Episode 18

2328 Kata
Pesta ini bukan pesta seperti waktu itu, memang banyak alkohol tapi ditempat ini lebih banyak didominasi oleh orang seumuranku. Aku berjalan pelan menuju kedalam pesta dengan leonel. Dan seorang perempuan tua datang menyambut kami. " Selamat datang Tuan, silahkan menikmati pestanya. Cindy pasti sangat senang dengan kehadiran anda Tuan." " Bibi jangan sungkan. Bagaimanapun aku senang bisa hadir disini" kata Leonel. Bibi itu bahkan tidak melihat kearahku. " Ah, temuilah Cindy sayang, dia pasti bahagia. Nona mari saya akan membawa anda masuk kedalam sementara leonel menemui Cindy" katanya seraya memandangku. Apa hanya perasaanku tapi dia terlihat tidak menyukaiku. " Tidak bibi, Arsy akan tetap bersamaku sementara aku menemui Cindy. Aku pamit dulu bibi" Leonel mengegam tanganku dan membawaku pergi dari depan perempuan itu. Dia terus membawaku naik keatas. Kesebuah ruangan yang sudah disulap begitu indah. Kamar cindy kurasa. " Kakak, aku merindu... dia siapa kak?" Gadis dengan gaun putih yang memepesona itu hampir saja berlari memeluk Leonel, dan leonel menghentikannya dengan merangkul pingangku. " Istriku, selamat ulang tahun, Cindy" katanya. " Istri? " wajah terkejutnya terlihat jelas. " Bukankah kau dan kak Ana saling mencintai? " " Ana? Tidak. Kau salah sangka. Aku tidak mencintai kakakmu dan kakakmu sudah memiliki pacar. Lagipula jauh sebelum aku bertemu kakakmu aku sudah menikah" kata leonel terlihat tenang. Ana? Dilihat wajahnya dia mirip dengan ana perempuan yang kutemui waktu diparis. Benarkah dia adik ana? " Hello selamat ulang tahun. Semoga apa yang kau inginkan tercapai" kataku seraya menyerahkan bingkisan yang tidak kupersiapkan. Leonel menyiapkannya untukku dan dia menyerahkannya dimobil. Orang kaya memang berbeda, hadiah yang diberikan Leonel adalah tiket berlibur ke Jepang. Lengkap dengan segala akomondasinya. " Terimakasih, kau tidak perlu repot-repot juga sebenrnya dan aku juga tidak butuh kado darimu" katanya sinis. " OH, ayolah aku bahkan tidak memiliki uang untuk memberimu hadiah seperti itu jadi jangan berfikir aku yang memiliki ide itu. Jika aku memiliki banyak uang lebih baik kubuat investasi saja bukan menghabur-hamburkan untuk sesuatu yang tidak penting. Jadi berterimakasihlah kepada Leonel!" Kataku tenang. Walaupun apa yang kukatakan boleh dibilang kasar. Leonel menahan tawanya. " Bukan kah kau pacar lelaki tua itu? Dia memang tampan sih tapi bagaimana kau bisa menjadi istri kak leonel, apa kau berselingkuh? Upss, maaf aku bukan berniat membongkar aip mu" katanya lagi. Aku mendesah kecewa. Pacar lelaki tua? Darius? " Sudah kubilang bukan, Darius yang kau siapkan terlalu menempel denganku hingga orang mengira dia pacarku!" Gerutuku sebal ke Leonel. " Dia melakukan hal yang benar honey" " Kau tidak takut aku memacari Darius? Lagian juga dia lebih tua darimu tapi tidak kalah tampan!" Godaku ke leonel. Dia terkekeh pelan. " Darius tidak akan mau denganmu honey, percayalan bahkan sekalipun kau t*******g ddidepannya. Kuberitahu rahasia sayang, dia guy!" Katanya seraya berbisik. Aku terkejut bukan main. Yang benar saja? " Kakak, pestanya akan