17. Si Kembar Milik Rion

1426 Kata
"Kak, buruan!" Rion mengangguk sebab panggilan Aksa untuknya. Laki-laki itu baru saja selesai bersiap-siap. Sebelum menyusul Aksa yang sudah berjalan lebih dulu menuju mobil, Rion menyempatkan diri untuk mengambil topi beserta jaket putihnya. "Nggak ada yang tinggal, kan?" Rion memastikan sesaat setelah menutup pintu mobil. Aksa menggeleng, "Udah semua. Komiknya Araz juga udah Aksa tambahin." "Episode baru?" Rion bertanya sementara dahinya mengernyit. "Iya," jawab Aksa tersenyum sumringah. "Kamu yang beli? Kapan?" "Tadi." Aksa kini membuang muka, sedikit takut sebab Rion tampak penasaran. "Sebenernya hari ini Aksa ngewakilin sekolah buat tampil di acara musikal, Kak. Nah lokasinya itu deketan sama toko buku. Jadi Aksa mampir kesana, terus ketemu komik favorit Araz." "Kamu masih main musik?" Rion bertanya dengan keterkejutan dalam kepalanya. Dia pikir, adik laki-lakinya itu sudah lama meninggalkan dunia musik. Rion kira, Aksa akan menyerah untuk sekedar memetik kembali senar gitar, atau hanya meniup harmonika. Aksa tidak mengangguk maupun menggeleng. "Aksa latihan di ruang musik sekolah." Rion tersenyum bangga. "Kakak pikir kamu beneran ninggalin hobi kamu." "Tapi Aksa tetep ngerasa bersalah, Kak. Aksa bisa main musik apapun, tapi Araz enggak. Jangan bilang ke Araz kalau Aksa main musik ya, Kak." Rion menghela napas, lalu mencoba menunjukkan senyum terbaik pada Aksa. "Terus, uang kamu kepakai berapa buat beli komiknya? Nanti kakak ganti." "Nggak usah, Kak. Lagian Aksa juga pengen beliin Araz sesuatu pakai uang Aksa sendiri." Ini yang membuat Rion bertahan sampai sekarang. Rasa cinta kedua adiknya kerap memberi Rion pelajaran untuk terus menjadi kuat. Mereka secara tidak langsung menyemangati Rion bahwa sesudah hujan, tentu akan muncul pelangi. Rion mengulurkan tangan bermaksud mengacak rambut Aksa penuh sayang. "Araz bakalan seneng dapet komik lagi hari ini." Setelah itu, kedua anak lelaki berbeda umur tersebut memutuskan untuk segera meninggalkan rumah menuju tempat dimana Araz dan sang bunda berada. Selama perjalanan, Rion tak pelak memikirkan Judith. Lelaki itu sadar hal apa yang telah ia lakukan pada Judith. Bahkan Rion tidak sanggup membayangkan hal apa yang akan Judith pikirkan mengenai sikap Rion tadi. Lelaki itu memang bodoh. Dan Rion tau bahwa ada hal yang salah dalam dirinya. Untuk pertama kalinya ia kembali melihat Judith. Dan seluruh rasa bersalah itu seperti mengandanginya, menghukumnya. Rion berharap bahwa pudding pemberiannya dapat mengurangi sedikit dari besarnya kesalahan yang telah ia perbuat. Namun kedatangan Judith menuju kelasnya benar-benar di luar dugaan Rion. Bahkan sikap yang Rion tunjukkan, lelaki itu benar-benar ingin menghancurkan kepala dengan tangannya sendiri. 'Bego,' rutuk Rion dalam hati entah untuk yang ke berapa kali. Seharusnya ia yang mendatangi Judith lebih dulu. Bukannya membuat perempuan itu membuang tenaga hanya untuk datang kepadanya. Kesalahan Rion karena pergi, dan juga kesalahan Rion sebab tidak bertindak cepat untuk menemui Judith lebih awal ketika ia kembali lagi ke kota ini. Dan sekolahnya sekarang, ternyata Judith merupakan cucu sang pemilik. Rion memejamkan mata. Ia butuh seseorang untuk mengutuknya habis-habisan kini. Mengatakan bahwa Rion benar-benar manusia terburuk yang pernah ada sebab tidak pernah menghargai pertemanan yang telah semesta percayakan padanya. "Kak," panggilan Aksa membuat Rion menoleh, pikirannya seketika buyar. "Kenapa?" "Nanti kakak pulang lagi?" Rion diam, paham kemana arah dari pertanyaan Aksa. "Kamu mau nginep?" Aksa mengangguk cepat. "Boleh, kan?" "Yaudah," putus Rion akhirnya. "Besok kakak jemput lagi kalau urusan kakak udah selesai." Setelah itu, suasana di mobil kembali hening. Sebab dua anak lelaki itu kembali sibuk dengan pikiran masing-masing. Sibuk mencari solusi seorang diri tanpa repot-repot bercerita. Hingga mobil mencapai sebuah gedung megah tinggi yang terletak di tengah kota. Rion mengarahkan setir agar mobil masuk melalui jalur yang sudah disediakan. Melewati satpam penjaga dan memberi tanda sebagai sapaan dengan klakson. Ia sudah cukup sering kemari. Tidak lama, mobil yang Rion kendarai sudah berhenti rapi di deretan mobil lainnya. Ia mengajak Aksa untuk turun bersama. Sebelum masuk, Rion tidak lupa untuk mengambil tas yang berisikan perlengkapan tambahan untuk adik perempuan dan bundanya selama disini. Langkah pertama Rion setelah memasuki gedung tersebut kembali disapa oleh banyaknya orang-orang berseragam putih yang sibuk berlalu lalang. Tampak sibuk. Tidak hanya itu, orang-orang dengan pakaian lain yang tentu saja berstatus pengunjung. Aroma obat-obatan seperti menjentik hidung Rion untuk mengingatkan otaknya bahwa kini ia tengah berada di rumah sakit. "Ayo, Kak." Aksa berjalan lebih cepat di depan Rion. Menuju lift dan langsung menekan tombol untuk menuju ke lantai atas. Rion hanya menghela napas. Ia benar-benar bingung harus menunjukkan sikap seperti apa apabila sudah bertemu dengan Araz. Karena seperti yang pernah Rion beritahu, ia ingin sekali menangis, tapi otaknya dengan segera memberi perintah jangan. Nangis menandakan kelemahan. Dan Rion tidak ingin dikatakan lemah. Ia dan Aksa akhirnya masuk ke dalam lift. Menekan tombol lantai dimana ruangan Araz berada. Tidak butuh waktu lama jika sudah di dalam lift, karena sesaat kemudian mereka berhasil menuju lantai yang dimaksud. Aksa tetap berada di depan, seolah-olah memimpin langkah Rion agar tidak tersesat di dalam rumah sakit yang besar tersebut. Namun kala langkah bocah SD itu tepat berada di depan pintu coklat kayu, ia terdiam. Menatap lurus-lurus seperti berpikir haruskah ia masuk. Rion hanya memperhatikan. Ia akan masuk apabila Aksa membuka pintu kamar itu. Akan pulang apabila Aksa memilih memutar langkah. Akan menunggu jika Aksa memang ingin berdiam diri terlebih dahulu. Rion, hanya tergantung Aksa. Rion tersenyum kala Aksa akhirnya menekan kenop pintu dan mendorongnya ke dalam. Adiknya cukup berani. Rion menyusul masuk, dan tatapan teduh sang bunda yang tengah membuka buku cerita menyambut kedatangan mereka. d**a Rion sesak hanya dalam waktu singkat. "Bunda!" Aksa berteriak dan memeluk bundanya. Sementara Rion memilih berjalan mendekati Araz. Keadaan anak perempuan dengan wajah yang cukup mirip dengan Aksa itu terlihat pucat dalam balutan baju pasien bercorak binatang. Khas anak-anak. Rion mengelus pipi Araz, mencoba tersenyum. "Nggak tidur?" tanya Rion memulai obrolan. Araz menggeleng, "Enggak." "Kenapa?" Araz tersenyum di sela rasa sakitnya. "Araz capek tidur terus." Rion diam, paham maksudnya. "Tapikan Araz emang butuh istirahat." "Araz istirahat kok." "Araz, Aksa kangen!" Suara Aksa terdengar, anak lelaki itu memang tidak malu berlaku manja di depan kembarannya. Araz tertawa pelan, "Aksa bawain apa buat Araz?" "Oh iya." Aksa tersadar. Buru-buru membuka tasnya dan mengambil dua buah komik darisana. "Nih, Aksa bawain komik." "Wah! Makasih, Kak Aksa!" Araz tertawa lembut sembari bercanda. Gadis kecil itu berusaha mengabaikan rasa sakit di dalam dirinya. "Bunda solat dulu kalau gitu." Bundanya berdiri, menatap Rion sesaat. "Udah salat?" Rion menggeleng, "Belum, Bun." "Yuk, salat dulu." "Bunda duluan aja. Biar Rion jagain Araz dulu, nanti gantian." Sang bunda tampak mengerti, lalu segera berlalu pergi. Meninggalkan ketiga anaknya yang kembali sibuk bercengkerama. "Kak," panggil Araz pelan pada Rion. "Hm?" "Topi Kak Rion dibuka aja. Araz nggak apa-apa kok. Araz udah nggak cemburu lagi kalau liat orang lain punya rambut." Seketika Rion menunduk, mengusap kedua matanya yang terasa panas. Sementara Araz, gadis sebelas tahun itu tetap tersenyum, walau jauh di dalam hatinya ia tengah menyimpan luka begitu besar. Rion kembali mendongak, tersenyum menguatkan sembari mengelus lembut tangan Araz. "Rambut Araz pasti tumbuh lagi. Araz pasti jadi makin cantik." Rion menatap mata adiknya, berniat menyalurkan kekuatan. Hati lelaki itu sakit menatap Araz dengan beanie yang menutupi kepalanya. "Araz emang sempet marah, kenapa buat sembuh Araz mesti ngorbanin rambut. Tapi karna Kak Rion selalu bilang Araz cantik, Araz jadi lebih yakin, Araz jadi nggak malu lagi." "Iya, Araz cantik. Araz yang paling cantik." Rion merapalkan mantra ajaib tersebut. Berharap adiknya semakin kuat. "Kak," panggil Araz lagi. "Semalem, Araz mimpiin ayah lagi. Gimana kalau itu emang tanda kalau waktu Araz nggak lama?" "Raz...," "Araz!" Aksa menyerukan rasa tidak terimanya. "Araz belum mau pergi. Nggak apa-apa kok kalau tubuh Araz harus terus dicucuk jarum, karna Araz pengen sembuh dulu. Araz pengen main bareng Kak Rion sama Aksa. Araz pengen main musik lagi. Makanya Araz nggak mau tidur, Araz takut kalau ayah dateng lagi." "Iya, Araz pasti sembuh. Terus nanti kita liburan sama-sama." "Tapi, tubuh Araz kadang-kadang suka bandel, Kak. Suka nggak mau nerima obatnya. Terus Araz ngomong ke dokternya, 'mungkin tubuh Araz jadi bandel karna kepengen eskrim, Dok.' Tapi dokter nggak ngizinin Araz makan es krim." "Kakak janji, kalau Araz sembuh nanti, kakak bakalan kasih es krim yang banyak buat Araz." "Masalahnya, Araz nggak akan sembuh lagi." "Araz!" Aksa yang sejak tadi berusaha mendengarkan kembali bereaksi. Bocah laki-laki itu tidak terima. "Araz mau es krim? Tunggu disini Aksa beliin dulu." Belum sempat Rion melarang, Aksa sudah berlari keluar lebih dulu. Sementara Araz hanya tertawa, lalu menoleh lagi pada Rion. "Araz selalu doa, kalaupun Araz sama Aksa kembar, semoga nasib kita berdua nggak ikutan kembar. Aksa nggak boleh rasain yang Araz rasain." "Araz istirahat, ya," ujar Rion akhirnya. Dibantunya Araz untuk mendapati posisi nyaman. Setelahnya, mengecup lama dahi Araz. "Kakak sayang, Araz." • c o l d p u d d y •
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN