Judith menatap cermin dan mencoba tersenyum lebar. Tubuhnya pasti mengenakan seragam khusus milik sekolahnya. Lalu dijangkaunya sweater berwarna hijau army dan buru-buru memakainya. Sebelum keluar kamar, Judith kembali mengecek penampilannya.
Bungsu keluarga Aldric tersebut menuruni anak tangga pelan-pelan, tangannya sibuk membalas pesan yang masuk dari Cata juga Amar. Tiga serangkai tersebut tenggelam dalam obrolan seru mereka.
Bujangan Arab: Lo kan pulang duluan, jadi nggak tau berita si barbie sekolah dilabrak.
Ustad Cata: Lagian emang salah Riana, sih. Mukanya ketebalan make up.
Judith Aluna: Ya gimana ya, hak semua cewek sih buat pakai yang begituan. Lagian kenapa sih alay banget labrak-labrakan kayak orang kampung.
Ustad Cata: Iya, cuma kan harusnya tau tempat.
Bujangan Arab: Makanya temen cewek gue lo doang, Dith. Nggak ribet, isi otaknya selalu positif dan omongannya selalu berbobot. Dan tidak pernah terkena kasus.
Judith Aluna: Oh iya dong, Sayang.
Ustad Cata: Mimpi maneh, Dith.
Judith Aluna: Sirik diem aja.
Bujangan Arab: Mimpi maneh, Dith.
Judith Aluna: Gue bunuh lo berdua!!
Judith mematikan ponselnya sembari mencebikkan bibir. Kedua temannya sama saja, mengesalkan. Judith mempercepat langkah kakinya menuju meja makan dan melihat sang mama dengan dress rumahan tengah menyiapkan sarapan. Sudah tampak lebih segar dari semalam, dan Judith sukses tersenyum senang.
"Pagi, Ibunda!" sapa Judith sambil mencuri cium dari pipi Nadine.
Nadine yang sejak tadi ditemani keheningan pagi pun sukses terlonjak dan mengernyit pada penampilan Judith. Ia kira, bungsunya tidak akan masuk sekolah hari ini.
"Judith sekolah?" tanya Nadine memastikan.
"Iya," jawab Judith sembari mengangguk, tangannya kini sibuk menjangkau sereal jagung yang belum dituangi s**u.
"Judith nggak denger kemarin di ruangan itu gurunya bilang apa?" Kini suara Nadine lebih tegas, berharap Judith paham dan mengerti. "Mau berapa kalipun Mama dipanggil ke sekolah karna Judith bikin salah, Mama nggak masalah, Dek. Mama paham Judith lagi di masa apa. Remaja. Judith butuh main, butuh hiburan, butuh orang yang bisa diisengin. Tapi Mama nggak bisa liat Judith dipermaluin."
Nadine menepukkan kedua tangannya bersamaan, membersihkan sesuatu yang mungkin masih menempel disana. Lalu perlahan, merapikan rambut Judith yang sebenarnya sudah rapi.
"Nggak apa-apa. Percaya sama Mama. Cakrawala nggak seburuk yang Judith pikirin."
Judith menunduk, menatap sereal jagungnya di dalam mangkuk putih bersih. Tidak, dia tidak bisa masuk Cakrawala. Judith harus mencoba di hari ini, mencari kesempatan agar tetap bersekolah di sekolah itu. Sejak hari ini, tidak ada Judith jahil atau apapun orang-orang menyebutnya. Hanya Judith sang malaikat berhati emas, dan memiliki sikap pendiam.
Gadis itu mendongak, menatap Nadine lalu tersenyum. "Judith nggak bisa pergi gitu aja, Mam. Judith harus kesana, buktiin kalau Judith bisa jadi anak baik."
"Bungsu mama baik, kok! Ada yang bilang Judith jahat?"
Judith mengangguk cepat. "Banyak, tapi bukan bilang Judith jahat. Mereka bilang Judith bandel."
Nadine menghela napas, lalu mencoba membalas senyum Judith. Tidak ada gunanya membantah keinginan Judith. Toh gadis itu pasti tetap melakukan apa yang ia mau.
"Makan serealnya, mama ganti baju dulu."
Senyum Judith kian lebar, buru-buru ia duduk di kursi makan dan hampir saja menumpahkan segelas s**u.
