Kami masih diam, hanya suara nafas kami yang terdengar, bahkan tidak ada suara jangkrik. Benar-benar keheningan yang mencekam hingga beberapa jam kemudian suara seseorang yang sangat kami kenal menghentakan lamunan kami. Itu suara Ryu juga Darius. Ada Ronald juga diantara mereka.
Ryu bergegas menghampiri Leonel dan dia segera memeriksa tubuh Leonel sementara Nora dan Darius dengn cepat berlari kearahku dan memastikan bahwa diriku baik-baik saja.
" Nel, siapa?" Tanya Ryu. Leonel mengeleng pelan tanda dia juga tidak tahu tapi sejurus kemudian dia menyerahkan sebuah pin dengan lambang naga. Leonel mengerakan lenganya yang sudah terbalut dengan perban. Nora masih memeriksaku yang jelas-jelas aku baik-baik saja dan Nora bertindak sedikit berlebihan kurasa.
Kami kembali ke mansion dengan Darius dan Ryu satu mobil. Darius menyetir sementara Ryu memeriksa laptopnya.
Aku merebahkan tubuhku disandaran kursi sejenak sebelum kemudian tanpa aba-aba aku jatuh kedalam mimpiku.
***
Kejadian waktu ditaman bermain berlalu begitu saja. Hampir sebulan kemudian kehidupanku berjalan normal. Meskipun kalian tahu normal yang kumaksud bukanlah normal pada umumnya.
Darius masih membuntutiku kemanapun dan kapanpun, memang ada jarak diantara kami tapi tetap saja masih membuat beberapa temanku engan untuk mendekat.
Aku memotong potongan kentang goreng terakhirku dengan menatap sebal kearah Darius. Pria itu duduk tepat didepanku dengan menu yang sama dan pandangan yang sama datarnya ketika kami pertama bertemu dahulu. Bea, teman baru yang kudapatkan di acara pembukaan seni 2 minggu yang lalu, dia menatapku dan menatap Darius sedikit tidak nyaman.
" Maafkan aku Bea, sungguh aku benci suamiku!" Kataku padanya. Darius tentu tidak akan menempel begitu erat padaku jika bukan perintah dari Leonel bukan?
" Oh ayolah, kau sangat beruntung mendapatkan suami CEO yang masih muda dan tampan. Seorang bodyguard sepanjang hari juga sangat keren_"
" Kau mengangapnya keren? Bagaimana kalau kita bertukar?" Kataku kesal. Bea tertawa lucu sebelum kemudian membalas ucapanku.
" Aku mau saja bertukar tapi rasanya suamimu tidak akan mau bertukar denganku. Oh iya, Mr. Darius aku izin bertanya padamu, lusa akan diadakan kemah peduli lingkungan dan aku sanggat ingin mengajak Arsyi untuk bergabung dengan kegiatan itu. Ada acara amal juga dan acara dilaksanakan hanya semalam. Apakah anda mengizinkan?" Tanya Bea gugup. Tapi kuakui dari sekian banyak temanku yang berhasil kukenal hanya dia yang tidak pergi jauh setelah mengetahui siapa diriku. Bahkan dia terlihat tidak begitu masalah dengan Darius dan statusku. Aku bersyukur bisa mengenalnya.
" Kurasa_"
" Yah aku tahu akan meminta izin leonel nanti!" Kataku memotong cepat ucapan Darius. Darius tersenyum lantas memakan makanannya.
" Seriusan? Apakah kau akan diizinkan?" Tanya Bea. Dia memandangku prihatin.
" Diizinkan? Oh ayolah mungkin aku bisa t*******g didepannya agar dia mengizinkanku mengikuti kegiatan itu. Atau aku bisa menari se-e****s seperti di film-film dewasa itu agar dia memperbolehkanku sekedar belanja dengan temanku! Berdoalah untukku Bea!"
Bea tertawa mendengar perkataanku, lantas melempar sedikit remahan kentang ke piringku. Dia masih terus tertawa sebelum kalimat masuk akal yang terdengar tidak masuk akal dia lontarkan.
" Hei, kau t*******g didepannya itu juga sudah merupakan kewajiban bukan? Ingat kau seorang istri! Tugasmu bukan hanya menyiapkan sarapan dan menyiapkan apa yang akan dia gunakan dipagi hari," goda Bea. Aku semakin frustasi.
" Arghhh, aku ingin kembali ke negara asalku!"
" Itu jauh dari topik, Arsyi!"
Siangnya aku memaksa Darius untuk menemaniku dan Bea ke sebuah pusat perbelanjaan setelah dengan gamblang tidak memperdulikan peringatan Darius tentang meminta izin ke Leonel. Tidak ada barang yang ingin kubeli tapi aku bosan jika harus segera pulang setelah kuliah. Darius menganguk setuju, lebih tepatnya menganguk karena dia tidak memiliki pilihan lain selain menempel padaku.
Kami memasuki toko demi toko dan keluar tanpa barang apapun. Tidak ada yang menarik. Bea terus mengeluh ketika kami memasuki toko demi toko tanpa membeli apapun.
" Baiklah, ini yang terakhir! Jika kau tidak membeli apapun aku lebih baik duduk di bangku itu dan menunggumu memasuki semua toko di pusat perbelanjaan ini!" Kata Bea kesal. Aku mendecak sebal sebelum kemudian membeli sebuah topi dan gantungan kunci.
Aku membelikan Bea sebuah gaun dan tas yang secara langsung dia tolak mentah-mentah.
" Arsyi! Aku tidak butuh itu dan aku tidak mau jika seseorang berfikir jika aku berteman denganmu karena alasan uang. Oke? Tapi alih-alih memberiku gaun dan tas mahal aku lebih bersyukur jika kau membelikanku sebuah negara atau perusahaan." Katanya seraya terkikik geli.
" Memangnya apa alasan dirimu mau berteman denganku Bea?" Tanyaku penasaran. Bea berjalan mendekatiku dan berbisik kearahku.
" Kau terlihat tertekan dan aku kasihan!" Katanya seraya terkikik. Aku memberengut kesal! Tapi yang dia katakan benar, sebenarnya aku tertekan.
Malamnya kami memutuskan untuk makan disalah satu restaurant indonesia. Aku mencoba memperkenalkan makanan Indonesia kepada Bea dan dari semua jenis makanan yang kupilih hanya 2 yang cocok dilidah Bea. Sate juga gado-gado.
Darius masih setia menemani kami, dia seperti sebuah patung yang keberadaanya mencoba kuangap tidak ada tapi tidak bisa.
Setelah mengantar Bea pulang keapartmenya kami bergegas pulang. Darius menyetir mobil dengan cepat, karena sebenarnya jam sudah menujukan pukul 11 malam. Leonel suka uring-uringan jika aku pulang terlambat atau ketika dia pulang dan aku tidak ada dirumah. Ayolah lagi pula besok hari libur.
Aku berjalan pelan dan malas menuju kediaman mewah tempat leonel menampungku. Dan benar saja Leonel sudah duduk dikursi megahnya dengan wajah merah dan kecut memandangku.
" Darimana?" Tanyanya. Aku memberengut kesal.
" Bukankah aku sudah bilang bahwa aku pergi dengan Bea!" Kataku. Aku sudah gila? Aku bahkan tidak mengirimkan pesan apapun padanya hari ini. Dia bangkit berdiri dan tanpa aba-aba menyeretku kekamar bawah. Aku pasrah.
Begitu pintu tertutup dia dengan cepat berbalik dan melumat bibirku cepat. Aku hanya diam, mengikuti kemana inginnya lelaki didepanku. Selalu saja dia tidak memberiku kesempatan untuk bernafas. Rasanya oksigenku benar-benar sudah habis tapi dia masih terus melumat bibirku dan mengabsen segala sesuatu di rongga mulutku. Aku memukul dadanya sedikit keras dan mendorong tubuhnya menjauh. Kuhirup oksigen sebanyak-banyaknya begitu tautan kami terlepas.
" Siapa Bea?" Tanyanya. Dia terkekeh pelan begitu melihatku kehabisan nafas.
" Gadis yang beberapa hari lalu kuceritakan denganmu. Bukankah Darius selalu melapor segala aktifitas yang kulakukan?" Kataku. Aku berjalan menjauh darinya. Tubuhku lelah dan aku ingin mandi.
" Mendengar langsung darimu lebih menyenangkan daripada menerima laporan Darius. Honey, jangan mudah percaya dengan orang asing. Oke?"
" Siapa sih yang asing?" Kataku sewot. Aku bergegas menuju kamar mandi, dan sebelum dia mengikuti ku masuk kedalam kamar mandi, aku terlebih dulu menutup pintunya. Kudengar dia mendesah kecewa. Biarkan saja.
Aku memutuskan berendam, belum selesai aku menanggalkan semua pakaianku Leonel sudah masuk dan juga bersiap menanggalkan pakaianya.
" LEONEL!" teriakku frustasi. Dia tersenyum lantas tanpa aba-aba membawaku kedalam guyuran air hangat. Melumat bibirku pelan sebelum kemudian meraih shampo dan mulai membersihkan rambutku. Jangan tanya bagaimana dia bisa masuk padahal kamar mandi sudah kukunci, dia raja di rumah ini.
" Aku menyukai bagian ini, mandi bersama bisa memberikan ketenangan honey,"
Aku tersenyum pelan. Ketenangan? Sudah hampir satu bulan keadaan baik-baik saja dan berjalan normal. Setidaknya aku tidak mendengar seseorang disiksa atau seseorang yang menodong maupun tertodong s*****a. Aku memeluk pinggang leonel, pingang kokoh, bentuk tubuh yang sempurna dan otot yang terlatih. Kutatap wajah manusia iblis yang sekarang sudah sah menjadi suamiku.
" Akan lebih tenang jika kau mau membuat Darius berada setidaknya 20m dariku," kataku seraya tertawa. Aku tahu permohonanku ini sia-sia.
" Kita sudah sepakat honey" dia mencium pipiku, lantas membilas rambutku. Aku seperti anak kecil yang sedang dimandikan ayahnya.
" Leonel, bolehkan aku mengikuti kegiatan kampus lusa. Hanya satu malam. Dan_"
" Apakah kegiatan itu wajib?" Potong Leonel cepat. Aku mengeleng pelan.
" Kalau begitu tidak boleh!" Katanya lagi.
" Leonel, tapi aku ingin! Lagian ada Darius, juga Bea. Boleh iya?"
" Dengan syarat,"
" Syarat lagi? Apapun yang aku minta harus dengan syarat sementara kamu selalu memaksakan kehendakmu ke diriku! Baiklah apa syaratnya?" Tanyaku frustasi.
" Setelah ini!"
" Syarat lagi? Apapun yang aku minta harus dengan syarat sementara kamu selalu memaksakan kehendakmu ke diriku! Baiklah apa syaratnya?" Tanyaku frustasi.
" Setelah ini!"
Aku terkejut ketika kemudian tanpa aba-aba Leonel membawaku ke bathup, kami sudah sama-sama tanpa pakaian. Dia melumat bibirku cepat sebelum kemudian dengan bibir dan lidahnya menyusuri setiap lekuk tubuhku. Aku mendesah pelan. Sungguh rasa yang berbeda.
Dia terus bermain dengan tubuhku sebelum akhirnya setelah waktu yang cukup lama tubuh kami saling menyatu. Aku terengah hebat dengan permainanya. Selalu seperti ini, aku mengeliatkan tubuhku ketika dirinya mulai bergerak dalam diriku. Perasaan menuntut dan ingin lebih, perasaan yang sulit untuk dijelaskan. Hanya perlu dinikmati saja sebenarnya.
" Leonel hentikan, aku mau sampai..." kataku sedikit terengah. Bukannya berhenti Leonel justru menaikan ritme gerakannya.
Aku memekik pelan, takut jika seseorang mendengar segala desah laknat dan pekikan nikmat ini.
" Kalau begitu bebaskan honey,"
" Arghh.. emmm... leonel..." aku sampai. Tubuhku lemas. Begitu juga dengan Leonel. Kami saling terengah hebat. Aku melirik jam didinding. Satu jam? Ini gila!
" kau membuatku kecanduan setiap hari sayang. Dan ini menyenangkan" katanya seraya melumat bibirku. Aku memberengut kesal.
" Dan kau membuatku bangun dengan tubuh yang lelah serta remuk karena pelepasan gila dan permainan ini. Kembali ke topik, apa syaratnya?" Leonel tertawa. Tentu saja aku harus memanfaatkan segala bentuk kemungkinan dan peluang yang kecil ini.
" pangil aku dengan kata sayang!"
Aku melonggo mendengarnya. Yang benar saja? Itu terlalu kekanak-kanakan. Dan memangilnya dengan sebutan sayang terasa mengelikan.
" Syarat yang lain?" Tanyaku. Jikalau saja dia memiliki sebuah alternatif yang lebih masuk akal.
" Tidak ada, dan jika kau gagal memangilku dengan kata itu atau kau lupa memangilku dengan kata itu, batas dimaafkan hanya 3 kali. Selebihnya kau tidak boleh ikut,"
" Leonel ini terlalu kekanak-kanakan! Aku tidak mau!"
" Satu kali honey, kesempatanmu hanya tersisa 2 kali lagi" katanya seraya bangkit berdiri. Dia membilas tubuhnya di shower. Aku memdesah pasrah.
" Baiklah sayang, setuju!" Kataku akhirnya. Selalu saja aku yang mengalah, atau lebih tepatnya kalah!
***