"Adik kamu cowok?" Fatisa mulai bersuara semenjak mobil sudah meninggalkan gerbang besar milik Cakrawala.
Rion yang serius menatap jalanan ramai akhirnya menoleh. "Adikku dua, cowok sama cewek."
"Umur berapa?"
"Sebelas tahun," jawab Rion sembari memutar kemudi ke arah kiri.
"Eh? Kembar?" Fatisa mulai semangat, sehingga perempuan itu menatap Rion dengan binar penasaran.
"Hm," gumam Rion sambil mengangguk.
"Namanya siapa?"
Rion melirik Fatisa sebentar, sebelum kembali menatap jalanan di depannya dengan fokus. Laki-laki itu sebenarnya tidak ingin membahas perihal adik-adiknya kepada sembarang orang. Dia tidak ingin orang lain terlalu ingin tahu perihal seluk beluk keluarganya, kecuali ketika ia mempercayai orang tersebut.
Rion tumbuh dengan sikap waspada dalam dirinya. Dan laki-laki itu meyakini, bahwa kewaspadaan itulah yang akan tetap membantunya untuk menjaga keluarganya dari orang-orang jahat di luar sana.
Namun, sepertinya akan terlihat aneh apabila Rion tidak menjawab pertanyaan ringan dari Fatisa. Hanya sekedar nama, sepertinya bukanlah masalah besar.
"Yang cowok namanya Aksa, yang cewek Araz."
Fatisa tersenyum sementara kepalanya mengangguk mengerti. "Aku jadi nggak sabar ketemu mereka."
"Kita cuma jemput Aksa," ujar Rion menoleh sebentar.
"Oh gitu," balas Fatisa terlihat mengerti. "Padahal aku kepengen banget ketemu dua-duanya. Pasti lucu ya mereka berdua."
Rion hanya mengangguk, sama sekali tidak mengeluarkan suara untuk membalas ucapan Fatisa. Rion pikir, membawa perempuan ini bersamanya akan membuat Rion sedikit saja melupakan masalah. Tapi ia salah, karena ternyata obrolan mereka hanya seputar tentang adik-adik Rion. Jujur saja, laki-laki itu tengah lelah.
Fatisa yang peka pun akhirnya tidak bersuara lagi. Diamnya Rion mungkin pertanda bahwa telinga lelaki itu pasti lelah mendengar celotehannya. Fatisa duduk manis, memilih menatap jalanan ramai dari kaca mobil. Untuk pertama kalinya, akhirnya ia dapat memberanikan diri untuk pulang bersama Rion.
Setengah jam berlalu. Fatisa tersenyum menatap kepergian Rion menuju sebuah rumah bergaya klasik. Setelah sekian lama mendambakan hal semacam ini, akhirnya Fatisa dapat merasakan 1800 detik paling berharga dalam hidupnya. Berdua bersama Rion.
Beberapa saat kemudian, Rion muncul bersama seorang anak lelaki yang juga terlihat lucu. Persis Rion ketika bocah. Dengan celana merah khas murid sekolah dasar, lalu kaus putih dengan gambar topeng spiderman, anak lelaki itu berlari menuju mobil. Raut wajahnya shock ketika membuka pintu mobil dan mendapati seorang gadis remaja tengah duduk di jok depan.
"Itu temen Kakak. Kamu duduk di belakang." Aksa menatap Fatisa dengan pandangan menyesal karena tidak hati-hati. Sementara perempuan itu tersenyum, gemas sendiri.
"Kak Rion kenapa nggak bilang?" Aksa ngomel sendirian. "Kan Aksa jadi nggak enak sama temennya kakak."
Rion menatap Aksa yang duduk di jok belakang lewat spion, menggeleng samar. "Kotak makanan yang dititip eyang dipegang baik-baik, nanti tumpah."
"Iya, Kak!" jawab Aksa mengerti.
"Ini Aksa, ya?" Fatisa bersuara, membuat Aksa yang tadinya sibuk menatap jalanan jadi tertarik untuk menjawab.
Aksa bergumam sambil tersenyum, sementara lengannya masih setia memeluk kotak berisikan bekal makan malam. "Kakak pacarnya Kak Rion?"
"Aksa," ujar Rion cepat, menginterupsi. "Nggak baik ngomong kayak gitu."
Fatisa memaksakan senyum, lalu bersuara. "Kakak temennya kakak kamu. Lagian kakak cuma numpang dianterin pulang. Aksa nggak keberatan, kan?"
"Enggaklah!" jawab Aksa semangat. "Lagian Aksa juga baru pertama kali ketemu sama temen perempuannya Kak Rion."
"Oh iya, Aksa punya kembaran, ya? Kok kalian nggak barengan?"
Aksa terdiam, dia buru-buru membuang pandangan karena sadar bahwa Rion tengah menatapnya lewat spion. "Araz lagi di rumah." Dan jawaban itu ternyata menjadi tanda dari habisnya obrolan singkat Fatisa dengannya, sebab setelah itu Aksa berujar. "Aksa ngantuk."
Lagi-lagi, suasana di dalam mobil kembali hening.
• s w e e b y •
"Lo kenapa?" Pertanyaan kesekian kalinya yang Cata lontarkan kepada Judith. Ketiga remaja itu tengah duduk santai sambil menikmati milkshake stroberi buatan Nadine di tepi kolam renang. Tapi mungkin kata duduk santai tidak tepat untuk Judith, sebab perempuan itu terlihat berdiam diri sejak tadi---sibuk dengan pikirannya sendiri.
Amar menyeruput lagi minumannya. Jika bukan karena ingin membujuk Judith, mungkin ia sudah menceburkan diri ke dalam kolam lalu menarik Judith ikut masuk. "Ada yang jailin lo, ya? Besok gue datengin orangnya." Amar nyablak secara asal.
Judith menghela napas, bingung melanda sejak matanya kembali menatap sosok seserius itu. Dia tidak pernah menyangka bahwa teman masa kecilnya ternyata menjadi panutan banyak orang. Judith ingin berbangga, tapi rasanya sulit. Sebab rasa keterkejutan itu belum juga menghilang.
Apa laki-laki itu tahu bahwa Judith ada disana? Duduk di antara banyaknya siswa-siswi Cakrawala. Memperhatikannya teramat fokus. Bahkan untuk sekedar berkedip, Judith takut. Takut lelaki itu kembali menghilang secara ajaib seperti bertahun-tahun lalu.
"Dith...." Panggilan lirih milik Amar kembali terdengar.
"Lo nggak bisa kayak gini, Dith," dalih Cata. "Lo wajib cerita kalau lo punya masalah. Gitu juga gue sama Amar. Nggak ada yang harus ditutupin dari kita bertiga."
Judith mengusap wajah, mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya yang kosong. "Namanya Rion." Akhirnya, Judith bersuara setelah sejak tadi mempertahankan aksi diamnya.
"Hah?" ujar Amar tidak mengerti, sementara Cata tetap menatap Judith serius.
"Terus?" ucap Cata meminta Judith kembali melanjutkan.
"Dia temen gue waktu kita masih di sekolah dasar. Ya, bisa dibilang temen paling deket. Gue inget waktu itu, kita berantem. Dia bilang, nilai gue pasti banyakan merahnya karna hari itu rapor dibagiin sebelum libur panjang. Tapi kita selalu kayak gitu, berantem terus baikan lagi. Dia bakal selalu bujuk gue pakai pudding coklat."
"Lo nggak pernah kasih tau ke kita yang satu ini," ujar Cata lirih. Lelaki itu tidak percaya bahwa Judith mempunyai cerita semacam ini dan mampu menyimpannya untuk waktu yang lama.
"Tapi dia pergi." Judith melanjutkan, lalu terdiam sejenak dan mengambil napas. "Sebelum gue pergi liburan, gue sempet nanyain dia kepengen dibawain apa. Dia jawab, apapun. Tapi siangnya, Niko cerita ke gue kalau Rion nggak akan bareng kita lagi semester selanjutnya. Gue marah. Sampai mama gue ambekin. Tapi ujung-ujungnya gue cerita juga ke mama. Gue bilang, kalau temenan berarti harus saling jujur, tapi Rion sendiri nggak jujur."
Kedua lelaki di hadapan Judith sukses terdiam. Mereka masih menunggu kelanjutan dari cerita Judith. Jujur saja, mengetahui rahasia semacam ini, membuat Cata dan Amar benar-benar tidak dapat menyembunyikan kekagetan mereka.
"Waktu itu di New York, gue inget banget kalau waktu itu gue lagi di toko. Terus mama nyuruh gue beliin sesuatu buat Rion. Gue nggak maulah. Ngapain? Orangnya aja bakalan pergi. Tapi kata mama nggak apa-apa, dibeliin aja. Akhirnya, gue milih sweater warna pink pastel buat dia. Lucu. Sayang sih, sweaternya nggak pernah nyampe ke dia. Masih di gue, gue simpen di lemari. Paling sekarang udah kecil."
"Kenapa? Lo nggak tau alamatnya?"
Judith menggeleng, "Guru gue, itu nyokapnya dia. Ternyata nggak ngajar di sekolah itu lagi. Ya gimana, gue marah banget waktu itu. Sampai gue jadi ogah banget buat cari tau dia kemana. Hidup dia, terserah dia mau diapain, gue nggak ngurus."
"Terus hubungannya sama aksi diem lo hari ini apa?" Amar bertanya serius sebab rasa penasaran tingkat tinggi.
"Karna gue ketemu sama dia lagi!" Judith menaikkan volume suaranya. "Dia ketua OSIS di Cakrawala. Dia sehat, dia juga keliatan baik-baik aja. Nggak sakit sama sekali. Terus kenapa dia nggak pernah ngehubungin gue?!"
"Lo, serius?" Cata terbata, ditatapnya Judith tanpa kedip.
"Gue takut," ujar Judith sendu. "Gue takut dia lupa sama gue."
• s w e e b y •