segera mulai ayo turun." Ajak Cindy. Aku mengikuti leonel. Dan diotakku masih menari-nari dengan jelas perkataan dari Leonel bahwa Darius itu Gay? Dunia sudah gila! Pesta ini berlangsung cukup megah dan epik. Susunan acara yang sempurna bahkan ada pesta dansa. Cindy menolak beberapa orang yang menghampirinya untuk berdansa dan dia terus mencuri pandang ke Leonel. Dia fikir leonel akan mengajaknya berdansa? Aku melingkarkan tanganku ke pinggang leonel persis seperti bocah berumur 10 tahun ke ayahnya dengan sangat protektif. Dia milikku b***h! Tatapan mataku seolah mengatakan kalimat itu. Aku memandang ke Cindy seraya mengejekknya. Leonel hanya mengelus pelan rambutku seraya memeluk bahuku. Ratusan pasang mata memandang kami, aku tidak perduli! Yang jelas dia pria iblisku! Tiba-tiba seorang anak yang mungkin berumur 18 tahun menghampiriku. Dia mendekat dengan takut dan menatapku serta Leonel. Wajahnya benar-benar menujukan ketakutan. " Ada apa? " tanya Ryu. Anak laki-laki itu terkejut lalu berjalan pelan menuju Ryu. Wajah Ryu memang tidak sedingin Leonel, dia terlihat lebih ramah tapi kalian belum melihat wajah marahnya dan itu menakutkan. Kulihat anak itu berbisik pelan kearah Ryu dan sejurus kemudian Ryu berkata sedikit keras. " Tidak boleh!" " Kumohon, mereka akan membakar mobilku dan itu bukan mobilku tapi mobil ayahku. Kumohon tuan!" " Aku bilang tidak tetap tidak!" Timpal Ryu santai. " Anak-anak itu akan memukuliku. Tuan lihat mereka masih menatapku seperti itu tuan. Saya benar-benar mohon bahkan sekalipun saya harus berlutut akan saya lakukan tuan" " Kau keras kepala sekali anak muda, sudah kubilang__" " Ada apa Ryu?" Tanya Leonel. Ryu mendesah pelan. " Dia bertanya apakah dia bisa mengajak Arsy berdansa?" " TIDAK!" " Boleh! Aku ingin berdansa dengannya!" Kataku semangat! Dia bisa menjadi temanku. " Tidak !" Timpal lenoel ketus. " Aku tidak rela!" Katanya lagi. " Bagaimana jika nanti malam aku mengenakan pakaian yang kau hadiahkan untukku minggu lalu Tuan?" Aku berbisik ke leonel seraya mengodanya. " Damn girl! Baiklah, 10 menit tidak kurang!" Kata leonel lagi. Aku menang? Aku bahkan terkejut ketika dia mengizinkan. Secepat kilat aku mencium pipinya dan meraih tanggan pemuda itu. Leonel mengeram marah ketika melihatku meraih tanggan dan mengandeng tanggan pemuda itu, ayolah ini menyenangkan. Aku membawa anak itu ke lantai dansa, tangganya berkeringat dan suhu tubuhnya dingin. " Baiklah, rileks kan dirimu dan kita berdansa karena waktu kita hanya 10 menit. Siapa namamu?" Tanyaku ketika kami mulai berdansa pelan. " Namaku Jack nona, maafkan atas kelancangan saya tapi..." " Tidak apa, kau kuliah? Jurusan apa? Usiamu berapa?" Tanyaku lagi. Aku benar-benar senang karena ini pertama kalinya aku berkomunikasi dengan orang luar. " Iya saya kuliah dijurusan management bisnis dan usia saya 20 Nona, anda suami tuan Leonel kah?" " Suami? Aku istrinya. Apa dia terlihat seperti perempuan dan aku seperti laki-laki? " aku terkekeh geli. Jack segera mengeleng cepat dan meminta maaf. " Maaf, saya terlalu gugup nona, maaf" " Tidak apa Jcak. Senang berkenalan denganmu. Oh iya namaku Arsy. Aku dijurusan desain, atau entah namanya itu apa tapi aku berada dijurusan desain. Kita sama universiti. Dan__" " Tuan jack, boleh saya meminta istri saya kembali?" Tanya leonel tiba-tiba. Hei ini belum ada 10 menit. Jack dengan sopan menganguk dan menyerahkan diriku ke leonel. Kulihat dia berlari ke Ryu dan membungkuk hormat mengatakan terimakasih. Sekarang aku berdansa dengan suamiku. Aku memberengut kesal. " Jadi, gaun yang mana yang akan kau kenakan nanti malam sayang?" Tanyanya dekat dengan telinga ku membuat seluruh tubuhku meremang. " Apaan sih, lagian juga kenapa mesti pakai gaun mahal tapi kurang bahan itu kalau nantipun kau merobeknya?" Leonel terkekeh lalu memelukku. " Percayalah sayang, kau dalam balutan gaun itu sungguh sangat mengemaskan. Aku menyukainya" " Tapi aku tidak menyukainya, tunggu bagaimana kau bisa tahu kalau anak tadi bernama Jack?" " Aku bertanya kepada Ryu. Tidak ada hal yamg tidak kuketahui jika aku menginginkannya sayang." Aku memutar bola mataku malas, Leonel mengajakku berdansa beberapa saat sebelum kemudian Ryu menghampiri kami dan mengatakan bahwa kami harus segera pergi. Dapat kulihat Cindy kecewa karena Leonel harus pergi dan dia bahkan belum sempat berdansa dengan Leonel. Malam semakin larut, jalanan semakin ramai sekaligus sepi. Entah bagaimana mengambarkan kota yang tidak pernah tidur ini. Aku belum hafal nama-nama jalan, jadi dapat dipastikan aku akan tersesat jika pergi seorang diri. Darius sudah menunggu kami dimobil, dan Ryu masuk kemobil yang dikendarai Darius tapi aku dan Leonel tidak. Aku menatap leonel heran sebelum kemudian salah satu pelayan Cindy datang dengan mobil sport seperti yang dimiliki artis-artis luar negeri itu. Aku bodoh dalam mengingat nama, juga jalanan dan merek. Yang jelas itu mobil. Leonel memang jarang mengunakan sopir ketika bersamaku, entah apa alasannya kalau aku sih tentu harus mengunakan sopir karena aku tidak bisa mengendarai mobil. Aku bukan anak orang kaya dan memiliki mobil berada di seratus lebih daftar keinginanku. Tapi sekarang bahkan aku memiliki mobil atas namaku dan tidak bisa mengendarainya. " Leonel, kenapa berhenti disini?" Tanyaku ketika kami berhenti disebuah taman bermain yang gelap, ada banyak wahana yang lampunya mati menadakan sudah tutup. " Ingin melihat malam yang indah honey?" Tanyanya. Aku mengerutkan keningku bingung. Malam yang indah darimana? Taman bermain ini sudah tutup, dan gelap. Kepalaku sedikit pusing dan aku merasa mual ketika melihat tempat yang gelap ini. " TIDAK! Ini terlalu gelap!" Kataku. Tanpa sadar aku meremat gaunku sendiri. " Tenanglah honey," selesai mengatakan kalimat itu lampu taman seketika menyala. Aku melirik jam di ponselnya dan sekarang sudah hampir tengah malam. Suasana taman yang sepi tapi lampu menyala terang memberikan kesan romantis dan horor. Aku bergidik sebentar sebelum kemudian mengikutinya turun. Berapa banyak biaya yang dia keluarkan untuk menghidupkan seluruh lampu dan wahanan ditaman ini? Ah dia orang kaya, uang mencarinya bukan dia mencari uang. " Kita mau melakukan apa?" " Naik kincir angin. Aku pernah mendengar bahwa ketika kita bisa berada