20. Akhirnya Bercengkerama

2572 Kata
"Dith, gabung ke perpus, yuk!" Delvie yang baru selesai melengkapi catatan berbalik menghadap Judith. Perempuan berdarah campuran itu sudah bersiap hendak keluar kelas dengan memeluk beberapa buku dengan jari asik bermain dengan pena. "Pasti ramai banget, ya?" Judith sudah berdiri, ikut membawa satu buku catatan dengan cover putih bergambar pesawat kertas hitam yang kerap ia gunakan untuk mencatat apapun. Gadis itu ingat bahwa Delvie pernah mengatakan perpustakaan adalah salah satu tempat yang akan ramai didatangi bila musim ujian sudah dekat. Delvie mengangguk, "Pasti ramai kalau sekarang. Tapi nggak apa-apa, soalnya kita juga bakalan dapetin tempat kok. Ntar kita ambil tempat di lantai dua aja sekalian makan." "Lantai dua?" Judith bertanya, merasa seperti orang bodoh karena tidak mengetahui apapun tentang Cakrawala. Faktor besarnya ketidaksukaan Judith. Bahkan anak perempuan itu tidak tahu apa saja kelebihan yang diberikan perpustakaan kepada seluruh murid. "Lo nggak tau?" Delvie menertawakan temannya itu. "Makanya kalau di sekolah jangan duduk di kelas mulu, Judith!" "Diem lo." "Seneng banget lagian di kelas mainin hape. Mendingan lo bareng gue biar bisa gue anterin liat-liat sekolah. Mikirin Rion mulu lo, ya? Ngaku!" Judith buru-buru memukul pipi Delvie pelan. "Jangan gede-gede nanti yang lain pada denger." "Cie malu!" ejek Delvie. "Jadi, perpustakaan sekolah emang ada dua lantai. Di lantai pertama lebih ketat peraturannya. Tapi kebanyakan murid bakalan lebih pengen belajar disana ketimbang lantai dua. Karna biasanya lantai dua tuh dipakai buat diskusi. Ada café kecilnya juga. Intinya lantai dua lebih santai ketimbang lantai pertama. Soalnya disana hening." Judith terperangah. Ini sesuatu yang baru untuknya. Dan sesaat, perempuan itu menyesal kenapa tidak pernah mendengarkan penjelasan kakak perempuannya tentang bagaimana Cakrawala. Pantas saja banyak orang-orang yang ingin masuk kemari. Cakrawala terlampau mengagumkan. Dibandingkan sekolahnya yang lama, Cakrawala benar-benar jauh berada di depan. Untuk perpustakaan saja, bila Cakrawala menjadi tempat belajar, maka sekolah Judith dijadikan tempat pelarian untuk berpacaran oleh pasangan-pasangan gila tidak bermodal. Kedua remaja perempuan itu akhirnya memutuskan untuk segera meninggalkan kelas. Namun saat langkah mereka baru mencapai ambang pintu, keduanya berhenti. Delvie mengernyit menatap laki-laki di depannya sementara Judith harus dapat menahan mati-matian degub jantungnya. Anak perempuan itu bahkan berpikir orang-orang pun akan dapat mendengarnya. "Buat kamu, Lun," katanya sambil mengulurkan satu cup pudding coklat yang bahkan tidak Judith minta. Judith menatap Rion dan pudding tersebut secara bergantian. Ia berharap Rion mau berbicara lebih banyak lagi. Padahal dulu, selalu Rion yang banyak memancing Judith agar obrolan mereka tidak pernah berhenti. Rion berubah, kecuali dari dua kebiasaannya. Aluna dan pudding. "Ehem." Delvie berdehem di antara dua manusia yang kini tengah terselimut hening. Judith tersadar, lalu dengan hati-hati menerima pudding dari tangan Rion. "Kenapa kasih pudding?" Judith bertanya, berharap ia dapat mencairkan suasana yang terasa tegang. "Permintaan maaf," ujar Rion pelan. Judith tertawa di tempatnya. Melihat ekspresi Rion sekarang membuat Judith tidak bisa menahan amarah terlalu lama. Judith menatap sekeliling, lagi-lagi mendapati beberapa pasang mata menatap mereka penuh rasa penasaran. Ah, Judith sudah tidak peduli. Yang penting baginya sekarang adalah bagaimana caranya ia dan Rion dapat kembali berhubungan baik. "Kalau gitu aku perpus dulu, ngomong-ngomong makasih puddingnya." Judith berpamitan. Lalu beralih menatap Delvie dan mendorong bahu Delvie untuk berjalan bersamaan. "Lun," panggil Rion lagi dan Judith menoleh cepat, terkejut. "Kenapa?" "Kalau nanti aku anterin kamu pulang, boleh?" Judith berpikir sesaat. Mempertahankan harga diri disaat seperti sekarang tentu saja adalah sesuatu yang penting. Walau bibir Judith sudah gatal untuk tersenyum, tapi perempuan itu menahan. Ditatapnya Rion seakan-akan masih berpikir keras. "Bisa kayaknya." Judith memberi jawaban. "Kalau gitu nanti aku jemput kamu disini." "Emangnya kamu nggak OSIS?" Rion menggeleng, "Minggu ini istirahat dulu." Judith mengangguk. "Kalau gitu aku duluan." Setelah meninggalkan Rion dan berjalan bersama Delvie, Judith melepaskan senyum bahagianya. Tidak jauh berbeda dari Delvie yang sedang menatap Judith dengan senyum penuh makna. "Cie, Aluna." Delvie ikut-ikutan seperti Rion. Dan langsung dihadiahi delikan sebal oleh Judith. "Kok lo jadi imut banget sih kalau dipanggil Aluna?" "Ya susah sih, Delv. Gue udah imut dari lahir soalnya. Jangan ngiri, ya!" Raut wajah Judith seolah menyabarkan. Sementara tangannya sibuk menepuk bahu Delvie. "Hah? Lo mimpi?" balas Delvie tidak mau kalah. "Bule ngeselin lo!" Dan tawa Delvie langsung lepas sebab ucapan tersebut. Ia menatap Judith, tersenyum pada gadis itu. "Itu Rion yang gue kenal." Delvie pun bersuara, membenarkan sikap Rion tadi. Dilihatnya Judith yang kini sedang menatapnya penuh rasa penasaran. "Kenapa?" "Cerita yang banyak tentang dia, dong?" Judith memohon. Namun Delvie buru-buru mencebikkan bibir. "Ye! Cari tau sendiri sana!" Delvie mengusir dan langsung mempercepat langkahnya. Sementara Judith yang ditinggalkan berteriak tidak terima. Dikejarnya Delvie, namun langkah kaki teman perempuannya itu ternyata juga semakin cepat. "Delvie jangan tinggalin gue!" Judith berteriak lagi. Mungkin bagi siapa saja yang mendengar akan berpikir bahwa Judith hanya kesal sebab ditinggal. Tapi untuk Judith, kalimat yang baru saja ia sebutkan mengandung dua makna. Karena jauh di dalam hatinya, dia tidak ingin Delvie---teman perempuan pertama Judith---pergi meninggalkanya. Ini hal baru untuk Judith, dan dia bahagia. • s w e e b y • "Dua kentang goreng, satu cheese burger, satu lagi double cheese burger, sama dua minuman soda." Delvie yang tengah memesan makanan beralih untuk mengambil uang disakunya. Namun sebelum itu, pandangannya menangkap gelagat Judith yang terlihat mencari sesuatu. "Kenapa, Dith?" Judith sedikit mendekat, kemudian berbisik. "Disini nggak ada pisang, ya?" "Hah? Pisang?" Delvie bersuara keras karena terkejut. Namun buru-buru membekap mulut dan tertawa. "Lo ngapain nyariin pisang?" "Ya karna gue kepengen makan pisang," jawab Judith dengan muka polosnya. "Ada nggak, Delv?" Delvie terdiam, merasa kasihan pada teman barunya itu. "Sebentar deh---Mbak disini ada pisang, nggak?" Orang yang ditanyai pun tidak jauh berbeda dengan Delvie sebelumnya. Sama-sama terkejut. "Buah pisang?" "Iya, Mbak," angguk Judith cepat. "Kayaknya nggak ada deh. Emangnya buat apa? Tugas eskperimen, ya?" Judith menghela napas panjang. Kenapa orang-orang suka sekali mempertanyakan hal-hal aneh ketika Judith bertanya tentang pisang. Tidak akan ada hal aneh, melainkan hanya satu. Judith mencari pisang untuk dimakan. "Buat diliatin aja, Mbak." Judith menjawab dengan raut wajah terpaksa, sementara tawa garingnya juga ikut-ikutan terdengar. Selang beberapa menit kemudian, pesanan mereka selesai. Judith langsung saja mengambil minuman dan meneguknya sembari mereka berjalan menuju meja. Delvie yang membawa seluruh pesanan langsung memilih meja yang berada di samping rak buku bertuliskan refrensi sejarah. Pertama kali melihat isi perpustakaan, Judith benar-benar tercengang. Rak-rak buku tinggi dengan seluruh kumpulan buku yang membelai penglihatan. Meja-meja belajar sudah banyak diisi oleh siswa dan siswi. Delvie benar, lantai pertama sangat hening. Bahkan suara batuk kecil dapat menjadi sesuatu paling ribut. Dan yang paling Judith suka, disini dingin. Mereka lalu menuju sudut ruangan, dimana terdapat tangga yang akan menuju ke bagian lantai dua perpustakaan. Tulisan disana menunjukkan bahwa tangga ini hanya diperbolehkan untuk naik. Judith mengernyit, lalu bagaimana cara mereka turun nanti? "Ini tangga naik doang, Dith. Soalnya kalau mau keluar nggak boleh turun lagi." Delvie menjawab rasa penasaran Judith saat mereka telah tiba di lantai dua. "Nah tuh disana pintunya kalau mau keluar." Delvie menunjuk lurus ke depan dimana terdapat tiga pintu kaca berderet yang tentu saja menjadi pintu keluar perpustakaan. "Terus kalau masuk darisana, boleh?" tanya Judith lagi masih ingin tahu. "Boleh-boleh aja. Pokoknya di lantai ini apa-apa lebih bebas. Nggak kayak lantai pertama. Cuma buku disini juga lengkap kok." Judith sukses tersentak dari lamunannya sebab pukulan keras yang Delvie berikan pada bahunya. Anak perempuan berdarah campuran itu tertawa melihat Judith. "Duduk, daritadi gue teriakin duduk. Ngelamunin apaan sih lo?" Judith mencebik sebal, "Kepo!" Kemudian ia duduk, membuka buku yang tadi baru saja mereka cari sebelum memesan makanan. Judith menyusul mengambil cheese burger miliknya, sembari masih asik membolak-balik buku. "Dith," panggil Delvie pelan sebab ingin memulai obrolan. "Hm?" respon Judith menatap Delvie penasaran. Sementara gigitan Judith pada makanannya terpaksa terhenti. "Kok gue bisa ya temenan sama lo?" Judith mengernyit, "Maksudnya?" "Iya, gue bingung aja kenapa gue tiba-tiba bisa nempel sama lo. Karna biasanya gue lebih sering sendirian, Dith. Percaya atau enggak sih." "Sendirian gimana?" "Maksudnya tuh kayak, gue males aja punya hubungan yang deket banget sama temen perempuan. Makanya gue kalau kemana-mana enakan sendiri." Judith yang penasaran pun sampai meletakkan kembali burger yang sempat ia makan. Menatap Delvie dengan pandangan yang sulit dijelaskan. Mereka seperti, memiliki kesamaan yang tidak ada salahnya untuk disatukan. "Terus, kok lo bisa pacaran sama Kak Ceisar?" Delvie tersenyum, "Hm, ceritanya panjang." "Kalian udah kenal lama? Atau baru di SMA?" "Difa sering main ke rumah dulu waktu gue masih kelas sembilan. Soalnya Rion nggak mau bawa temen-temen dia ke rumahnya, takut ribut disana. Ya pokoknya lo harus main ke rumah gue, terus lo liat deh tuh isinya cuma embak sama mamang yang bantu-bantu rawat rumah doang." "Nyokap lo sering banget ya nggak di rumah?" Delvie mengangguk, "Gue pernah bilangkan, nyokap kalau udah pergi ke Paris nggak akan sebentar." "Bokap lo?" tanya Judith pelan karena takut menyinggung perempuan itu. "Di sini, sih. Cumankan kerja. Kalau lagi sibuk banget pulangnya palingan baru jam 9 malem atau 10 gitu." "Terus lo sama Ceisar udah lama?" "Tiga bulan gue kelas sepuluh, dia ngajakin pacaran. Ya gimana ya, gue nggak tau kenapa juga bisa nyaman banget sama tuh cowok. Sama kayak pertama kali liat lo, Dith. Lo beda aja. Gue nggak risih waktu lo tanya-tanyain." Judith terbahak, "Beda gimana, sih? Orang gue gini-gini aja." "Dari ekspresi lo waktu temen-temen pada nanyain kalau lo adiknya, siapa nama kakak lo?----" "Abiana." "----bener Abiana. Gue tau kalau lo nggak nyaman ditanyain pertanyaan kayak gitu. Kayak apa ya, gue kayak bisa ngerasain aja sih kalau lo pasti beda. Lo seakan-akan nggak pengen dikenal sebagai adiknya kakak lo. Lo cuma pengen orang tau kalau lo Judith. Udah." Judith terdiam cukup lama sebab takjub. Delvie benar-benar luar biasa. "Lo peramal ya, Delv?" "Ah udah, ah!" Delvie mengibaskan tangannya di depan wajah, lalu beralih menyeruput minuman dan mulai memakan burger miliknya. "Gantian lo yang cerita dong!" Judith memperbaiki duduknya. Mungkin tidak ada salahnya mencoba membuka diri kepada orang selain Amar dan Cata. "Gue bungsu dari tiga saudara." Judith membuka kisahnya. "Nyokap gue kerja sendiri, buka lapangan kerja buat orang-orang. Nyokap yang punya Boutique de Espérer----" "Eh demiapa?! Gue lumayan sering tau belanja disana. Gila ternyata lo anak yang punya." Judith tersenyum diikuti tawa, "Bokap gue arsitek. Ya sibuk sih, cuman nggak tau kenapa gue jarang liat bokap bawa kerjaan kalau di rumah. Ada ruang kerjanya, cuman dia jarang banget disana. Karna bokap gue tuh kalau di rumah, tempatnya dia kalau bukan kamarnya, ruang keluarga, ruang makan, terakhir kamar gue. Numpang nonton sama tidur." "Asli bokap lo kenapa kocak banget, Dith." Delvie tertawa, pun dengan Judith. Gadis itu seperti lapang ketika menceritakan perihal keluarganya kepada Delvie. "Beneran bokap gue tuh emang kayak gitu. Malah nyokap kalau udah sibuk sama sketchbook, itu bokap pasti larinya ke kamar gue. Gue tanyain kenapa, jawabannya selalu sama. Sketchbooknya dibilang orang ketiga." Tawa Delvie kian kuat, perempuan itu bahkan hampir saja tersedak. "Terus kakak cowok gue, namanya Abirayyan. Yang cewek Abiana. Dua-duanya udah di London. Ya nggak beda jauh dari lo, rumah gue sepi." "Tapi kok kayaknya keluarga lo seru banget ya, Dith. Gue jadi pengen main ke rumah lo." Senyum Judith terbit sempurna. "Ayok! Abis ujian gimana? Yuk, main aja! Nyokap gue pasti bakalan seneng parah sih kalau gue akhirnya bawa temen cewek ke rumah." "Maksud lo?" Delvie mengernyit. "Lo temen perempuan pertama gue, Delv." Seketika hening. Kedua perempuan itu sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. "Dith?" "Gue nggak pernah nyaman temenan sama cewek. Makanya temen gue kebanyakan cowok. Yang paling deket sama gue dua orang, namanya Cata sama Amar. Yang selalu anter jemput gue juga mereka." "Gila! Hidup lo unik banget sih, Dith?" Judith menyeruput minumannya, lalu dalam sekejap raut gadis itu kembali berubah efek soda. "Banyak yang bilang gitu, sih." "Oh iya, gue kemarin pengen ngajakin lo tau. Gabung ekskul pecinta alam, yuk?" "Hah?" Judith lagi-lagi kaget. Seorang Delvie benar-benar penuh kejutan. "Iya!" ujar Delvie semangat. "Jadi kita-kita udah pada sepakat buat pergi tahun ajaran baru nanti." "Serius? Kemana?" Delvie tersenyum, "Rahasia. Makanya ikutan!" "Kok rahasia?" "Makanya gabung dulu, nanti gue kasih tau." Judith mencebik kesal. "Kasih tau dong, biar enak bujukin bokap." Delvie tampak menghela napas, "Nama tempatnya Manggarai. Ada desa adat disana, namanya Wae Rebo---Negeri di atas awan. Flores, tau kan?" Judith terdiam. Dalam hati begitu tertarik. Sebab keinginannya untuk ke tempat tersebut belum juga tercapai hingga kini. Judith ingin menapaki kaki menuju Pulau Komodo. Melihat hewan purba tersebut dan merasakan bagaimana bersahabat dengan alam. Mungkin melalui ekstrakurikuler yang satu ini, Judith dapat merealisasikan impiannya yang tertunda. "Gue mau!" putus Judith seketika. • s w e e b y • Bel pertanda berakhirnya kegiatan belajar dan mengajar berbunyi sangat lantang di seluruh penjuru sekolah. Judith sendiri langsung merenggangkan tubuh dan menutup mulut sebab menguap. "Cie hari ini pulang bareng." Delvie menggoda Judith yang tengah sibuk menyusun peralatan tulisnya. "Jangan iri gitu, dong." Judith yang sama sekali tidak merasa diejek menanggapi sambil tertawa. Anak perempuan itu berjalan ke belakang kelas untuk menuju loker berbentuk persegi, memasukkan beberapa buku tebal kesana. "Gila ngapain gue ngiri sama lo, nggak penting," semprot Delvie ganas. Judith menutup pintu lokernya dengan kesal. "Ngaku aja sih kalau ngiri!" "Mimpi lo kalau gue ngiri. Difa juga palingan bentar lagi muncul." Benar saja, tidak lama nama Delvie diteriaki oleh salah satu teman. Menandakan bahwa Ceisar telah tiba. "Gue bilang juga apa," ujar Delvie lagi dengan bangga. "Yaudah pulang sana," usir Judith sambil menyandang tas. Delvie berjalan cepat menuju pintu, dan terdiam sebab ternyata bukan hanya Ceisar yang datang. "Dith, buruan!" Delvie berteriak. "Kenapa?" Mulut Judith tertutup karena kaget atas kehadiran Rion. Belum sempat Delvie melanjutkan kalimat, pergelangan tangannya langsung saja diraih oleh Rion dan ia dibawa berjalan bersama. Jantung Judith berpacu cepat. Apa yang Rion lakukan adalah hal pertama bagi Judith. Laki-laki ini menggenggam tangan Judith pelan, seperti takut bila saja Judith tersakiti. Orang-orang di sekitar kini bahkan tidak segan menyuarakan kekagetan mereka. "Anak baru, kan?" "Ada hubungan sama Rion apa, ya?" "Enak banget anak baru udah deket sama Rion." Judith berusaha mengabaikan. Namun pengaruh Rion tentu saja besar disini. Bahkan sampai menuju parkiran mobil, Rion tidak kunjung melepaskannya. Namun laki-laki itu juga tidak kunjung bersuara. Dibukanya pintu mobil sebelah kemudi, menatap Judith seakan-akan berkata, 'masuk'. Judith akhirnya duduk, jantungnya masih sulit untuk diminta tenang. Anak perempuan itu sibuk menggenggam kedua tangan dan menggigit bibir bagian dalamnya. Sampai saat Rion sudah duduk di balik kemudi, Judith lebih memilih menatap pemandangan Cakrawala dari balik kaca jendela mobil. "Lun," panggil Rion dalam keadaannya yang terkesan tenang. Laki-laki itu masih belum menyalakan mesin mobil. "Rumah kamu dimana?" Judith menoleh, tidak kuat menahan apa yang tengah ia pikirkan. "Kamu mau sampai kapan bungkam terus? Atau emang nggak ada yang mau kamu jelasin?" Rion menatap Judith, laki-laki itu menunduk sebab sangat merasa bersalah. "Aku salah," ujar Rion pada akhirnya. "Aku ninggalin kamu dan nggak pamit sama sekali." "Iya, kamu emang salah!" Judith membenarkan. "Kamu pergi gitu aja, Yon. Kamu ninggalin aku kayak aku bukan siapa-siapa kamu, padahal dulu cuma kamu temenku di sekolah. Aku juga bahkan nggak tau kamu kemana, Yon." Rion merasa tertampar telak. Sebab seorang yang ia tinggalkan dulu, ternyata masih terluka hingga sekarang. "Nanti, aku janji bakalan kasih tau kamu apa alasan aku pergi." "Selalu nanti-nanti-nanti. Mau selama apalagi sih, Yon?" Judith menyisir rambutnya dengan jemari, ia geram dengan lelaki di sebelahnya. "Aku janji, Lun." "Terus kenapa waktu itu kamu bentak aku?" Rion menghela napas dan mengusap wajah. "Aku kaget karna kamu yang datengin aku." Judith terpaku sebab alasan lelaki itu. Perempuan itu memperbaiki duduknya. Setidaknya, untuk sekarang ia dapat menikmati momen ini. "Aku kangen kamu, Yon." Dan untuk kesekian kalinya, Judith tidak dapat menahan apa yang ia rasakan. • s w e e b y •
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN