***
Aku bangun dengan semangat, setelah menghabiskan weekend dengan hal yang sama sekali tidak bermanfaat, hari ini senin dan tidak ada yang lebih menyenangkan mengingat nanti malam adalah kegiatan kemah peduli lingkungan. Meskipun aku hanya akan ikut dari jam 8 malam hingga jam 11 malam tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Leonel masih tertidur. Dengan cepat aku bergegas menuju kamar mandi, membersihkan diriku dan segera menyiapkan segala perlengkapan kuliahku hari ini. Aku membuat beberapa desain pakaian. Sebenarnya hanya asal coret saja, tapi dengan nama Leonel gambar tanpa konsepku bisa bernilai jutaan. Semua hal kecil akan menjadi besar untuk mereka yang memiliki nama besar. Dan aku hanya menumpang.
Lantas bergegas menuju dapur besar milik Leonel_tidak ada apapun disini yang menjadi milikku!_ menyiapkan segelas kopi dan strobery milkshake, beberapa makanan ringan dan nasigoreng, lantas membawanya kekamar. Mulai hari ini setidaknya aku harus menjalankan kewajibanku sebagai istri. Sunguh ini membuatku tertawa lucu ketika mengingat aku bahkan tidak pernah membuatkan minuman untuknya dan hari ini aku membuatkannya makanan juga minuman. Dia nanti pasti akan berfikir jika aku kesurupan. Anggap saja aku mendapatkan hidayah.
Aku menyusunnya diatas meja dan bergegas menuju ruang ganti untuk menyiapkan pakaiannya. Menyalakan air dan mengisi bathup dengan air hangat, memberikan sabun dengan aroma mint, lantas segera kembali kekamar untuk membangunkan suami iblisku. Iya, tentu aku masih menganggapnya iblis.
" Selamat pagi," kataku seraya tersenyum manis. Kukecup singkat pipinya sebelum kusibak selimut dan menarik tangganya agar bangun. Reaksi pertamanya tentu saja terkejut. Dia bangkit dan mengenakan jubahnya, lantas kembali terkejut melihat meja yang sudah tersusun makanan dengan baik.
" Mandilah, aku sudah menyiapkan airnya. Setelahnya mari kita sarapan" kataku. Aku menaruh laptopku diatas ranjang, dia masih diam menatapku binggung. Oh ayolah aku tidak kesurupan jin, aku hanya sedang mendapatkan hidayah. Atau memang sebenarnya aku sedang kesurupan!
" Cepatlah, kopimu akan dingin nanti" kataku terburu.
" Ada yang kau inginkan honey? Sesuatu mungkin sehingga kau bersikap... sedikit membuatku terkejut sayang, tapi aku suka" katanya manis. Aku memutar bola mataku.
" Anggap saja aku sedang kerasukan jin, cepatlah aku akan terlambat kuliah nanti. Aku memiliki jam pagi!" Kataku. Dia tersenyum lantas bergegas menuju kamar mandi.
Setelahnya dia keluar dengan senyum merekah dan tentu saja aroma mint serta pakaian yang kusiapkan. Sudah kubilang aku tahu seperti apa pakaian yang terlihat keren untuknya. Sebenarnya semua pakaian akan terlihat berkelas jika digunakan orang berkelas.
" Kau yang membuat makanannya honey?" Tanyanya. Aku menganguk.
" memangnya kokimu bisa membuat nasi goreng sepertiku?" Kataku mencoba sombong. Kokinya bahkan lebih hebat dan lebih mahir dari diriku yang awam dalam memasak. Aku tertawa mengingat mungkin saja koki hebatnya akan tertawa dengan masakanku.
" Kau sedang tidak mencoba meracuniku kan honey?" Tanyanya. Aku mendecak kesal. Dia selalu saja membuat semua moodku jadi berantakan. Aku menyendok sesuap nasi dari piringnya dan memasukan kemulutku. Mengunyahnya dengan kasar lalu menelanya.
" Lihat, aku baik-baik saja. Dan sepertinya kau kebal racun?" Kataku. Aku melanjutkan makanku dan nasi gorengku rasanya tidak terlalu buruk.