dipuncak, dengan lampu malam dan tebaran bintang, ketika kita membuat harapan maka harapan kita akan terkabul. Aku memiliki sebuah keinginan honey," " Oh, baiklah. Ayo aku juga suka lampu malam dan cahaya bintang" kataku bersemangat. Aku menarik tanggan leonel agar mempercepat langkahnya tapi dia malah berdiam diri saja. Dan sekarang kami seperti melakukan adegan di anime-anime jepang dimana sang wanita menarik tangan lelaki dan lelaki terpaku karena terkejut, dengan latar belakang taman dan lamlu warna-warni serta malam berbintang. Leonel menarik tubuhku dalam sekali tarik dan seketika aku berada sangat dekat dengannya. Tinggiku hanya sebatas dadanya sehingga untuk melihat matanya aku harus mendongakan wajahku. Lalu, kurasakan kecupan singkat dibibirku sebelum akhirnya berubah menjadi lumatan lembut. Jantungku berdebar. Dan ini adalah diriku! Tidak ada lagi alasan atau diriku yang mengkambinghitamkan anak yang kukandung seperti dulu. Jantung ini berdetak cepat, murni adalah diriku sendiri. Lalu tiba-tiba dalam sekejap semuanya berubah. Seseorang menarik lenganku secara paksa dan aku mendengar lagi sebuah pukulan hebat yang mendarat di wajah leonel. Bunyi yang sangat kuat. Ketika aku sadar dalam beberapa detik kemudian, leonel terhuyung hampir jatuh. Beberapa preman menghadangnya dan 2 orang lelaki dengan tubuh lebih besar dariku menahan tanganku. " Leonel... " pekikku tertahan. Leonel menatapku dan terlihat sangat lega ketika mengetahui bahwa aku baik-baik saja. " Apa yang kalian inginkan?" Tanya leonel. " Uang? Aku bisa memberi kalian uang berapapun yang kau minta tapi biarkan gadis itu pergi!" " Kami tidak menginginkan uangmu. Kami juga tidak bisa membiarkan gadis ini pergi. Dan sebagai gantinya nyawa kalian yang harus kami bawa menghadap Tuan!" " Cih, katakan kalian dari mana? Tuanmu yang mana biar aku bereskan sekarang jug!" Tidak ada yang menjawab perkataan leonel dan mereka mulai bergerak. Leonel menghindar sekaligus menyerang dengan sangat baik. Aku gemetar ketakutan karena lelaki disampingku mulai mengerakan tanggannya kurang ajar. Sekuat tenaga aku memberontak dan aku memperatikkan hal kecil yang Ryu ajarkan ke diriku. Menendang burung laki-laki adalah salah satu s*****a yang ampuh. Aku berhasil lepas dari mereka dan Leonel berteriak keras agar aku lari dan meminta bantuan. Tapi meninggalkannya sendirian sangat tidak mungkin. Aku lupa jika dia adalah bos dari semua hal yang berhubungan dengan dunia gelap. Setelah leonel berteriak kembali agar aku segera lari, dengan sekuat tenaga aku berlari menjauh dari mereka dan mencoba meminta bantuan. s**l, aku lupa jika leonel meminta Ryu juga Darius untuk pulang. Ponselku didalam mobil dan kuncinya ada ditangan leonel. Ada telefon umum beberapa mill dari sini tapi siapa yang akan kuhubungi, atau yang lebih tepatnya aku tidak tahu siapa yang harus kuhubungi. Berapa nomer polisi negara ini? Bukankah setiap negara memiliki kode no polisi berbeda? Dan hal sekecil ini aku tidak tahu, bodoh sekali diriku! Bagaimana dengan leonel, dia memang terlihat ahli dalam berkelahi tapi jika lawanya sebanyak itu apa iya dia akan menang? Ah sudahlah, lebih baik aku segera kembali ketempat tadi dan mencoba membantunya walaupun aku tidak ahli dalam bertarung. Setidaknya aku bisa menyemangatinya. Saat aku kembali semua sudah tumbang kecuali leonel dan satu orang yang memegang s*****a api. Aku menghela nafas menguatkan diriku sendiri, berlahan mendekat dengan sebongah batu yang kutemukan. Leonel terlihat panik ketika melihatku, dia seharusnya memikirkan dirinya sendiri karena tertodong s*****a! " Apa yang kau inginkan?" Tanya leonel. Dia mencoba membuat orang itu tetap fokus kepada dirinya. Aku sudah semakin dekat dengan lelaki bersenjata itu. " Maaf, kami hanya menjalankan perintah. Mungkin setelah ini saya akan menjadi buronan tapi membunuh anda dapat__" sebelum dia melanjutkan perkataanya aku segera memukul kepalanya dengan bongkahan batu sehingga dia pingsan. Leonel menatapku lega. Tubuhnya penuh luka dan beberapa darah segar mengalir dipelipisnya. Aku segera menarik tanggan leonel dan membawanya menuju salah satu tempat yang sepi. Saat aku kesini tadi, aku melihat beberapa orang yang asing sedang berlari menuju tempat ini. Mereka bersenjata. Kami bersembunyi disalah satu ruangan yang penuh dengan boneka. Mungkin ini boneka penyimpanan hadiah menembak. Aku membekap mulut leonel ketika dia hendak bertanya dan firasatku benar. Mereka bukan teman kami. Suara langkah kaki mengejutkan leonel dan dia paham kenapa aku membawanya bersembunyi. " Cari, terus cari! Mereka tidak mungkin jauh dari tempat ini! Jangan sampai kabur. Temukan mereka!" " Bos, team alpha sudah tumbang. Ada darah yang mengarah kejalan. Mungkin mereka sudah pergi terlebih tempat ini benar-benar seperti tidak ada orang" " s**l! s**l! Temukan mereka. Bagi team untuk menjelajahi jalan dan sisanya tetap mencari ditaman. Kita punya waktu sedikit sebelum Si Taring Harimau datang. Ayo cepat! Dan bawa team alpha ke mobil. Jangan sampai mereka tertangkap!" " Baik bos!" Kami diam, aku bahkan tanpa sadar menahan nafasku ketika seseorang membuka pintu tempat kami bersembunyi. Dia sempat berjalan masuk sebelum akhirnya keluar kembali. Sepertinya dia tidak mengetahui keberadaan kami yang tertimbun tumpukan boneka. Beberapa menit kemudian semua hening. Suasana benar-benar hening. Leonel membuka ponselnya dan dia mengirim pesan singkat ke seseorang. " Maaf iya, tidak jadi naik kicir angin" katanya pelan. Aku tersenyum, pria ini... mengemaskan. " Siapa mereka?" Tanyaku. Leonel mengeleng tanda bahwa dia tidak tahu. Aku hanya diam walaupun aku tahu bahwa dia berbohong, tapi biarlah. Leonel tentu tahu siapa musuhnya bukan? " Sebenarnya apa yang kau lakukan sehingga banyak orang yang memusuhimu? Kau berjualan n*****a?" Tanyaku biasa saja. Karena sudah hampir satu tahun aku bersamanya. Walaupun belum genap tapi semua hal-hal gelap.dan diluar nalar mulai merasa biasa saja sekarang. Aku cepat menyesuaikan diri dilingkungan seperti apapun. " Pernah, dulu waktu kuliah. Tapi sudah tidak kulakukan karena aku ketangkap dan aku sadar efek apa yang terjadi dari memakai serta berjualan barang haram itu." katanya tenang. Dia benar-benar sudah gila!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN