Bab 44

2122 Kata

Dimas meremas dadanya. Pemandangan yang dilihatnya sangat menyakitkan, tapi entah kenapa dia tak bisa berpaling atau pun memejamkan mata, agar tak melihat betapa mesranya Airi memeluk pria itu. Iya. Di sana, Airi, istrinya, sedang memeluk erat Aiden Hutama. Dimas tak habis pikir, mengapa Airi bersikap seperti itu. Belum lagi kata-kata yang diucapkan istrinya. Kata-kata itu yang selalu ingin didengarnya dari mulut Airi untuknya. Kata-kata itu adalah kata-kata yang tak pernah diucapkan Airi untuknya. "Ai, ja-jangan pergi lagi. Aku mohon, jangan tinggalin aku lagi hiks.. Aiden, aku mohon hiks..." Ingin rasanya Dimas menutup telinganya agar tak mendengar yang diucapkan istrinya. Tapi tak bisa. Seperti halnya leher dan matanya yang terpaku, tangannya juga tak dapat digerakkan. Sepasang kak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN