"Aluna!" Di koridor sekolah yang ramai dengan siswa siswi sebab jam istirahat tengah berlangsung sejak sepuluh menit yang lalu, suara lantang seorang anak lelaki terdengar, ia terlihat berlari kecil menyusul perempuan yang baru saja ia panggil.
Sementara perempuan itu, dengan kerudung putih yang sudah tidak lagi jelas bentuknya sebab menampakkan anak-anak rambutnya yang nakal, ia menoleh. Tersenyum kecil.
"Mau kemana?" Anak lelaki itu bertanya setelah langkah kaki mereka bergerak seirama.
"Kantin," jawabnya sambil menyisipkan rambut agar masuk kembali ke dalam kerudung. "Laper soalnya belum makan dari tadi. Kamu mau kemana?"
Anak lelaki itu mengedikkan bahu, "Tadinya mau ke ruang guru, tapi nanti ajalah. Aku temenin kamu ke kantin, mau?"
"Boleh. Tapi, kemarin kan kamu janji mau beli pudding buat aku."
Orion---nama anak lelaki itu---memberikan anggukan serta senyum pada perempuan di depannya, yang tidak lain adalah Judith. Hingga bocah perempuan itu pun sukses berbinar.
Judith dan Rion segera berjalan menuju kantin yang terletak di ujung gedung tempat mereka tengah berada. Melewati siswa siswi lain yang sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Judith hanya menganggukkan kepala kala beberapa anak laki-laki menyapanya, lalu menggoda Rion sebab sedang berjalan bersama Judith.
Tetapi Rion, dia tidak pernah malu karena memutuskan menjadi teman Judith. Lebih dari itu, Rion bahagia karena berhasil memegang utuh kepercayaan Judith. Menjadi tempat pertama bagi Judith untuk mengadu, bercerita banyak hal, atau mengeluh bagaimana bencinya ia terhadap menari.
Judith, dengan segala sikap kekanakannya terhadap Rion. Sementara Rion, selalu merasa berhasil saat ia dapat mengganggu Judith Dan membuat perempuan itu kesal. Hingga pada akhirnya, ia akan membujuk Judith dengan satu cup pudding coklat.
Sederhana. Namun memiliki makna teramat besar dibaliknya; pertemanan.
"Lun," panggil Rion, kebiasaan lain anak lelaki itu adalah memanggil Judith dengan Aluna. Alasannya? Tidak ada yang tahu. "Kamu udah nyetor hafalan sama Abi Wahid?" Lanjut Rion bertanya sembari menoleh singkat pada Judith.
Anak perempuan itu menggembungkan pipi, dengan raut lelah menggeleng. "Belum. Kamu?"
"Ini abis nemenin kamu aku mau ketemu Abi Wahid."
Judith mempercepat langkah, tidak peduli pada jawaban Rion sebab mereka sudah tiba di kantin. Masalah hapalan, lebih baik Judith pikirkan nanti. Karena permasalahan sekarang, cacingnya butuh diberi makan.
"Buruan, Yon, bayarin puddingnya!" perintah Judith seenak hati setelah mendapatkan satu cup pudding coklat."Aku kesana dulu mau ngambil nasi sama buah."
Judith berjalan ke sudut kantin, mengambil tempat makan dan memberinya pada seorang yang memang bertugas mengatur makan siang. "Judith boleh dapet pisang double nggak hari ini?" Dengan senyum penuh harap Judith bertanya.
"Kebiasaan, selalu minta double pisang." Perempuan berumur yang terlihat keibuan tersebut tertawa. Tangannya cekatan mengisi nasi dan makanan lain untuk Judith. Beruntungnya ia memang kerap menyimpan jatah dua pisang agar Judith tidak kehabisan.
Dengan senyum merekah Judith menerima tempat makanannya. Menatap dengan takjub lauk pauk disana, pun dengan dua buah pisang yang berhasil ia dapati hari ini. Judith balik badan, berjalan menuju meja dimana Rion sudah duduk diam menunggunya.
"Enak banget kamu selalu dapet dua pisang." Rion bersuara setelah Judith duduk di depannya. Disodorkannya pudding pada perempuan yang kini sudah sibuk menyuapkan nasi.
"Rezeki anak solehah emang gitu, Yon. Makanya kamu jangan males solat."
Rion menggeleng, "Yang males itu aku apa kamu? Kemarin disuruh solat asar dulu nggak mau."
Judith mencebik lucu, "Bukan nggak mau. Tapi kan badanku keringetan. Jadi enakan di rumah abis mandi."
"Alasan," celetuk Rion, semata-mata ingin kembali memancing amarah Judith.
"Nggak alasan, tau! Lagian masa mau ibadah badannya bau."
"Makanya kamu jangan sering lari-lari biar nggak keringetan."
"Aku nggak pernah lari-lari."
"Barusan tadi kamu lari."
Judith menatap Rion tidak terima sekarang. "Itu jalan cepet namanya."
"Aluna banyak alasan."
"Biarin yang penting bahagia!"
Perdebatan itu terus berlanjut, hingga nanti Rion mengalah sebab Judith akan benar-benar marah. Lagi-lagi, Rion akan menjanjikan satu cup pudding coklat untuk membujuk Judith.
• s w e e b y •
Sekolah islami swasta tempat mereka menuntut ilmu memang terkenal dengan kemewahan dan kelengkapan fasilitasnya. Gedung megah yang terdiri dari tiga bagian utama. Bagian pusat, terdiri dari ruang guru dan ruangan penting lainnya. Lalu bagian ruang kelas 1, 2, dan 3 yang berada di sayap kiri. Sementara kelas 4, 5, dan 6 di sayap kanan gedung.
Dan di salah satu lantai gedung, Judith dan Rion tengah berjalan bersama. Kini tugas Judith menemani Rion untuk mencapai bagian pusat sebelum bel masuk kelas berbunyi.
"Yon," panggil Judith dengan mata menyisir loker-loker di sepanjang koridor.
Rion yang sedang sibuk mengingat kembali hapalannya tentu menghela napas. Sejak tadi Judith memang memanggilnya, tapi tidak kunjung memberi tahukan apa-apa
"Sekali lagi kamu manggil tapi nggak kasih tau apa-apa, aku nekat tinggalin." Rion mengancam, memberikan tatapan tajam penuh keseriusan.
Sementara Judith hanya terkikik geli. Ia yakin Rion tidak akan pernah bisa marah. Namun kali ini Judith malah bersuara, agar Rion sedikit puas dan tidak mati penasaran. "Kamu udah tau belom kalau kunci loker punya Devin ngilang?"
Rion menaikkan alis, menunggu kelanjutan cerita Judith. Tapi bukannya melanjutkan, Judith kembali asik menatap sekitar. "Terus kenapa, Lun?"
Judith menggeleng, "Ya nggak apa-apa, aku juga baru tau soalnya."
Dan dengan kesabaran tingkat tinggi, Rion menunduk. Mengusap wajah dan memilih mempercepat langkah. Sementara Judith yang ditinggalkan kebingungan. Ia benci ketika Rion meninggalkannya seperti itu. Sebab di antara keramaian koridor, diselimuti hingar-bingar keributan sekitar, Judith hanya mampu menghela napas, menatap punggung Rion yang menjauh.
Memangnya, Judith salah berbicara?
• s w e e b y •