenangkan diri sudah cukup, Kalingga mulai mencari gadis itu.
"Iya, Bu. Akhir-akhir ini lumayan sibuk. Ibu sehat?" tanyanya ramah seraya tersenyum hangat.
Wanita paruh baya itu ikut tersenyum. "Ya seperti ini sehatnya orang tua. Kamu juga sehat, kan? Oh ya, mau minum apa?"
"Sehat kok, Bu. Nggak usah bikin minum, Kalingga nggak lama, kok. Cuma mau cari Yessi. Dia di rumah nggak, ya?" tanyanya basa-basi karena tak melihat gadis itu sejak kedatangannya tadi.
"Loh, kamu nggak tahu? Yessi kan lagi liburan sama Bos dan karyawan rumah makan yang lain. Katanya sih mau sekalian eksplore menu, jadi mereka pergi lumayan lama."
Kerutan dahi Kalingga menunjukkan kebingungan. Tapi, dia tak ingin memperlihatkannya pada ibu Yesi. "Sepertinya Yessi sudah bilang, tapi Kalingga lupa karena terlalu sibuk bekerja."
Kalingga memaksakan tawa. Tidak yakin Yessi memang pergi berlibur atau berniat menghindar.
"Seharusnya besok mereka pulang. Besok ke sini lagi saja."
Kalingga mengangguk mengiyakan. Dia pun segera pamit. Tempat kedua yang dituju Kalingga yaitu rumah makan. Jika memang Yessi sedang berlibur dengan karyawan yang lain, tentu seharusnya tutup. Namun, yang didapati Kalingga tempat tersebut justru buka seperti biasa. Bahkan ramai dengan pengunjung dan karyawan lain yang hilir mudik.
Beberapa saat mengamati, Kalingga tidak menemukan sosok Yessi ada di antara mereka. Kekhawatiran dan rasa penasarannya kembali mencuat. Hingga membuat langkah pria itu akhirnya masuk ke dalam rumah makan tersebut.
"Selamat datang. Silakan masuk." Seorang wanita berseragam karyawan mendatangi Kalingga dan mempersilakan masuk karena sedari tadi lelaki itu hanya berdiri.
"Ah, maaf saya bukan mau memesan, tapi mau cari teman saya." Kalingga tersenyum tidak enak.
"Kalau boleh tahu, namanya siapa, ya?" tanya karyawan itu berusaha membantunya.
Kalingga kembali mengedarkan pandangannya berharap melihat Yessi di sana. Nyatanya, dia tak menemukan gadis itu. "Yessi. Dia bekerja di sini, kan?"
Wanita tersebut mengangguk mengiyakan. "Dia memang kerja di sini, tapi sudah beberapa hari tidak masuk. Terakhir izin sakit, tapi sampai sekarang belum masuk lagi."
"Ya sudah kalau begitu terima kasih, ya."
Kalingga berjalan menuju mobil dengan mata tidak lekat dari ponsel. Tujuannya adalah menghubungi seseorang yang selama ini menjadi salah satu orang kepercayaan, Ezra. Obrolan dengan ibu Yessi dan juga karyawan tadi sudah tak benar dan Yessi membohongi semua orang, termasuk dirinya.
"Cari keberadaan Yessi. Jangan menghubungiku sebelum kamu menemukannya," ujar Kalingga memberi perintah.
***
Kabar mengenai keberadaan Yessi baru berhasil didapat saat menjelang tengah malam, sekitar pukul sepuluh. Kala itu, Kalingga hampir saja memejamkan matanya karena terlalu lelah. Getaran ponselnya pun membuatnya kembali terjaga dan buru-buru membuka pesan. Tanpa basa-basi, Kalingga langsung beranjak pergi meninggalkan apartemennya.
Pria itu segera melajukan mobilnya secepat yang dia bisa menuju alamat yang dikirimkan melalui pesan singkat. Jemarinya memegang setir dengan erat. Sesekali menekan klakson tidak sabar menghadapi kemacetan jalan bertepatan dengan malam minggu.
Begitu sampai di tempat tujuan, Kalingga tidak langsung keluar dari mobil. Dipandanginya rumah sederhana dengan cat kecokelatan yang lampu ruang tamunya sudah menyala itu dalam diam. Kalingga tahu dia harus masuk jika ingin bertemu Yessi, tetapi ada perasaan ragu yang membuatnya tertahan.
Bertepatan dengan itu, seorang gadis terlihat keluar dari rumah. Sepertinya hendak pergi, tapi mendadak masuk lagi saat melihat mobil milik Kalingga terparkir.
Gadis itu bukan Yessi, tapi tingkahnya cukup membuat Kalingga merasa yakin dan segera keluar dari mobil. Langkah tegasnya dipercepat untuk datang bertamu ke sana.
"Maaf mengganggu, saya sedang mencari Yessi. Dia ada di sini, kan?" ujar Kalingga tanpa basa-basi lagi. Selain sudah lelah seharian, dia tak ingin mengulur waktu karena semakin larut malam.
"Nggak ada yang namanya Yessi di sini." Gadis itu menggeleng. Tangannya mencengkeram daun pintu dengan kuat.
"Jangan bohong. Saya tahu dia di dalam."
"Kamu salah rumah."
Kalingga berhasil menahan pintu agar tidak tertutup meski jarinya sempat terjepit. Terjadi adegan tarik menarik dan tentu saja pemenangnya adalah Kalingga yang memiliki tenaga lebih kuat. Sedangkan yang diributkan justru sedang duduk tenang di ruang makan, merenung sambil mengobrol dengan seseorang di seberang telepon miliknya. Tangannya sibuk mengaduk-aduk mie kuah yang bahkan masih utuh di dalam mangkuk seraya mengamati benda panjang dengan tampilan garis dua yang membuat kepalanya pusing. Tidak sadar jika temannya gagal mencegah Kalingga datang.
"Yes, maaf dia maksa buat masuk."
Mendengar gumaman tersebut, barulah Yessi menoleh. Sorot matanya menajam membuat Kalingga menelan ludah tanpa sadar.
"Nanti aku hubungi lagi. Orangnya datang," ucapnya pada orang di seberang telepon tampak tenang.
Yessi meletakkan ponselnya sedikit kasar di meja, tepat menindih tespek yang sengaja ia sembunyikan dari pandangan Kalingga.
"Ngapain kakak ke sini? Lupa dengan apa yang kubilang terakhir kali?" tandas Yessi geram.
Mengetahui situasi kurang mengenakkan, teman yang ditumpangi Yessi pun memilih undur diri. Memberi kedua tamunya untuk berbicara empat mata tanpa distraksi.
"Kenapa kamu nggak ada di rumah? Kamu bohong sama Ibu kalau sedang berlibur dengan karyawan lain!"
Kalau boleh jujur Kalingga tidak kalah marah pada Yessi sekarang. Dia hanya tak suka gadis itu berbohong pada ibunya dan juga sengaja menghindari dirinya.
"Aku pergi ke mana, apa yang aku lakukan, sama sekali bukan urusanmu, Kak!" sentak Yessi dengan sorotan nyalang penuh amarah. Yessi membuang muka. Menolak bersitatap dengan Kalingga yang menarik kursi di hadapannya.
"Kita masih perlu bicara, Yes. Kenapa kamu menghindar? Katakan!"
"Nggak ada yang perlu dibicarakan, Kak. Aku sudah melupakan apa pun yang pernah terjadi di antara kita," ujar Yessi. Suaranya bergetar oleh emosi.
Kalingga berusaha meraih tangan Yessi, tanpa sengaja menggeser ponsel gadis itu dan melihat benda yang saat ini Yessi benci setengah mati. Menyadari Kalingga mengamati tespek miliknya, dengan sengaja Yessi menjatuhkan dari meja. Lalu, menginjak menggunakan kakinya. Ia benar-benar tak ingin Kalingga mengetahui itu semua.
Kening Kalingga mengerut. Lantas ia membungkuk dan tak melihat sesuatu jatuh di bawah sana. Namun, pria itu tak mungkin salah lihat atau sekadar halusinasinya melihat hasil tespek positif beberapa detik yang lalu. Menyadari keanehan itu, Kalingga beranjak berdiri dan menarik pergelangan Yessi untuk berpindah tempat.
Yessi semakin geram tatkala pria itu menariknya paksa dan membuat pertahanannya gagal untuk menutupi benda yang jatuh tersebut. Yessi membuang wajahnya jengah.
Sementara, Kalingga langsung meraih benda tersebut seraya mengamatinya. Tidak bodoh juga untuk memahami dua garis yang nampak sangat jelas di sana. "Ini punyamu, Yes?"
Yessi hendak menyahutnya, tapi Kalingga menghindari dan memilih untuk tetap menggenggam benda itu. Gadis itu langsung berlalu pergi karena malu setelah Kalingga tahu bahwa dirinya hamil.
Tak mungkin diam. Kalingga mempercepat langkahnya untuk mengejar Yessi. "Beneran punyamu, Yes?" tanyanya sekali lagi ingin memastikan.
Yessi membuka mulut untuk menjawab, tetapi tidak ada satu kata pun keluar. Wajahnya memucat seiring air mata yang yang kembali luruh.
"Ikut aku!" tegas, tidak mau dibantah. Kalingga menyeret paksa tangan Yessi agar segera pergi bersamanya.
"Itu ..., itu bukan anakmu, Kak." Yessi berusaha menarik tangannya dari cengkeraman Kalingga. Membuat sebuah alibi yang tentu saja tidak bisa dipercaya.
"Kamu pernah melakukannya dengan orang lain? Siapa?" Kalingga menelengkan kepala. Tatapannya berubah tajam penuh intimidasi.
Yessi menolak membalas tatapan Kalingga. Matanya bergerak-gerak mencari nama yang bisa dijadikan tameng. Tidak ada, karena Yessi memang hanya melakukan itu dengan Kalingga.
"Kenapa kamu nggak ngasih tahu aku, Yes? Kenapa kamu melarikan diri kayak gini?" Kalingga melonggarkan cengkeraman berganti menggenggam lembut tangan Yessi karena gadis itu tampak sangat kacau.
"Nggak bisa, Kak. Aku takut." Yessi menunduk. Bahunya bergetar seiring air mata yang terus turun tanpa bisa dihentikan.
Kalingga terdiam menyaksikan Yessi yang kini menangis hebat di hadapannya. Amarah yang seharian membakar dadanya meredam digantikan rasa bersalah dan bingung.
"Aku nggak tahu harus bagaimana, Kak."
Kalingga menarik tubuh Yessi ke dalam pelukan. Tubuh Yessi yang terus gemetar terasa kecil di dadanya. "Tenang, Yes. Kita bicarain baik-baik, ya? Sekarang kamu ikut aku dulu."
Teringat jika mereka masih berdiri di pinggir jalan, Kalingga lantas melepas pelukan dan mengajak Yessi masuk ke dalam mobil. Mereka berkendara pelan tanpa tujuan.
"Aku bakal tanggung jawab atas anak itu, Yes."
Yessi menoleh mendengar pernyataan Kalingga. Terkekeh kecil di sela isak tangisnya. "Buat apa? Orang yang Kakak cinta itu bukan aku," ujar Yessi. Memegang dadanya yang terasa semakin sesak mengingat siapa yang disebut Kalingga ketika pria itu merenggut kesuciannya.
"Tapi yang ada di perutmu sekarang itu anakku," bantah Kalingga.
Yessi terdiam, benar-benar tidak bisa menguasai keadaan. Kepalanya sangat pusing dan kacau. "Susah, Kak. Sama seperti Kakak, aku juga nggak pernah membayangkan bakal nikah dengan orang yang jelas-jelas nggak suka sama aku."
Yessi memandang Kalingga dengan cara berbeda. Ada sebuah keputusasaan yang jelas di sana.
"Terus kamu mau kita gimana? Aku jelas nggak bakal setuju kalau kamu milih buat gugurin anak itu. Bahaya juga buat kesehatanmu nantinya," jelas Kalingga.
Yessi menyentuh pelan perutnya yang masih rata. Dia pun bingung saat menemukan dua garis merah pada test pack yang dipakainya tadi pagi. Niatnya tidak mau memberitahu Kalingga, bahkan ada niatan untuk menggugurkannya. Namun, siapa sangka lelaki itu justru mencari keberadaannya.
"Kita ke rumahmu, ya? Beritahu keluargamu." Keputusan yang Kalingga ambil untuk menyelesaikan semuanya sudah bulat. Dia juga tak ingin berlama-lama menunda dan membiarkan Yessi seorang diri dalam keadaan kacau seperti ini.
"Kakak jangan gila!" sentak Yessi. Menolak mentah-mentah ide yang Kalingga berikan.
~ Bersambung...