Bab 1. Pelampiasan Hasrat
"Ahhhhh ...."
Suara yang tertahan itu terdengar lepas begitu saja meski Yessi tak ingin mengucapkannya. Niat awal hanya ingin membantu Kalingga. Namun, gadis itu terjebak malam panas yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Yessi merasa kacau. Buliran bening yang tertahan menetes sempurna melalui celah ekor matanya bersama rasa sakit yang menjalari seluruh tubuhnya. Pria yang ia anggap baik telah merenggut kesuciannya secara paksa. Bayangan kedua orang tuanya pun kian melintas di benaknya sangat kecewa.
"Kak, berhenti!" desis Yessi hampir tak terdengar karena terlalu sesak. Tangannya berusaha mendorong tubuh besar yang kini sedang menindihnya.
Kalingga menyentak tangan gadis itu yang menghalangi dirinya untuk leluasa menjamah seluruh tubuh si wanita. Bukan diam saja Yessi lantas berontak dan berusaha melepaskan diri dari lelaki yang sedang tidak dalam keadaan sadar itu. Terutama saat Kalingga kembali menekan miliknya yang membuat Yessi memejamkan matanya kesakitan. Lenguhan pelan terlepas lagi bibir ranumnya tanpa Yessi inginkan.
Yessi berulang kali menyerukan namanya agar Kalingga sadar. Namun, seolah kesetanan Kalingga tetap tidak peduli.
Bayangan kebersamaan mereka beberapa tahun lalu ketika Yessi bersama kedua orang tuanya merawat Kalingga dengan tulus seakan dibalas oleh rasa sakit yang tak akan terlupa. Jika ia tahu akan berakhir seperti ini, mungkin Yessi lebih rela Kalingga terdampar di sungai besar tanpa pertolongan bapaknya. Membiarkannya hanyut, bahkan tak bernyawa.
Bagaimana Yessi mengingat kembali Kalingga menganggapnya adik dan selalu melindungi, juga mengulurkan tangannya. Kini malah menariknya ke dalam neraka.
Tubuh Yessi yang sudah terkulai lemas di tatap penuh nafsu oleh Kalingga. "Ayo bermain sekali lagi, Dea. Setelah ini aku akan mengucapkan salam perpisahan padamu."
Mata Yessi yang tadinya sudah sayu dan lelah tampak membulat sempurna. Degupan jantungnya semakin tak terkontrol ketika tatapan menginginkan milik Kalingga kembali terpancar menakutkan di sana.
"Kakak ini ngomong apa? Aku Yessi. Demi Tuhan, aku Yessi," lirih gadis itu sudah tak bertenaga lagi untuk menyadarkan pria yang masih mengungkung tubuhnya.
Seolah tuli, Kalingga memilih untuk mencumbu gadis yang disangka sebagai wanita kesayangannya itu, sekali lagi.
Jika Dea tahu Kalingga akan sefrustasi ini setelah pengkhianatan yang tak pernah sengaja ia lakukan mungkin akan melihatnya tak tega. Kenyataan bahwa wanita kesayangannya itu sudah dimiliki Levin —adiknya sendiri membuat Dea tak bisa kembali padanya. Padahal, mereka sudah akan menikah. Semuanya terlalu rumit dan Dea tak ingin kembali karena akan lebih banyak hati yang tersakiti.
Permainan takdir sungguh menyakitkan. Dea mengambil jalan terbaik untuk tetap melanjutkan hidupnya bersama adik Kalingga yang sudah resmi menjadi suaminya. Sementara, Kalingga masih terjebak oleh rasa sakitnya dari pengkhianatan tersebut.
Lenguhan panjang Kalingga terdengar sangat menikmati tubuh yang sesungguhnya tak ia inginkan. Nafsu dan rasa sakitnya membuat ia gila dan tak sadar sudah menghancurkan gadis tak bersalah yang dianggap adiknya sendiri.
Dingin, gemetar dan ketakutan. Tubuh Yessi yang bahkan masih terasa remuk redam kembali dihancurkan. Sentuhan-sentuhan lembut Kalingga bukannya ia nikmati, justru terasa menyayat hati. Suara kecupan, bahkan desahan menggelora yang terdengar tak mampu membuat bibir Yessi mengikuti hal yang sama.
Bagaimana Yessi bisa hidup setelah ini. Untuk pulang ke rumah ia pun tak mau dalam keadaan kotor begini. Senyuman Kalingga yang menatapnya sebagai adik seketika hilang.
Kalingga yang masih dalam pengaruh penuh alkohol semakin menggila. Bibirnya yang kembali brutal menyerang bibir Yessi membuat gadis itu pasrah dengan rasa sakitnya karena tak menyangka akan dijadikan alat pelampiasan Kalingga seperti ini.