" kau tidak perlu melakukannya honey, bahkan sekalipun itu beracun aku akan memakannya. Tapi, kau juga tidak perlu melakukan seperti ini jika kau menginginkan sesuatu. Katakan saja apa yang kau inginkan aku akan membuatnya menjadi nyata" kata Leonel seraya memakan nasi goreng buatanku. Aku hanya menatapnya sebelum kemudian bangkit berdiri. Mencium pipinya cepat dan segera berlari menuju bawah menemui Darius.
" Tidak ada apapun yang kuingginkan. Sampai nanti" kataku seraya berteriak dan menutup pintu kamar.
" Selamat pagi Nyonya," sapa Darius. Aku menepuk bahu Darius dan berlalu pergi darinya. Darius mengikutiku sementara dapat kulihat Leonel berdiri di balkon ketika aku hendak masuk mobil.
See you in the night...
Dia membuka mulutnya tanpa suara. Aku hanya melambaikan tangganku kearahnya seperti seorang anak kecil kepada ayahnya.
" Sepertinya anda terlihat sanggat bahagia Nyonya?" Tanya Darius. Aku menganguk lantas memberikan sekotak desert lucu yang kuambil dari dapur tadi. Rencananya desert itu akan kuberikan pada Bea tapi Darius berhak juga mendapatkannya.
" Bea!" Teriakku begitu melihat gadis itu berjalan entah menuju kemana. Secepat kilat aku membuka pintu mobil, Bea tentu tidak dapat mendengarkan diriku berteriak karena aku masih didalam mobil dan kami baru saja sampai di universiti. Dengan semangat aku berlari kearahnya.
" Aku mendapatkan izin dari Leonel!" Pekikku senang. Bea membelalakan matanya. Dia lantas berbisik.
" Kau sunguh t*******g didepannya dan menari e****s tadi malam?" Tanyanya. Aku memukul lengannya. Yang benar saja? Oh s**t aku lupa semalam aku memang t*******g didepannya.
" Bea!" Teriakku frustasi.
" Apa yang kau lakukan sehingga dia mengizinkan?" Tanyanya penasaran.
" Aku melakukan apa yang kau suruh seperti menyiapkan sarapan, pakaian, dan yang lain" kataku berbohong. Tidak sepenuhnya berbohong, Bea akan menertawakanku jika dia tahu aku diizinkan mengikuti kegiatan itu dengan syarat aku harus memangilnya sayang.
" Kau tidak pandai berbohong Syi! Sunguh kau terlihat sedang berbohong. Seperti ketika kau memakan 10 kotak permen dan kau hanya berkata bahwa kau memakan 2 saja. Itu terlalu ketara!"
" Oh ayolah, yang terpenting aku mendapatkan izin" kataku senang. Bea tertawa. Kami berjalan menuju kelas.
Pelajaran hari ini berjalan dengan lancar, aku sudah mulai terbiasa dengan segala hal gila mahasiswa tempat ini yang mana sanggat gila dengan buku dan ilmu pengetahuan. Merangkum semua hal penting, mengerjakan tugas dan hal lainnya.
Siang harinya Bea masih ada kelas dan aku sudah tidak ada. Tapi pulang tidak ada apapun yang menarik jadi aku memutuskan untuk menunggu Bea ditaman universitas. Melihat banyak pelajar lalu lalang.
Aku memakan beberapa cookies dengan Darius. Sambil mengomentari beberapa hal
Yang tidak perlu.
" Apa kau tidak cuti? Apa kau tidak merindukan keluargamu?" Tanyaku pada Darius. Darius mengeleng pelan dan dia bercerita jika dia mendapatkan cuti 3 kali selama satu bulan.
Aku menganguk dan Darius bercerita tentang keluarganya. Ada Alex yang sekarang usianya sama denganku dan sedang kuliah di kedokteran, Rosie yang masih duduk di senior high school, si kembar Daya dan Deya yang masih duduk di Tk. Mereka anak-anak yang manis.
Dan dari Darius aku tahu jika usianya masih 38, dia mengabdosi mereka dari panti.
" Apa Bea masih lama?" Tanyaku mulai bosan.
" jika tidak salah, setengah jam lagi Nyonya"
" Aku mau kekamar mandi, kau mau ikut Darius?" Tanyaku lagi. Aku sudah gila! Darius tersenyum lantas berdiri.
" Aku akan menunggu di depan kamar mandi selama anda didalam Nyonya, perlukah saya mengosongkan kamar mandi?"
" Tidak perlu. Aku ingin sebuah kehidupan yang normal."
Aku bergegas masuk kekamar mandi, ada beberapa perempuan disana. Lantas segera masuk kesalah satu ruangan dan melakukan apa yang ingin kulakukan, perutku terasa mulas.
" Ya, dan kau tidak tahu bahwa wanita bisa saja menjadi gila hanya agar dia mendapatkan yang namanya kehidupan sosialita. Jika kau punya pacar maka kau harus sesekali mengecek pacarmu. Kau tahu primadona kampus kita? Dia putus dengan jhonson karena Jhonson berselingkuh ditempat kerja!" Kata seseorang diluar. Ah, perempuan darimanapun tidak jauh dari gosip.
" Yang benar saja? Kate terlihat sempurna! Jhonson sudah gila!" Aku meruntuki diriku sendiri, bahkan aku tidak tahu siapa Kate yang menjadi primadona kampus ini. Rasanya menyenangkan saja mendengar topik normal seperti ini.
" Kurasa tidak, zaman sekarang bahkan lelaki beristripun akan kepincut dengan mereka yang lebih muda. Daun muda lebih segar bukan? Hei, kalian tahu bahkan sepupuku menjadi simpanan dan wanita pangilan dari CEO grup ternama!"
" Kau sudah gila?" Kata salah satu dari mereka aku masih asik mendengarkan mereka dari dalam bilik.
" Bukan aku yang gila tapi dia, tubuh dan wajahnya memang cantik sih tapi dia benar-benar b***t. Bahkan lelaki itu sudah memiliki istri dan yang aku dengar istrinya kuliah disini,"
" Yang benar saja? Siapa nama sepupumu Cla?"
" Stefani Alberta! Dia cantik sih, tapi entahlah. Ada gosip bahwa memang dialah yang dijodohkan untuk lelaki kaya itu tapi ada gosip juga bahwa dia yang menjadi simpanan lelaki itu. Entahlah, aku tidak tahu pasti yang jelas lelaki itu tampan dan sanggat kaya raya." Aku mulai tertarik dengan pembicaraan mereka. Ini menarik perhatianku. Dahiku mengeryit terkejut ketika gosip yang mereka bicarakan mirip dengan diriku dan Alberta. Bukankah Leonel dahulu memang dijodohkan dengan Alberta? Tapi tidak mungkin juga mereka mengenalku bukan?
" Jika lelaki itu sudah beristri dimana mereka akan bertemu coba?"
" Clara, kau terlalu munafik, lelaki kaya seperti dirinya yang juga CEO sebuah perusahaan ternama tentulah memiliki banyak rumah megah, atau bahkan sebuah rumah di ruang kerjanya. Seperti film-film itu"
" Arghhh, aku juga ingin menjadi simpanan lelaki kaya kalau begitu. Bukankah dengan begitu barang-barang branded akan mudah kita dapatkan?"
Sudah cukup, aku sudah terlalu lama dikamar mandi, Darius pasti menungguku dan beberapa menit lagi Bea akan keluar dari kelas. Aku keluar dari bilik, melihat sekilas siapa mereka yang bergosip dan aku tidak kenal satupun dari mereka. Aku lupa jika temanku hanya Bea saja.
Ketika aku keluar benar saja, Darius sudah mulai khawatir terhadapku. Aku tersenyum padanya lantas segera kembali ke taman karena ditempat itulah aku dan Bea berjanji akan bertemu.
" Anda tidak enak badan Nyonya?" Tanya Darius. Aku menggeleng lantas kembali duduk ditaman.
" Darius siapa nama lengkap Alberta?" Tanyaku penasaran. Hanya penasaran saja.
" Stefani Alberta, untuk nama belakang kalau saya tidak salah Jhon Nyonya."
Kebetulan atau memang benar seperti yang digosipkan? Aku menaikan bahuku acuh. Mungkin hanya gosip.