"Judith!" teriak Nadine dan Judith tersentak. "Hati-hati, dong. Nanti kalau susunya tumpah terus kena HP kamu lagi Mama udah nggak mau ganti."
"Iya-iya," cebik Judith di belakang sang mama dengan tangan memeluk ponsel ke d**a, sedang mulutnya sibuk mengutuk kebodohan lengan kanan karena sudah menyenggol gelas s**u.
• s w e e b y •
Judith melangkahkan kaki masuk sekolah. Memperhatikan setiap gedung dengan perasaan campur aduk. Entah besok ia dapat kembali ke sekolah ini atau malah mendatangi sekolah baru. Teman-teman baru, tanpa Amar maupun Cata.
Seperti biasa, Judith tengah berjalan di sepanjang koridor kelas sepuluh. Sibuk menyapa dan disapa. Ketika melihat ke arah lapangan, Judith menahan senyumnya karena teringat sesuatu. Dua minggu lalu, Judith terpaksa berdiri di depan tiang bendera karena menghilang selama pelajaran seni berlangsung. Hingga kini, seorang Judith tetap tidak bisa bersahabat dengan seni tari. Alhasil, ia memilih menghabiskan waktu di perpustakaan, untuk tidur.
Perbuatan Judith ternyata tertangkap oleh Buk Mega---guru kesiswaan. Dan segera saja ia ditarik untuk berdiri di depan tiang lalu diberikan kertas bertulis 'saya berjanji tidak akan kabur lagi ketika jam pelajaran menari'.
Judith menggeleng, walau sudah berkali-kali dijemur, Judith tetap tidak jera. Anak perempuan itu bahkan bingung dengan dirinya sendiri.
"Woi, Dith," sapa Delon ketika melihat Judith berjalan mendekati kelasnya. "Gimana kemarin di ruang BK?" Delon bertanya langsung, tidak peduli bagaimana perasaan Judith terhadap pertanyaan tersebut.
Mood Judith yang tadinya sudah lebih baik akhirnya kembali hancur. Ia menatap Delon tanpa ekspresi. Berharap tidak akan melayangkan kata-kata ketus kepada lelaki itu.
"Nggak tau gue," jawab Judith tak acuh.
"Pelit banget, cerita sedikit doang." Delon kini mendekat, menghadap Judith penasaran. "Denger-denger, kemarin ada yang liat lo duduk di tanah bareng Cata sama Amar, terus nyebut-nyebut kalau lo dikeluarin?"
"Buktinya gue disini, kok," jawab Judith berusaha tenang. Tuhan, lagipula siapa orang yang memergoki kegiatannya kemarin?
"Ye setan, sampis yang kasih informasi. Lagian masa lo dikeluarin, kan? Orang pinter gini." Delon menggerutu, membuat Judith mencibir.
"Bacod lo, ah, pagi-pagi."
Judith bergegas meninggalkan kelas 10 D. Melewati kelas 10 C, Judith memilih diam ketika siswa laki-laki disana menyapanya. Dia mempercepat langkah, menuju kelas.
Dapat dilihatnya teman-teman yang berkumpul membuat lingkaran. Sibuk membicarakan sesuatu yang tidak Judith minati sama sekali. Bagi Judith, teman-teman perempuannya tergolong ribet semua. Itu kenapa Judith tidak berniat untuk bergabung bersama mereka. Perempuan itu menghela napas, menuju bangkunya dan segera duduk disana.
"Dith, udah hapal pasal-pasal?" tanya salah satu temannya ketika melewati Judith. Tapi tanpa menunggu jawaban Judith, Amara---nama teman Judith---langsung berkumpul dengan gerombolan lain.
Alis Judith saling bertaut, memikirkan tugas yang sempat ia lupakan begitu saja. Karena memikirkan perkara kemarin, Judith jadi lupa dengan tugas kenegaraan.
"Belum ngafal lu, ya?!" Judith melempar botol mineral yang tadi diberikan mamanya sebelum keluar dari mobil ke arah Cata yang tiba-tiba nyeletuk. Beruntung, Cata menangkap botol itu sigap. Ini masih pagi, Judith malas bercanda.
"Cie, sekolah!" Amar cengengesan di depan muka Judith, bikin perempuan itu naik pitam.
"Bagong!" sentak Judith langsung.
"Kasar bener, sih." Amar akhirnya memilih diam, takut memancing amarah Judith karena ia takut perasaan Judith makin tidak karuan.
"Belum makan pisang lu, ya?" tanya Cata, Judith hanya mengedikkan bahu. Ah, dia butuh pisang.
"Kenapa sih semua orang pagi-pagi udah bacod aja? Sakit ini kuping gue!" Judith akhirnya berteriak. Membuat dua lelaki yang tadinya cengengesan berubah takut dan ngacir meninggalkan Judith.
"i***t!" umpat Judith sendirian.
• s w e e b y •
Mulut Judith komat-kamit, efek lupa menghapal pasal semalam, alhasil Judith harus menghapalnya sekarang. Satu persatu temannya sudah maju. Dan hal tersebut ikut serta membuat Judith gemas. Jika saja dia hapal, pasti dia sudah maju dan akan mendapatkan nilai sempurna.
"Eh tadi apaan? Gila gue lupa!" Judith berbicara seorang diri. Kesal dengan dirinya tak kunjung surut. Hanya pasal 27 sampai pasal 34. Walaupun pasal 28 memiliki anak dari A hingga J. Sebenarnya ini bukan perkara sulit, tapi sekarang, Judith seperti buntu.
"Gila lu pada! Bisa diem nggak, sih? Kasian yang lagi ngafal gak konsen." Judith akhirnya berteriak karena sudah terlampau geram.
Salah satu teman Judith menyahut tak kalah pedas, "Lah, kenapa lo sewot? Karna lo belum maju, ya? Eh tapi, lo kan pinter. Kita-kita ribut nggak ngaruh dong, ya?"
"t***l banget sih, lo. Lo pikir yang lagi ngafal gue doang? Banyak, tau nggak? Terus lo emang udah maju? Belum, kan? Belum maju aja belagu lo. Ngafal sana! Kalau mau cerita pakai hati aja. Suara lo jelek, napas lo juga bisa bikin polusi udara."
Perempuan yang tadi melawan Judith terdiam, diikuti keheningan yang lainnya. Guru mereka yang memang sudah berumur tidak bisa melakukan apapun selain menatap. Percuma juga berteriak menyuruh diam, anak-anak pasti menganggap perintah tersebut angin lalu. Itu kenapa dalam hati guru tersebut, ia berterima kasih pada Judith. Pedas-pedas begitu, setidaknya Judith jujur.
"Judith!" Judith menoleh secepat kilat ketika sebuah suara memanggilnya. Ibu Mega, berdiri perkasa di depan pintu. Seperti siap memangsa Judith di waktu itu juga. Judith yang dipanggil menatap datar pada guru tersebut. Tidak lagi penasaran kenapa ia dipanggil. Hanya saja, Judith sedikit takut.
"Rasain, lo!" Suara itu terdengar sempurna di telinga Judith. Membuatnya menoleh dan memberikan tatapan membunuh pada perempuan yang tadi adu bacod dengannya. Riana.
"Urusin bedak lo sana, hati-hati ntar retak."
Judith melangkah keluar kelas setelah permisi dengan gurunya. Hatinya dongkol bukan main. Judith jadi menyesal kenapa membela Riana pagi tadi dari ejekan Cata dan Amar. Jika tahu kelakuan perempuan itu banyak bacot, mungkin Judith yang akan memimpin aksi pelabrakan barbie kampung satu itu.
"Siapa yang suruh kamu masuk?" tanya Buk Mega ketika Judith berdiri di dekatnya.
Judith saling menekan bibir hingga menjadi satu garis lurus sebelum menjawab ucapan Buk Mega. "Saya pikir, saya masih punya hak buat sekolah disini. Lagipula, papa saya udah bayar uang sekolah saya buat setahun ini, kan?"
"Ke ruangan saya!" Perintah tersebut diikuti Judith dengan pasrah. Apapun, agar terus bisa sekolah disini walau hanya sampai penerimaan rapor. Setidaknya, setelah itu Judith dapat masuk ke sekolah lain selain Cakrawala. Hei, sekolah mana memangnya yang ingin menerima murid di detik-detik ketika ujian kenaikan kelas sudah semakin dekat?
Judith diam selama perjalanan menuju ruangan guru tersebut. Biasanya tidak akan seperti itu. Judith lebih sering berbicara hingga Buk Mega semakin kesal padanya.
Tapi langkah Judith tiba-tiba terhenti. Pikirannya sampai pada satu hal. Ah, akhirnya Judith mendapatkan kartu untuk menyelamatkan dirinya.
"Saya tidak dibayar untuk menunggu kamu berdiam diri disana, Judith." Judith tersentak, ditatapnya Buk Mega yang berdiri kurang lebih sepuluh langkah di depannya. Dan dengan senyum tertahan, Judith melanjutkan langkah.
Sesampainya di ruangan guru tersebut, seperti biasa, Judith duduk di sofa coklat kesayangannya. Benda-benda di dalam ruangan itu sepertinya rindu akan kehadiran Judith.
Keasikan Judith menatap sekitar terhenti sebab gurunya tersebut duduk tepat di depannya dengan map yang Judith yakini berisi berkas penting.
"Ini bukan perihal kamu sudah bayar uang sekolah atau belum," ucap Buk Mega memulai kalimat panjangnya. "Ini perihal etika dan perjanjian."
"Tapi, kenapa saya selalu aja dihukum sedangkan Ibuk tutup mata sama masalah murid-murid lain?" Judith bersuara, mulai mengeluarkan kartunya. "Contohnya kemarin, Ibuk tau kan kalau kemarin ada yang dilabrak? Tapi kenapa nggak manggil mereka terus diproses? Ngelabrak di lingkungan manapun jelas-jelas perbuatan salah. Apalagi, ngelabrak bener-bener bakal ngerugiin orang lain. Sedang saya disini, saya nggak pernah bawa orang lain buat bandel, Buk. Kalaupun saya bandel, saya sendiri yang bakalan rugi."
Buk Mega menghela napas. "Kalau kamu nggak tau apa-apa, jangan asal berbicara. Besok orangtua dari mereka yang bermasalah akan datang. Saya sudah meminta mereka datang ke ruangan saya, tapi tidak ada yang menurut."
"Berarti saya orangnya penuh tanggung jawabkan, Buk? Nggak kayak mereka yang lempar batu sembunyi tangan."
Buk Mega tersenyum tipis. "Kalau kamu tanggung jawab, maka kamu harus menepati janji kamu."
"Janji?" Judith mengerjap. "Janji gimana?"
"Kamu sendiri yang bilang kalau kamu rela dikeluarin kalau kelakuan kamu nggak bisa ditolerir lagi, iyakan? Jangan menyalahkan saya dengan hanya memakai sudut pandang kamu. Kamu pikir, kamu bisa bertahan sampai saat ini karena rasa baik hati yang dimiliki kepala sekolah? Saya yang mati-matian pertahanin kamu, Judith. Tapi kejadian ban mobil kepala sekolah yang kamu bocorkan sesuka kamu, membuat kepala sekolah sudah tidak lagi memakai hatinya. Dia bersikeras agar kamu dikeluarkan, tidak peduli ini akhir dari semester dua. Tidak peduli sebanyak apapun kemenangan yang kamu berikan pada sekolah. Kamu tetap harus menerima konsekwensinya."
Judith terdiam, menatap Buk Mega dengan pikiran campur aduk. Kesalahan Judith membuat sembarangan janji ternyata mengantarnya pada satu hal bernama penyesalan.
Judith menendang meja di depannya gemas, namun terdiam sebab Buk Mega melotot ke arahnya.
"Terus, kenapa kemarin Ibuk nggak mau nemuin orang tua saya?"
"Ada siswa lain yang harus saya proses. Murid saya bukan hanya kamu, Judith."
Judith menggigit bibir sembari berpikir. "Saya cuma mohon supaya dikasih kesempatan sampai semester ini selesai, Buk."
Buk Mega menggeleng. "Maafkan saya, Judith. Saya ingin membantu, tapi kali ini benar-benar diluar kemampuan saya." Guru tersebut menyodorkan map yang sejak tadi ia pegang kepada Judith. "Berubahlah, jadi anak baik setelah ini. Satu lagi, jangan membuat janji yang tidak bisa kamu tepati."
"Saya mohon, Buk," pinta Judith dengan mendorong kembali map tersebut agar menjauh.
Buk Mega mendekatkan lagi map tersebut, lalu bersuara. "Saya akan rindu kamu setelah ini. Pulanglah, mama kamu sudah dalam perjalanan kemari."
• s w e e b y •