9. Niko Aneh

1611 Kata
"Pisang gue!" Teriakan Judith disertai pukulan keras pada lengan terbuka milik Cata menggema di tengah ruang keluarga. Cata meringis dan sibuk mengusap lengannya setelah itu, sementara Judith kembali merebut pisang terakhirnya. "Dasar monyet," ucap Amar, lelaki Arab itu tampak sibuk dengan play station di hadapannya. Tidak menghiraukan sekitar sejak tadi, tapi saat Judith mulai berteriak perihal pisang, mulut Amar mulai gatal untuk menghina perempuan petakilan itu. "Gue bilangin papa, ya? Biar lo diamuk terus dikirim ke Saudi." Judith menatap Amar tidak suka sembari sibuk mencibirkan bibir. Enak saja dia disebut monyet. "Lagian makan pisang mulu. Enek." Amar kembali membalas, sementara matanya fokus menatap layar televisi. "Enak!" ucap Judith keras. Perempuan itu kembali menghela napas, memikirkan bagaimana nasibnya di Cakrawala esok hari. Tadi saja, ketika makan siang di, bisik-bisik di kantin akhirnya sampai di telinga Judith. Kebanyakan anak-anak Cakrawala memang sedikit bingung mengapa seorang anak muncul di akhir semester. Dan bagaimana nanti jika mereka mengetahui alasan sebenarnya mengapa Judith pindah. Judith bahkan tidak sanggup membayangkan reaksi siswa siswi lainnya. Yang harus Judith lakukan adalah mencari alasan masuk akal dan sekuat tenaga menutupi hal sebenarnya. "Emang kenapa, sih?" Cata yang memilih bergabung bersama Amar kembali melontarkan tanya. Walau pandangannya tetap fokus melihat televisi. "Lagian nggak seburuk itu, kan?" "Ya tapi lo bayangin aja, gue tuh sekarang kayak keluar dari kandang kodok, terus masuk kandang singa. Cakrawala tuh parah banget ambisinya, Cat. Istirahat tadi, kayaknya cuma gue sama satu temen gue yang keluar dari kelas. Anak-anak lain pada sibuk buka buku, baca, bahasin soal." Cata menoleh, menatap Judith lama dan serius. Seolah-olah tengah menyalurkan kalimat lewat tatapan. Sampai akhirnya, Cata mengabaikan semua kesibukannya dan memilih menampung keluh kesah Judith. "Berhenti bandel," ucap Cata langsung ke poinnya. "Lo harusnya beruntung bisa masuk kesana, Dith. Lagian kalau lo bisa ngontrol aja sedikit bandel lo, lo nggak akan dikeluarin. Sebenernya mudah, lo cuma harus belajar ngontrol diri. Tapi apa? Udah berkali-kali diingetin lo tetep aja nggak mau denger." Seluruh kalimat Cata berhasil membuat Judith terdiam. Disisipkannya anak rambut ke balik telinga, lalu menarik napas panjang. "Iya, gue tau gue salah. Gue juga sadar karna sering bikin mama papa kecewa." Amar yang sejak tadi tidak pernah mengalihkan pandangan dari layar televisi akhirnya memberhentikan permainannya. Ditatapnya Judith dalam diam dan merasa bersalah. Disaat Judith tengah kelimpungan menghadapi masalahnya, Amar malah keasikan dengan permainan bodoh yang membuatnya lupa bahwa ia memiliki tugas penting sebagai teman. "Dith," panggil Amar pelan. "Gue pernah bilang, kan? Kalau lo kenapa-napa, gue sama Cata yang bakalan dateng pertama kali. Nggak ada yang perlu lo takutin. Kalaupun ada, apa yang bikin lo khawatir sekarang? Lo punya bokap hebat yang ngalahin superhero, Dith. Lo punya nyokap yang bakalan selalu ada, yang nggak bakal pernah bilang bosen sama semua sikap lo yang abnormal. Lo juga punya gue, Dith. Lo punya Cata." Judith terpaku. Ditatapnya mata Amar yang selalu memancarkan ketulusan. Memiliki dua lelaki ini, entahlah, seperti hadiah terindah yang bahkan tidak pernah Judith bayangkan sebelumnya.  Dilindungi, diperlakukan sebagaimana harusnya, dijadikan prioritas, diistimewakan. Lalu apa yang selalu Judith perbuat sebagai balasan? "Gue selalu aja bikin kalian berdua panik." Dengan nada pelan, Judith menatap Amar dan Cata bergantian. "Gue cuma bingung, karna belum kebiasa sama suasana Cakrawala." "Nggak akan lama," ucap Cata mencoba memberi semangat. Judith mengangguk, "Gue pengen berubah. Jadi anak baik buat banggain mama." "Nggak perlu ke nyokap, Dith, cukup niatin kalau lo bakalan jadi baik buat banggain diri lo sendiri. Itu udah cukup." Judith memejamkan mata, mengusap wajah yang memperlihatkan dengan jelas raut kelelahan. Dan Judith berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia bisa berubah menjadi lebih baik dari sekarang. Diambilnya segelas s**u yang sudah dingin---sebab dibiarkan terlalu lama. Meneguknya hingga tandas. Sementara Cata dan Amar sudah sibuk merapikan permainan mereka. Menjangkau tas dan memperbaiki seragam yang tampak kusut. "Kalau gitu kita balik dulu," pamit Cata. "Besok, kalau butuh tumpangan, langsung chat. Jangan gue udah di sekolah lo baru sibuk ngecall. Nggak guna." Bibir Judith mencebik sebal, "Kasar banget sih jadi orang! Bukan temen gue lo." Cata menaikkan sebelah alis, menerima dengan senang hati ucapan Judith. "Yakin? Besok-besok kalau ada masalah lo panggil yang lain aja, jangan gue. Kan bukan temen lo." Judith tersenyum lebar kini, mencubit gemas pipi kanan dan kiri milik Cata. "Jangan ngambek dong, kalau ngambek nanti nasib gue gimana. Kan orangtua kedua gue cuma lo sama Amar." Amar yang mendengar pun sontak tertawa. Dengan gelengan geram, Amar mengacak rambut Judith. "Jangan nangis-nangis lagi dasar anak alay." "Diem lo!" semprot Judith langsung. "Liat aja nanti, gue bakalan bikin sekolah kalian nyesel karna udah ngeluarin gue." "Iya bikin aja," jawab Cata tenang. "Kita tungguin." Judith mengepalkan tangannya, berusaha agar gerakannya tidak salah hingga mengenai kepala Cata maupun Amar. Jika saja dua makhluk di depannya bukanlah seorang teman, mungkin Judith sudah membunuh mereka hidup-hidup. Astaga. "Buruan sana pulang!" usir Judith tidak pakai hati. Dia harus segera mandi dan mulai membuat jadwal untuk melatih kedisiplinannya. Saatnya berubah, bukan begitu? "Iya ini juga mau pulang." Amar yang bersuara terlihat sangat kesal. Kedua laki-laki itu pada akhirnya memilih berjalan ke pintu utama tanpa Judith yang menemani---sebab anak perempuan itu terlihat sibuk memikirkan rencananya. Tidak lama, setelah kepulangan Cata dan Amar, Judith bangkit dari duduknya. Tersenyum kecil untuk menyemangati diri. Sembari berjalan menuju tangga, Judith melirik ke arah jam besar di ruang keluarga. Sudah pukul lima, dan orangtuanya belum juga pulang. Saat-saat seperti inilah yang selalu Judith benci. Kesendirian. Dimana ia tidak dapat melakukan apapun. Namun walau begitu, Judith tidak pernah mengadu dan menyampaikan keluh kesahnya yang satu ini kepada Nadine maupun Aldric. Sebab menurut Judith, orangtuanya bekerja untuk mereka. Jika tidak seperti itu, biaya kedua saudaranya yang tengah tinggal di negri orang akan muncul dari siapa? Langit? Lagipula, walaupun Nadine sedikit sibuk dengan butik, Judith benar-benar tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang sedikitpun. Kehidupan Judith sempurna, sebenarnya. Hanya saja, Judith kerap tidak sadar bahwa di luaran sana begitu banyak orang-orang yang mengidamkan posisinya. Ponsel Judith yang berada di tangan bergetar sekali, menandakan ada satu obrolan yang baru saja masuk. Dari Niko. Niko Virendra: Dith, kamu di rumah? Untuk beberapa saat berikutnya, Judith terdiam. Ini kali pertama Niko kembali menghubungi Judith setelah sebelumnya mereka tidak saling kontak. Rumah mereka juga cukup jauh, sehingga Judith jarang melihat Niko. Pertemanan mereka sendiri dimulai karena lapangan luas tempat mereka sering bermain sejak kecil. Masih segar diingatan Judith bagaimana cara Niko menendang bola dulu. Namun sialnya, bola tersebut mengenai kepala seorang anak perempuan. Judith memperhatikan dalam diam bagaimana raut wajah Niko berubah panik. Dan pada akhirnya, Judith buka suara karena gemas. "Nggak usah panik, bola kamu kan bola ringan. Nggak mungkin bikin sakit." Niko yang mendengar kalimat tersebut buru-buru menoleh, menemukan Judith tengah berdiri diam tidak jauh dari posisinya. "Kamu ngomong sama aku?" Judith yang diberikan respon semacam itu berusaha untuk tidak mencebikkan bibir. Lagipula memang benar, bola ringan seperti itu tidak akan menyebabkan sakit berlebihan, tidak peduli seberapa kuat tenaga ketika menendang. "Bukan, aku ngomong sama rumput lapangan." Niko tersenyum samar setelah itu, buru-buru ia berbalik untuk mendekati perempuan yang terkena bolanya tadi. Sementara Judith tetap tenang di posisinya, menatap keramaian yang tidak jauh di depannya dengan ekspresi biasa. Entah apa yang Niko katakan untuk membujuk korbannya, karena setelah itu suasana kembali berjalan seperti biasa. Niko berlari kecil ke arah Judith dengan senyum berterimakasih. Sementara Judith hanya menatap Niko penuh kebingungan. "Namaku Niko." "Apa?" celetuk Judith sebagai respon. "Kamu ngomong sama aku?" Niko tertawa, "Iya. Nama kamu siapa?" "Judith," jawab Judith akhirnya. "Makasih ya," ujar Niko sembari mengambil duduk di atas rerumputan. Ia mendongak menatap Judith yang menunduk. Barulah, tanpa diminta, Judith ikut duduk beberapa jarak dari Niko. "Aku punya bola kayak gitu di rumah. Kalau malem, papa sering mainin bolanya terus dilempar-lempar ke aku. Nggak sakit." Niko tersenyum tipis, menatap Judith dan bucket hat yang tengah dikenakan Judith kala itu. Jari jemarinya berusaha mengawaskan rambut-rambut nakal yang menempel di pipi. Rasa-rasanya, ini pertama kali Niko melihat Judith disini. "Kamu tinggal dimana?" "Di rumah," jawab Judith, benar. Niko tertawa kecil untuk kesekian kalinya, "Maksud aku, rumah kamu dimana?" Judith menatap Niko sebentar, lalu dengan pasti menunjuk ke jalanan. "Dari jalan ini kamu lurus, terus belok kanan. Nanti ada rumah nomor 7." "Itu rumah kamu?" "Bukan, itu rumah tetangga. Rumahku nomor 8." Tawa Judith lepas setelah itu, lagi-lagi keinginannya untuk menjahili seseorang harus segera disalurkan. Niko sendiri terlihat pasrah. Ia tersenyum manis menanggapi candaan Judith. "Terus nanti, kalau aku mau main kesana, boleh?" "Boleh, main aja." Dan setelah hari itu, Judith dan Niko menjadi dekat setiap harinya. Walau sayang, semenjak remaja, hubungan mereka merenggang sebab kesibukan masing-masing. Disaat kejadian bola yang membuat mereka dekat, ternyata kesibukan Niko dengan bola pula yang membuat mereka saling bertolak. Judith tersentak dari lamunan pendeknya. Panggilan dari Nadine ternyata berulang-ulang terdengar memanggil namanya. "Judith ngapain ngelamun disana?!" Judith menggeleng cepat. Pikirannya masih dipenuhi oleh nama Niko. Juga ketika pulang sekolah tadi, Judith kembali menghubungi Cata dan Amar untuk segera menjemputnya. Sebab Niko terlalu sibuk latihan dan Judith tidak enak bila mengganggu kegiatan lelaki itu. "Dek," panggil Nadine lagi dan Judith seolah tersadar, lagi. "Mama pulang dari kapan?" "Barusan," jawab Nadine. "Cata sama Amar dimana? Udah pulang?" Judith mengangguk, "Udah." "Gimana di sekolah tadi? Seru?" "Biasa aja," jawab Judith kembali menuruni anak tangga, mendekat pada Nadine. "Temennya pada baik-baik semua, kan?" Nadine bertanya sembari merapihkan belanjaan dan menyusunnya rapi di dalam kulkas. "Baik," jawab Judith mengambil satu pisang. "Judith sekelas sama Rizzy." "Mama cuma pengen Judith ada temennya dulu, makanya minta ke Om Sean supaya Judith sekelas bareng Rizzy." Seperti yang Judith pikirkan. Ia tahu bahwa mama dan pamannya memang merencanakan kelasnya. Baru saja ingin menjawab, ponsel Judith kembali bergetar. Satu pemberitahuan yang lagi-lagi berasal dari Niko. Niko Virendra: Dith, aku di depan rumah kamu. • s w e e b y •
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN