" Aku akan mengambil kelas seni saja, atau desainer. Hanya itu. Toh dulu juga aku masuk sekolah seni waktu di SMA." Kataku. Waktu berlalu sangat cepat. Dan dalam sekejap ini sudah hampir 2 bulan. Leonel memainkan untaian rambutku, kami duduk menikmati senja dikamar. Warna yang menakjubkan.
" Baiklah, aku akan mengaturnya. Ada lagi honey?"
" Tidak. Hanya itu. Dan kurasa kau harus mengajariku menembak. Atau bertengkar." Bukan tanpa alasan aku meminta leonel mengajariku menembak atau bertarung. Kehidupanku setelah bertemu dengannya jelas saja berbeda. Dari Darius aku tahu banyak hal jika leonel memiliki segudang musuh dan hal-hal yang berhubungan dengan dunia gelap. Mereka mungkin sekarang tahu jika aku adalah kelemahan leonel. Dan aku membenci itu! Tapi selama ada Darius atau Ryu atau mungkin leonel semua akan baik-baik saja. Yang menyedihkan adalah tidak mungkin Darius mengikutiku 24 jam non stop ketika leonel harus pergi karena beberapa alasan. Jadi apapun itu aku harus bisa menjaga diriku sendiri!
"Bertengkar? Setiap hari kau selalu mencari topik untuk bertengkar denganku honey, kau ahli dalam memulai masalah. Keadaan baik-baik saja honey, kenapa? Kau ingin melawanku?" Tanyanya bingung.
" Aku tidak akan menang melawanmu, kau tahu itu. Aku hanya ingin bisa menjaga diriku sendiri ketika Darius atau mungkin dirimu jauh dariku!"
" Akan ku pertimbangkan honey. Asal kau tidak mencoba kabur lagi dariku. Itu lebih dari cukup sayang. Aku akan menjagamu dengan tubuh dan jiwaku"
Mencoba kabur darinya atau melawanya tidak lagi terfikirkan dalam benakku. Bukan karena aku tahu fakta kalau itu tidak mungkin dan aku tidak akan sangup tapi karena fakta bahwa aku mulai nyaman dengan segala jenis perlakuanya kepadaku. Aku berlahan mulai menerimanya. Dan itu bukan hal buruk, kurasa.
Alberta sudah pergi dari mansion ini, aku tidak tahu apa yang terjadi tapi setelah makan malam hari itu, dia pulang dengan wajah sembab dan tak lama kemudian dia mengemasi semua barang-barangnya. Aku tidak tahu keputusaan apa yang leonel ambil tapi kepergian alberta membuatku merasa sedikit sunyi. Tidak ada lagi seseorang yang bisa kuajak bertengkar. Bukan karena aku suka bertengkar tapi karena aku tahu bahwa Alberta tidak mencintai Leonel. Dia tertekan! Aku tahu itu dari Mia. Yang dia cintai adalah Ryu dan karena orangtua juga Peter kakek leonel, dia harus mampu atau tidak mampu mendapatkan Leonel. Karena jika dia gagal akan ada nyawa yang menjadi taruhan. Hanya itu yang aku tahu. Entah siapa yang menjadi taruhan. Mungkin nyawa kedua orangtuanya.
" Baiklah honey, aku harus pergi karena beberapa urusan. Darius akan menemanimu. I love you" kata Leonel setelah matahari benar-benar tengelam. Langit gelap dan ribuan kecil cahaya bintang mengantikan indahnya warna jingga.
" Kurasa, i love you to" kataku pelan. Tapi tetap saja iblis itu masih bisa mendengarnya. Dia kembali duduk dan melumat bibirku lembut. Dan aku? Untuk pertama kalinya aku membalasnya. Benar, ada beberapa perempuan yang luluh dengan bungga, tindakan dan pengakuan. Mati-matian aku mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku tidak mencintainya tapi apa yang dia lakukan untukku meluluhkanku. Bungga di setiap akhir pekan atau setiap dia tidak bisa pulang kerumah, pengakuan cintanya yang dia katakan setiap hari dan segala tindakan kecilnya yang membuatku mulai merasa nyaman dengan kehidupan ini. Walaupun aku tahu dia iblis, yang begitu banyak berkecibung didunia gelap, tapi tidak ada seorangpun yang bisa lolos dari pesona dan segala tingkah laku laki-laki iblis tampan ini! Seseorang yang menjadi suamiku! Tidak, iblis yang memaksaku menjadi istrinya!
