15. Hadiah

1360 Kata
Detik jarum jam terdengar mengusik di antara sepinya ruang tengah. Langkah kaki ringan seorang lelaki menuruni anak tangga dengan pasti. Keadaan rumah yang sepi membuatnya terdiam sesaat di anak tangga terakhir. Tidak ada teriakan bunda yang mendesak, tidak ada suara bising dari televisi yang kerap mensuguhkan cartoon, tidak ada rengekan, tidak ada kejahilan disambili pertengkaran kecil. Rion menghela napas, berjalan menuju dapur guna mempersiapkan sarapan termudah untuk ia dan Aksa. Dilihatnya roti dan beberapa pilihan selai. Dengan gerakan cepat mengambil empat lembar roti dan mengisi selai kacang untuk Aksa lalu stroberi untuknya. "Pagi, Kak." Sapaan itu membuat Rion berbalik dan tersenyum tipis kepada adiknya. "Bikin apa?" "Pagi," balas Rion. "Cuma ada roti. Kamu bisa bikin s**u sendiri, kan? Kakak apain mobil dulu." Aksa tampak mengangguk, "Iya." Rion meninggalkan dapur, menuju pintu utama rumah dan membukanya. Cuaca terasa lembab sebab hujan semalam. Tapi Rion tidak ambil pusing. Setidaknya, malam tadi tidurnya dapat nyenyak tanpa adanya mimpi-mimpi aneh. Rion mulai menyalakan mesin mobil, membiarkannya untuk beberapa saat dan setelahnya kembali mengecek Aksa di dapur. Dilihatnya sang adik tengah sibuk mengaduk s**u coklat sementara mulutnya sudah mengunyah roti. "Kamu ada PR?" tanya Rion menyusul duduk di kursi makan, memakan roti miliknya dengan tenang. "Kak," panggil Aksa setelah meneguk susunya. "Aksa mau ketemu Araz." Lanjutnya dengan suara lirih, kentara penuh harap. Sementara Rion terdiam, bingung harus menjawab seperti apa. Ia paham seperti apa Aksa begitu merindukan saudara kembarnya itu. Sama halnya dengan Rion sebenarnya, ia juga begitu merindukan katak kecilnya itu. "Bunda nggak akan ngizinin kalau sekarang, kita pergi besok." Helaan napas Aksa terdengar, "Aksa pengen gantiin posisi Araz, Kak." Rion menoleh, sebab telinganya menangkap getaran dari suara itu. Namun Aksa menunduk, menghindari tatapan Rion. "Jangan ngomong kayak gitu lagi," ujar Rion menahan diri. "Aksa lebih pengen sama Araz daripada harus sekolah. Aksa mau sama Araz, Kak." "Kakak tau," jawab Rion lebih serius, berharap agar Aksa tidak lagi menyuarakan hal-hal aneh padanya. "Tapi emang kamu nggak malu ketahuan Araz kalau kamu nggak sekolah? Mau Araz sedih karna tau kamu lebih milih bolos sekolah?" Aksa menggeleng lemah, "Enggak mau." Rion menekan bibir bawahnya, berpikir dalam diam sebelum akhirnya menggeser kursi makan ke belakang. Beranjak dari posisinya. "Udah? Ayo Kakak anterin ke sekolah." Dalam diam pula, Aksa hanya menurut. Pikiran bocah lelaki itu sepertinya benar-benar terbebani karena terus memikirkan perihal saudara kembarnya. • s w e e b y • "Hati-hati!" kata Cata sebelum Judith keluar mobil. "Brisik!" respon Judith ketus. Tapi bagi Cata dan Amar, itu merupakan sebuah tanda bahwa sahabat perempuannya itu memang baik-baik saja. Setidaknya, Judith tidak lagi membahas hal-hal semalam. "Dah, Sayang." Amar bersuara, badannya bergetar sebab tawa. "Dah, Cintaku." Judith merespon sambil melambaikan tangan, setelah itu keluar dari mobil dan berjalan memasuki gedung sekolah. Sembari berjalan menuju tangga, Judith menatap ke arah dinding dimana jam berbentuk lingkaran besar berada. Judith pikir ia sudah terlambat tadi. Beruntung, ia masih memiliki waktu lima menit sebelum bel berbunyi. Hari ini, jam pertama akan diisi dengan ulangan. Setibanya di ambang pintu kelas, Judith menyisir pandangan kepada seluruh teman-temannya, dan ia sukses kesulitan meneguk saliva sendiri. Ditamparnya pipi sedikit keras, sadar bahwa ia tidak sedang bermimpi. Ayolah, ini hanya ulangan. Kenapa semua orang membuka buku seakan-akan ini adalah sebuah perang yang menentukan kemana akhir dari hidup? Pikir Judith senewen. Judith akhirnya melangkahkan kaki menuju kursi, namun tiba-tiba seluruh anak di dalam kelas menatap Judith seakan ingin tahu. Tatapan-tatapan itu memperlihatkan rasa penasaran yang ingin sekali agar segera dipuaskan. Sementara Judith sukses terpaku saat melihat sesuatu di atas mejanya. Ragu, Judith mengulurkan tangan untuk mengambil benda itu. Jantungnya berdegub kencang sekarang. Sejak kapan benda ini berada di mejanya? Pikiran Judith seketika kacau. Ia tidak menyangka bahwa hal semacam ini akan kembali terjadi dalam hidupnya. Tidak pernah mengira bahwa seseorang akan dengan baik hatinya meletakkan satu cup pudding coklat kesukannya. Kepala anak perempuan itu kini sibuk menebak. Jika pikirannya tidak salah, pertanda bahwa lelaki itu pun sudah mengetahui keberadaan Judith di sini. Ya Tuhan, Judith pikir dirinya tidak akan pernah disadari bahkan untuk seorang sesibuk Rion. Dan bukankah itu juga menjadi tanda bahwa Rion mengingatnya? Judith tersenyum kecil. Fakta bahwa Rion masih mengetahui hal kecil yang Judith suka berhasil membuat pipi perempuan itu bersemu. "Harusnya gue tau kalau gue emang susah buat dilupain." Judith tersenyum di sela ucapannya. Buru-buru membuka tutup pudding dan duduk di kursinya. Tidak sadar bahwa teman-temannya masih menatap Judith penasaran. Pikiran teman-temannya sibuk bertanya, sebenarnya apa hubungan Judith dengan sang ketua OSIS. • s w e e b y • "Gila! Jawaban terakhir punya gue beda sama kalian. Parah, alamat salah kalau udah begini." Judith mengernyit pada Delvie yang sibuk ngedumel sejak tadi. "Aneh," celetuk Judith sehingga Delvie buru-buru menatapnya ganas. "Bilang apa barusan?" Delvie yang tidak terima langsung memberhentikan langkah Judith. Ia sibuk menghentakkan kaki yang dibalut sepatu kulit warna coklat, sementara matanya menuntut. Judith mengulang celetukannya tadi, sedikit lebih keras. "Aneh!" "Enak aja!" Delvie buru-buru menghadiahkan Judith tepukan di lengan atasnya. "Lagian, beda jawabankan bukan berarti salah. Bisa aja yang lo punya yang bener. Jawaban gue juga kayak lo. Kita sama." "Lo nyontek gue, ya?!" "Gila ngapain? Soal begituan udah sering gue telen." Delvie berbinar, ia bangga. "Parah, nggak nyesel gue nemenin lo ke kantin waktu hari pertama lo disini." Judith mengernyit, tapi sekarang ia benar-benar tidak peduli akan maksud dari perkataan Delvie. Karena Judith teramat ingin menemui Rion. Dilanjutkannya langkah yang sempat terhenti, membuat Delvie yang ditinggalkan lagi-lagi menjadi kesal. "Lo kenapa, sih? Kok tiba-tiba kepengen ketemu ketos? Terus anak-anak bilang kalau ketos ngasih pudding ke elo. Beneran emang?" Delvie yang memang datang disaat bel berbunyi tidak tahu menahu dengan apa yang terjadi. Judith hanya tersenyum sambil mengedikkan bahu. Lalu menatap Delvie sedikit tidak terima. "Dia punya nama. Nggak bosen apa manggilin dia ketos terus?" "Kenapa? Lagian gue males kalau manggil namanya langsung." "Kok gitu?" ujar Judith bingung. "Orang-orang suka sinis kalau gue manggil Rion nggak pakai embel-embel kakak. Makanya mending ambil jalan tengah, panggil dia ketos." Delvie lagi-lagi sukses membuat Judith bingung. Dengan pelan, ia mengutarakan isi kepalanya. "Kan emang salah kalau lo manggil dia nggak pakai kakak di depan. Dia kakak tingkat, kelas sebelas." "Ngapain, sih? Umur kita samaan juga. Dia satu tahun di atas kita karna pernah akselerasi. Lo juga kalau mau manggil dia langsung pakai nama silahkan." Judith terdiam untuk beberapa saat. Ternyata itu alasan mengapa Rion berada setahun di atas Judith. "Kenapa diem? Jawab dulu lo kenapa sebenernya sama si ketos?" Judith tersenyum samar, "Enggak, cuman gue udah lama nggak ketemu dia." Salah satu alis tajam Delvie terangkat, tanda ia tengah berpikir akan kejanggalan dari kalimat yang Judith lontarkan. "Dith, lo nggak lagi sakit, kan?" "Sakit kenapa?" "Yakan baru kemarin di aula lo ketemu sama dia. Kok mau ketemu lagi?! Lo suka? Atau kalian emang saling kenal?" Judith diam, menatap Delvie dengan pandangan penuh arti. "Dia, orang yang sempet pergi tanpa pamit ke gue." Delvie kembali terperangah. Dia tidak salah dengar, kan? Tanpa mampu menanggapi lebih dulu, Judith sudah berlari cepat. Meninggalkan Delvie dengan rasa keterkejutan yang belum mereda. Sementara Judith yang baru saja memasuki area koridor kelas sebelas buru-buru menjaga sikap. Dengan berani menanyakan dimana letak kelas sang ketua OSIS. Hingga masih dengan napas tidak teratur, Judith berhasil. 2-1 IPS. Judith menarik napas, memberanikan diri untuk mencari seorang bernama Rion di dalam kelas itu. Tapi belum sempat ia bersuara, deheman dari balik punggungnya membuat Judith terperanjat. Mata cantik itu membulat sebab terkejut. Sebab tepat di depannya, orang yang sejak tadi ia cari tengah berdiri, menatapnya dengan ekspresi datar. "Nggak usah ngalangin jalan. Minggir sedikit bisa?" Mood Judith seakan dihempas tanpa peringatan. Gadis remaja itu terdiam dengan pikiran tidak tenang. "Hah?" Judith terbata, kesulitan bahkan untuk sekedar bersuara. "Minggir. Nggak budeg, kan?" Judith langsung saja bergeser, memberi jalan untuk Rion dapat lewat. Namun sebelum lelaki itu sempat masuk ke dalam kelas, Judith memanggil. "Rion." Suaranya bergetar. Sebab untuk pertama kalinya, Judith dapat menyebut nama itu tepat di depan pemilik sesungguhnya. Rion menoleh, masih dengan wajah minim ekspresi. "Kelas sepuluh, kan? Pahamin sopan santun dulu, baru bicara." Setelah itu Rion masuk ke kelasnya. Meninggalkan Judith dengan beribu tanda tanya besar di kepala. Sesaat Judith ragu, apakah lelaki itu seorang Rion yang selama ini Judith cari? • s w e e b y •
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN