"Hati-hati di jalan, ya." Sang bunda yang berdiri di depan Rion menyentuh kedua bahu lelaki itu. "Kalau nggak penting-penting banget besok nggak usah keluar rumah."
"Besok siang ada rapat sama anak OSIS, Bun." Rion memberitahu.
"Kebiasaan libur tetep rapat."
"Kepepet, Bun." Rion meringis sembari mengusap tengkuknya. Ia merasa bersalah sebab di akhir minggu masih tetap sibuk dengan urusan sekolah sehingga tidak dapat menemani bunda dan adik-adiknya. "Besok rapat terakhir soalnya minggu depan udah ujian. Rion janji besok kesini lagi."
"Besok kesini buat jemput Aksa aja, nggak usah lama-lama." Bundanya meminta. Sembari memberikan kembali topi Rion yang sejak tadi tergeletak di atas meja. "Bunda cuma mau kamu belajar. Jangan kecapean. Jangan bikin bunda panik, ya."
Rion hanya mengangguk tanpa suara. Lelaki itu berbalik, melihat Araz sudah pulas tertidur dan Aksa sepertinya sudah asik di alam mimpinya sendiri. Rion kembali menatap sang bunda, sesaat kemudian ia memilih melangkahkan kaki menuju pintu.
"Yon," panggil bundanya lembut, membuat Rion berhenti dan menoleh. "Nggak mau peluk bunda dulu? Bunda kangen."
Rion bergeming di posisinya. Namun matanya sudah tidak dapat berbohong lagi. Dari jendela hati tersebut, terpancar segala rasa sakit dan lelah yang seharusnya tetap Rion sembunyikan di balik dirinya. Namun harusnya Rion sadar, bahwa tidak ada gunanya ia berbohong dari seorang wanita berjudul ibu.
Masih dalam diam, dan dalam langkah lebih cepat, Rion mendatangi sang bunda. Melepaskan segala lelah dalam dirinya dengan memeluk bundanya erat. Ia butuh pelampiasan dari apa yang telah ia rasakan. Ia butuh membebaskan rasa sesak di dalam dirinya. Namun Rion belum bisa menangis. Ia hanya bisa memejamkan mata dan menghirup dalam-dalam aroma menenangkan milik sang bunda. Setidaknya, ia merasa lebih baik.
"Berhenti simpan semuanya sendirian," peringat sang bunda dengan tangan yang terus menepuk punggung Rion. "Kamu nggak usah mikirin biaya pengobatan adik kamu. Tabungan punya almarhum ayah sama bunda udah lebih dari cukup. Bunda juga masih kerja, Nak. Kamu nggak perlu khawatirin apapun lagi selain belajar kamu."
"Maafin Rion," ujar Rion bersalah. "Karna nggak bisa bantu apa-apa buat menuhin biaya keluarga."
Rion tebak, bahwa bundanya kini menangis. Dalam isakan pelan itu, bundanya bersuara. "Belajar. Belajar terus buat masa depan kamu. Jangan nyerah. Selalu jadi anak baik buat siapa aja. Kalau kamu nggak kuat mikul masalah kamu, berhenti sebentar. Balik ke bunda, Nak. Bunda siap bantuin kamu."
Air mata Rion jatuh setetes. Walau ujian yang tengah ia pikul tidak bisa dikatakan ringan, namun Tuhan dengan baik hatinya mengirim banyak orang yang begitu sayang pada Rion. Memang benar, Tuhan tidak pernah tidak adil.
Rion menceraikan pelukannya, menatap sang bunda dengan senyum lebih baik. "Bun, Rion ketemu Aluna lagi."
Mata sang bunda membulat sempurna. Seperti yang Rion duga, bundanya tentu akan terkejut sama seperti dirinya. "Judith? Dimana?"
"Dia anak baru di Cakrawala, Bun. Rion nggak tau apa alasan Judith pindah, cuma aneh aja karna dia muncul di akhir semester."
"Ya ampun! Pasti makin lucu ya Judith."
Rion menggeleng, "Enggak. Dia makin cantik."
Bundanya tersenyum, lalu menepuk pelan kedua pipi Rion. "Anak bunda udah gede. Terus gimana? Ngobrol apa aja bareng Judith? Dia pasti marah ya karna kamu pergi gitu aja dulu."
Rion terdiam. Bundanya salah. Bahkan yang Rion lakukan pada Judith jauh dari apa yang bundanya bayangkan. Obrolan singkat mereka bukan membahas masa lalu atau saling bertanya kabar, apalagi mengungkapkan rasa rindu yang lama terkubur. Lebih buruk dari itu, Rion menghancurkan gambaran dirinya sendiri di depan Judith.
Bodoh, rutuk lelaki itu lagi, untuk kesekian kalinya.
Rion kembali menatap bundanya dan tersenyum. "Kalau gitu Rion balik sekarang, Bun. Takut macet."
"Eh," cegat bundanya sebelum Rion benar-benar mengambil langkah. "Bunda mau ketemu Judith, dong. Bisa?"
"Apa, Bun?" Rion shocked. Bagaimana pula ia dapat membawa Judith untuk bertemu dengan bundanya sementara perempuan itu pasti tengah habis-habisan membencinya.
"Iya, Bunda mau ketemu Judith. Bunda kangen. Bisa, kan?"
Rion berpikir sesaat, dan tidak ada pilihan lain yang dapat ia lakukan selain mengangguk. "Nanti, nanti Rion bawa Aluna ketemu sama Bunda."
"Makasih ya!" Bundanya tersenyum. "Yaudah sana jalan sekarang aja. Hati-hati!"
Rion menghela napas panjang setelah keluar dari kamar adiknya itu. Kepalanya sulit berpikir disaat seperti ini. Rion butuh pulang, lalu mandi dan segera tidur. Karena besok, ia akan cukup sibuk. Seperti yang bundanya selalu katakan, "Jangan sampai kecapean!"
• s w e e b y •
Sementara di malam yang sama, di tempat yang berbeda, Judith tengah asik tertawa bersama sang mama. Dua perempuan generasi berbeda itu sibuk memandangi benda elektronik persegi panjang yang tengah menampilkan wajah orang lain. Abirayyan dan Abiana, kedua saudara Judith.
"Aa bisa nggak sih jangan norak di negara orang?!" Volume suara Judith sedikit meninggi sebab sebal.
Sementara Abi, lelaki itu tertawa. "Emangnya kenapa? Kan nggak salah makan pakai tangan. Temen-temen Aa bilang malah enakan makan pakai tangan."
Judith merungut, namun sesaat kemudian tawanya menyembur. "Mam, anak mama tuh. Norak pokoknya norak!"
"Kok sama sih, A? Mama dulu juga gitu waktu tinggal di London. Mama kasih tau temen-temen yang lain Indonesia itu gimana. Mereka malah kepengen tinggal disini. Ketemu orang-orang disini."
Judith yang fokus mendengar tuturan sang mama sukses membuka mulut sebab kaget. Sementara kedua kakaknya sukses tertawa, terlebih dengan wajah polos sang mama yang tidak menangkap maksud Judith untuk mengejek dan menghabisi Abi. Kakak laki-lakinya, memang anak kandung sang mama, pikir Judith.
Judith mendekat ke arah telinga sang mama, berbisik disana. "Mama harusnya dukung Judith, Mam!"
"Yah! Kamu nggak bilang, Dek."
Judith menunjukkan wajah frustrasinya. Ah, jika papanya disini, pasti akan semakin seru.
Tapi sebentar!
Bukankah Judith yang semangat karena Aldric harus pergi ke Malang? Kenapa tiba-tiba sekarang ia merindukan sang papa?!
"Mam, Judith kangen papa."
"Tadi katanya seneng papa ke luar kota?"
"Iyalah, Mam." Bia menyambung. "Anak remaja wajar labil."
"Teteh kayak nggak labil aja. Lagian kan wajar ini kangennya sama papa." Judith ngedumel. Dia malu.
"Labil!" ejek Bia lagi. "Liatin aja, Mam, palingan sebentar lagi jerawatnya numbuh dimana-mana karna udah pandai suka sama cowok."
"Ya daripada sama cewek!" jawab Judith tidak mau kalah.
"Ya kalau ada yang suka sama Judith siap-siap hadepin si bos besar berarti."
Mereka semua tertawa, kecuali Judith yang kini tampak meringis. Tentu saja papanya tidak suka pada hal-hal seperti itu bila sudah menyangkut kepada Judith. Dan Judith cukup mengerti akan hal itu.
"Nggak cuman papa, Ma. Nanti Abi juga."
"Aa!" teriak Judith langsung tidak terima.
"Udah jangan digodain terus adiknya." Nadine menengahi. "Aa sama Teteh mau kemana abis ini?"
"Masih siang, Mam, mau tiduran dulu. Nanti sorean mau keluar jalan-jalan."
"Berdua?" tanya Nadine.
"Iya. Bia lagi kepengen milkshake. Sekalian nanti Aa mau ke toko buku."
"Enak banget, sih." Judith bersuara. "Pengen ngerasain summer di London."
"Makanya buruan kesini."
"Iya kata papa abis ujian."
"Bener abis ujian?" Bia menyahut semangat. Perempuan itu pun sepertinya benar-benar merindukan keluarga.
"Iya, abis selesai acara di Aceh nanti berangkat kesana. Ya ampun, Judith nggak sabar!" Judith menjelaskan.
"Acara keluarga kakek ya, Mam? Yah padahal pengen ikutan."
"Nanti kalau ada kesempatan lagi kita pergi sama-sama. Yaudah, mama putusin dulu ya, udah malem. Nanti Judith nggak tidur. Kalian disana baik-baik. I love you!"
"We love you too, Mam! Dah, Dith."
"Dadah, Teteh. Dah, A." Judith melambaikan tangan. Sekian detik kemudian, sambungan terputus. Nadine meminta Judith untuk segera membersihkan peralatan sementara dirinya akan membuat s**u.
Judith mengambil ponselnya, memberitahu kepada Cata dan Amar untuk datang ke rumahnya besok. Akhir minggu, dan Judith ingin bermain.
Bujangan Arab: Besok ada ngumpul eksul, Dith. Ngumpul terakhir sebelum ujian.
Ustad Cata: Besok gue ke rumah. Bokap lo kemana?
Judith Aluna: Malang.
Judith Aluna: Sok sibuk lo, Mar.
Bujangan Arab: Emang sibuk
Judith Aluna: Berisik!
Ustad Cata: Jauh amat Malang.
Ustad Cata: Gue jadi lu ngikut sih.
Judith Aluna: Gila! Papa mana mau. Dia sibuk kerja terus ntar gue keliaran kemana-mana. Khawatir doi.
Bujangan Arab: Makanya jangan kayak cacing.
Judith Aluna: Cacing, cacing apa yang bikin melting?
Ustad Cata: Aku cacingta padamu❤
Judith Aluna: Kok tau?!
Bujangan Arab: Basi lo, Judal. Sok cinta-cintaan. Ketemu Rion aja manyun lo.
Judith Aluna: Jangan bahas dia!
Judith Aluna: Aku lelah.
Judith Aluna: Aku capek.
Judith Aluna: Aku mau pindah aja.
Judith Aluna: Pindah jauh-jauh.
Judith Aluna: Pakai helm.
Read by 2.
Judith Aluna: Setan!
Judith mematikan ponselnya sebab kesal. Teman-temannya tetap saja menyebalkan. Tepat setelah itu, Nadine muncul. Membawakan s**u rasa pisang untuk Judith.
"Mam, besok Cata ke rumah mau main katanya."
"Pas banget dong, besok mama juga mau bikin kue. Kalian bantuin, ya."
"Siap, Mam. Cata kan mau disuruh apa aja."
Nadine melotot, sementara Judith tertawa sebelum akhirnya meneguk habis s**u di dalam gelas miliknya.
• s w e e b y •