Judith menatap wajah Buk Kumala dengan isi kepala yang seperti keluar dari tempatnya. Dia tidak percaya bahwa sekolah benar-benar menjalankan peraturan setegas ini. Maksudnya, dia adalah siswi pintar. Baru kelas sepuluh, tapi Judith sudah beberapa kali memberikan kemenangan di bidang akademik untuk sekolah.
"Kamu bisa kembali ke kelas kamu." Buk Kumala bersuara pada Judith setelah sebelumnya sibuk dengan mamanya.
"Tapi ini beneran nggak ada kesempatan lagi buat Judith, Buk?" Aldric bertanya, hatinya panas ingin membela Judith.
"Maaf, Pak, tapi perjanjian sudah ditanda tangani oleh guru kesiswaan dan kepala sekolah," jawab Buk Kumala. "Hari ini guru kesiswaan sedang tidak berada di tempat. Dia meminta saya untuk memproses Judith."
"Bener tuh, Buk?" Judith bersuara. "Tadi saya liat Buk Mega ada di tempat, kok. Dia minta Ibuk yang proses saya bukan karna dia males ketemu papa mama saya, kan?" Wajah Buk Kumala seketika berubah. Guru itu terdiam sebab tidak tahu harus memberi jawaban apa.
Judith akui dirinya yang nakal. Tapi menurutnya, itu masih dalam batasan dan bisa dimaklumi. Judith selalu menaati peraturan kecil yang ditetapkan oleh sekolah. Tapi untuk peraturan besar, memang Judith sering tidak acuh.
Kebiasaannya memasuki ruang BK juga sudah tersebar seantero sekolah. Bukan hal aneh lagi ketika nama Judith dipanggil dan diminta menuju ruangan itu. Semua jenis hukuman sudah pernah Judith rasakan. Terakhir kali, Judith dihukum karena memberi makan kucing-kucing di gedung belakang sekolah. Remaja itu membeli berpotong-potong daging ayam di kantin dan meminta bapak kantin mengantarnya.
Karena tidak terima, seluruh siswa seperti sepakat untuk mengadukan perbuatan Judith ke BK sebab mereka tidak mendapatkan ayam untuk makan. Memang terdengar berlebihan, Judith sendiri pun bingung kenapa ia bisa-bisanya dihukum akan perbuatan baik yang ia lakukan.
Masih banyak hal lainnya. Seperti ketika terpaksa melawan guru untuk mempertahankan argumen yang menurut Judith benar. Judith dicap pembangkang, nol etika, bahkan hanya modal otak oleh guru-guru.
Sedih? Tentu. Judith tidak pernah bermaksud memamerkan kenakalannya. Tapi sepertinya, timing ketika ia melakukan hal nyeleneh dan guru yang melihat akan selalu pas.
Judith pernah berpikir untuk pindah sekolah. Tapi yang membuatnya kesal, karena mama dan papanya lah yang menentukan kemana Judith harus pindah.
SMA Cakrawala.
"Saya permisi, Buk." Judith keluar, meninggalkan ruangan dengan mata merah. Ia hendak menangis. Hatinya sakit. Dia mencintai sekolah ini. Tapi guru-guru seakan kompak membencinya.
Jika Judith pintar, lalu kenapa?
Judith benci ketika guru mengatakan, "Ch, susah anak jaman sekarang, pinter tapi nggak tau sopan santun."
Jika Judith bisa mengontrol sikap jahilnya, mungkin dia akan tumbuh berbeda. Sikap jahil sepertinya adalah hal alamiah yang tidak bisa Judith tolak keberadaannya.
Ketika sampai di depan kelasnya, Judith buru-buru masuk dan berjalan tanpa suara menuju kursinya, mengambil tasnya lalu kembali berjalan keluar.
"Judith!" teriak Cata memanggilnya.
"Dith!" Amar mengikuti.
"Kita permisi, Buk." Cata menarik seragam Amar sebagai kode untuk segera keluar. Buk Miska yang masih menjelaskan perihal Kimia membiarkan mereka berdua. Bagaimanapun, dia paham seperti apa pertemanan ketiga muridnya tersebut. Dari sekian banyak perempuan di kelas, teman Judith tetap laki-laki.
Cata dan Amar menyusul langkah Judith di sepanjang koridor sekolah sembari terus meneriakkan namanya. Judith sendiri tetap terus berjalan dengan tangan sesekali sibuk mengusap air mata yang jatuh. Dia benci ketika keadaan seperti ini terjadi.
"Judith!" Cata berteriak lebih keras ketika mereka mendekati tempat parkir. Langkah Judith pun sukses terhenti, ia berbalik dengan mata merah menatap lurus ke arah Cata dan Amar. Tanpa berkata apa-apa, Judith berjalan cepat ke arah dua laki-laki yang sudah menemaninya sejak sekolah menengah pertama.
"Amar!" Judith berteriak histeris saat tubuhnya menubruk Amar, memeluk lelaki itu erat.
"Dith kenapa?" Cata bertanya khawatir.
"Parah, nih," ujar Amar menggeleng, sedang tangannya masih setia mengelus rambut Judith. "Sampai nangis gini dianya."
"Buk Kumala bilang apa aja, Dith?" Cata lagi-lagi bertanya, masih dengan kekhawatiran yang tidak berkurang barang sedikitpun. Sebab, Judith tidak pernah seperti ini sebelumnya. Judith jarang menangis, tidak peduli seberapa berat atau ringan sanksi yang ia peroleh, Judith pasti akan menjalaninya.
"GUE NGGAK MAU PINDAH!" Judith akhirnya berteriak histeris dalam pelukan Amar.
"Pindah gimana?!" Cata dan Amar berseru khawatir bersamaan.
"Gue nggak mau pindah! Nggak mau!"
Perlahan, Amar melepaskan pelukan mereka. Menatap wajah sembab Judith yang memerah.
"Cerita pelan-pelan, Dith." Amar menenangkan.
"Gue nggak bisa sekolah disini lagi, Cat, Mar." Judith berbicara susah payah.
"Duduk dulu, deh," ujar Cata, "cerita pelan-pelan."
Judith langsung duduk di tanah, diikuti Cata dan Amar. Kedua lelaki tersebut diam menunggu Judith berbicara.
"Masalah ban mobil itu, dan point gue udah banyak banget. Istilah kasarnya ya, gue dikeluarin dari sekolah." Judith bergetar, lagi-lagi air matanya merembes.
"Nggak mungkin!"
"Benci banget gue sama Buk Mega. Kalau mama papa nggak ada, pasti ngomongnya pedes banget ke gue. Dibilang modal otaklah, soklah, apaan banget. Terus tadi, karna mama papa disini, makanya gue dipanggil ke ruang BK. Bukan ruangannya dia." Judith kian kesal. Membayangkan setiap perlakuan Buk Mega padanya.
"Lo kayak nggak tau gimana tu guru, si," sahut Amar sambil meremas bahu Judith, berniat menenangkan.
"Tapi gue nggak mau pindah," rengek Judith sambil mengacak rambutnya hingga tidak jelas lagi bentuknya. Dan Cata dengan sigap merapikan.
"Terus besok lo masuk?" tanya Cata setelah rambut Judith terlihat lebih rapi.
Judith menggeleng, mengusap matanya, "Gue malu."
"Lah? Malu kenapa? Bego lo, kan ada kita," hardik Amar karena tidak terima Judith memilih bolos esok hari.
"Lo yang bego, Bego!" balas Judith. "Terus gimana? Nanti kalau Buk Mega datengin gue terus ngusir gue? Gue mesti ngapain?"
"Dateng dulu, Dith," ucap Cata terdengar lebih menasehati. "Lagipula kalau pindah, lo bisa kabur ke Cakrawala, kan? Cakrawala nggak mungkin nolak lo."
Judith membuang muka, malas rasanya membahas sekolah itu. "Lo tau gue nggak minat masuk sana, Cat."
"Kalau lo masuk sana, kan lo bisa bareng Niko. Dia anak Cakrawala, kan?"
Judith mengangguk. Niko, temannya sedari kecil yang rajin memberikan pisang pada Judith. Walau semenjak SMA kedekatan mereka tidak lagi seperti dulu, sebab terlampau sibuk dengan kegiatan masing-masing.
"Tapikan—" Judith menjambak rambutnya, "gue nggak mau!"
"Lagian lo pake acara bandel segala. Lo tau kalau Buk Mega bencinya gimana ke elo." Amar mencubit hidung Judith, membuat perempuan itu mencebik.
Judith menghela napas, bingung harus apa. Tapi yang jelas, dia tidak mau pindah sekolah. Apalagi sampai masuk SMA Cakrawala.
"Udah, jangan ngambek lagi. Kan masih bisa main bareng kita." Cata merangkul Judith mesra, membuat orang-orang yang akan melihat sering mengatakan dan bingung dengan siapa Judith berpacaran. Amar atau Cata. Padahal, mereka bertiga teman baik.
"Tau, kalau kenapa-napa di Cakrawala, kita yang bakalan pertama dateng." Amar, laki-laki yang kecipratan wajah Arab dari Abinya itu mengacak rambut Judith. Tersenyum manis.
"Pada ngapain kok duduk disitu?!" Nadine yang tiba-tiba datang bersama Aldric mengernyit menatap bungsunya yang terduduk di tanah.
"Tante, beneran Judith bakalan pindah?" Cata bertanya dengan raut serius, sedang Nadine hanya diam, tidak ingin membahas hal tersebut sekarang.
"Ayo, Dek," ajak Nadine sembari mengulurkan tangannya. "Tante bawa Judith pulang dulu, ya."
Judith menghela napas, menunduk dalam. Ia tahu bahwa kali ini, mamanya tengah memikul rasa kecewa yang teramat sangat.
• s w e e b y •
Suara musik dari sebuah band terkenal terdengar menghentak di dalam kamar dengan d******i warna merah jambu dan biru navy tersebut. Dan seorang gadis remaja tengah duduk di kursi belajar dengan rambut terikat acak. Walau begitu, ia sama sekali tidak terganggu dengan kencangnya musik. Kepalanya sibuk menanyakan beberapa hal yang tidak dapat terjawab dengan mudah.
Memang, apa salahnya menjadi jahil?
Gadis itu menundukkan kepala sembari mengusap wajah. Merasa kesal akan sekolah dan kedua orangtuanya. Jika saja ia boleh memilih, ia tidak akan menjadi jahil seperti sekarang. Namun sangat sulit baginya menghilangkan karunia yang satu itu.
Judith, dengan helaan napas panjang memilih berdiri. Tangannya segera memperbaiki ikatan rambut. Lalu berjalan ke kamar mandi dengan mulut mengikuti lirik lagu. Bungsu dari tiga bersaudara tersebut merasa panas walaupun kamarnya sudah bersuhu rendah.
Setelah di kamar mandi, Judith dengan cepat mendaratkan tubuhnya di atas closet. Sibuk merutuk sebal.
Rasanya, Judith ingin sekali bercerita. Namun fakta bahwa kedua saudaranya tidak lagi berada di Indonesia membuat Judith kesepian. Sebenarnya Judith dapat bercerita pada mama dan papanya. Namun sekarang, kedua orangtuanya lah akar dari rasa kesal Judith.
"Beneran, gue nggak mau masuk Cakrawala!" Judith akhirnya merengek kuat sembari menghentakkan kaki. Ia kesal. Terlampau kesal.
Tidak ingin berlarut-larut, Judith memilih segera mandi. Menyegarkan badan mungkin akan menjadi salah satu cara untuk menyegarkan pikirannya yang keruh. Karena memang benar, kepala Judith seperti digerogoti oleh banyaknya tikus yang tidak bertanggung jawab. Ah, rasanya Judith butuh tidur, namun perutnya lapar.
Kurang dari dua puluh menit, Judith selesai. Ia memilih mengenakan piyama dan setelah itu buru-buru turun ke lantai bawah, menuju dapur tepatnya.
"Papa," panggil Judith ketika melihat sang papa tengah duduk di kursi makan, tidak dilihatnya sang mama dimanapun.
"Makan dulu, Dek," ajak Aldric dan Judith memilih duduk cepat di sebelah Aldric.
"Mama dimana, Pa?" tanya Judith, melihat ke arah pintu pembatas berharap Nadine muncul darisana dan bergabung dengan mereka.
"Tidur, pusing katanya." Jawaban Aldric membuat Judith kesulitan menelan potongan buah yang baru saja ia makan. Anak perempuan itu kian tertampar sebab sadar bahwa mamanya tentu tengah menahan amarahnya karena tidak ingin meledak pada Judith. Yang Judith tahu, disaat seperti ini, mamanya lebih kerap menelepon Abirayyan---kakak pertama Judith---untuk sekedar berkeluh kesah.
"Bawa Judith ke dokter deh, Pa," ucap Judith terdengar putus asa.
Aldric mengernyit, buru-buru meletakkan telapak tangannya pada dahi Judith. "Judith sakit?"
Judith menggeleng, "Bukan gitu, Pa. Kali aja dokternya punya obat buat ngilangin jahilnya Judith."
Aldric refleks menghela napas, menggelengkan kepalanya sebab tidak paham lagi pada pola pikir bungsunya. Sementara Judith buru-buru berdiri, hendak meninggalkan dapur. "Judith ke kamar mama dulu, minta izin mau nemuin dokter."
Tiba di depan pintu kamar kedua orangtuanya, Judith memilih mengetuk. Memanggil mamanya pelan, namun tetap tidak ada jawaban.
"Ma, Judith sama papa mau ke rumah sakit dulu." Kali ini, dengan suara serak dibuat-buat, Judith mencoba membujuk mamanya. Berharap sang mama akan membuka pintu kamar dan setidaknya melihat wajah menyedihkan milik Judith.
Dan benar saja, tidak sampai lima detik, pintu kamar terbuka dan memperlihatkan Nadine dengan ekspresi tidak terbaca. Judith menatap mamanya takut-takut, lalu tertawa kecil berharap dapat mencairkan suasana.
"Mau kemana tadi?" tanya Nadine tidak bernada.
"Rumah sakit," jawab Judith dengan ekspresi polos.
"Ngapain?!"
"Minta obat buat ngilangin bandelnya Judith."
Nadine terdiam, lalu menghela napas panjang dan mengusap wajahnya. "Lama-lama mama tua karna kamu, Dek!"
Sementara Judith hanya menanggapi dengan tawa garing, ciri khasnya.
• s w e e b y •