" Kenapa tidak dari tadi? Sekarang aku ingin memakanmu honey" katanya seraya mengodaku dengan mengigiti kecil pundakku. Aku melenguh pelan. Tangannya mulai berjalan kemanapun yang dia suka diatas tubuhku.
" Kau akan terlambat dalam berkerja!" Kataku pelan. Mencoba mati-matian menahan segala gairah yang coba dia bangkitkan, aku mengeser pelan tanggannya dan mencoba melepaskan kepalanya yang masih asik dengan bahuku.
" Uang yang akan mencariku honey, bukan aku yang mencari uang!"
" Terserah"
Kami berakhir di sofa dengan pakaian yang bertebaran dimanapun dan rambut acak-acakkan. Untuk pertama kalinya aku menikmati hubungan ini. Dan ini terasa berbeda. Kami saling menuangkan hasrat kami masing-masing. Saling menyentuh dan saling membalas. Merintih nikmat atas segala tindakannya dan menikmati apapun yang dia lakukan diatas tubuhku. Sama-sama terengah dengan permainan kami, sama-sama saling menikmati. Hingga akhirnya kami sampai dipelepasan kami masing-masing. Aku tidak tahu berapa kali aku o*****e, rasanya tubuhku remuk dan lelah karena permainan kami. Ketika aku melihat jarum jam sudah menunjukan pukul 10. Apa aku salah hitung? 3 jam? Ah dia pernah memakasaku melakukan hubungan sek dan lebih lama dari itu.
Hanya saja kali ini rasanya berbeda. Aku menyerahkan tubuhku sekaligus jiwaku secara utuh untuknya, sama seperti dia yang menyerahkan tubuh, hati dan jiwanya untuk diriku. Sebuah hubungan akan terasa lebih indah jika dikedua belah pihak saling menyerahkan.
" Terimakasih honey, ini adalah malam yang indah untukku. Terimakasih!" Katanya seraya mencium pelan pucuk kepalaku. Aku masih terengah dan dia belum keluar dari tubuhku. Dapat kurasakan ganjalan yang besar dibawah sana.
Dia melepaskanku beberapa menit kemudian, dan bergegas membawaku mandi. Guyuran air hangat menenangkan. Aku menolaknya ketika dia meminta lebih saat mandi, tubuhku sudah sangat remuk dan lelah, rasanya aku hanya ingin tidur.
Leonel tidak pergi malam ini, entah bagaimana dengan bisnisnya tapi dia memilih untuk menemaniku tidur malam ini. Memelukku sepanjang malam, dengan deburan ombak dan cahaya bintang kecil yang indah. Menenangkan, menentramkan.
Ketika aku bangun, matahari langit berwarna jingga terang, sunrise. Aku menatap sekeliling dan Leonel tidak ada lagi di sisiku. Sebagai gantinya sebuket bungga tulip segar warna kuning berada dimeja dengan sebuah tulisan italia. Aku tidak tahu apa arti tulisan itu jadi aku membawanya ke Darius dan memintanya untuk mengartikan kalimat itu.
" Tuan bilang, tidak ada yang abadi. Bahkan sebuah perasaan. Tapi itu bukan diriku karena apa yang kurasakan untukmu tetap abadi. Bahkan ketika perpisahaan atau pengkhianatan aku tetap akan mencintaimu dengan caraku, I love You my star"
" Pengkhiantan atau perpisahan? Yang benar saja? Siapa yang berkhianat dan siapa yang akan berpisah darinya? 10 meter aku menjahuinya dia akan meminta seluruh bodyguardnya untuk menyeretku kembali bukan? Dasar!" Gerutuku kesal. Darius tersenyum dan mengatakan bahwa itu hanya kata ungkapan. Lagipula rasanya Leonel tidak akan membiarkanku berpisah darinya.
Darius menyerahkan sebuah amplop coklat dan ketika aku membukanya aku sudah terdaftar sebagai salah satu mahasiswa di Universitas. Dan di kelas desainer. Kemampuan mengambarku boleh dibilang lumayan jadi aku tidak perlu khawatir. Desainer? Sama sekali bukan mimpiku juga tapi tetap saja kujalani. Entah ini keputusan benar atau salah, yang aku tahu disetiap keputusan yang aku ambil selalu saja terdapat penyesalan.
" Pagi nanti anda memiliki jadwal nyonya, jadi silahkan bersiap. Saya akan menunggu anda. "
" Ya, akan kulakukan"
Kami berangkat setelah semua yang kuperlukan tersedia. Memangnya apa yang kuperlukan? Hanya sebuah buku panduan dan laptop tipis yang rasanya sekali banting laptop ini akan hancur. Darius tetap bersamaku bahkan ketika aku dikelas. Kusarankan padanya untuk ikut mengambil kelas saja, dia hanya tersenyum kecil. Aku penasaran apa dia menikmati pekerjaannya, membuntutiku seharian. Satu-satunya waktu ketika dia tidak ada adalah saat aku bersama leonel, kamar mandi, dan ketika aku berada dikamar. Semenjak Alberta pergi, Darius hanya akan mengawasi balkon dan pintu depan lewat cctv.
Selama pelajaran banyak sekali orang yang penasaran menatapku, atau menatap Darius. Pria berumur hampir 40 tahun itu masih terlihat tampan dan muda, yang lebih parah adalah dia memiliki anak tapi masih perjaka. Yang benar saja? Apa dia mengadopsi mereka?
Dan ini pertama kalinya aku bertemu dengan keramaian. Sedikit menyesakan dan kurasa aku harus membiasakan diri. Aku banyak tertingal pelajaran, bahkan aku tidak tahu apa yang dosen itu katakan. Aku hanya mendengarkan dan mencatat beberapa poin yang entah penting atau tidak. Darius hanya diam memperhatikan, dia juga sangat awas dan teliti terhadap sekelilingku. Hari pertama aku tidak memiliki teman, bahkan hingga seminggu kemudian aku masih tidak memiliki teman. Bagaimana mungkin aku memiliki teman kalau Darius selalu melarang orang mendekatiku. Dia sunguh kolot, bahkan terlalu waspada terhadap tukang bersih!
" Tidak honey, dia melakukan hal yang benar" kata leonel. Aku protes kepadanya dan memintanya untuk berkata pada Darius agar mengikutiku secara diam-diam. Aku tahu jika aku yang meminta ke Darius maka hasilnya nol, jadi harapanku satu-satunya adalah memohon kepada leoenl.
" Yang benar saja? Tindakannya benar? Hei aku kesepian dan aku tidak tahu kemana aku bertanya kalau nanti aku tidak paham pelajaran, memiliki teman itu hal yang bagus leonel! "
"Aku temanmu, suamimu dan jika kau kesulitan belajar kita bisa mencari guru les. Kau mau?" Katanya tenang. Ini mulai tidak masuk akal. Dia benar-benar membuatku merasa bahwa tidak boleh ada orang lain kecuali orang-orang yang bersamanya.
" Ayolah, ini terlalu kekanak-kanakan. Aku butuh seseorang yang mana dia adalah orang asing untuk sekedar berbagi komunikasi dan agar otakku ini tidak stres karena setiap hari bersama dengan dia, atau dia atau kamu!" Kataku keras. Aku mulai kehilangan kewarasanku. Darius dan Mia yang kutunjuk hanya diam saja. Mereka melihatku seakan-akan aku anak berusia 10 tahun yang sedang merengek meminta kinderjoy pada ayahnya.
" Ada syaratnya" kata leonel setelah beberapa saat dia menujukan ekspresi berfikirnya. Aku menaikan sebelah alisku, syarat apalagi Tuhan? t*******g didepannya? Memohon padanya? Aku sedang memohon sekarang!
" APA?" kataku mulai kehilangan kesabaran. Dia terkekeh lucu seakan-akan marahku ini mengemaskan.
" Nanti malam pukul sepuluh kita akan menghadiri pesta, bisa menemaniku honey? Ini pesta anak kolegaku yang kalau aku tidak salah dia juga berada di universitas sama denganmu. Dan kau harus berdandan cantik_"
" Setuju!" Aku memotongnya cepat, bukan hal buruk juga syarat yang dia ajukan. Setidaknya dia tidak memaksaku untuk melakukan hal-hal aneh seperti beberapa hari yang lalu ketika dia pulang dan membawa pakaian tidur yang membuatku sulit bernafas.
" Oke, setuju honey. Suruh Mia membantumu jika kau kesulitan berdandan karena aku tahu kau tidak pandai berdandan. Dan, gaunnya sudah kusiapkan untukmu. Nanti biar diantar Mr.Kim kekamarmu sayang. Aku harus keluar sebentar" dia mencium keningku cepat sebelum pergi keluar. Aku tersenyun senang, akhirnya aku bisa bebas dari Darius!
" Oh, jangan senang dulu nyonya karena aku hanya akan berada beberapa meter dari anda" kata Darius seraya terkekeh mengejek.
" Itu lebih baik, daripada kau menempel terus padaku. Dan kau tidak berhak melarangku mencari teman. Ingat itu jadi jangan mengusir orang jika dia datang padaku!" kataku sombong. Ryu yang entah kenapa tidak mengikuti Leonel menatapku dengan pandangan takjup. Dia bahkan melonggo lebar. Andai aku lupa bagaimana wajahnya ketika aku sedang dalam bahaya seperti dipesta waktu itu, aku sudah yakin bahwa dia pastilah laki-laki polos, bodoh dan tulalit.
" Apa!?" Kataku sewot ke Ryu. Dia menyengir lebar. Lalu kembali bermain dengan ponselnya.
" Nyonya, mari bersiap sekarang karena waktunya tinggal 45 menit lagi sebelum pukul 10 malam" kata Mia. Aku tersentak kaget dan buru-buru melihat jam. Leonel s****n! Bagaimana mungkin dia memberiku waktu hanya 45 menit!
" Leonellllll!!!"
" Dasar bodoh" kata Ryu sambil cekikikan. Aku segera berlari kekamar, mandi secara kilat dan meminta Mia meriasku. Leonel yang sudah siap hanya memandangku tenang dan tersenyum geli. Dia benar-benar menikmati diriku yang sedang tergesa-gesa rasanya. Mia benar-benar ahli merias. Dalam sekejap wajahku benar-benar terlihat berbeda dan aku sendiri bahkan terpukau dengan wajahku. Aku cantik?
" Ini gaunnya nyonya, silahkan" kata Mia seraya mengulurkan Gaun berwarna peach untukku. Aku segera bergegas ke ruang ganti dan menganti pakaianku. Labelnya masih ada, berapa harga pakaian mewah ini? 23.000 dolar? Baiklah, aku harus kembali menenangkan diriku dan berkata bahwa suamiku kaya raya jadi ini barang yang tidak seberapa mewah.
" Bagaimana penampilanku?" Kataku kepada Leonel. Aku berdiri tepat didepannya. Dengan rambut pendek sebahu_ aku meminta Mia memotong rambutku beberapa hari yang lalu dan aku bersyukur Leonel menyukainya, riasan yang tidak tebal dan gaun yang indah. Tunggu, sepatuku?
" Sepatu kacamu nona" kata Leonel seraya duduk berjongkok didepanku dan memakaikan sepatu untukku. Leonel? Dia melakukannya. Kurasakan wajahku memerah. Lelaki seperti dia melakukan hal romantis seperti ini kepadaku. Ah kepalaku seakan mau meledak.
" Terimakasih, aku cantik?" Tanyaku. Aku sengaja memutar gaunku. Leonel tersenyum dan dia memelukku sebelum melumat bibirku pelan.
" Lebih dari siapapun sayang. Ayo kita berangkat. I love you!" Katanya. Aku tersenyum dan mengikutinya menuju mobil.