Judith membuka pintu utama dengan perasaan campur aduk. Benar saja, dari tempatnya berdiri, Judith dengan jelas melihat keberadaan Niko yang tengah berdiri di depan pagar.
Judith berpikir sesaat, akankah ia menghampiri lelaki itu atau masuk kembali ke rumah. Tapi bagaimana nanti jika Niko berpikir Judith sudah tidak peduli lagi? Walaupun hubungan mereka merenggang, tapi tetap saja Judith harus berusaha menjalinnya kembali agar membaik, bukan?
Alhasil, Judith berjalan mendekat. Membiarkan keadaannya yang masih terlihat acak-acakkan sebab belum sempat membersihkan diri. Dengan helaan napas, Judith membuka pagar, membuat Niko yang masih fokus duduk di atas motor sembari menatap ponsel sukses mendongak.
"Sore, Dith," sapa Niko sambil tersenyum. Judith menatap tampilan lelaki itu dengan seksama. Celana futsal dan baju kaus longgar, terlihat jelas bahwa lelaki itu baru saja selesai dengan latihannya.
"Sore," jawab Judith berusaha biasa. "Ngapain kesini?" Lanjut Judith bertanya, tetap dengan nada bersahabat.
"Mau ajak kamu jalan," jawab Niko langsung. "Boleh?"
Alis Judith terangkat serentak, "Sekarang? Aku masih bau gini lho, Nik. Lagian kok mendadak?"
"Nggak apa-apa. Aku cuma mau ngajakin kamu duduk di deket lapangan. Nanti aku beliin pisang goreng kayak biasa. Gimana?" Tawaran Niko terdengar menyenangkan di telinga Judith. Jujur saja, Judith rindu menghabiskan waktu di luar rumah. Faktor kesibukan sebenarnya. Dan kini, Niko memberikan Judith kesempatan semacam ini.
"Bentar ya, Nik. Aku pamit sama mama dulu kalau gitu."
Niko tersenyum, lalu mengangguk dan membiarkan Judith memasuki rumah. Lelaki itu terdiam di tempatnya untuk beberapa saat. Berpikir apakah ia dapat memperbaiki kesalahannya, karena Niko sadar, bahwa Judith mulai menjauh darinya sejak ia yang mulai sibuk dengan berbagai kegiatan.
Dimulai dari SMP, ketika Niko memberanikan diri untuk bergabung di dalam ekstrakurikuler futsal. Karena kecintaannya terhadap bola benar-benar harus dilampiaskan. Niko tidak mungkin memanggil tetangga dan menarik mereka untuk bermain bola bersamanya di lapangan---seperti beberapa waktu silam.
Dan aktifitas Niko saat itu hanyalah seputar sekolah lalu tidur di rumah. Ia tidak lagi dapat menyambangi Judith sebagaimana halnya dulu. Jarangnya Niko menghubungi Judith bahkan sekedar untuk mempertanyakan kabar membuat Niko sadar, bahwa ia sudah keterlaluan.
"Kok ngelamun?" Pertanyaan Judith yang tiba-tiba membuat Niko tersentak. "Lagi mikirin apa? Futsal?"
Niko menerbitkan senyum tipis, lalu menggeleng. "Nggak usah bahas futsal dulu. Ayo naik."
Judith bingung, namun tetap mengangguk pada perintah Niko. Dengan hati-hati, Judith duduk tepat di belakang Niko.
"Pacar kamu nggak marahkan kalau aku duduk disini?" tanya Judith, terdengar polos kali ini. Perempuan itu benar-benar tampak menikmati angin sore dan pemandangan sekitar.
"Pacar gimana?" Niko balik bertanya. "Lagian tempat itu emang punya kamu, Dith."
Judith mengernyit, "Maksudnya?"
"Kamu lupa? Alasanku minta motor sama ayah kan supaya bisa nganterin kamu kemana-mana."
"Iya apa?" tanya Judith dengan raut bingung sembari mengingat-ingat.
"Hm," gumam Niko. "Cuma aku aja yang emang keasikan sama futsal sampai-sampai nggak punya waktu lagi buat main ke rumah kamu. Harusnya kamu pergi bareng aku tiap pergi terus pulang sekolah."
"Ya gimana, kamunya sibuk." Judith tersenyum masam, walau ia masih tampak menikmati udara sore. "Padahal mama papa sering banget nanyain kamu."
"Terus kamu jawab apa?" tanya Niko, sembari membelokkan motor ke arah lapangan yang sudah terlihat.
"Aku jawab kamu sibuk latihan futsal, udah."
"Nanti deh, aku ketemu mama sama papa kamu."
"Ngapain?" tanya Judith kini memperhatikan separuh wajah Niko.
"Kenapa? Lagian aku udah lama nggak ketemu mereka."
"Nggak boleh! Masa bau-bau abis futsal mau ketemu mama sama papa. Yang ada kamu disuruh pulang sama papa."
Niko tertawa, mengangguk patuh pada akhirnya. "Iya, nggak jadi."
Beberapa saat kemudian, motor Niko sudah terparkir rapi di tepi lapangan. Sementara Judith langsung memilih turun dan sibuk melihat sekitar. Suasana lapangan ini tidak berubah sedikitpun. Ramainya anak-anak disana membuat Judith merindukan masa kecilnya. Dalam hati, Judith kerap bertanya, apa kabar teman-teman bermainnya dulu?
Judith menoleh ke arah lain, senyumnya terbit dengan semangat sebab kembali melihat orang-orang yang sama masih semangat berjualan. Dengan langkah girang, Judith mendekat.
"Assalamualaikum, Bude!" sapa Judith dengan senyum lebar pada wanita berumur yang terlihat sibuk menata gorengan yang ia jual.
"Judith?! Kemana aja, Nduk, kok baru keliatan?" Wanita itu mendekat pada Judith, menatap Judith dari atas hingga bawah. "Udah lama banget Bude ndak liat kamu!"
Judith menunjukkan cengiran bersalah, lalu duduk di kursi yang memang disediakan. "Kan udah jadi anak SMA, Bude. Makanya jadi sibuk. Juga biasanya pulang sekolah jarang di rumah, soalnya Judith baliknya ke butik mama. Terus nanti papa pulang kerja sekalian jemput Judith sama mama, baru deh ada di rumah."
Wanita yang sejak tadi dipanggil bude itu tersenyum lembut menampung cerita panjang Judith. Menurutnya, gadis kecil dengan aksi konyol di depannya sekarang tidak pernah berubah. Ia tetaplah seorang Judith yang ramah dan mudah tersenyum pada orang-orang.
"Pantesan Bude jarang banget liat kamu. Bude kirain dimasukin pesantren sama ayah ibumu."
Judith mengerucutkan bibir sengaja, pura-pura tersinggung oleh ucapan bude tersebut. "Eh tapi emang sempet ada rencana, Bude! Judith yang kepengen masuk pesantren. Tapi mama nggak kasih izin, katanya gini, Aa sama Teteh udah pergi, masa Judith juga. Lama-lama mama main sama boneka." Judith tertawa terbahak setelahnya.
"Oh iya, kakak-kakakmu udah ndak disini?" Bude tersebut bertanya, tapi sembari melayani pelanggan yang baru datang hendak membeli gorengannya.
"Iya, Bude. Aa sama Teteh udah lanjut belajar keluar. Makanya itu mama nggak kasih Judith belajar di pesantren. Mama juga bilang gini, kalau tau Judith mau masuk ke pondok, bagusan mama nambah adik buat kamu."
Dua perempuan dengan usia yang terpaut jauh itu tertawa bersamaan. Sampai kedatangan Niko membuat mereka tersadar.
"Niko?!" Niko tersenyum, balas menyapa sambil mengambil tempat duduk di sebelah Judith. "Kesini bareng siapa? Judith?"
"Iya, Bude."
Tepat setelah itu, gorengan pisang khas Bude Yuli dihidangkan di depan Judith dan Niko. Teriakan girang Judith tidak terelakkan, sementara Niko lagi-lagi tersenyum menatap perempuan di sebelahnya.
Judith sendiri, dengan segera mengambil salah satu gorengan pisang dan dengan lahap memakannya. Niko juga melakukan hal yang sama, walau faktanya, Niko tidak terlalu menyukai pisang.
"Jadi, kenapa bisa pindah?" Niko mulai bertanya ketika Bude Yuli kembali sibuk dengan pelanggan-pelanggan lain.
Judith menghela napas panjang. Sebenarnya, Judith teramat membenci topik ini. Tapi memikirkan bahwa Niko mungkin berhak untuk tahu, Judith akhirnya memberi jawaban. "Aku dikeluarin dari sekolah lama. Udah, itu aja."
"Apa?" respon Niko dengan wajah sulit percaya pada perkataan singkat Judith. "Kamu serius?"
"Emangnya siapa yang lagi bercanda?" ujar Judith tenang. "Aku serius."
"Kamu nggak apa-apa? Kenapa bisa kayak gitu?" Niko terlihat teramat khawatir, tidak seperti Judith yang sekarang memang tampak tenang. Beruntung, sedikit gen tenang milik sang mama turun kepada gadis remaja itu.
"Aku yang salah," ungkap Judith jujur. "Aku bandel, sering bikin masalah sampai mama harus rela bolak-balik sekolah. Masalah yang terakhir, bener-bener nggak bisa dimaafin lagi. Aku pikir, prestasi yang aku kasih buat sekolah cukup ngebantu aku supaya nggak dikeluarin. Tapi aku salah."
"Dith...," lirih Niko masih dalam keadaan tidak percaya.
"Udahlah, lagian temenku disana cuma Cata terus Amar. Seenggaknya nggak berat-berat banget ninggalin sekolah."
"Cowo?"
"Hm," angguk Judith lemah. "Aku nggak punya temen deket perempuan. Udahlah, udah jadi rahasia umum lagian kalau temen deketku cuma Cata sama Amar." Judith menyambung dengan senyum masam, mood perempuan itu berhasil hancur dalam hitungan detik karena obrolan mereka menyinggung perihal teman.
Niko terdiam, menatap wajah Judith seperti sekarang, seperti membawa Niko pada satu hal yang tidak dapat ia jelaskan secara cuma-cuma. Niko jarang melihat Judith terkurung dalam satu kata bernama kesedihan. Namun saat sekalinya Niko melihat gadis itu bersedih, ia harus mengkerahkan beribu cara agar dapat melihat Judith tertawa kembali.
"Temen cowok kamu, deket banget sama kamu?"
Judith mengangguk, kini tangannya sudah kosong, goreng pisang yang tadi ia pegang sudah ia letakkan kembali karena rasanya sudah malas bahkan hanya untuk menelan makanan.
"Mereka udah kayak saudara sendiri, aku juga bingung kenapa kita bertiga bisa deket segininya."
"Sedeket apa, emangnya?" Pertanyaan Niko sedikit banyak membuat alis Judith terangkat. Namun Judith hanya menanggapi dengan seulas senyum tipis.
"Deket kayak, kita dulu." Kini, Judith menjawab jujur.
Dulu, satu kata yang akhirnya menampar Niko keras. Seharusnya ia paham bahwa gadis yang kini duduk diam di sebelahnya teramat sangat menginginkan seorang teman. Dan Niko, yang menjadi salah satu teman masa kecil Judith, ternyata memilih mengabaikan Judith.
"Maafin aku ya, Dith. Bola bikin aku lupa sama temen sendiri." Niko bersuara, jujur.
"Bukan cuma kamu yang sibuk, aku juga. Jadi wajar-wajar aja kalau kita jadi jarang ketemu." Helaan napas Judith terdengar panjang. Ia sudah bersiap-siap hendak berdiri sampai akhirnya kembali terdiam. "Andai aja, Rion juga inget buat minta maaf kayak yang baru aja kamu lakuin."
Niko seketika terpaku, namun kepalanya berusaha berpikir cepat. Ia pikir, Judith sudah melupakan satu nama itu. Tapi Niko salah, dan kini ia tidak siap pada satu fakta yang akan terjadi di depan nanti.
"Rion?" tanya Niko kesulitan.
"Iya," angguk Judith. "Sampai sekarang, aku nggak pernah lagi denger kabar dia."
"Aku pikir kamu udah ngelupain dia, Dith."
Judith menggeleng, namun tersenyum masam pada akhirnya. "Salah nggak ya, kalau aku bilang aku juga kangen Rion?"
Dan Niko, lelaki itu sukses terdiam.
• s w e e b y •