11. Si Ketua

1754 Kata
Keesokan harinya, Judith menuruni anak tangga dengan keadaan segar. Remaja cantik itu memutuskan untuk mengubur segala hal yang lalu dan ingin mencoba untuk menjahit hal baru mulai sekarang. Tepat langkahnya selesai memijaki anak tangga, Judith langsung menuju dapur. Senyumnya refleks terbit ketika melihat Nadine yang sibuk membuat sarapan. Sudah lama sepertinya, Judith tidak mengusili wanita cantik tersebut. "Pagi, Ibunda!" sapanya sambil mengecup singkat pipi Nadine. "Pagi, Dek," balas Nadine tersenyum dengan tatapan penuh makna akan penampilan Judith pagi ini. Rompi hitam yang Judith kenakan benar-benar tampak pas ditubuhnya. Judith mengambil tempat di salah satu kursi sambil mengeluarkan ponsel. Sibuk berbalas pesan bersama Amar. Tangannya yang bebas dengan sigap mengisi piring dengan nasi goreng, lalu mengambil telur ceplok dan beberapa potong sosis. "Mau Mama siapin bekal?" Nadine bertanya ketika meletakkan segelas s**u untuk Judith. Judith hanya mengangguk, membiarkan sang mama menyiapkan bekal sementara ia sibuk bersama Amar. Tawa kecilnya juga sesekali terbit sebab guyonan garing yang Amar suguhkan. "Pagi, Dek." Sapaan hangat dan kecupan di puncak kepala yang kerap dilakukan Aldric membuat Judith sedikit melupakan ponselnya. "Berangkat bareng papa?" Judith menggeleng disela suapannya. Membuat Aldric yang kini juga duduk mengangguk mengerti. Jika begitu, berarti sudah jelas bahwa Judith akan dijemput oleh penjaga-penjaganya. "Udah dulu hp-nya, Dek." Nadine memperingati, sembari meletakkan minuman di dekat Aldric. "Mau ditumpahin s**u lagi?" Judith buru-buru memeluk ponselnya erat di d**a. Semenjak kejadian ponsel Judith yang ditumpahi s**u---padahal sudah berbulan-bulan lalu, sang mama selalu mengatakan hal-hal mengancam setiap kali Judith larut dengan hiburan ponsel di saat sarapan. Pasalnya, sebuah ponsel bukanlah hal yang murah. Beruntung karena Aldric tidak bersikap seperti Nadine. Sebab sehari sejak matinya ponsel Judith, sang papa dengan baik hatinya menawarkan ponsel baru untuk Judith. "Sarapan dulu," ujar Aldric lembut. Judith mengangguk menurut juga. Kini tangannya mulai beralih mengambil pisang walaupun nasi goreng pada piring belum dihabiskan. "Pa, rencana liburan kali ini kemana?" tanya Judith sembari menyambung menelan sarapannya, suap demi suap. "Judith mau kemana?" Aldric menawarkan. "Kemana, ya? Nggak tau. Kalau nyusulin Aa sama Teteh, kemahalan ya, Pa?" Pertanyaan bijak itu ternyata mampu menciptakan lengkungan sabit di bibir Nadine. Wanita berstatus ibu tersebut tersenyum. Nadine kerap gemas dan terharu dengan sikap kesederhanaan Judith. Melihat Judith, Nadine seakan diantarkan pada masa remajanya. "Judith kangen Aa sama Teteh?" tanya Nadine lembut, menatap bungsunya dengan senyum. "Iya, kangen." Judith mengangguk. Ia mengingat terakhir kali ketika kedua saudaranya pulang, walau hanya sebentar. Disamping itu, kakak lelaki Judith juga menggandeng seorang perempuan berstatus pacar. Dimana setelahnya, mereka hanya asik menghabiskan waktu berdua. Berbeda lagi dengan kakak perempuannya---Abiana. Selama berada disini, perempuan cantik itu terlalu sibuk mengurus suatu hal yang tidak Judith pahami. Semakin bertambah umur, ternyata masing-masing mereka kian sibuk dengan urusannya. Judith yang sudah remaja pun kadang kala berpikir, apakah ia akan seperti itu ketika dewasa nanti? Karena jauh di dalam hatinya, Judith tidak ingin berkenalan dengan sesuatu yang semua orang sebut dengan, dewasa. Judith selalu ingin menjadi putri konyol bagi orangtuanya. Menjahili sang mama setiap saat. Merengek pada sang papa kala hal-hal sulit tengah ia alami. Bersenda gurau bersama oma dan opanya. Menjadi adik kecil untuk sekedar bermanja ria kepada kedua kakaknya. "Mau ketemu Aa sama Teteh?" Nadine yang tadinya sibuk mengaduk bubur akhirnya menyudahi kegiatannya, memilih untuk duduk di sebelah Judith. "Maulah, Mam." Judith menjawab. "Cumankan pasti mahal banget, belum lagi biaya buat Aa sama Teteh." Aldric tertawa kecil, "Judith mau? Tapi kayaknya akhir bulan Papa sama mama mau ke Aceh buat acara keluarga. Judith ikut atau mau nyusul Aa sama Teteh?" Mata Judith seketika berbinar. Pendengaran dan otaknya tentu tidak salah menyimpulkan bahwa sang papa tengah memberi kesempatan untuknya berlibur bersama kedua saudaranya. "Beneran nih, Pa?" Judith memastikan lagi. "Kenapa enggak? Tapi selesai dari Aceh, baru Papa sama mama nyusul kalian." "Kirain nggak bakalan disusul," cibir Judith lalu tertawa, sementara tangannya mencoba membuka kulit pisang. "Jangan, ah!" celetuk Nadine ujung-ujungnya. "Judith ikut dulu ke Aceh, udah selesai urusan disana baru kita nyusul Aa sama Teteh." Judith lagi-lagi mencibir pada sang papa, sementara Nadine kembali bersuara kepada suaminya itu. "Suka banget ngisengin anaknya sih, Pa!" Aldric tertawa karena panggilan Nadine untuknya. Baru-baru ini, wanita itu memang belajar merubah cara memanggil Aldric jika dihadapan Judith. Tidak berbeda dengan Judith yang asik mengunyah pisang, gadis remaja itupun tertawa---namun buru-buru ia hentikan. "Jangan ketawa, Mama nggak kasih izin ketawa!" Nadine berseru tidak terima. "Iya, Mam, iya." Judith menurut. "Iya, Sayang." Pun dengan Aldric. "Mama jangan ngambek, dong. Iya deh Judith nurut aja. Yang penting bisa ketemu Aa sama Teteh." "Lagian Judith percaya aja sama papa. Judith dibiarin pergi sendirian? Pulang telat aja kamu langsung ditelfonin, Dek." "Papa tukang bohong ya, Mam," ejek Judith bermaksud menyudutkan papanya. "Tukang bohong banget," ujar Nadine semangat. "Mama udah kenyang dibohongin terus." "Kapan aku bohong ke kamu?" Aldric yang tidak tahan akhirnya bersuara, meletakkan kembali cangkir kopi yang hendak ia minum. "Pernah! Waktu itu kamu bilang mau pulang bawain sate padang yang aku pesen, tapi taunya nggak ada." Judith melotot sembari melirik ke arah lain. Gaya bicara sang mama sudah berubah, pertanda Judith tidak sebaiknya mendengar. Mamanya manja jika sudah seperti ini. Dibukanya ponsel, membiarkan percakapan orangtuanya memenuhi sarapan kali ini. Ah, Cata dan Amar lama sekali. Bujangan Arab: Kita di depan. "Alhamdulillah!" ujar Judith keras, sehingga kedua orangtuanya langsung berhenti berdebat dan menatap penasaran kepada si bungsu. "Kenapa, Dek?" tanya Nadine penasaran. Judith berdiri, menjangkau bekal dan tas ransel warna hijau pastel. Secepat kilat ia mencium pipi dan tangan sang mama sebelum akhirnya berpindah pada sang papa. "Amar sama Cata udah di depan. Judith pamit dulu ya, Mam, Pa. I love you!" Judith berteriak di sepanjang ruang menuju pintu utama. Barulah setelah itu, ia mengucapkan salam dan menghilang di balik pintu. • c o l d p u d d y • "Hati-hati, Dith." Cata yang duduk dibalik kemudi memperingati, dilihatnya Judith tengah bersiap-siap keluar mobil. "Parah, gede banget sekolahnya." Amar takjub. Pasalnya, mereka memang mengantarkan Judith hingga masuk ke dalam gerbang. Kemudian berhenti di depan sebuah gedung megah, tepat di belakang mobil yang juga menurunkan salah seorang siswa. "Gue pergi dulu," ujar Judith hendak membuka pintu mobil. "Nanti dijemput nggak?" Amar menawarkan, dan langsung dibalas oleh gelengan cepat Judith. "Liat ntaran aja." Setelahnya, Judith benar-benar keluar dari mobil. Gadis itu masuk ke dalam gedung dan tidak memperdulikan tatapan satu-satu orang terhadapnya. Judith segera menuju tangga, sebab kelas adalah tempat terbaik sekarang. Disamping itu, Judith tidak ingin menyia-nyiakan setiap langkahnya. Digunakannya kesempatan itu untuk menghapal nama-nama ruangan yang ia lewati. "Judith!" Judith menoleh, kali ini tersenyum lebar kepada Delvie yang baru saja memanggilnya. "Pagi, Delv," sapa Judith balik. "Abis darimana?" "Toilet." "Pagi-pagi udah nyetor aja," kata Judith lalu tertawa ringan. "Nggak tau, sih, kok gue lebih suka nyetor di sekolah daripada rumah." Judith terbahak, "Enakan di rumahlah. Sekolah nggak bebas." "Lo belum liat toilet sekolah, sih. Lo mau mandi disini juga silahkan." Judith melotot, namun tarikan Delvie pada tangannya membuat Judith sadar dan langsung fokus pada koridor yang mereka lewati. Untuk pertama kalinya, Judith merasa seorang perempuan sebaya benar-benar menghargai keberadaannya sebagai teman. Senyum kecil Judith terbit, ia menyukai hal kecil semacam ini. "Eh, Delv, kok berhenti?" Judith bertanya bingung. Jarak pintu kelas mereka memang sudah tinggal beberapa langkah lagi, dan Judith memilih mengintip situasi apa yang sebenarnya membuat Delvie berhenti. Di ambang pintu kelas, dapat dilihat oleh Judith seorang lelaki berperawakan tinggi. Wajahnya manis, terlebih ketika ia menunjukkan senyumnya ke arah mereka---tepatnya Delvie. "Ngapain disini?! Bukannya anak OSIS lagi sibuk di aula utama?" Delvie melepaskan genggamannya pada Judith, berjalan mendekati lelaki yang Judith tebak adalah Difa---atau Ceisar. "Santai aja," ujar lelaki itu membalas. "Yang OSIS bukan aku sendiri." "Tapikan tanggung jawab kamu," balas Delvie lagi. "Siapa bilang?" Wajah Ceisar tampak menantang lucu, dan Judith hanya tersenyum tipis memperhatikan. Orang-orang di sekeliling Judith, mengapa tampak menggemaskan ketika berinteraksi. Judith bahkan tidak dapat membayangkan apabila ia berpacaran, atau yang lebih buruk, membayangkan Amar maupun Cata berpacaran. "Aku yang bilang," ujar Delvie tampak geram. "Eh, emang pagi ini semua siswa bakal dikumpulin?" Ceisar tampak mengangguk, dan tepat setelah itu, bel yang memerintahkan agar seluruh siswa segera berkumpul di aula utama berbunyi lantang. "Buruan ngumpul!" Ceisar menggenggam tangan Delvie, namun perempuan berdarah campuran itu buru-buru menginterupsi. "Kamu duluan aja, aku bareng temenku." Akhirnya, Ceisar menatap Judith dan jidat lelaki itu sukses berkerut. "Ini anak baru keponakannya Pak Sean, bukan?" Judith mengangguk samar, "Tau darimana, Kak?" "Enggak, denger sedikit dari orang-orang. Oh iya, gue Ceisar." Sesaat, Judith terpaku pada uluran tangan Ceisar. Tapi setelahnya, ia dengan sigap membalas. "Judith." "Buruan! Nanti diamuk sama ketos galak!" Delvie menolak Ceisar kasar agar lelaki itu segera awas dari hadapan mereka. Dan dengan cepat meminta Judith meletakkan tas agar mereka bisa segera pergi menuju aula utama. "Emang ada acara apaan?" tanya Judith ketika mereka berjalan menuju aula. Perempuan itu tampak kebigungan sekarang. "Nggak tau. Tapi kalau nggak salah denger, karna ketos baru aja ngunjungin salah satu sekolah di Semarang." "Hebat dong dia?" Judith tersenyum, menoleh singkat pada Delvie di sebelahnya. Kini Judith jadi penasaran, siapa sebenarnya ketua OSIS sekolah ini. "Daritadi lo manggil dia kayaknya nggak pernah pakai nama. Boleh tau namanya siapa?" "Siapa? Ketua OSIS?" Judith mengangguk. "Namanya—" "Delv!" Panggilan itu membuat kedua gadis itu balik badan. "Kenapa sih heboh banget?!" Orang yang berteriak tadi adalah Rizzy. Dengan rompi yang entah terbang kemana, lelaki itu berjalan dengan karismanya sendiri. "Aula, kan? Ayo barengan." Dirangkulnya kedua perempuan itu, tapi Judith dan Delvie serentak memisahkan diri. "Rangkul bangku sana!" teriak Judith sembari mengerucutkan bibir sebal. "Tau lo, Zy." Delvie menyetujui. "Udah ah, debat mulu nanti yang ada telat ke aulanya." Ketiga manusia itu akhirnya berjalan menuju aula. Mereka turun ke lantai pertama dan berjalan secepatnya menuju sayap kiri. Judith saja pusing sendiri akibat besarnya sekolah ini. Tapi pada akhirnya, mereka berhasil masuk ke aula dan duduk di bangku yang sudah diatur sesuai urutan kelas. Senyum Judith terbit karena ia dapat duduk di baris kedua. "Rame banget," ucap Judith takjub. "Gini deh, Dith, kalau udah ngumpul semua." Delvie berujar sambil celingak-celinguk melihat sekitar. "Cari siapa, Delv?" "Nggak cari siapa-siapa, pengen aja liat-liat." "Sht, udah mulai tuh." Rizzy memperingati. Suasana aula seketika berubah senyap, semua yang berada disana terlampau fokus memperhatikan seseorang yang tengah berdiri dan berbicara membuka acara. Termasuk Judith sendiri, entah kenapa perasaannya sedikit aneh hari ini. Sampai kepada inti acara, Judith sukses membeku. Ketika satu nama yang selama ini disebut-sebut sebagai ketua OSIS terdengar oleh telinganya. Perempuan remaja itu terpaku, tidak tahu harus merespon bagaimana. "Rion?" Bibir Judith akhirnya menyebut satu nama itu, lagi. Dan Judith harap, seseorang dapat menamparnya sebagai bukti bahwa ia sedang tidak bermimpi. • c o l d p u d d y •
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN