Suasana sekolah ramai, seperti biasa. Seorang lelaki baru saja keluar dari mobil dalam keadaan rapi menyandang tas. Rompi merah gelap dengan lambang resmi milik sekolah terhias di bagian d**a sebelah kiri. Perbedaan warna rompi yang mencolok menjelaskan siapa lelaki itu tanpa perlu banyak bertanya.
Ia segera memasuki gedung sekolah, tanpa lupa mengulas senyum tipis sopan pada siapapun yang menyapa. Segera dicarinya tangga menuju lantai dimana kelasnya berada. 2-1 IPS.
"Pagi, Rion!" Salah satu teman perempuan dengan rompi warna senada---warna merah gelap---menyapa Rion. Namanya Fatisa, pemegang jabatan sekretaris dalam organisasi intra sekolah.
"Pagi, Sa." Rion, lelaki itu membalas sekenanya. Lalu berjalan cepat menuju kursi yang terletak di barisan tengah.
"Cie sibuk," celetuk teman yang lain sembari tertawa pada Rion. Namun lelaki itu hanya menanggapi dengan gelengan tidak paham. Teman-temannya, selalu saja seperti itu.
"Pada liat Ceisar nggak?" tanya Rion sebelum keluar kelas. Pasalnya, tas lelaki itu sudah ada di kursinya. Tetapi wujudnya sudah tidak tampak.
"Palingan lagi nyamperin adek kelas," jawab Fatisa ringan. Perempuan itu sudah asik menatap pergelangan tangan kirinya sebab takut terlambat menuju aula. Sedang tangan yang lain, sudah menggenggam file-file yang diperlukan.
"Namanya Delvie, jangan panggil dia kayak gitu lagi." Rion menjawab tanpa nada, sedikit tidak terima pada bagaimana cara Fatisa memanggil Delvie.
Fatisa tampak mencibir, "Emang kenapasih, Yon? Lagian kan emang bener. Aku cuma lupa namanya."
Rion menghela napas, tidak ingin menghancurkan paginya hanya dengan berdebat bersama Fatisa. Tanpa menjawab lebih panjang lagi, Rion berjalan menjauh. Sementara Fatisa yang ditinggalkan diambang pintu kelas kian mencibir dan merutuk sebal.
"Masih pagi, udah ditinggal aja." Dan setelahnya, Fatisa mengikuti langkah sang ketua OSIS menuju aula---dimana siswa satu sekolah sudah menanti mereka.
• s w e e b y •
Suasana aula terlihat tenang. Seluruh pasang mata terlalu fokus menatap lurus dimana seorang perempuan tengah membuka acara. Diawali oleh kata sambutan kepala sekolah, dan seorang yang ditunggupun akhirnya dipanggil. "Baiklah, selanjutnya mari kita sambut Ketua OSIS SMA Cakrawala. Orion Ganendra Arjuna. Kepada Kak Rion, waktu dan tempat kami persilahkan."
Tepuk tangan gemuruh menggema di dalam aula. Mewakilkan rasa bangga dari seluruh siswa dan siswi. Tidak heran, seperti apa mereka semua mengenal dan menyegani seorang Rion. Pasalnya, tidak hanya keaktifan Rion pada kegiatan-kegiatan sekolah, lelaki itu juga terus menggenggam tiga besar di kelasnya.
Rion berdehem sambil menatap seluruh makhluk yang berada di dalam aula. Setelahnya, barulah membuka suara dengan salam. Lelaki itu berbicara dengan lugas, seolah-olah menghipnotis seluruh pendengarnya.
"Saya tidak akan banyak basa-basi. Sebaliknya, saya lebih banyak berharap pada kalian semua. Terutama untuk kita, semua murid. Setiap sekolah, tentu memiliki guru-guru yang hebat. Dan guru yang hebat, akan menghasilkan murid-murid yang lebih hebat. Cakrawala berhasil membuktikan itu. Saya berharap, eksistensi sekolah ini tidak hanya dikenal oleh kota tetangga. Tetapi juga kota-kota lainnya. Kunjungan saya ke Semarang jelas untuk mewakilkan nama sekolah. Tapi saya harap setelah ini tidak hanya saya. Tapi kalian, kalian semua yang ada disini."
Tepuk tangan kembali terdengar untuk mengapresiasi seluruh kalimat yang Rion lontarkan. Berbeda dari Rion yang terkesan tenang di depan sana, seorang perempuan hampir pingsan karena terkejut. Tatapan matanya terlampau tajam dan menuntut.
Judith pikir, lelaki itu pergi sangat jauh. Judith pikir, lelaki itu mengidap penyakit tertentu yang memaksanya harus pergi ke suatu tempat untuk menjalani pengobatan. Judith salah. Lelaki itu tidak pernah pergi jauh. Bahkan ia tumbuh dengan baik selama ini. Tetapi, kenapa Judith tidak pernah dihubungi lagi setelah kepindahannya?
"Saya harap setelah ini Cakrawala dapat semakin baik dan baik lagi. Ini dari saya, selamat pagi." Setelahnya, Rion kembali duduk di kursinya. Tepat di sebelah sang kepala sekolah. Lelaki itu berlaku sopan, membuat setiap orang dewasa yang melihatnya tentu tersenyum lembut.
Namun ketika sisa acara dilanjutkan, Rion berubah diam. Dia bahkan tidak lagi memperhatikan dengan fokus. Lelaki itu berharap bahwa ia tidak salah lihat tadi. Bagaimanapun, rasanya sulit percaya bahwa tiba-tiba Rion melihatnya disaat seperti sekarang. Ayolah, di akhir semester? Padahal selama ini Rion tidak pernah menemukannya dimanapun.
Lima menit kemudian, acara selesai. Setiap murid segera diperintahkan masuk ke dalam kelas, termasuk Rion. Lelaki itu ikut berdiri, mendekati Ceisar yang tengah tertawa bersama teman yang lain.
"Widih, gila bener kata-kata lo." Ceisar menepuk bahu Rion, memuji teman seperjuangannya tersebut.
"Tadi pagi kemana lo?" tanya Rion setelah mereka keluar dari pintu aula. "Ngumpul nggak sama anak-anak yang lain?"
Ceisar meringis sembari memaksakan tawa, membikin sedikit jarak antara ia dan Rion. "Tadi gue udah telat. Kasian Delvie belum ngeliat wajah ganteng gue, kan?"
Rion memberikan tatapan datar setelahnya. "Biasain yang penting dulu dikerjain."
"Ngeliat pacar penting woi! Makanya lu pacaran, jangan sibuk-sibuk banget." Ceisar mengejek, lalu seakan menemukan ide terbaik di kepalanya, ia buru-buru melanjutkan. "Sama Fatisa aja mendingan. Kan tipe lo yang kayak dia tuh. Rajin, ya pokoknya yang kalau disuruh geraknya cepet. Manis juga kalau diliat-liat."
Rion menggeleng tidak percaya. Berbicara bersama Ceisar memang selalu seperti ini, tidak berbobot. "Proposal yang kita bahas semalem, udah lo urus?" Rion mengalihkan topik.
"Halah, ngalihin mulu lo." Ceisar mengejek.
"Udah apa belom?" desak Rion menahan kekesalannya.
"Udah." Ceisar mengalah juga. "Udah gue suruh Fatisa yang handle."
"Kok ke dia? Guekan jelas-jelas minta tolong ke elo. Di susunan panitia acara Fatisa jelas-jelas bukan sekretaris. Lo nggak bisa seenaknya ngalihin tugas gitu dong, Ceis."
Ceisar menggaruk kepala bagian belakang sebab rasa bersalah. "Lagian dia juga nggak nolak, Yon. Ya gue ambil aja kesimpulan kalau dia nggak keberatan."
Rion mempercepat langkah menuju kelas, berharap dengan itu ia dapat berbicara terlebih dahulu kepada Fatisa. Sebelum guru mereka datang dan Rion terpaksa duduk diam memperhatikan.
"Yon, tungguin!" teriak Ceisar. "Lo nggak mau nemenin gue ke tempat adek kelas dulu, nih?"
Tapi Rion tidak menanggapi, ia terus saja berjalan seolah-olah Ceisar tidak meneriakkan apa-apa. Sesampainya di kelas, Rion langsung mendatangi meja Fatisa. Membuat perempuan itu menatap Rion teramat penasaran.
"Kenapa, Yon?" tanya Fatisa.
"Bener kalau Ceisar minta kamu yang ngurus proposal?" Rion bertanya dengan nada serius. Dia paling tidak suka apabila anggota-anggotanya lepas dari tanggung jawab begitu saja.
"Iya," jawab Fatisa pelan, takut. "Tapi aku nggak keberatan kok, Yon."
"Kamu punya tugas kamu sendiri di acara itu, Sa. Aku nggak akan keberatan kalau kamu bantuin Ceisar, tapi harus tetep Ceisar yang rampungin proposalnya. Kamu fokus ke bagian kamu."
"Iya, Yon." Fatisa menurut. Benar kata Ceisar, perempuan satu itu akan terus menuruti apa yang orang-orang katakan.
Rion berbalik, menemukan Ceisar yang baru saja masuk kelas. "Gue nggak mau lo ngulang hal kayak gini lagi."
"Iya," angguk Ceisar lalu berjalan ke kursinya.
"Terus, tadi lo abis nemuin Delvie lagi?"
Ceisar menggeleng cepat. "Nggak jadi. Gue ke toilet. Cuma nggak sengaja ketemu dia sama temennya."
"Hah? Delvie sama siapa?"
Ceisar menghela napas panjang. "Iya-iya gue paham. Tapi nggak tau kenapa yang ini Delvie bisa nempel. Anak baru pula."
Rion mengernyit di kursinya, gerakannya membuka buku catatan terhenti. "Anak baru?"
"Hm." Ceisar mengangguk-angguk. "Namanya Judith. Keliatan lucu anaknya. Dia ternyata sepupunya Rizzy, artinya dia keponakan Pak Sean. Kayaknya itu kenapa dia bisa masuk kesini."
Ungkapan ringan yang dikeluarkan Ceisar ternyata berdampak besar pada Rion. Laki-laki itu diam, terlampau kaget pada kenyataan di depannya. Dihadapkannya kembali pandangan menuju catatan. Dia sepertinya memang tidak salah lihat. Perempuan itu memang seseorang yang pernah ia tinggalkan tanpa pamit.
"Aluna...," lirih Rion berbisik, sementara bagian dari dirinya kian ditekan oleh rasa bersalah.
• s w e e b y •