Dalam keadaan sadar sesadar-sadarnya, Judith meneguk minuman berwarna yang baru saja ia beli. Rasa-rasanya, Judith ingin membenturkan kepala Rion ke pintu kelas lelaki itu. Emosi Judith sudah di ubun-ubun, tinggal dilepaskan jika saja di hadapannya terdapat Cata dan Amar.
Hah! Sopan santun? Siapa yang seharusnya belajar sopan santun? Setelah Judith memberanikan diri untuk menampakkan wujudnya di depan lelaki itu, tetapi respon yang ia dapat tidak seperti yang diharapkan. Bukankah seharusnya Rion yang harus belajar menghargai orang lain?
Setelah sekian lama berpisah, inikah yang Judith dapat? Sambutan semacam inikah yang pantas untuk Judith? Bukankah Judith yang seharusnya menaruh amarah pada lelaki itu? Ia yang ditinggalkan. Ia yang harus menahan rasa sedih teramat sebab rasa rindu terhadap teman satu-satunya---terhadap Rion.
Lalu, jika memang seperti itu, apa mungkin sikap Rion di hadapan seluruh siswa sekolah adalah sebuah kepalsuan? Apa perlu Judith berteriak kepada seluruh orang-orang disini bahwa ketua OSIS yang selama ini mereka banggakan adalah seorang monster bermuka dua?
Ya Tuhan, Judith benar-benar membenci lelaki itu.
"Dith." Panggilan seseorang membuat Judith menoleh, dan ia menemukan Delvie disana.
"Hai," sapa Judith pelan.
"Gue liat tadi," ujar Delvie lirih sambil mengambil tempat di sebelah Judith. "Rion biasanya nggak kayak gitu."
Judith tersenyum samar---karena mendengar Delvie akhirnya menyebut nama Rion---sebelum kembali membikin rautnya seperti biasa.
"Gue pikir gue salah orang deh, Delv." Judith membuat sebuah kemungkinan. "Rion gue emang nyebelin, tapi gue pikir nggak separah tadi."
Delvie tampak mengangguk, ia mengerti. "Gue juga baru pertama kali liat Rion kayak tadi. Aneh aja. Kenapa sama lo dia malah jadi kayak gitu."
"Lo sekenal itu sama Rion?"
"Hm?" Delvie menatap Judith dengan ekspresi bingung. "Maksudnya?"
"Iya, sampai lo bisa hapal segitunya sama sikap Rion."
Delvie tersenyum, "Ya karna gue sama Rion emang udah deket dari kecil."
"Apa?" Judith kian dibuat bingung.
"Gue sama Rion sepupuan, Dith. Dia udah kayak kakak sendiri buat gue. Selalu nemenin gue kalau misalkan mama pergi. Mama tuh kalau udah pergi ke Paris pasti nggak pernah sebentar, paling enggak sebulan. Gue tunggal, beda sama Rion yang punya si kembar. Makanya kalau apa-apa gue suka bareng dia. Tapi waktu itu, Rion sekeluarga kepaksa pindah. Beruntung sih, gue masih bisa ketemu dia setiap liburan."
Judith terdiam. Napasnya seperti tersangkut sebab akhirnya ia hampir menemukan anak puzzle dari segala rasa penasarannya selama ini. "Bener. Dia emang pindah. Tapi lo tau, dia pindah kemana?"
Delvie menghela napas, "Gue nggak punya hak buat cerita sama lo, Dith. Lebih pantes kalau lo nanya ke dia langsung dan biar dia jelasin semuanya ke elo. Gue nggak mau salah ngomong. Karna Rion pasti bener-bener nggak suka kalau topik keluarganya diumbar-umbar."
"Kenapa? Gue liat keluarganya baik-baik aja. Nyokapnya masih ngajar, kan?"
Delvie mengangguk, "Masih, kok. Cuman, gue bener-bener nggak bisa jelasin apa-apa ke elo karna kayak apa yang gue bilang, gue nggak mau salah bicara."
"Terus, lo tau kenapa sikapnya dia bisa kayak gitu ke gue?"
Delvie menggeleng, merasa bersalah. "Makanya gue juga kaget kenapa Rion bisa kayak tadi. Dia nggak bakalan pernah kasar sama siapapun."
"Mungkin nggak ya kalau Rion lagi punya masalah?"
Delvie membuang muka setelah pertanyaan itu dilontarkan. Namun buru-buru menatap Judith dan tersenyum. "Mungkin. Ya, kalau menurut gue, lo nggak seharusnya patah semangat buat ngadepin Rion. Kalau gue jadi lo, gue bakalan datengin dia, marahin dia, kalau perlu pites kepalanya biar dia sadar kalau temen kecilnya yang dia tinggalin gitu aja dulu, udah ngorbanin harga diri cuma buat nyapa dia duluan."
Judith kembali meneguk minumannya. Dia ingin mengabaikan segala ucapan Delvie. Namun hati kecilnya menolak. Bagaimana jika memang Rion tengah berada dalam masalah dan laki-laki itu begitu membutuhkan semangat? Tapi, apakah Rion mau menerima segala bentuk aksi Judith nanti? Jika berdiri di depannya saja Judith sudah langsung diusir.
• s w e e b y •
"Mama!" Judith berteriak kala langkah kakinya memasuki butik milik Nadine. Membuat seluruh pasang mata yang berada di dalam butik tersebut menatap Judith penasaran.
Sementara Nadine buru-buru keluar dari ruangannya. Tidak memperdulikan ikatan rambutnya yang sudah acak-acakkan sebab sekarang putri bungsunya tengah berteriak memanggil.
"Kenapa, Dek?" tanya Nadine panik, tangannya mencoba memperbaiki ikatan rambut.
Sedang Judith buru-buru memeluk Nadine, merengek di d**a sang mama bagai gadis kecil yang tidak mendapatkan permen. Nadine mendekap Judith dengan panik, mengelus terus rambut sang anak berharap rengekannya mereda.
"Kenapa, Dek?" tanya Nadine saat mendapatkan kesempatan untuk menatap wajah Judith. Dirapikannya rambut Judith, menghapus dengan jemari pipi Judith yang basah.
"Mam." Suara Judith bergetar. "Judith ketemu Rion lagi, Mam." Judith menyambung kalimatnya.
Sementara Nadine tiba-tiba menghentikan gerakannya. Wanita itupun ikut terkejut atas fakta yang baru saja diucapkan oleh Judith. Jika Judith memang bertemu Rion, lantas dimana?
"Judith ketemu dimana?" tanya Nadine hati-hati. Perlahan, dibawanya putri bungsunya itu untuk masuk ke dalam ruangan. Setidaknya, mereka butuh duduk untuk topik seserius ini.
Nadine membiarkan Judith duduk untuk sekedar mengikat rambut dan menghapus sisa-sisa air mata di wajah. Sementara ia memilih menyeduhkan teh hijau untuk Judith. Memperhatikan Judith dalam keadaan seperti ini, kembali mengingatkan Nadine kala masa SMA dulu. Dan Nadine, ingin sekali memiliki peran disini.
Ia ingin membantu Judith walau hanya lengan hangat yang ia miliki sebagai modal. Nadine ingin Judith mengerti bahwa ia akan selalu ada di segala keadaan Judith. Karena wanita berstatus ibu dari tiga orang anak itu sadar, hanya Judith yang ia miliki disini.
Dihelanya napas, berjalan mendekat pada Judith yang memilih menyalakan televisi. Anak perempuan itu masih kebingungan. Apa yang sebenarnya tengah ia hadapi? Disamping itu, Judith takut apabila cerita hidupnya akan seperti drama-drama yang kerap ia tonton.
Judith bergidik sendirian, jangan sampai hidupnya berubah serumit itu. Sesaat, Judith menoleh karena sang mama meletakkan teh hijau di depannya. Judith tersenyum samar, ah, tiba-tiba saja remaja itu merindukan masa kecilnya. Kala kepalanya hanya mengetahui kata mama. Saat ia kerap merengek pada sang papa apabila Nadine diambil.
Ya Tuhan, bagaimana mungkin waktu dapat berjalan mundur?
"Mam," panggil Judith pelan, tenggorokannya terasa nyaman sebab baru saja meneguk teh hijau buatan Nadine.
"Cerita sama mama," ujar Nadine sembari memposisikan duduk sebaik mungkin. Ia menatap Judith dengan tatapan teduh, seperti tengah memberitahu bahwa Judith akan baik-baik saja.
"Rion ketua OSIS di Cakrawala, Mam." Judith bergetar, buru-buru menarik napas dan membuangnya perlahan. "Rion ternyata ikutan akselerasi waktu SMP, makanya sekarang dia jadi kakak tingkat Judith. Pertama kali, Judith liatin dia ngomong di aula. Orang-orang kayaknya pada kagum sama dia, termasuk Judith. Terus tadi pagi, Judith nemuin pudding di atas meja. Judith tau kalau itu dari Rion, makanya Judith beraniin diri buat nyamperin Rion ke kelasnya. Tapi---tapi sikap Rion beda, Mam. Seakan-akan dia nggak pernah kenal Judith. Seakan-akan kalau pudding hari ini bukan dari dia."
"Dek...," lirih Nadine, sementara Judith terlalu sibuk mengusap mata.
"Judith pengen marah, Mam. Tapi Judith nggak bisa."
Gadis itu terisak dengan menutup wajah. Hatinya sakit sebab penolakan ini. Dilupakan, tepatnya.
"Judith nggak harus marah." Nadine menenangkan.
"Judith nggak bisa marah, Mam. Karna---karna Judith udah kelewat seneng bisa ketemu Rion lagi."
Nadine segera menarik Judith ke pelukannya. Membiarkan sang putri menangis dan mengeluarkan segala gundahnya disana. Tidak, Nadine tidak bisa menyalahkan perasaan yang tengah Judith gendong. Sebab Nadine mengerti, bahwa dulu, hanya Rion yang kerap mengisi hari-hari Judith.
"Anak mama udah gede ternyata." Nadine mengelus puncak kepala Judith, menciumnya setelah itu. "Judith boleh nangis, boleh numpahin semua yang bikin Judith resah ke mama. Mama juga seneng karna Judith mau nyapa Rion lagi. Nggak apa-apa, Sayang. Sebesar apapun kesalahan yang orang-orang buat ke kita, kita harus tetep perlakuin mereka baik, walaupun kebaikan itu kecil."
"Berarti Judith orang baik, Mam? Terus kenapa orang-orang di sekolah lama segitu bencinya sama Judith?"
"Karena orang-orang nggak punya pandangan yang sama buat nilai orang lain." Nadine menjawab, tersenyum setelah kalimat itu selesai. "Kalau semua orang diciptain sama-sama baik, buat apa kita hidup disini sekarang? Pasti nggak akan ada yang namanya dosa kalau semua orang hidup rukun saling ngebantu. Karna di fase ini, kita disuruh milih. Mau jadi orang baik, atau jadi orang jahat?" Nadine mengeratkan pelukannya, mengelus rambut Judith penuh sayang. "Mama tau anak mama bisa ngambil pilihan."
Judith diam, sibuk dengan pikirannya sementara penciumannya dibelai oleh harum lembut sang mama. "Judith sayang mama. Judith cuma mau bareng mama. Judith nggak mau mikirin orang-orang lain lagi, capek. Mending nonton cartoon bareng mama."
Nadine seketika tertawa. Walau bungsunya terus tumbuh, namun sifat kekanakan itu tidak pernah lepas dari dirinya. Mungkin benar, jika Judith lebih banyak membawa bagian Aldric yang ceria dan konyol. Disaat Abi dan Bia lebih malu mengucapkan sayang, Judith akan setiap hari mengatakan hal tersebut.
"Nanti malem tidur bareng mama berarti."
Judith mengangguk cepat, "Iya bareng mama aja. Papa disuruh di kamar Judith aja sendirian."
Nadine tertawa lagi, "Papa kan malem ini ke Malang, Dek."
"Beneran, Mam?" Judith melepaskan pelukan, menatap sang mama lebih serius.
"Iya," angguk Nadine. "Jadi nanti selesai anterin papa ke bandara Judith sama mama bisa jalan-jalan."
"YES!" Anak perempuan itu berteriak girang. Membuat Nadine seketika melotot dan hanya geleng kepala.
"Seneng banget ya tau papanya ke luar kota?"
Judith meringis, "Bukan gitu, Mam. Papa kalau kita jalan bertiga kan suka rese. Mama inget nggak waktu nonton kemarin? Niatnya Judith sama mama kan kepengen nonton romance. Si papa diem-diem malah beli tiket horror. Mana sengaja nggak kasih tau. Waktu udah di dalem studio papa ketawa-ketawa."
"Gitu-gitu jugakan Judith sering kangen papa. Waktu itu ditinggal papa seminggu ke Padang Judith ngerengek minta papa buruan pulang. Kalau enggak, Judith bakalan nyusul."
Judith mengerucutkan bibir, benar juga apa yang dikatakan mamanya. Namun Judith buru-buru berdiri, menatap mamanya semangat.
"Pulang yuk, Mam!"
Nadine mengangguk tanda setuju. Setidaknya, Judith kembali menjadi Judith yang ceria, dan Nadine lega akan hal itu.
• s w e e b y •