Celah ekor matanya kembali menunjukkan buliran air mata. Sakit. Tubuhnya kembali menegang ketika kembali merasakan perih di bagian sensitifnya setelah Kalingga meninggalkan banyak bekas kemerahan pada bagian tubuh lainnya.
Tangannya mencengkram sprei sangat kuat ketika merasakan sakit, perih dan kecewa secara bersamaan. Mata yang tadinya terpejam, kini kembali terbuka lebar bersama air matanya yang semakin berlinang.
Kehangatan di dalam tubuhnya terasa ketika kelegaan dari bibir Kalingga terdengar sempurna. Yessi mendorong pelan tubuh Kalingga yang sudah tak bertenaga ke sebelahnya. Untuk pertama kalinya Yessi merasakan tubuhnya benar-benar remuk dan sakit semua. Ia bergerak hanya untuk bergeser menjauh. Namun, pahanya terasa sakit akibat otot-ototnya yang menegang sejak tadi.
Yessi menarik selimut tebal di ujung tempat tidur untuk menutupi tubuhnya yang kedinginan. Tak peduli dengan Kalingga yang ada di belakangnya. Ia meringkuk bersama rasa sakitnya.
Yessi menyesali dirinya yang nekat datang ke bar untuk menyelamatkan Kalingga setelah mendapatkan panggilan dari barista melalui ponsel pria itu. Keberaniannya untuk masuk ke tempat yang menyambut kedatangannya dengan cahaya berkelap kelip, bau rokok dan alkohol menyergap indra penciuman, bahkan membuatnya ingin muntah seakan tak berarti apa-apa. Belum lagi bayangan menggelikan ketika melihat berpasang-pasang manusia di lantai dansa. Mereka terus menari dengan gembira seolah tak memiliki beban apa-apa. Tidak menyangka kalau Kalingga berada di tempat seperti ini beberapa jam yang lalu sebelum ia menjadi korban dari efek mabuk pria itu.
Yessi terus merenung dan tidak bisa memejamkan mata hingga pagi menjelang. Tubuh polosnya masih terbungkus selimut tebal dengan posisi masih meringkuk di sisi ranjang. Tangisnya tidak lagi menggila. Hanya menyisakan isak yang membuat d**a sesak.
Erangan keluar dari bibir Kalingga begitu sadar. Kepalanya terasa luar biasa nyeri efek terlalu banyak mengonsumsi alkohol. Dengan sisa tenaga yang masih ada, lelaki itu berusaha bangun. Terutama saat telinganya menangkap isak yang terdengar familiar.
Kalingga menoleh ke sisi ranjang. Seketika tertegun saat ingatan tentang kejadian semalam muncul sedikit demi sedikit. Suara isakan itu, dia sangat mengenalnya. Tangan Kalingga terulur untuk menyentuh pundak Yessi yang bergetar naik turun di depannya. Juga menyadari dirinya yang tak mengenakan pakaian sama seperti gadis itu.
"Yessi?" panggilnya. "Kita melakukannya?" tanyanya dengan degupan kencang karena merasa sangat bersalah.
Yessi hanya menggerakkan tubuhnya sebagai penolakan karena terlalu malu, kecewa dan menjijikkan. Tangan gadis itu menyingkirkan tangan Kalingga yang berulang-ulang menyentuh pundaknya lembut.
"Nyadar nggak sih, Kak? Keluargaku yang nyelametin Kakak, tapi Kakak justru ngehancurin aku?" decak Yessi dengan suara rendah, nyaris seperti bisikan dengan posisi yang sama. Tanpa ingin melihat pria yang ada di belakangnya tersebut.
"Nggak gitu, Yes. Aku ...."
Belum sempat Kalingga menyelesaikan kalimatnya, Yessi lebih dulu bangkit. Tanpa menoleh gadis itu menyeret selimut dan memunguti bajunya yang berserakan menuju kamar mandi.
Debum pintu yang ditutup kasar menyentak Kalingga. Tatapannya nanar tertuju pada tembok putih apartemen.
Sepuluh menit waktu yang dihabiskan Yessi untuk membersihkan diri secara kilat. Dia tidak sudi terlalu lama berada di tempat yang sama dengan seseorang yang sudah merenggut kesuciannya.
"Aku antar kamu pulang." Kalingga juga sudah mengenakan pakaiannya kembali. Lelaki itu hendak mengambil kunci mobil yang ada di nakas.
"Nggak perlu. Kakak juga nggak perlu mencari atau menemuiku lagi. Anggap saja semalam...." Yessi menjeda kalimatnya, menghirup oksigen sebanyak mungkin karena dadanya kembali sesak. "Nggak pernah terjadi," sambungnya tegas.
~ Bersambung...