Dan pada akhirnya aku tetap makan siang sendiri. Darius masih setia menemaniku, apa dia tidak bosan?
" Darius, apa yang kau lakukan sebelum aku datang?" Tanyaku penasaran. Aku menikmati donat bercampur coklat yang kupegang. Makanan penutup yang berat!
" Menjaga Tuan. Dan sekarang anda Tuan saya, Nyonya"
" Bolehkah kau memangil namaku saja ketika tidak ada Leonel?"
" Maaf Nyonya, saya rasa tidak"
" Oh kau sama menyebalkan seperti Tuanmu!" Aku membanting donatku kesal lalu bergegas masuk menuju kamar. Ketika aku sampai di aula kulihat Albert memainkan lagi lagu yang sama di piano yang sama. Mia sang pelayannya masih berada disisinya dengan setia.
Aku masih merasa kehilangan atas bayiku tapi ada sbagian kecil hatiku yang mengatakan bahwa aku baik-baik saja setelah kehilangannya. Aku tidaj mengerti hatiku sendiri sekarang. Pria iblis itu telah banyak mempengaruhiku. Terkadang aku sanggat merindukan bayi yang kukandung tapi terkadang aku juga membencinya tanpa alasan. Tapi seberapa besar cinta dan benci, kurasa kalian tahu jawabanya karena aku perempuan, dan aku dilahirkan dari seorang ibu yang sangat lembut hati. Itu membuatku memiliki rasa cinta yang besar bahkan untuk sesuatu yang kubenci. Aku mencintai anakku yang sekarang aku bahkan tidak tahu dimana leonel menguburkannya. Aku sangat mencintai anakku.
Albert menghentikan permainannya ketika dia melihatku, aku balas melihatnya dengan tenang. Dia lalu berbicara keras seakan dia mencoba menyindirku.
" Seorang yang tidak jelas asal usul serta martabatnya tidak pantas menjadi nyonya dirumah ini!" Katanya keras. Aku memutar bola mataku malas.
" Yang benar saja?" Kataku santai. Aku berjalan kearahnya, dan jangan tanya Darius yang entah bagaimana bisa berada di sampingku dengan cepat, aku bahkan tidak tahu jika dia sudah berdiri disampingku.
" Cih, akan kupastikan kau keluar dari mansion ini! " kata Albert
" Darius, atur pelayan untuk memindahkan semua barang nona albert ke kamarku, dan bilang pada leonel bahwa dia nyonya dirumah ini, bukan aku." Kataku tenang, aku duduk diatas pianonya, sangat dekat dengan seseorang yang membuatku kehilangan bayiku. Aku tersenyum sinis ketika Darius diam tidak menangapi omonganku.
" Atau pindahkan kamar Albrta ke kamar Mia_"
" Baik nyonya, saya akan meminta Mr. Kim untuk mengatur kepindahan kamarnya" kata Darius cepat memotong ucapanku. Aku tersenyum lagi. Senyum kemenangan yang tidak kusembunyikan.
" Dan minta Mia sekarang berhenti melayaninya!" Kataku lagi. Kali ini Alberta tersentak keras, mukanya merah padam. Aku hanya menatapnya seraya menantang kedua mata kejamnya. Mia terlihat bingung, tapi dia tidak berani mengatakan apapun.
" Apa yang kau tunggu, segera layani Nyonyamu!" Kata Darius. Mia tidak bergeming, wajahnya ketakutan. Alberta berdiri dengan marah.
" Atas dasar apa kau berhak mengatur-atur Mia juga diriku? Dasar tidak tahu malu!"
" Apa kau lupa Nona, akulah Nyonya dirumah ini! Dan kau hanya seorang Nona yang mengharap cinta dari Tuannya! Mia ikut aku atau kau akan dipecat!" Kataku cepat. Aku berjalan pelan menuju kamarku dan Mia berjalan mengikutiku dibelakangku. Rasanya menyenangkan? Tidak juga bahkan setelah aku memprovokasi Alberta aku tidak merasa senang. Apa aku tidak cocok menjadi orang dengan tipe balas dendam?
Aku memasuki kamar dengan Darius yang ikut masuk kamar juga Mia, tapi Darius terus berjalan menuju balkon setelah mengunci pintu kamar. Balkon yang mengarah kelaut itu terlihat sejuk dan menyenangkan. Mia menatap Darius sejenak kemudian menunduk ketika pandangannya bersitatap denganku. Kasihan juga dia, sebenarnya dia tidak salah apapun.
" Duduklah Mia," kataku kepadanya. Dia terkejut ketika mendengarku memintanya duduk seakan-akan aku memintanya untuk menikahiku saja.
" Tapi Nyonya, seorang pelayan tidak boleh__"
" Lupakan aturan itu, duduklah. Lagipula usiaku dan usiamu rasanya sama. Dan aku yang meminta kau duduk disini"
" Baik Nyonya, terimakasih. Apa nyonya membutuhkan sesuatu?" Tanyanya setelah dia dengan takut-takut duduk di sofa depanku.
" Kenapa kau mau menjadi pelayan dirumah ini?" Tanyaku. Dia lalu tersenyum ramah.
" Dengan menjadi pelayan keluarga ini hidup saya terjamin. Saya mendapatkan gaji 5 kali lipat daripada gaji pada umumnya dan disini setiap pelayan hanya mengerjakan satu tugas saja Nyonya."
" Oh, jadi apa tugasmu?"
" Sebelum kedatangan Nona alberta saya bertugas dibagian taman. Membersihkan dan merawat bungga mawar. Tapi setelah kedatangan nona saya bertugas melayaninya"
" Oh, kenapa di ponsel Albert ada photo Ryu?" Tanyaku penasaran. Mia mengigit bibirnya ragu. Serius aku hanya penasaran. Jika dia tidak mau menjawab juga tak apa toh mungkin itu tidak penting.
" Tuan Ryu adalah mantan pacar Nona Alberta. Sebelum akhirnya dia dijodohkan oleh Tuan Peter dengan Cucunya yaitu Tuan Leonel, hanya itu yang saya tahu Nyonya" jawab Mia. Aku terkejut ketia dia menjawabnya. Mungkin dia ketakutan jika tidak menjawab pertanyaanku maka dia akan dipecat.
" Begitu ya, emmm.. hanya itu. Kau sudah makan siang?"
" Belum Nyonya"
" Kalau begitu pergilah makan. Bilang pada Darius di balkon bahwa kau harus turun untuk makan siang"
" Baik nyonya" patuh sekali para pelayan disini?
***
Hari ini adalah hari dimana pria iblis nanti pulang. Aku masih bermalas-malasan ditaman. Dengan segelas s**u coklat dan makanan ringan serta sebuah film horor yang menemaniku. Korea memang menakjubkan ketika membuat film horor. Sekarang jam menunjukan pukul 3 siang. Aku masih asyik menatap film ketika kemudian kurasakan seseorang mencium keningku. Dengan cepat aku mendongak dan leonel dengan tampannya sudah berada diatasku. Pelan membaringkan tubuhku disofa. Wanggi nafas dan tubuhnya memnenangkan.
" Wow...apa yang kau lakukan? Menyingkir dari sini!" Kataku ketus. Tapi dia tetap melakukan apa yang dia inginkan. Melumat bibirku dengan cepat dan dalam, menengelamkan wajahku kepelukannya dan terakhir mengecup keningku singkat. Ada apa dengan pria ini?
"Aku merindukanmu" katanya pelan. Dia melepas jasnya dan menaruh sembarangan. Lalu ikut menonton film yang ku tonton.
" Aku tidak merindukanmu, maaf!" Kataku biasa saja. Aku merapikan dudukku lalu ikut melihat film yang sudah hampir selesai itu. Dia mendesah kecewa ketika mendengar balasan dari rasa rindunya.
" Apa yang kau lakukan kemarin honey?"
" Tidak ada!"
" Honey, kurasa kau harus melepaskan rasa rindu ini!"
" Maafkan aku Tuan, tapi haruskah kuingatkan bahwa aku tidak merindukanmu, dan tidak ada hubungan sek entah itu paksaan atau sukarela untuk 40 hari kedepan. Selamat datang kembali kerumah!" Kataku tenang. Dia kembali mendesah kecewa. Mungkin dia teringat bahwa aku keguguran dan sedang dalam masa pemulihan.
" Berapa kali kita berhubungan? 4 kali? Aku bahkan sudah sah menjadi suamimu. Bukankah di agamamu jika menolak permintaan suami itu dosa?" Tanyanya. Darimana dia tahu agamaku? Dan seorang iblis seperti dia berbicara tentang agama? Sunguh pasti aku sedang berhalusinasi! Iblis berbicara tentang dosa?
Alberta datang menghampiri leonel, dia mengenakan gaun mewah nan mengoda. Aku hanya memutar bola mataku malas, siapa juga yang akan tergoda olehnya. Dia mungkin tidak lebih dari sampah bagi leonel. Aku mengeratkan pelukan Leonel dipinganhku dan dengan sengaja menyandarkan kepalaku ke d**a Leonel. Jelas saja Albert langsung kepanasan dan leonel langsung kePD an.
" Ayah dan ibu mengundang kita makan malam, nanti malam pukul 10. Ada kakek disana jadi kurasa kau harus datang!" Kata Alberta. Leonel menghela nafasnya pelan lalu memainkan untaian rambutku.
" Tidak, atau kurasa aku bisa datang dan mengajak Arsy karena dia adalah istri secara sah dalam hukum dan agama. " kata leonel. Aku menahan tawaku. Sah secara hukum dan agama? Yang benar saja? Apakah pernikahan secara paksa bisa dibilang sah secara agama? Mungkin dia bisa membayar untuk hukum tapi Tuhan tidak tidur! Tuhan pasti tertawa mendengar Iblis ini berkata telah menikah secara sah dalam agama dan hukum.
" Nyawa ayahmu ada di tangan ayahku, dia bisa menghentikan pengobatan kapan saja dan kau tidak akan tahu siapa yang membunuh ibumu!" Kata Alberta. Pembicaraan ini menarik perhatianku. Aku penasaran. Leonel menghela nafas beratnya. Dia lantas menatap Alberta dengan pandangan dingin. Sepertinya albert telah membangunkan sisi marahnya.
" Lakukan, dan akan kubuat seluruh bisnis keluargamu hancur. Bukankah ayahmu memiliki beberapa interaksi gelap? Jadi mari kita saling menghancurkan!"
" Jika aku mengadu ke kakek dia akan membunuh istri jalangmu!"
" Berhenti berkata jalang karena disini kita semua tahu siapa yang jalang, Alberta haruskah aku mengatakan pada Ryu jika kau bahkan mengoda Darius? Dan Peter akan berfikir banyak kali jika dia ingin mengusikku kembali. Kau mau tahu kenapa? Karena kartu AS sudah berada ditanganku!" Kata Leonel. Sungguh aku tidak paham kemana arah pembicaraan ini.
" Aku menelfon Luis semalam. Dan kurasa kau harus datang kemakan malam karena bibi feng berada disana juga menantimu. Aku sudah menyiapkan gaun mahal juga jamuan yang mewah!"
" Aku tetap tindak ingin datang, jadi__"
" Cukup leonel, datanglah ke makan malam mereka dan sampaikan salamku pada orangtua Alberta. Aku tidak ingin ayahmu meninggal karena keras kepalamu itu. Lagian aku juga tidak khawatir jika kau mau menikah lagi. Atau kita bisa cerai__"
" Tidak ada kata cerai dipernikahan kita! Paham honey. Dan aku akan mencari tahu sendiri siapa dalang pembunuhan orangtuaku. " potong leonel cepat. Dia mencium keningku sekilas sebelum kemudian menatap albert kembali.
" Kita kesana dengan mobil yang berbeda dan jangan menyentuhku!" Kata Leonel.
akhirnya.
Aku hanya diam sambil tetap memperhatikan laptopku. Ada apa dengan hatiku, kenapa ada perasaan aneh yang sulit untuk dijelaskan? Apa aku mulai menyukai pria iblis ini?
Malam itu mereka pergi, alberta dengan gaun mahalnya dan Leonel dengan pakaian berkelasnya. Ryu berjalan pelan dibelakangnya. Apa kemanapun pria iblis itu pergi harus ada Ryu disampingnya? Mereka memang mengunakan mobil yang berbeda. Tapi Alberta tersenyum senang seakan-akan dia memenangkan pertandingan. Lupakan, kurasa semakin hari aku bersama mereka aku tumbuh menjadi seseorang yang berbeda.
***