7. Suasana Baru

1314 Kata
Cakrawala ramai. Koridor sekolah yang awalnya sepi perlahan mulai diisi oleh siswa siswi yang berjalan kesana kemari. Dengan seragam putih bersih, serta rok dan rompi kebanggaan warna hitam. Tampak siswa yang masih sibuk menyimpulkan dasi ikat dan membiarkan rompinya tidak terkancing. Sementara para siswi sepertinya sudah rapi dengan dasi pita mereka. Sekolah swasta tersebut terus berkembang dengan banyaknya perubahan-perubahan baru yang terjadi. Mulai dari gedung sekolah yang kini terlihat teramat megah. Seragam siswa siswi yang juga menggambarkan kewibawaan sekolah itu. Seiring berjalannya waktu, nama Cakrawala pun semakin disegani. Kini, Cakrawala tidak hanya memimpin di bidang akademik, pun di bidang non akademik. Perubahan Cakrawala pun ternyata membuat seluruh orang tua berbondong-bondong ingin mendaftarkan anaknya. Membuat Cakrawala kerap dibanjiri oleh murid berprestasi setiap tahunnya. Selain itu, Cakrawala juga menciptakan berbagai kesempatan untuk murid lain agar dapat belajar disana. Salah satunya undangan bagi beberapa siswa berprestasi dari sekolah-sekolah lain untuk menuntut ilmu selama tiga bulan di sekolah itu. Membahas Cakrawala secara keseluruhan tidak akan ada habisnya. Dari seluruh fasilitas hingga bagaimana murid-muridnya. Termasuk berita-berita baru yang menjadi topik hangat di hari ini. Baiklah, siapa yang tidak kaget bila di penghujung semester ternyata ada seorang anak baru? Dan disalah satu ruangan terpenting, yang tentunya terletak di gedung paling utama dari sekolah, seorang anak perempuan tengah duduk diam di atas sofa hitam panjang. Napasnya bergerak tidak teratur, faktor perasaannya tengah tidak baik. "Nggak mau masuk kelas, Dith?" Pamannya---Sean---yang rela datang sepagi ini sebab mendapatkan permintaan penting bertanya pada Judith. Ia memberikan anggukan kecil, tanda semuanya akan berjalan baik-baik saja. Judith menggeleng, menatap sang papa di sebelah kirinya. "Pulang yuk, Pa." Aldric mengernyit, namun Nadine lebih dulu bersuara. "Pulang gimana?! Atau Judith beneran mau nggak sekolah?" Judith menatap rompi hitam dipangkuannya dengan diam. Bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apakah ia akan tetap menjadi Judith yang sebenarnya disini? Karena jujur saja, Judith takut. Berada di antara orang-orang yang memiliki semangat kompetisi tinggi dibanding sekolahnya yang dulu membuat Judith tidak tenang. Judith menghela napas, ia tidak boleh membuat mamanya sedih. Berkali-kali Judith menancapkan dalam-dalam di kepalanya, bahwa pilihan orangtua tentu pilihan terbaik. "Kelas Judith dimana, Om?" tanya Judith tanpa embel-embel bapak kepada Sean. Ini juga yang membuat Judith malas, harus berusaha bersikap formal pada anggota keluarganya sendiri. "Ambil jadwal kamu dulu, nanti kamu tau kelasnya dimana." Sean tersenyum lagi, berharap agar keponakannya lebih tenang. Sementara Judith lemas lagi, "Judith boleh milihkan, tapi?" "Sebenernya Om udah siapin kelas buat kamu. Kelas 1-2 IPA. Tapi nggak apa-apa, ambil dulu jadwal kamu biar keliatan lebih normal. Terus belajar buat nanya-nanya sama murid lain dimana letak kelasnya. Kalau nggak bisa, kamu bisa cek peta sekolah. Dimana-mana ada peta sekolah." Judith akhirnya berdiri, tidak merepotkan diri untuk berpamit sebab ia tengah kesal. Dengan sebelah tangan masih memegang rompi, Judith berjalan menuju pintu. Namun panggilan Nadine lagi-lagi membuat Judith terpaksa menoleh. "Kenapa, Mam?" tanya Judith dengan ekspresi jauh dari kata penasaran. Nadine yang dibalut dengan dress simple warna rose gold berjalan mendekati bungsunya. Diraihnya bahu Judith dan memainkan jemari di sekitar rambut anak perempuan itu. "Maafin Mama, nggak seharusnya Mama maksain Judith sekolah disini. Naik kelas nanti, kita cari sekolah yang cocok sama Judith." Judith menunduk, tidak menanggapi apa-apa karena secara tiba-tiba ia merasa bingung. Disaat sang mama selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya, Judith tidak pernah melakukan hal yang sama. Sedetik kemudian, Judith merasa menjadi anak paling buruk. Judith mendongak, menunjukkan senyuman yang tentu saja palsu. "Judith pamit, Mam." Setelah itu, ia berbalik dan segera membuka pintu ruangan Sean. Judith berjalan sebiasa mungkin berharap tidak akan ada orang yang mengetahuinya. Tapi sepertinya, keberadaan Judith memang menarik rasa keingintahuan orang-orang di sekitar. Perempuan itu berjalan terus, tidak peduli pada berita yang kini tengah berpindah-pindah lewat bisikan. Judith menggeleng pelan, memilih menyalakan ponsel dan melihat gambar terakhir yang ia ambil; peta sekolah. Secepatnya, Judith harus menemukan ruangan tempat dimana ia mengambil jadwal. Judith memperhatikan orang-orang sesekali, lagi-lagi ia tersadar dimana ia kini. Judith menunduk, menatap sepatu sekolah hitam favoritnya. Di sekolahnya dulu, hanya di hari jumat para murid mendapat kesempatan mengenakan sepatu selain warna hitam. Sementara disini, murid bebas mengenakan sepatu apapun yang mereka inginkan. "Kok gue familiar sama mukanya, ya," ujar seorang perempuan yang baru saja Judith lewati. Judith kembali menggeleng frustrasi. Apa memang wajahnya pasaran, atau memang anak perempuan tadi pernah melihat Judith di suatu tempat. "Eh? Anak baru?" Judith menatap ponsel saat lagi-lagi ia mendengar celetukan di sekitar. "Kok kayak kenal, eh maksud gue, kok kayak tau. Familiar mukanya." Lagi, Judith mendengar ucapan yang sama. Dan benar saja, Cakrawala memang memacu adrenalinnya. Rasa-rasanya, Judith ingin sekali menghilang dan secara ajaib muncul di sekolah lamanya. Menyapa Delon, bertemu dengan Amar juga Cata. Semalam, dua laki-laki itu mendatangi Judith sepulang sekolah, memberi semangat agar Judith kuat mental di Cakrawala. Ya Tuhan, Judith rindu teman-temannya. Judith rindu sekolahnya yang dulu. "Judith?" Panggilan tersebut membuat Judith sukses menoleh ke kanan. Mulutnya sedikit terbuka saat tahu siapa orang yang memanggilnya. "Niko," ucap Judith pelan bereaksi. Dia Niko, mendekat. "Kamu pindah? Kok aku nggak tau?" "Kamu juga sibuk, kan? Turnamen futsal kesana sini. Semenjak SMA aku nggak pernah liat kamu lagi. Wajar kalau kamu jadi nggak tau apa-apa." Judith menghela napas panjang setelahnya, memilih melanjutkan langkah daripada menatap laki-laki manis dengan rompi tidak terkancing di sebelahnya. Niko menekan bibir, memilih menyamakan langkah dengan Judith. Dan hal tersebut membuat murid-murid di sekitar mencuri pandang pada mereka. "Kenapa pindah?" Niko bersuara lagi, mencoba mengakrabkan diri. Judith mengedikkan bahu, "Nggak tau, tiba-tiba udah disini." Niko tertawa ringan menanggapi ucapan konyol perempuan di sebelahnya. Lama tidak melihat Judith, Niko rindu. "Terus, sekarang mau kemana? Kelas?" Judith menggeleng, "Ambil jadwal, baru ke kelas." "Mau aku temenin?" tawar Niko sembari membalas sapaan teman-temannya yang lain dengan senyum ramah. "Terserah," jawab Judith sembari menatap deretan loker warna abu-abu metalik. Ah, sekolah ini terlampau bagus dan lengkap dengan segala fasilitasnya, pikir Judith. Niko akhirnya memilih menemani Judith menuju ruangan yang ia cari. Di gedung luas ini, bisa-bisa Judith tersasar. Lagipula, Niko yakin bahwa Judith tidak pernah kemari. Sebab Niko paham bagaimana Judith kerap berpikir aneh-aneh mengenai sekolah ternama ini. "Pulang sekolah nanti, mau bareng?" tembak Niko langsung, dia tidak ingin bertele-tele. Mengajak Judith menikmati angin sore sepertinya bukanlah ide buruk. "Boleh," angguk Judith. "Aku udah lama ya nggak beliin kamu pisang goreng." "Mama sering beli, kok," ujar Judith kembali sibuk dengan ponsel. Membalas chat yang masuk dari Cata dan Amar. Niko kini diam, peka bahwa perempuan di sebelahnya seperti tidak berminat lagi diajak berbicara. Pertanda bahwa ada masalah yang terjadi. Pun Niko sendiri berusaha sadar diri, tidak pantas bila ia menanyakan hal yang terjadi. Niko pun mengerti, bahwa memang kesalahannya lah mengapa Judith menjaga jarak seperti sekarang. Sesaat kemudian, akhirnya Judith mendapati ruangan yang ia cari. Menerima jadwal miliknya beserta kunci loker. Dengan kaku, ia berterimakasih pada Niko. "Kelas kamu dimana?" tanya Judith sebelum memisahkan diri. "1-1 IPS," jawab Niko saat mereka kembali berjalan ke arah sebelumnya. "IPA sama IPS satu lantai?" tanya Judith lagi. Niko menggeleng, "Enggak. Kelas kita jauhan karna kamu ada di 1-2 IPA. Kamu di lantai tiga, aku empat." "Aku masih nggak ngerti susunan kelas disini." Judith menghela napas entah untuk keberapa kali. "Nanti juga kebiasa." Niko menenangkan, dan hal tersebut berhasil memunculkan senyum kecil Judith. "Istirahat nanti kamu bisa ke kelas aku?" ucap Judith saat akhirnya ia sampai di depan kelasnya. "Kenapa?" Judith diam sebab ditanya seperti itu. Namun Niko akhirnya tersenyum, lalu meminta maaf. "Nggak apa-apa kalau belum kenal sama mereka. Kamu bisa chat aku kalau ada apa-apa. Cuma istirahat nanti aku harus udah ada di lapangan buat ngumpul tim." Judith akhirnya mengangguk mengerti. "Nggak apa-apa. Makasi buat yang tadi." Judith berbalik lebih dulu, masuk pada pintu yang terbuka dan harus menerima tatapan dari banyak pasang mata. "Eh, Dith?" Dan panggilan dari seorang lelaki membuat bisik-bisik di kelas kian ramai. Sementara Judith, dia baru paham mengapa Sean, sang paman, memasukkan Judith ke kelas ini. Ya, sebab lelaki satu ini. • s w e e b y •
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN