"Mau mampir nggak?" tawar Judith ketika mereka sudah tiba di depan rumah perempuan itu. "Tapi, di rumah nggak ada siapa-siapa. Papa masih di kantor, terus mama masih di butik."
"Aku mampir kapan-kapan," jawab Rion dengan senyum tipis di wajahnya.
Judith mengangguk cepat, ia lebih setuju dengan ucapan Rion yang satu itu. Karena tidak mungkinkan ia dan Rion berada di dalam rumah hanya berdua. Ucapan Judith sebelumnya hanyalah sebuah basa-basi belaka. Setidaknya, gadis itu paham mengenai etika.
"Kalau gitu makasih ya, Yon."
Rion mengangguk, lalu menatap Judith yang keluar dari mobilnya dengan pandangan tidak rela. Harusnya ia dapat jujur dengan mudahnya, namun rasanya sulit. Rion tidak siap dan tidak akan pernah siap mendapatkan rasa iba dari siapapun. Termasuk Judith.
Laki-laki itu sudah cukup menerima keadaan seperti itu dulu. Dan Rion tidak ingin menerimanya lagi. Orang-orang peduli padanya bukan karena memang peduli, tapi dilandasi rasa kasihan yang teramat Rion benci.
Ia menekan pedal gas, menaikkan kecepatan, memacu adrenalinnya sendiri. Ia butuh pelepasan dari segala sesak di tubuhnya. Mobil yang ia kendarai bertubrukan dengan kasar bersama angin sore. Kenangan masa lalu kembali menyapa Rion dengan senyum mengejek.
Secepat mungkin, Rion mengerem mobilnya. Membuat kendaraan roda empat itu menghasilkan decitan kasar pada jalanan. Gesekan yang memekakkan telinga. Beruntung jalanan menuju rumah Judith tidak terlalu ramai. Setidaknya Rion tidak menyakiti siapapun, kecuali dirinya sendiri.
Lelaki itu memukul setirnya kasar. Napasnya naik turun. Ia benci memikul beban ini. Ia benci posisinya. Dalam hatinya, Rion terus saja merapalkan doa. Berharap Araz dapat kembali sembuh dan ia dapat mengenalkan Araz kepada siapapun.
Dulu sekali, ketika Rion tengah duduk di bangku Sekolah Dasar. Lelaki itu tengah sibuk menonton acara sepak bola yang disiarkan lewat televisi. Tidak peduli pada hari esok dimana ujian tengah menunggunya. Yang Rion lakukan malam itu, hanya berkutat dengan wajah serius menatap layar dimana satu bola dikejar oleh banyak orang.
Bundanya memergoki, menatap Rion sembari geleng kepala tidak mengerti. "Tidur sana." Bundanya menyuruh, namun Rion hanya mengangguk tanpa suara.
"Yon," panggil bundanya dengan suara teramat pelan.
Perhatian Rion akhirnya teralihkan. Ditatapnya sang bunda penuh rasa penasaran. "Kenapa, Bun?" Rion bertanya.
Bundanya mengambil tempat di sebelah Rion. Duduk sambil mengelus kepala lelaki itu. Rion yang bingung tetap diam, berharap bundanya dapat segera memberi tahu. Lelaki itu merupakan sulung, jadi cukup wajar rasanya apabila ia mengetahui masalah di dalam keluarga.
"Bunda cuma nggak mau kamu kaget," ujar bundanya melanjutkan. "Bunda kasih tau besok aja, sekarang tidur dulu."
Rion menahan tangan sang bunda, "Kasih tau sekarang aja, Bun. Rion nggak masalah."
Bundanya tampak menghela napas, dengan senyum yang terkesan memaksa. "Kamu taukan kalau kita harus cepat ambil pilihan buat kondisi Araz? Bunda sama ayah udah sepakat kalau keluarga kita bakal pindah ke Kuala Lumpur selesai ambil rapor nanti."
Mata Rion memancarkan kekagetan. Pindah? "Kenapa sejauh itu, Bun?"
"Nenek yang minta supaya Araz dibawa kesana, Nak. Maaf kalau keputusan bunda sama ayah terkesan sepihak. Tapi kondisi Araz nggak bisa dianggep enteng."
Rion kembali diam. Kanker. Nama penyakit yang ia ketahui tengah bersemayam di dalam tubuh adik perempuannya. Rion kecil tidak pernah mengira bahwa penyakit itu adalah penyakit yang parah. Ia hanya kesal kenapa untuk pengobatan sang adik, mereka sekeluarga harus pindah menuju Kuala Lumpur.
Lelaki itu tidak siap, apalagi dengan teman-teman yang akan ia tinggalkan nanti. Dan, bagaimana dengan Judith?
"Udah larut, Yon. Besok kamu masih ujian." Ucapan sang bunda kembali menyadarkan Rion. Anak laki-laki itu hanya mengangguk, mengiyakan ucapan bundanya.
"Iya, ini juga mau tidur, Bun." Rion memberi jawaban. Kentara dengan nada yang berbeda dari sebelumnya. Karena jauh di dalam hatinya, Rion tidak ingin pindah.
Lebih dari dua tahun berlalu setelah hari itu. Rion menyaksikan bagaimana adik perempuannya berjuang melawan sel-sel ganas di tubuhnya. Gadis cantik itu bahkan kehilangan rambut indah yang selalu ia banggakan kepada Rion. Penyakit yang pada awalnya Rion pikir merupakan penyakit biasa, ternyata berhasil merenggut kebahagiaan sang adik.
"Araz cantik hari ini," puji Rion suatu hari kepada adiknya itu. Araz yang duduk di kursi roda tersenyum menanggapi celetukan sang kakak. Pagi itu, gadis itu tengah asik menikmati udara pagi dari beranda rumah. Halaman yang banyak ditanami tetumbuhan tampak rimbun, hijau menyejukkan mata.
"Kak Rion juga ganteng, kayak biasanya."
Rion tertawa, lalu mengecup singkat pipi sang adik sebelum akhirnya bis yang menjemputnya untuk pergi ke sekolah tiba di depan rumah.
"Kakak sekolah dulu, bunda lagi di dapur bikinin bubur buat Araz. Sebentar lagi bunda yang nemenin Araz. Dah!"
Rion berpamitan, melambaikan tangan kepada sang adik sementara kakinya melangkah pasti menuju pagar rumah. Anak laki-laki itu keluar. Melangkah masuk pada pintu bis sekolah yang terbuka.
Namun saat Rion sudah berada sempurna di dalam bis, sebuah teriakan terdengar. Rion, anak laki-laki itu dicap membawa penyakit mematikan untuk teman-temannya yang lain. Ia dicap akan menularkan penyakit dan membuat teman-temannya kehilangan rambut.
Rion menahan diri, dalam diam mencari tempat kosong. Namun seperti kompak, seluruh teman-temannya mencemooh Rion dan menutup celah untuk Rion duduk. Pada akhirnya, Rion hanya berdiri di belakang sembari berusaha mengabaikan seluruh pandangan aneh teman-temannya.
Demi Tuhan, kanker yang tengah ditanggung adik kecilnya bukanlah hal yang menular.
Sejak hari itu, lidah Rion seakan kelu, ia tidak dapat menjelaskan apapun kepada teman-temannya. Semenjak hari itu, Rion berjanji akan menjaga Araz sekuat apapun. Ia tidak ingin adiknya dihina tidak memiliki rambut. Ia tidak suka ketika ia dan keluarganya dianggap penyebar virus mematikan.
Selama itu, Rion bertahan di atas dirinya sendiri. Lelaki itu tidak lagi dapat mempercayai orang-orang ketika mereka menunjukkan rasa peduli pada Rion. Karena untuk lelaki itu, kepedulian seseorang sama saja dengan rasa kasihan. Dan Rion tidak butuh dikasihani.
Hingga selesai masa sekolah menengah pertama, Rion dan keluarga kembali pindah ke Indonesia. Faktor karena keadaan Araz sudah mencapai kondisi baik. Dan untuk Rion, kembalinya ia ke tanah air merupakan hal paling melegakan. Kesembuhan Araz pun disambut dengan kebahagiaan tidak terkira dari Rion. Doa atas kesabarannya selama ini, Tuhan memberikan Rion hadiah terbaik.
Namun kebahagiaan itu hanya berlangsung sebentar. Sebab kehidupan mungkin terlalu senang bermain dengan Rion. Ayahnya mengalami kecelakaan yang mengakibatkan hilangnya nyawa pria berumur tersebut. Rion terpukul, begitupun Aksa dan Araz.
"Ayah, Araz masih mau bareng ayah." Ucapan Araz di depan potret hitam putih milik ayahnya.
Rion menunduk, menatap kegiatan adiknya sama saja dengan menambah lagi luka. Pun luka lama yang sempat sembuh, ternyata kembali terbuka. Tercabik dengan kasar.
"Kak Rion, Kakak tau nggak kalau ayah pernah janji mau bawa kita ke Tokyo Disneyland? Ayah bohong. Ayah nggak tepatin janjinya. Ayah malah pergi sendirian, ninggalin kita. Ayah udah pergi jauh."
Rion mendekati Araz, dan dalam sekali hentakan, membawa anak perempuan itu ke dalam pelukannya. "Masih ada Kak Aksa, masih ada Kak Rion, masih ada bunda." Rion berusaha menenangkan adiknya. Karena bagaimanapun, kesehatan Araz harus tetap diperhatikan. Ia tidak boleh memikirkan hal-hal berat.
"Jangan tinggalin Araz ya, Kak."
"Araz juga harus janji, Araz nggak boleh ninggalin kita semua. Araz harus terus sehat."
• c o l d p u d d y •
Rion membiarkan suara dari monitor detak jantung memenuhi kekosongan di dalam ruangan Araz. Adik perempuannya itu tengah damai dalam tidur. Melihat kembali kondisi Araz yang sekarang, selalu mendatangkan kenangan pedih untuk Rion.
Lelaki itu mengambil tangan Araz, menciumnya dengan sayang. Dia tidak pernah mengira bahwa kondisi Araz akan lebih parah dari sebelumnya. Menurut Rion, pendorong terbesar mengapa Araz terpaksa bersalaman kembali bersama kanker adalah stress yang ditanggung gadis itu setiap hari semenjak ayahnya tiada. Dan Rion dengan bodohnya tidak peduli. Dia tidak pernah menyadari, bahwa dibalik senyum ceria bocah perempuan itu, ternyata ada luka yang teramat besar.
Dan Rion, ia merasa gagal sebagai kakak.
Leukemia Limfotik Akut. Jenis kanker yang hingga sekarang tetap dipikul Araz dengan senyuman. Jika Rion boleh meminta, dia ingin agar dirinya yang menanggung segala sakit yang Araz rasakan. Lelaki itu tidak kuat melihat adiknya harus merasakan sakit di sekujur tubuh.
Dan ini alasan mengapa Rion enggan mengatakan hal yang sebenarnya kepada Judith. Lelaki itu tidak ingin apabila Judith meletakkan kepedulian di atas rasa iba, karena Araz. Rion sudah cukup berpengalaman untuk hal semacam itu. Dan dia tidak ingin kejadian di masa lalu kembali terulang. Dicap sebagai pembawa penyakit, Rion tersenyum miris untuk pemikiran tersebut.
Ponsel Rion berdenting, tanda ada chat yang baru saja masuk. Seketika anak lelaki itu menegakkan duduknya, terfokus layar ponsel.
Judith Aluna: Rion.
Judith Aluna: Jangan lupa addback.
Judith Aluna: Aku minta kontak kamu lewat Delvie tadi.
Rion Arjuna: Oh gitu.
Judith Aluna: Ngomong-ngomong, mamaku titip salam ke kamu. Mama juga bilang, kapan mama bisa ketemu kamu lagi?
Rion terdiam di tempatnya. Namun beberapa detik kemudian senyumnya terbit. Ternyata, bundanya memang tidak jauh berbeda dengan mama Judith. Anak laki-laki itu ingat dulu, untuk kali pertama dan terakhir ia bertemu Nadine sebelum kepindahannya.
Rion kembali menatap ponsel, memikirkan jawaban yang tepat.
Rion Arjuna: Besok gimana?
Rion Arjuna: Kamu pulang bareng aku aja kalau gitu.
Rion Arjuna: Mau?
• c o l d p u d d y •
Judith meloncat sempurna dari tempat tidurnya. Perempuan itu membekap mulut sebab teriakan yang seharusnya keluar. Fakta bahwa besok Judith akan kembali pulang bersama Rion membuat anak perempuan itu kelimpungan---bahagianya melimpah.
Buru-buru Judith menjawab pesan Rion. Senyumnya tidak hilang sejak tadi. Bahkan baju sekolah yang melekat di tubuh belum terganti. Perintah dari Nadine untuk segera mandi diabaikan oleh Judith.
"Dek!" Panggilan mamanya kembali terdengar. Judith menghela napas, berguling kesana-kemari di atas tempat tidur karena tidak ingin diganggu. "Dek! Ada Niko nih."
Judith terduduk secepat kilat. Siapa tadi?
Judith benar-benar kesal mengapa Niko sering sekali datang ketika Judith belum mandi. Lelaki itu sepertinya tidak paham bahwa tidak seharusnya dia mendatangi seorang anak perempuan di waktu sore. Apalagi anak perempuan seperti Judith---yang baru akan mandi ketika aksi malas geraknya menghilang.
"Suruh pulang aja, Mam." Judith bersuara sendirian akibat aksi kesalnya.
Judith bangkit dari duduknya. Bukannya melangkah menuju pintu, anak perempuan itu malah bergerak ke arah pintu kamar mandi. Saatnya mandi!
• c o l d p u d d y •