"Oh, jadi kamu ya bosnya?!" tantang Devan seraya berjalan mendekat ke arah Rafael. Tapi, Rafael terlihat begitu tenang menghadapi lelaki di depannya tampak dikuasai emosi yang meluap-luap. Mata Devan melotot, rahangnya mengeras, otot lehernya kaku, dan urat-urat di dahinya membesar. Persis seperti preman pasar yang sedang berusaha mengintimidasi target. "Benar sekali," Rafael mengangguk bersama sesungging senyum ramah. "Ini!" Devan melemparkan gaun yang dibawanya ke muka Rafael. Rafael masih bisa mengulas senyum, meski dalam hati ia ingin sekali meninju wajah lelaki gila di depannya. "Pak yang sopan ya!" Hana maju beberapa langkah, tapi langsung dihentikan Rafael dengan menggunakan isyarat tangan. "Maaf, bisa anda jelaskan apa yang membuat anda ingin mengembalikan barang kami?" W

