Seperti biasanya, senin pagi akan selalu sibuk. Begitupun dengan siswa-siswi berompi merah yang membedakan mereka dari yang lainnya. Mereka tampak sibuk membereskan keperluan yang baru saja digunakan selama upacara berlangsung.
Dan di antara banyaknya manusia disana, Judith tengah sibuk mengedarkan pandangannya---tampak mencari seseorang. Setidaknya seluruh siswa memiliki waktu lima belas menit sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai.
Judith melihat kiri kanan, masih tidak menemukan seseorang yang ia cari. Padahal seharusnya tidak cukup sulit mencari laki-laki dengan rompi merah gelap itu. Judith melepas kancing rompinya untuk menghilangkan gerah. Rasanya kesal karena tidak bisa menemukan Rion. Benar, Judith tengah mencari Rion.
Judith berbalik, terlihat Ceisar dengan macbook di pelukannya. Judith buru-buru mendekat, Ceisar tentu tahu dimana Rion sekarang.
"Kak Ceisar," panggil Judith sedikit aneh, sebab dia lebih sering mendengarkan Delvie memanggil lelaki ini dengan nama Difa.
"Eh, lo, kenapa?" Ceisar berhenti, memberikan tatapan penuh tanya kenapa ia dipanggil. Sedikit banyak, Ceisar ternyata menaruh rasa penasaran pada gadis di depannya. Sebab beberapa hari lalu, sahabat dekatnya sukses bersikap tidak baik di depan Judith entah untuk alasan apa.
"Kakak liat Rion?" tembak Judith langsung.
"Hah?" Ceisar mengernyit.
"Maksudnya, kak Rion."
Ceisar meringis, "Enggak-enggak, selo aja. Maksud gue bukan itu. Lo kenapa nyariin Rion?"
Judith menekan kedua bibirnya menjadi satu garis lurus untuk sesaat. Judith tidak akan memberitahukan siapa dirinya sebelum Rion yang memulai. Judith khawatir, bahwa mungkin alasan Rion menolaknya karena malu.
"Ada urusan sedikit," cetus Judith. "Kakak tau dimana?"
"Kalau nggak salah tadi ada di ruang tata usaha. Coba cari kesana." Ceisar hendak melanjutkan langkah, namun terhenti karena Judith kembali memanggil. "Ada lagi?"
"Hm, boleh tau ruang tata usaha dimana?"
"Punya peta sekolah, kan?"
Judith mengangguk, "Tapi kayaknya aku nggak punya waktu buat itu deh, Kak."
"Gila, sibuk banget berarti sampai nggak punya waktu." Ceisar tertawa di tempatnya. Lalu tersenyum sambil menghela napas. "Dari lapangan sini, lo bisa lewat west door, terus langsung belok kanan jalan terus buat sampai ke posisi utama gedung sekolah. Dari situ mudah, lo tau pintu tinggi gede yang ada tulisan teacher's door, kan? Pas di sebelah ruangan itu, ada ruangan yang pintunya kebuat dari kaca tapi gelap. Itu ruang TU."
Judith tersenyum tidak enak. Siapapun yang mendengar juga mungkin akan sama lelahnya dengan Judith. Terlebih dengan pintu utara, timur, barat, maupun selatan yang menjadi gerbang untuk mencapai lapangan. Mungkin bila Judith tidak bertanya, dia akan menghabiskan banyak waktu hanya untuk mencari ruang tata usaha.
"Makasih kalau gitu, Kak." Tanpa menunggu jawaban Ceisar, Judith segera meninggalkan lapangan sebab takut jika saja Rion sudah berpindah. Laki-laki itu sibuk.
Judith segera berbelok, mempercepat langkah kakinya. Dia ingin berbicara serius kali ini. Dan apabila diberi kesempatan, Judith ingin membenturkan kepala Rion agar lelaki itu dapat kembali mengingatnya.
Judith melakukan ini pun sebab saran dari Cata dan Amar. Kedua sahabatnya itu berubah kesal ketika mengetahui hal apa yang Rion lakukan pada Judith.
"Kalau dia macem-macem lagi, gue yang bakal datengin dia." Amar bersuara dengan emosi berkobar semalam ketika mereka menghabiskan waktu di ruang santai rumah Judith.
"Gue jadi dia sih malu. Udah cewek yang datengin, terus berani-beraninya ngebentak." Cata menambahkan.
"Tapi kata sepupunya, Rion nggak pernah kayak gitu. Ini tuh kayak pertama kali sepupunya liat Rion ngebentak orang, mana orangnya gue. Crazy doi."
"Terus besok gimana? Lo datengin dia lagi?" Amar yang tengah memeluk boneka beruang bertanya.
"Maunya sih gitu. Cuman, gue takut dibentak dia lagi."
"Gue sebenernya nggak setuju, Dith, kalau lo datengin dia lagi. Tapi nggak apa-apa, besok lo datengin dia, terus lo habisin dia pakai kata-kata lo. Kalau nggak mempan, tendang aja tulang keringnya." Amar memberi saran.
Sementara Cata tampak mengangguk, "Yaudah, besok lo datengin dia. Bilang kalau dia dapet salam dari kita."
"Nanti gue sampein," jawab Judith terdengar malas.
Amar melemparkan boneka lain yang lebih kecil dan tepat mengenai wajah gadis itu. "Yaudahlah, kalau dia buat lo nangis lagi sebut aja nama gue sama Cata tiga kali."
Judith tersadar dari lamunannya ketika melihat sepasang manusia baru saja keluar dari balik pintu kaca. Jantung perempuan itu tiba-tiba tidak baik. Tepat di depan matanya, seorang Rion dengan perempuan yang tidak Judith ketahui tampak berjalan bersama.
Lelaki itu sepertinya juga menunjukkan reaksi ketika melihat keberadaan Judith---walau tidak kentara. Tapi bagi Judith hal tersebut sudah cukup membuktikan bahwa Rion memang kaget karena kembali melihat Judith. Laki-laki itu seperti sedang berbuat jahat, dan tidak sengaja ketahuan.
Sementara Judith terus melangkah, hingga posisinya tepat menghalangi jalan kedua manusia di hadapannya.
"Kamu duluan aja, bilang ke Pak Rahim kalau semuanya udah beres." Rion bersuara kepada perempuan di sebelahnya. Sedang Judith hanya dapat mengernyit karena cara bicara Rion yang terlewat lembut sekali. Menggunakan kamu.
Sama gue malah sembarangan nyemprot nih orang, pikir Judith tidak mengerti.
"Buruan ke kelas, Yon. Ingetkan jam pertama ada ulangan?" Judith melirik cepat untuk melihat name tag dari perempuan itu. Fatisa F.
"Ingetlah," jawab Rion.
Fatisa melirik Judith sesaat, lalu kembali melihat Rion dan tersenyum. "Yaudah, aku duluan kalau gitu."
Sesaat setelah kepergian Fatisa, Judith dan Rion hanya ditemani keheningan. Tidak ada satupun yang hendak mengeluarkan suara di antara mereka. Sementara pandangan murid sekitar terlihat begitu penasaran.
"Pagi, Kak Rion." Judith mencoba memberi sapaan dengan wajahnya yang lucu.
Rion menghela napas, lalu mengusap wajahnya dengan beban pikiran yang semakin bertambah. Laki-laki itu sadar bahwa Judith tengah menyindirnya. Tapi pada akhirnya, Rion mengaku kalah. "Apa kabar, Lun?"
Judith membeku, lalu memberikan senyum tipisnya sebab Rion masih melakukan kebiasaannya. "Aku pikir bakalan susah dapet pertanyaan itu dari kamu. Aku baik. Kamu?"
Rion hanya mengangguk, mulutnya terasa kelu. Tidak dapat ia sangkal, bahwa kehadiran Judith akan membuatnya kehilangan kata-kata seperti ini.
"Aku nggak akan kena semprot lagi, kan? Aneh rasanya manggil kamu pakai embel-embel kakak."
"Maaf buat waktu itu."
"Alasannya?"
Judith menuntut. Dia butuh alasan pasti mengapa Rion melakukan hal semacam itu kepadanya.
"Nanti aku jelasin ke kamu. Aku buru-buru, ada ulangan pagi ini."
Rion berlalu begitu saja. Meninggalkan Judith dengan seribu tanda tanya di kepala. Tuhan, rasa-rasanya Judith ingin sekali melepaskan sepatu kulit kesayangannya lalu melemparkannya kepada Rion. Laki-laki itu, kenapa bisa sedingin ini terhadap Judith?
"Judith!" Teriakan lain membuat Judith menoleh. Judith menghela napas, melihat siapa orang yang memanggilnya.
"Nik," sapa Judith pelan pada Niko yang kini sudah berdiri di sebelahnya.
"Tadi ngobrol bareng siapa?" tanya lelaki itu.
Judith menatap Niko lebih serius. "Kamu kenapa nggak pernah bilang kalau kamu ketemu Rion lagi? Nik, kamu tau gimana dulu aku selalu nungguin kabar dari dia, bahkan sampai sekarang."
"Dith, maaf aku nggak maksud buat---"
"Aku pikir kita temen baik, Nik."
"Dith, aku beneran nggak pernah punya maksud buat nutupin ini dari kamu. Waktu ketemu lagi sama Rion, aku juga sama kagetnya kayak kamu. Aku nggak pernah sebut-sebut Rion lagi bukan karna aku pengen kamu nggak tau. Aku cuma takut kamu nggak siap denger tentang dia lagi, Dith. Karna semenjak kita saling nggak kontakan, aku ngerasa kalau kita udah kejauhan. Bahkan aku nggak bisa nebak lagi apa yang kamu rasain. Aku bahkan nggak tau lagi apa yang kamu suka, selain pisang goreng yang sering kita beli di deket lapangan."
Judith terdiam di tempatnya karena penjelasan panjang yang Niko berikan. Perempuan itu merasa bersalah sebab sudah menuduh Niko sembarangan.
"Nik, maaf bukan maksudku buat nuduh kamu kayak gitu."
"It's okay. Mungkin emang salahku. Aku ke kelas dulu kalau gitu."
Dan lagi, kini Judith ditinggalkan oleh Niko tanpa sempat diberi kesempatan untuk berbicara. Judith menarik napas dalam, dan teramat pelan menghembuskannya.
"Amar, Amar, Amar! Cata, Cata, Cata!" Judith memanggil nama kedua temannya itu tiga kali. Dan sialnya, tidak ada perubahan. Judith seharusnya sadar bahwa Cata dan Amar bukanlah jin botol, melainkan penipu kelas kakap.
• c o l d p u d d y •