"Eh, Dith?"
Kelas yang diisi oleh dua puluh empat murid tersebut---dan berhasil menjadi dua puluh lima sebab kedatangan Judith---menatap Judith penasaran. Ia menekan bibir, membentuk satu garis lurus sembari menatap satu persatu wajah asing di depannya.
"Ini pengganti Damian?" Judith menoleh penasaran pada perempuan berdarah campuran yang duduk di kursi kedua dari belakang. Nadanya bersahabat, dan Judith merasa lebih baik.
Setelahnya, Judith kembali menoleh pada laki-laki yang tadi bersuara menyebut namanya. Dia Rizzy---sepupu Judith---anak bungsu Sean. Lelaki yang sudah menjadi teman akrab Judith sejak mereka masih sama-sama menggunakan popok bayi. Pun, wajah terkejut Rizzy menjelaskan bahwa lelaki itu memang tidak tahu sama sekali akan kepindahan Judith.
Rizzy baru akan bersuara, ingin memperkenalkan Judith kepada teman-temannya sebelum akhirnya seorang guru masuk. Barulah, seluruh anak-anak mengambil tempat di kursi masing-masing.
"Oh ini anak baru yang dibilang-bilang itu, ya?" Judith tersenyum kaku, menatap wajah keibuan dari guru di depannya.
Baru akan menjawab, suara Rizzy terdengar. "Sepupu saya, Buk."
Dan satu kelas refleks menatap Rizzy dan Judith bergantian. Seakan-akan tidak percaya pada fakta tersebut. Sementara Judith, ia sibuk menunduk sembari menggigit bibir bagian dalam. Rasa cemas seketika menggerogoti dirinya. Judith takut akan pikiran-pikiran negatif yang bermunculan. Terlebih karena Judith datang kemari di akhir semester. Pastilah orang-orang berpikir bahwa Judith memang memanfaatkan posisinya.
"Keponakan Bapak Sean?" tanya guru tersebut lagi-lagi. Ia menatap Judith dengan senyum bersahabat. Namun Judith hanya mampu memberikan anggukan sebagai jawabannya.
"Yasudah, daripada membuang waktu terlalu lama, lebih baik kamu perkenalkan diri kamu. Setelah itu kita lanjutkan pelajaran sebelumnya."
Judith menarik napas, lalu menghembuskannya perlahan. Berdiri lebih baik sambil menatap satu-satu orang di dalam kelas. "Nama gue Judith, dan gue harap kita bisa jadi temen baik." Judith memperkenalkan diri dengan nada terkontrol, dia tentu tidak ingin orang-orang beranggapan bahwa dirinya sombong.
"Nama lengkap dong?" celetuk salah seorang murid, sepertinya masih penasaran akan siapa sebenarnya Judith.
Judith meneguk salivanya pelan, lalu tersenyum kecil. "Lengkapnya Judith Aluna al-Vadric. Kalian bisa panggil gue Judith."
"Kalau manggil Aluna, gimana?" Kembali, satu pertanyaan terdengar. Namun untuk yang satu ini, Judith refleks menggeleng. Ingatannya seperti langsung terlempar pada masa lampau, saat hanya satu orang yang memanggilnya dengan nama Aluna.
"Judith aja," jawab Judith pendek. Dia menoleh pada gurunya, hendak permisi duduk. Tapi ucapan seseorang lagi-lagi menginterupsi gerakan Judith.
"Pantesan dari tadi gue familiar sama muka lo," ujar perempuan yang duduk di meja pertama. "Lo adiknya Abiana Alula, ya? Yang sekarang lagi tinggal di London itu lho. Nama belakang kalian juga sama."
"Iya, dia kakak gue." Judith menjawab pelan, bukan karena malu sebab tersanjung, hanya saja Judith tidak ingin orang-orang menyangkut pautkan dirinya dengan orang lain yang sudah berada jauh di atas Judith. Judith hanya ingin dikenal sebagai dirinya. Sebagai Judith.
"Parah, goals banget bisa jadi adiknya Abiana. Terus yang cowok, Abirayyan, berarti kakak lo juga, dong?"
Judith berusaha untuk tidak mengernyit pada ucapan perempuan itu. Lagi dan lagi, Judith hanya tersenyum. Menurutnya, orang-orang terlalu berlebihan menilai posisinya sebagai adik dari Bia dan Abi.
"Kenapa kamu bisa hapal seluruh keluarga Judith, Va?" ujar guru mereka sambil geleng kepala mencoba maklum.
"Yah Bu Qori, lagian siapa yang nggak kenal sama Kak Bia, Bu? Dia kan juga alumni Cakrawala. Nah kalau yang cowok, saya tau dari social media, Bu."
Guru mereka tersenyum, mencoba mengerti akan jalan pikiran anak-anak murid. "Yasudah, keingintahuan kalian ditahan dulu, karna masih bisa dilanjutkan nanti. Judith, kamu bisa duduk di kursi kosong di belakang Delvie."
Judith mengangguk tanda terimakasih, akhirnya ia terbebas dari pertanyaan-pertanyaan aneh yang dilontarkan oleh teman-teman barunya. Langsung saja Judith berjalan, menuju kursi kosong yang terletak di bagian sudut paling belakang.
Ketika Judith melirik ke arah perempuan bernama Delvie, ia tersenyum manis. Perempuan yang tadi berceletuk dan menyebutkan nama Damian, itu Delvie. Dari dekat, perempuan berdarah campuran itu benar-benar terlihat cantik.
Bungsu Nadine tersebut menghela napas, mencoba menguatkan diri untuk apa yang akan terjadi selanjutnya. Semoga saja, keberuntungan-keberentungan tidak lupa menyapa Judith.
• c o l d p u d d y •
Bel istirahat berbunyi, Judith yang tengah asik mencorat-coret buku sebab menahan kantuk langsung saja mengangkat kepala. Menatap sekitar dengan senyum, terlebih kala gurunya berjalan keluar kelas. Akhirnya, ia bebas.
Namun bukannya segera beranjak, Judith malah mengernyit bingung menatap suasana sekitar. Hampir seluruh siswa dan siswi tetap duduk dan menatap fokus buku mereka. Lebih dari itu, Judith melotot menatap siswi berkacamata yang baru saja mengambil sebuah buku tebal dari dalam tas dan sibuk dengan benda tersebut.
'Pada enggak laper apa, ya?' batin Judith senewen.
Judith menggelengkan kepala, tidak ingin repot-repot memikirkan sekitar. Dengan segera, Judith menutup buku dan membereskan alat tulisnya. Bertepatan dengan itu, Rizzy datang.
"Dith, ini lo?"
Judith mencebik, menatap Rizzy kesal. "Menurut lo?"
"Kok bisa pindah? Terus kok papa nggak bilang apa-apa ke gue?" Rizzy kembali bertanya, hingga perempuan bernama Delvie juga ikut membalikkan badan sebab penasaran.
"Jangan tanya-tanya, ah! Kepo lagian." Judith menoleh agar menatap Delvie, lalu tersenyum kecil hingga seluruh raut kesalnya menghilang.
"Oh iya, kenalin gue Delvie." Delvie mengulurkan tangan, tertawa kecil bersahabat.
"Judith," balas Judith sembari menyambut uluran tangan Delvie. "Asli mana, Delv?"
"Mama campuran Perancis-Indonesia, terus nikah sama papa yang asli Indonesia. Jadi deh kayak gini." Delvie tertawa di ujung ucapannya, membuat mata coklat terang perempuan itu kian berbinar. "Eh ngomong-ngomong, kok bisa sepupuan sama Rizzy?"
"Bokap sepupu deket nyokapnya Judith." Rizzy yang menjawab, dan Judith hanya mengangguk menyetujui.
"Kok aneh, sih? Ini pada nggak laper, ya? Kok nggak ada yang keluar kelas." Judith mengganti topik sebab rasa penasaran yang membuncah, matanya gatal melihat seisi kelas yang tampak fokus dengan buku.
"Ooh," respon Delvie singkat pada awalnya. "Emang kayak gitu, Dith, kalau bakal ada ulangan. Ini sih mending, kalau nanti ujian semester deh liat. Apalagi perpusnya."
Judith meneguk saliva susah payah, sepertinya dia juga harus mulai belajar keras dari sekarang. Walaupun dikaruniai otak cerdas, tapi berada di antara orang-orang rajin seperti mereka tetap saja membuat Judith merasa seperti debu.
"Terus kalau boleh tau, Damian siapa?" tanya Judith lagi. Rasa penasarannya harus segera dituntaskan.
"Siswa sini," jawab Rizzy pendek.
"Tapi lagi dapet undangan di Surabaya." Delvie menyambung. "Udah dua bulanan Damian disana."
"Eh gue keluar duluan, deh." Rizzy bersuara.
Delvie menggeleng maklum, "Ngumpul OSIS lagi?"
"Hm," angguk Rizzy. "Sekalian mau nyambut ketos kan dia baru balik dari Semarang."
"Udah balik? Berapa hari sih kunjungannya?" Judith mengernyit, menatap Delvie dan Rizzy bergantian sebab bingung. Mulutnya gatal sebenarnya karena ingin mengajak Delvie menuju kantin.
"Cuma tiga hari." Rizzy bersuara, sementara jemarinya bergerak lincah di permukaan layar ponsel. Lalu setelahnya, menatap Judith penuh perhatian. "Dith, nggak apa-apakan gue tinggal dulu? Kalau mau ke kantin, dari sini turun dua lantai, terus belok kanan nanti juga ketemu. Jangan pergi ke kantin yang bangunannya gedung tunggal, itu kantin khusus angkatan atas, kelas 12. Ya iyasih kebanyakan mereka lebih milih di rumah karna ujian udah kelar. Tapi tetep aja, kita nggak bisa kesana."
Judith sukses terperangah. Apa tadi? Bahkan untuk urusan kantin, Judith tidak habis pikir dengan sekolah ini.
"Mau ke kantin, Dith?" tanya Delvie sembari memperbaiki letak buku-bukunya. "Yuk gue temenin."
"Nah, sama Delvie aja, Dith." Rizzy bersemangat. "Kalau gitu gue duluan."
"Zy, bilangin Difa ya nanti kalau lo ketemu dia, jangan lupa kesini." Delvie berteriak pada Rizzy kala lelaki itu sudah mencapai ambang pintu.
"Bilangin sendiri, males gue ngurusin orang pacaran."
"Pelit!"
"Bawel."
Setelah menghilangnya Rizzy, Delvie sibuk mengutuk lelaki itu. Sementara Judith, ia terlampau diam hari ini. Tidak seperti Judith yang seharusnya. Judith yang harusnya cerewet, berubah bingung bahkan hanya untuk sekedar melontarkan kata-kata. Judith yang dulu selalu sibuk menjahili orang-orang, kini terlalu fokus akan ketakutan dalam dirinya.
"Difa itu cowok?" tanya Judith akhirnya, berusaha memulai obrolan lagi.
Delvie tersenyum kecil dan mengangguk. "Namanya Ceisar Difa, orang-orang sih kebanyakan manggil Ceisar. Tapi gue iseng pengen beda sendiri makanya manggil dia Difa."
Langkah mereka berlanjut menyusuri koridor kelas. Tidak acuh pada tatapan orang-orang yang melihat.
"Dia nggak marah?" Judith menatap Delvie, menahan diri sebab lagi-lagi ingatannya mulai menjalar pada seseorang yang seharusnya tidak ia ingat.
"Awalnya suka kesel, tapi sekarang dia ikhlas." Delvie tertawa, menyalakan ponsel sebab ingin menghubungi seseorang.
"OSIS juga?"
"Iya, tapi nggak yang terlalu dedikasiin dirinya buat OSIS. Dia terlalu sibuk sama basket."
"Yakin nggak mau ketemu dia dulu?" Judith menawarkan, sebab jujur saja, rasanya tidak enak bila ia harus memberatkan orang lain. Tapi berbeda judul jika yang ia repotkan adalah Cata dan Amar.
"Ngapain? Nanti juga didatengin dia." Delvie tertawa sebab ucapannya. "Yaudah ayo, gue temenin ke kantin. Lo harus liat gimana ganteng-gantengnya anak Cakrawala. Apalagi ketos kita."
Judith sukses tertawa. Setelah sekian lama, akhirnya impiannya terwujud. Teman perempuan. Judith harap, hal ini tidak hanya terjadi di hari ini. Dihelanya napas panjang, membenarkan ucapan mamanya. Bahwa Cakrawala tidak seburuk itu. Ya, Cakrawala tidak buruk. Lebih dari itu, Cakrawala menyeramkan---dengan siswa siswi berambisi besar yang berada di sekitar Judith.
Tapi kini Judith memilih mengabaikan pikiran-pikiran yang hanya akan membuatnya semakin ketakutan. Saatnya ia menghabiskan waktu untuk membahas laki-laki berprestasi pentolan Cakrawala. Seperti Damian, misalnya. Atau, bagaimana dengan ketua osis tampan yang disampaikan oleh Delvie?
Ah, Judith penasaran.
• c o l d p u d d y •