“Mau makan dulu?” tanya Nadine setelah duduk di balik setir. Wanita itu baru saja menyelesaikan segala urusan Judith di sekolahnya. Nadine sendiri pun paham apa maksud dari diamnya Judith, namun ia tidak bisa melakukan apa-apa karena itu sepenuhnya hak sekolah. Nadine pun mengaku bahwa bungsunya memang berbeda dari anak lainnya, namun itu bukan masalah besar untuknya. Selama ia bisa menemani Judith, maka Nadine akan selalu siap bergerak.
“Terserah mama,” jawab Judith pada akhirnya. Dia tidak lapar, sejujurnya. Namun Judith sedang tidak ingin pulang ke rumah.
“Laper?” Nadine mematikan ponsel yang baru saja ia gunakan untuk mengirim pesan pada Aldric.
“Enggak,” respon Judith lemas.
“Pulang aja?” Nadine menawarkan, ia sendiri berencana ingin membawa Judith ke suatu tempat.
“Nggak mau pulang juga,” ujar Judith menutup wajah, mengusapnya beberapa kali sebelum akhirnya mengambil karet gelang untuk mengikat rambutnya. “Kemana gitu deh, Mam.” Judith meminta.
“Ke Cakrawala, mau?”
“Hah?” Mata Judith sukses membulat sempurna, bukan karena kaget, tetapi karena rasa tidak terima. Telinganya suka sensitif ketika mendengar nama sekolah itu. Dan sekarang, mamanya malah ingin membawanya kesana.
“Ya nggak apa-apa. Biar besok Judith nggak kaget-kaget banget disana.”
“Emang besok langsung kesana?”
“Ya emangnya mau kemana lagi? Bolos? Enak aja kamu!”
Judith mencebik, mamanya tidak mengerti. “Mending Judith home schooling kalau gitu.”
“Oh gitu? Lebih kepengen home schooling? Tapi Judith nggak boleh ketemu Amar sama Cata, ya?”
Judith menoleh cepat pada sang mama. Dihelanya napas kasar agar sang mama paham bahwa Judith tengah kesal. Ketika permintaan Judith semakin aneh, ternyata persyaratan mamanya lebih aneh lagi.
“Gimana?” celetuk Nadine meminta jawaban Judith.
“Terserah mama.” Judith mengalah, daripada dia tidak sekolah sama sekali.
Mungkin sudah seperti ini jalannya. Dan Judith harus mencoba lebih sabar dan belajar menerima keadaan. Salahnya karena tidak taat akan peraturan sekolah. Kesalahannya karena tidak bisa mengontrol sikap perilaku. Bagaimanapun, segala sikap yang menentang tentu akan mendapat konsekwensinya.
Judith menyibukkan diri selama perjalanan panjang menuju Cakrawala. Kadang menyalakan ponsel dan menyibukkan diri dengan berbagai permainan offline. Atau sekedar melihat pemandangan ramai dari kaca mobil. Jujur saja, Judith tidak siap memasuki sekolah itu.
Ia tahu jelas bagaimana Cakrawala. Bergerak di berbagai bidang akademik dan non-akademik membuat nama sekolah itu kian melambung. Terlebih, anak-anak kelas atas yang kerap membuat dahi Judith mengernyit sempurna. Seperti halnya Abiana---kakak kedua Judith---dengan segala benda-benda bermerek yang selalu ia gunakan. Judith berbeda dari sang kakak, terlampau berbeda. Abiana yang anggun dan disukai semua orang, sementara Judith dengan kejahilannya yang tentu akan dihindari.
Judith menghela napas, berdoa dalam hati semoga memang benar, Cakrawala tidak seburuk yang ia pikirkan.
"Mam," panggil Judith pelan, suaranya bahkan seperti menghilang.
"Kenapa?" Nadine menoleh sebentar sebelum kembali fokus dengan jalanan di depannya.
"Cakrawala dari zaman mama sekolah disana emang udah kayak gitu?"
"Kayak gitu gimana?"
Judith menghela napas, ia tengah malas berbicara panjang lebar. Namun Judith terlampau penasaran dengan sekolah swasta ternama itu.
"Ya kayak gitu. Kebanyakan orang kelas atas semua."
"Siapa bilang?" Nadine mengernyit sekarang. Sepertinya dia menangkap ketakutan bungsunya.
"Nebak," tutur Judith dengan mata tertutup, menikmati sejuknya suhu rendah di dalam mobil. "Judith cuma takut nggak punya temen perempuan lagi kayak di SD, SMP, terus di SMA sebelumnya cuma karna Judith nggak masuk sama obrolan mereka. Temen Judith nggak banyak, Ma. Mentok-mentok cuma Cata sama Amar. Terus mama sama papa. Udah, cuma itu."
Nadine terpaku, sementara Judith masih terus menikmati keadaannya. Dia ingin jujur kepada sang mama. Sebab Judith lelah menyimpan segalanya sendiri. Bahwa ia begitu menginginkan teman perempuan untuk sekedar berbicara privasi atau hal seru lainnya yang mungkin dibahas oleh seluruh remaja perempuan.
Seperti saat Judith harus menahan sakit yang teramat sangat di perut, maka Cata dan Amar lah yang selalu cepat bergerak untuknya. Bahkan dua lelaki itu sepertinya sudah hapal tanggal period Judith. Terdengar janggal sebenarnya, namun bagi Judith, keberadaan Amar dan Cata sudah seperti saudara.
Dan walau orang-orang mengatakan Judith beruntung memiliki Cata dan Amar, tetapi tetap saja, Judith ingin teman perempuan. Ia ingin merasakan bagaimana serunya berbicara pada sesama kaum Hawa mengenai kaum Adam. Tentu menyenangkan.
"Dek." Judith tersentak dari lamunannya dan buru-buru melihat sang mama. Sementara Nadine, ia kembali diam sebab menatap mata bungsunya. Setelah sekian lama Nadine tidak pernah melihat keredupan dalam mata tersebut, kini ia melihatnya lagi. Untuk kedua kalinya.
"Kenapa, Mam?" tanya Judith sebab Nadine tidak kunjung bersuara. Mobil terus saja bergerak hingga akhirnya berhenti sebab lampu lalu lintas berubah merah.
"Judith pasti bisa punya temen perempuan," ucap Nadine akhirnya. "Judith tau nggak? Kalau Tante Kiya itu sahabat mama satu-satunya. Waktu SD, Mama nggak punya temen. SMP, mama dijauhin sama semua anak-anak karena pelit kasih jawaban kalau lagi ujian. Akhirnya Mama nggak mau masuk SMA swasta karna mama mikir, SMP swasta aja kayak gitu gimana kalau SMA. Tapi Oma kamu nggak mau dibantah. Oma bilang pokoknya Mama harus masuk Cakrawala."
"Jadi Mama juga nggak mau ke Cakrawala, kan?" Judith memotong segera, kasusnya dan sang mama ternyata sama.
Nadine mengangguk. "Bener." Wanita itu akhirnya menunjukkan senyumnya pada Judith. "Tapi tau nggak? Kalau Mama dikasih kesempatan muter waktu, Mama bakal tetep pilih Cakrawala."
"Kenapa?" Judith tampak penasaran kini. Ia takjub pada permasalahan serupa seperti ini.
"Karna Mama ketemu papa disana. Waktu itu Mama sama papa dihukum bareng karna telat ngumpul. Mama awalnya kesel banget sama papa, tapi karna papa kamu minta-minta buat jadi temen mama, Mama jadi mikir, kenapa enggak?"
"Judith jadi pengen deh, Mam, punya suami temen deket sendiri."
Nadine mengernyit karena Judith salah fokus. Digerakkannya tangan menuju dahi Judith, menjentik lembut disana. "Belajar dulu baru nikah! Lagian maksud mama cerita ini ke Judith bukan buat bahas cerita mama sama papa dulu. Tapi biar Judith ngerti kalau kadang, pilihan orangtua emang banyak bagusnya."
"Berarti Cakrawala banyak kenangannya dong buat mama?"
Nadine meraih bungsunya tersebut agar dapat berpelukan. "Yang paling penting buat mama, karna di Cakrawala, Mama dapetin Tante Kiya."
Judith melepaskan diri dari sang mama karena mobil harus segera berjalan. Ia tersenyum. Ikut senang dengan cerita masa lalu sang mama. Judith sendiripun jadi penasaran, seperti apa cerita mama dan papanya dulu.
Gadis itu menyandarkan punggung, lalu menghela napas. Tentulah, tentu saja masa lalu kedua orangtuanya menyenangkan. Banyak diisi oleh kebahagiaan. Judith berharap bahwa cerita putih abu-abunya dapat seperti mama.
"Dek," panggil Nadine lagi dan Judith bergumam. "Mama bisa tau apa yang Judith rasain cuma lewat liat mata Judith. Mama tau Judith sedih karna pengen banget punya temen perempuan. Mata Judith redup, buat kedua kalinya mama liat itu."
Judith mengerjapkan mata. Lalu memilih melihat ke arah jalanan berharap mamanya tidak lagi melanjutkan kalimat.
"Bahkan waktu Teteh sama Aa pamit belajar keluar negri, Mama rasa Judith nggak sesedih itu. Karna Judith tau, kalau Aa sama Teteh pasti balik lagi." Nadine diam sesaat sebelum kembali bersuara.. "Judith tau kapan pertama kali Mama liat mata redup Judith?"
Judith menggeleng, benar-benar tidak ingin tahu karena Judith sudah tahu apa jawaban yang akan diberi oleh mamanya.
"Waktu Judith ditinggalin sama Rion, dan nggak tau kapan bisa ketemu Rion lagi."
Judith menunduk, tebakannya tepat akan jawaban sang mama. Rion, satu nama yang akhirnya kembali muncul ke permukaan. Rion, laki-laki yang muncul di mimpinya terakhir kali. Rion, dan Judith tidak tahu dimana keberadaan lelaki itu hingga kini.
Rion, pahlawan puddingnya.
• s w e e b y •