13. Dasar

1284 Kata
"Ngumpul, Ceis! Jangan kabur lo." Rion memperingati Ceisar yang sudah hendak keluar kelas dengan menyandang tas. Ceisar sendiri hanya cengir kuda, malu sebab ketahuan. Ceisar kini mendekati salah satu meja, meletakkan tasnya sesaat sementara tangannya membuka rompi dan kemeja putih dengan cepat. Kini lelaki itu hanya menyisakan celana hitam sekolah dan kaus hitam polos ditubuhnya. Berbeda dengan Rion yang masih mempertahankan kemejanya, sedang rompi lelaki itu entah sudah diselundupkan kemana. Sambil berjalan mendekati pintu, Rion berusaha menggulung lengan kemejanya. "Gue ke tempat Delvie sebentar boleh, ya? Mastiin doang gimana moodnya hari ini, terus sekalian mau beliin dia crepes. Lo mau nitip?" Rion berpikir sejenak. Bila dia terlambat sedikit, sepertinya bukanlah masalah besar. "Gue ikut, deh." "Lah? Serius?" Ceisar terkejut sebab Rion tidak biasanya seperti ini. Jika ada agenda walaupun untuk sekedar berkumpul, Rion tentu tidak ingin terlambat. "Ntar lo telat." "Buruan, Ceis. Banyak bacot ntar Delvie udah ngilang pulang duluan." Rion berusaha mengalihkan perhatian Ceisar. Hingga lelaki itupun sadar dan segera mempercepat langkah. "Karna lo nih, makanya gue jadi kebanyakan bacot." Rion mengabaikan, sibuk berpikir. "Lo tau kenapa anak baru itu bisa pindah kesini, Ceis?" "Enggak." Ceisar menggeleng. "Ngapain dipikirin sih, Gila? Nggak ada hubungannya juga sama kita." "Ya enggak, pengen tau doang." "Lo kenapa, sih? Kepentok tadi pagi? Tumbenan banget mau ikut bareng gue liatin Delvie. Nggak takut telat ngumpul?" Ceisar tiba-tiba jadi seram sendiri kepada Rion. Bagaimana jika memang ada kesalahan di dalam kepala lelaki itu? Sepertinya Ceisar harus mencari cara untuk membawa Rion ke rumah sakit. "Buruan, Ceis," perintah Rion lagi, laki-laki itu memang hobi mengabaikan Ceisar. Tidak lama, kedua lelaki itu akhirnya mencapai koridor kelas sepuluh. Seperti biasa, mereka tentu mendapat sapaan dari adek tingkat yang masih berada di sekolah. Lucu saja, karena kedua lelaki itu berubah diam dan mencoba tersenyum sopan pada setiap orang yang menyapa. Padahal tadi, mereka sangat sibuk beradu kata-kata. Sesampainya mereka di depan kelas 1-2 IPA, Ceisar buru-buru berdiri di ambang pintu untuk melihat keadaan kelas. Lelaki itu mengernyit. Tidak ada Delvie. Sementara Rion, ia sendiri juga ikut melihat. Rasa penasarannya sudah di ujung dan harus dipuaskan. Tapi hasil yang didapat sama saja, kelas itu sudah kosong. Tidak ada siapa-siapa lagi di dalam kelas kecuali benda mati. Rion menghela napas, mengacak rambut frustrasi. Lelaki itu memandang sekitar. Tiba-tiba berpikir, bagaimana jika perempuan dengan nama yang sama tersebut ternyata bukanlah orang yang sama? Kesamaan nama tentu bisa saja terjadi. "Nggak aktif hpnya." Rion menoleh cepat pada Ceisar yang bersuara. Tampak bahwa lelaki itu sedang sibuk menggerakkan jemari di layar ponsel. "Yaudahlah," ujar Rion pelan. "Balik ke ruang OSIS aja kita." Ceisar menatap Rion sesaat dan mengangguk. Mereka berbalik, berniat meninggalkan koridor kelas sepuluh. Tapi kedatangan seorang perempuan membuat langkah mereka terhenti. "Nggak ngumpul OSIS?" Delvie, ia bertanya santai. Kedua laki-laki itu mengangguk. Namun Ceisar tetap bertanya. "Kamu darimana?" Alis Delvie terangkat, "Kantin." "Ngapain?" tanya Ceisar dengan raut bodoh. Lagipula, pertanyaan yang dilontarkan lelaki itu sepertinya tidak perlu dijawab lagi. "Nemenin Judith beli pudding, ternyata dia juga suka makan pudding, kayak kamu.." Dan Rion yang sejak tadi masih setia berdiri diam mendengarkan sepasang manusia itu bercengkerama, akhirnya bereaksi. Kali ini dia tentu tidak salah. Itu memang Aluna. Aluna yang ia tinggalkan tanpa pamit bertahun-tahun lalu. Ayolah, Judith mana lagi yang begitu menggilai pudding? "Terus kok kamu sendiri?" Rion bertanya pada Delvie, sehingga perempuan itu sukses mengernyit. "Kenapa? Lagian bukannya ngumpul? Kok lo bisa disini?" Delvie bertanya tanpa embel-embel kakak. "Biasain panggil kakak kalau di sekolah." "Ye ngapain, umur kita sama juga." Delvie berujar gemas. "Lagian harusnya lo sama kayak gue tau! Apaan banget segala ikutan akselerasi." Rion yang awalnya ingin menahan diri akhirnya mencubit gemas pipi Delvie. Perempuan satu itu memang suka seenaknya sendiri kalau berbicara. Sehingga Rion harus dapat belajar sabar dan mengelus d**a. "Terus temen kamu tadi? Gimana?" Rion bertanya lagi. "Judith? Udah pulang. Dia bilang temen yang ngejemput udah di depan." "Oh iya, Delv," "Kenapa?" Delvie menatap Rion bingung. "Boleh tau siapa nama lengkap temen kamu itu?" "Buat apaan emangnya?" "Jawab aja," ujar Rion tetap tenang. Delvie tampak menghela napas, walau sedikit bingung kenapa Rion tiba-tiba bersikap seperti ini. "Namanya Judith Aluna al-Vadric. Puas?" Rion membeku lagi. Tidak salah lagi, dia Aluna. "Oke makasih." Dan setelahnya, Rion berbalik cepat meninggalkan koridor kelas sepuluh. Laki-laki itu memejamkan mata sesaat seraya menghela napas. Entah ini takdir atau bukan. Tapi Rion bersyukur. Ditengah rasa bersalah yang terus menghukumnya, Rion seperti menemukan secercah harapan. • c o l d p u d d y • "Jadi, kalau ada apa-apa sama tugas bagian kalian, langsung kasih laporan ke Farel. Inget, dia ketua panitia. Dia harus tau apapun kekurangan dari apa yang kalian buat." Rion menjelaskan setelah lebih dari satu jam acara berkumpul dilaksanakan. Sedikit berbeda sebab kali ini mereka membahas kegiatan yang akan dilaksanakan Cakrawala sebagai hari jadi sekolah tersebut. Lalu membahas kembali kegiatan harian OSIS. Memperbaiki hal-hal yang dirasa masih kurang dan bagaimana rencana terbaik ke depannya. Rion menatap seluruh anggotanya sebelum menutup hari itu. Dalam hati merasa puas sebab hari ini tidak terbuang sia-sia. Dia senang apabila anggotanya menjadi produktif. Ketika hendak kembali bersuara, panggilan masuk menghentikannya. Rion menatap wakilnya, meminta tolong agar kegiatan ditutup saja dan anak-anak diperbolehkan pulang. Setelah itu, ia lekas keluar ruangan dengan perasaan campur aduk. "Halo, Bun," sapa Rion berusaha tenang. "Halo, Nak." Balas sang bunda. "Udah pulang?" "Belum, baru aja selesai ngumpul sama anak-anak. Bunda udah balik?" "Itu dia. Kamu nggak apa-apa malem ini cuma berdua bareng Aksa lagi? Jangan lupa, jemput Aksa di tempat eyang." Bundanya bertanya lembut. Tapi bagi Rion, nada suara itu terkesan lelah. Rion menarik napas susah payah, tubuhnya bergetar. Jika boleh, dia ingin menggantikan posisi sang bunda saat ini. Tapi Rion tahu, bahwa bundanya tidak akan pernah memberikan izin. Rion menunduk, mengerjapkan matanya berulang kali sebelum bersuara. "Nggak usah khawatirin Rion kayak gitu, Bun." Rion berujar sesantai mungkin, berharap bundanya di seberang sana tidak curiga. "Rion cowok, udah gede pula. Aksa percayain aja sama Rion. Bunda baik-baik disana. Titip salam Rion buat Araz." "Bunda sayang kamu, Nak. Inget ya, jangan makan malam pakai mie." Rion tetap mengangguk, tidak peduli sang bunda dapat melihatnya atau tidak. "Rion juga sayang Bunda." Balasnya terakhir kali. Secepat mungkin, Rion memutuskan sambungan telepon. Tidak, sebagai pengganti kepala keluarga, Rion harus dapat menjadi figur yang kuat. Dia tidak boleh menangis walaupun ia sangat ingin. Bagaimanapun, pesan sang ayah yang selalu menjadi landasan mengapa Rion dapat kuat seperti sekarang. "Laki-laki baik dan kuat itu, dilihat dari gimana dia bisa ngejaga keluarganya. Ngejaga ibunya, ngejaga saudara-saudaranya, juga ngejaga anak istrinya." Rion mengusap dahi yang berkeringat. Rentetan ucapan almarhum ayahnya kembali terlintas di kepala, seperti kaset rusak. Dalam diam lelaki itu berbalik badan, hendak kembali ke ruang OSIS untuk mengambil tasnya. Cakrawala masih ramai, namun Rion seperti tuli untuk sekedar merasakan hingar bingar di sekitar. Ia merasa, segala sesuatu yang berhasil ia bangun sejak pagi tadi membuka mata luluh lantak begitu saja sebab mendengar nada suara sang bunda. Rion merasa gagal sebab tidak bisa membantu. Rion gagal menjadi lelaki baik dan kuat. "Rion!" Rion balik badan, menemukan sosok Fatisa yang tengah tersenyum sedang berjalan mendekatinya. "Mau balik sekarang?" "Hm," angguk Rion seraya menyandang tas di bahu kanan. "Kamu nggak pulang?" "Aku nebeng kamu, boleh? Papaku lagi keluar kota. Mama nggak bisa jemput. Terus aku juga takut kalau naik kendaraan umum." Rion menatap Fatisa sedikit lama. Ia ingin menolak perempuan ini, tapi rasanya kasihan. Alhasil, Rion mengangguk. Membuat senyum Fatisa terbit. "Tapi kita muter dulu, gimana?" Rion bertanya, langkahnya dan Fatisa beriringan menuju pintu. "Aku harus ke rumah eyang buat jemput adikku." Fatisa mengangguk cepat, "Nggak apa-apa kok. Sekalian aku pengen kenalan sama adik kamu." Rion mengangguk. Setidaknya, dia butuh teman berbicara untuk sekedar mengusir sekelumit masalah di kepala. • c o l d p u d d y •
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN