bc

Pernikahan yang Mengalun Sunyi

book_age18+
343
IKUTI
3.3K
BACA
revenge
dark
forbidden
love-triangle
contract marriage
BE
family
HE
love after marriage
age gap
fated
friends to lovers
arranged marriage
curse
badboy
kickass heroine
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
bxg
lighthearted
serious
kicking
bold
brilliant
city
cheating
lies
friends with benefits
like
intro-logo
Uraian

Lari dari mantan kekasih sosiopat, Izora menukar hidupnya dengan selembar kertas pernikahan. Pilihan sempurnanya jatuh pada Aksara Banyu Sastrawidjaja, pewaris tenang yang bersedia menjadi tamengnya demi memutus tradisi perjodohan keluarga.Di balik dinding rumah mereka, Izora merasa aman. Suaminya begitu tenang, seolah tak menuntut apa-apa.Namun, Sastra diam-diam memintal kawat berduri. Lewat aturan kecil dan perhatian yang mengisolasi, kelembutan Sastra menjelma menjadi cekikan yang perlahan menutup semua akses Izora ke dunia luar.Saat bahaya dari mantan kekasihnya datang mendobrak, Izora berlari mencari perlindungan di dekapan Sastra. Saat itulah kepingan rahasia terkuak—menyadarkan Izora bahwa selama ini, ia justru tidur di pelukan monster yang sesungguhnya.Bisakah ia bertahan atau justru berusaha melarikan diri dari suaminya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Haruskah Aku Penasaran?
"Lepaskan!" Kata itu tidak lagi terdengar seperti permintaan. Ia hancur di tenggorokan Izora, terpecah menjadi rengekan basah yang tertelan gelap. “Lepaskan aku… Setya… kumohon…” Tangannya memukul udara kosong. Pergelangan ditahan cengkeraman yang terasa seperti besi dingin. Tubuhnya meronta, lutut menghantam lantai tak terlihat, napasnya tersangkut di antara isak dan teriakan. Gelap di sekelilingnya bukan sekadar absen cahaya—ia hidup, merayap, menekan d**a. Lalu bisikan itu datang. “Ssst… Izora.” Rendah. Dekat. Seperti lidah ular yang menyusuri tulang belakang. Izora merinding namanya di sebut dengan cara semengerikan itu. “Kenapa kau terus berteriak? Suaramu… indah sekali saat kau menangis. Semakin kau melawan, semakin aku enggan melepasmu. Atau kau sengaja, hm? Supaya aku lebih erat?” “Tolong! Setya, kau gila! Menjauh—jangan—” Terdengar tawa orang yang sudah lama kehilangan batas antara cinta dan kepemilikan. Tawa itu lebih terasa otoritas dan obsesi. Siapapun yang mendengar bergidik ngeri. Setya menekan tubuhnya ke dinding. Tangan yang dulu menari di atas tuts piano kini merayap naik, jari-jari panjang menutupi lehernya dengan kelembutan yang mematikan. Napas mint dan nikotin menghembus di kulit wajahnya yang basah. Begitupun tatapan yang mengandung kepemilikan tanpa romantis. “Tidak ada yang bisa mendengarmu di sini,” bisiknya. “Kau milikku. Sejak awal. Kau pikir marga besar itu bisa menyelamatkanmu? Kau pikir namamu yang baru bisa melindungi lehermu dari tanganku?” Kilat kamera menyambar. *Klik.* Lalu lagi. *Klik. Klik.* Setiap air mata. Setiap rintihan. Setiap kehancuran di wajahnya dibekukan menjadi bukti. Rantai yang tak terlihat, tapi jauh lebih berat daripada besi. Izora miliknya, itulah yang ia rapalkan dalam hati dan otak. Ini adalah bentuk hukuman karena berani mempermainkannya. Tangan Setya mengerat. Udara hilang. Dunia menyempit menjadi satu titik hitam— **GASSP!** Izora tersentak duduk. Napasnya menyambar masuk seperti orang yang baru ditarik dari dasar danau beku. Jantungnya menghantam tulang rusuk dengan irama gila. Peluh dingin menempel di pelipis, di kerah gaun tidur sutera yang basah. Langit-langit kayu jati kuno menatapnya balik—asing, dingin, agung. Bukan sel neraka Setya. Ini kamar utama kediaman Sastrawidjaja. Ia meraba lehernya sendiri. Kosong. Tidak ada jejak jari. Hanya hawa malam yang menusuk dari celah ventilasi. Tapi bau cologne itu masih menempel di memori. Tawa itu masih berputar. Kilatan kamera masih menyilaukan di belakang kelopak mata. Izora menelan isak. Satu butir air mata jatuh ke sarung bantal. Inilah hidupnya sekarang. Ia telah menjual dirinya pada selembar kertas pernikahan. Menjadi Nyonya Aksara Banyu Sastrawidjaja—bukan karena cinta, bukan karena ambisi, melainkan karena teror. Di balik nama itu, di balik tembok elitis dan keamanan berlapis, Setya tidak akan berani menyentuh sehelai pun rambutnya. Secara fisik. Tapi jiwanya? Jiwa sudah lama digadaikan. Dan yang lebih buruk: suaminya tidak tahu. Aksara tidak tahu bahwa istri yang dinikahinya membawa skandal kotor berupa foto-foto yang siap meledak kapan saja. Jika rahasia itu bocor—jika keluarga Sastrawidjaja tahu bahwa aib itu menempel di nama mereka—Sastra tidak akan segan melemparkannya kembali ke cengkeraman yang sudah menunggu dengan tawa kemenangan. Ketakutan ganda. Dua sisi pisau yang sama tajamnya. Izora bangkit, kaki telanjang menyentuh lantai dingin. Ia menuangkan air dari teko kristal. Tangan gemetar. Denting kaca memecah keheningan terlalu keras—ia meringis, seolah suara itu saja bisa membangunkan monster. Sisi ranjang di sebelahnya kosong. Spreinya rapi. Tanpa kerutan. Aksara tidak pernah tidur di sini. Sejak malam pertama yang dirayakan dengan kemunafikan gemerlap, suaminya selalu menghabiskan malam di ruang kerja. Pria itu tenang, bertutur rendah, sopan… dan sedingin batu. Pernikahan ini hanyalah cangkang. Tirai beludru untuk menyembunyikan keengganan Sastra pada perjodohan lain, dan keputusasaan Izora mencari suaka. Lututnya melemah. Ia merosot ke lantai, menyandarkan punggung pada pilar ranjang ukir, menenggelamkan wajah di lipatan lengan. Isak tanpa suara. Sampai kapan ia harus terus menoleh ke belakang dengan jantung yang nyaris pecah? --- Di sayap barat rumah, cahaya keemasan masih menyala tipis di balik celah pintu ganda ruang kerja. Aroma gaharu dan kertas tua memenuhi udara. Rak buku menjulang hingga langit-langit, memenjarakan ribuan literatur yang tak ternilai. Di balik meja eboni yang memancarkan otoritas mutlak, Aksara Banyu Sastrawidjaja duduk tanpa bergerak. Kemeja hitam. Lengan digulung hingga siku. Kacamata tipis. Sorot mata setenang permukaan danau—tenang, jernih, dan menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih dalam di dasarnya. Ia membalik halaman buku bersampul kulit. *Sreek.* Bunyi kertas yang bergesekan terdengar seperti pisau yang digesek pelan. *Tok. Tok.* Pintu terbuka tanpa menunggu jawaban. Pelayan paruh baya melangkah masuk, kaki hampir tidak menyentuh karpet Persia. Ia berhenti beberapa langkah dari meja, menunduk dalam-dalam, menelan ludah. “Tuan,” suaranya parau. “Nyonya… mimpi buruk lagi.” Keheningan jatuh lebih berat dari sebelumnya. Hanya detak jarum jam antik di sudut ruangan yang terdengar—lambat, pasti, seperti hitungan mundur. Sastra tidak mengangkat kepala. Jari panjangnya masih menahan tepi halaman. Lalu, perlahan, gerakan itu berhenti di udara. Sudut bibirnya berkedut. Hanya sekejap. Lengkungan tipis yang tidak pernah mencapai mata. “Lagi.” Ia membiarkan kata itu menggantung. “Sepertinya mimpi itu sangat suka menghampiri istriku.” Sastra menutup buku. Bunyi *dup* yang pelan, namun final. Ia menatap ke arah pintu, sorot matanya masih tenang… tapi ada sesuatu yang baru di dalamnya. Sesuatu yang dingin. Dan tertarik. “Haruskah aku mulai penasaran… apa yang membuatnya berteriak-teriak dalam mimpi buruknya?"

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Keyra, Gadis Kecil Kesayangan Om Dirga

read
212.2K
bc

Perfect Man and Stupid Women

read
157.5K
bc

Demo Dulu, Jatuh Cinta Kemudian

read
4.2K
bc

Sentuh Aku, Daddy!

read
167.8K
bc

Istri Kecil Om Arogan

read
14.7K
bc

Terjerat Hasrat Suami Pengganti

read
170.2K
bc

Ana, My Pearl

read
170.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook