Cahaya pagi yang hangat, jatuh tepat di wajah Alana. Karena silau, gadis itupun terbangun dari tidur lelapnya. Ia mengucek mata, lalu meregangkan otot-otot tubuhnya untuk melancarkan aliran darah. "Aaaa...." Gadis itu menguap, namun seketika mulutnya yang menganga berhenti menguap, karena ia terkejut. Dia terkejut dengan posisi tidurnya yang berubah, ia masih sangat ingat kalau semalam ia tidur di sofa, bukan di atas ranjang besar dan empuk ini! "Apa semalam aku mimpi dan pindah kesini?" batinnya. Tidak mungkin, lagipula setiap tidur prostesisnya dilepas, tak mungkin ia bermimpi memakai prostesis dan berpindah dalam keadaan tidur. Gadis itu kemudian mengangkat selimut yang menutupi tubuhnya, matanya memicing, mengintip ke dalam selimut, memastikan bahwa bagian bawah tubuhnya masih mem

