Aku merebahkan tubuhku di ranjang, menatap langit-langit kamar dalam diam. Leonel ikut duduk diranjang dan tanpa ku minta dia mulai berbicara sendiri siapa wanita itu.
" Namanya Alberta. Dia wanita yang dijodohkan denganku oleh kakekku. Aku tidak bisa menolak perjodohan ini karena ini lebih mirip ke perjodhoan bisnis. Kami belum resmi menikah dan kau satu-satunya istriku saat ini bahkan hingga nanti. Kakekku mengancamku akan membunuh Luis jika aku menolak. Saat itu Luis sakit dan membutuhkan donor sunsum tulang belakang. Setelah kami sibuk mencari kesana dan kemari akhirnya kami menemukan donor yang cocok. Hanya saja kakekku tahu dan dia menculik orang yang akan mendonorkan sunsum itu. Sebagai gantinya dia ingin agar aku menikahi albert yang merupakan anak kolega bisnis kakekku. Aku tidak memiliki pilihan, jadi aku menyetujuinya"
" Berarti sekarang tidak ada yang kau takutkan bukan mengingat Luis sudah baik-baik saja?" Kataku padanya. Kemarahanku menguap begitu saja. Hilang entah kemana. Aku justru merasa marah pada kakek leonel atas tindakannya.
" Tidak honey, Luis memang baik-baik saja tapi menolak apa yang dikatakan untuk saat ini sangat sulit. Dia memberikan seluruh asetnya kepadaku, hingga membuat bibiku membenciku karena warisan. Ayahku belum sepenuhnya mati. Dia terbaring kaku di ruang laboratorium milik kakek. Dan Kakek adalah seorang jenius yang masih bisa menyelamatkan ayahku. Untuk itu aku terpaksa menuruti segala omong kosongnya karena jika tidak maka sekarang yang jadi taruhan adalah nyawa ayahku. Dia koma setelah kecelakaan. Aku sudah berusaha agar tubuh ayahku bisa kubawa keluar dari tempat mengerikan itu tapi gagal. Dan dengan licik lelaki tua itu menjadikan ayahku sebagai tahanan untuk mengendalikanku."
" Aku turut bersedih atas apa yang menimpamu"
" Kau sudah tidak marah honey?" Tanyanya.
" Masih! Kau menyeretku ke duniamu yang suram! Dasar!" Kataku masam. Tapi aku tidak marah. Dia tertawa kecil lalu memeluk tubuh kecilku.
" Maafkan aku sayang. Beri aku waktu dan aku akan membuat semuanya baik-baik saja." Aku hanya diam mendengar perkataanya. Seberapa banyak beban yang ditangung iblis ku ini? Seberapa banyak rasa sakit yang dia rasakan? Dan kehilangan anak membuat daftar baru kekecewaan di hidupnya pasti.
Disaat aku menyalahkan Tuhan tentang apa yang terjadi dalam hidupku, aku bahkan tidak tahu bahwa apa yang dialami leonel dalam hidupnya lebih menyedihkan. Apakah aku harus bersyukur?
Aku rasa aku mulai jatuh cinta padanya? Atau ini hanya perasaan kasihan dan rasa sakit karena kehilangan bayiku?
****
Pagi ini kami sarapan bersama, ya bersama-sama dengan Ryu dan Leonel juga Darius. Bersama juga dengan Albert. Dia bersikap biasa saja kali ini tapi sedikit berlebihan ketika mengambilkan makanan atau minunan untuk Leonel. Aku memutar bola mataku jengah ketika melihat Ryu mengodaku, seakan-akan mengatakan lihat, suamimu sedang dirayu oleh perempuan itu dan kau istrinya seolah-olah tidak peka!
Leonel membiarkan perempuan itu bertindak sesuka hatinya. Aku mengeleng pelan melihat Darius yang sekarang ikut menampilkan matanya yang mengoda dan coba mengatakan "Nyonya, apa anda akan diam saja? Jika aku jadi Nyonya sudah kupastikan kusiram wanita itu dengan air panas"
Dan lihatlah pakaian yang dia kenakan, gaun yang hampir mengekspos seluruh dadanya? Pasti dia operasi plastik melihat dadanya yang diluar nalar itu.
Aku mengeser piringku, Leonel yang sedari tadi diam bahkan tidak menyantap makananya menatapku bingung. Albert juga menatapku. Aku menyungingkan senyum kecil kepada Leonel.
" Aku ingin mengambil mata kuliah management bisnis, agar aku bisa menguasai bisnismu dan merebut semua yang kau punya!" Kataku berapi-api. Terang-terangan sekali diriku. Ryu menyemprotkan minumannya karena tersedak sementara Darius hanya senyam-senyum. Pagi tadi aku sempat mengutarakan niatku pada Darius tentang kuliah dan dia mendukung sepenuhnya apa yang kuambil serta tujuanku.
" Kau tidak akan kuliah dulu sayang, dokter berkata bahwa kau harus istirahat total setidaknya selama 2 bulan" jawab pria iblisku.
" Bahkan sekalipun kau memiliki ijazah yang tinggi dan nilai yang sempurna, kau tidak akan bisa mengambil bisnisnya!" Kata Ryu seraya tertawa. Aku membuang wajah masamku. Albert sedikit tersenyum mengejek.
" Leonel kau ingin aku menuangkan lagi kopimu?" Tanya Albert. Aku mengambil lagi piringku dan memakan sisa makananku lagi. Tanpa menunggu jawaban, Albert menuangkan kopi lagi ke cangkir Leonel.
Albert mengigit bibirnya ketika kemudian Leonel tidak lagi meminum kopi yang dia tuangkan. Kasihan juga sebenarnya. Tapi buat apa juga aku perduli mengingat dia juga yang hampir membunuhku. Aku menghitung berapa kali aku tertodong pistol sampai detik ini atau berapa kali nyawaku diambang kematian. Satu, dua, empat? Aishhh kenapa juga aku harus bertemu pria ini dan mendapatkan kehidupan yang suram.
Pikiranku kembali kepada Bang Dhean dan Raoudah. Ya Tuhan, aku bahkan tidak sempat bertemu dengan mereka lagi usai pesta, juga tidak mendapatkan nomer ponselnya. Hidupku menyedihkan.
" Aku harus segera berangkat ke kantor, baik-baik dirumah honey. Darius akan menemanimu sepanjang waktu"
" Lebih tepatnya mengawasiku, dasar! " kataku masam. Leonel berdiri dan Albert ikut berdiri. Dia segera membantu leonel membawa tasnya. Tapi Ryu dengan cepat mencegah Albert.
" Sorry Albert, ada barang berharga yang tidak boleh disentuh makhluk bernama perempuan!" Katanya tenang.
Leonel mencium keningku pelan, lalu berjalan pergi menuju keluar. Albert mengeram marah, kulihat dia mengepalkan tangannya seraya menatapku marah.
" Apa!" Kataku sewot. Aku tidak melakukan apapun.
" Harusnya kau menghilang saja!"
" Hei, siapa dirimu menentukan hidup orang lain?" Jawabku. Albert memilih pergi dan membawa pelayannya yang kalau aku tidak salah bernama Mia. Selera makanku tiba-tiba menghilang.
Apa yang harus kulakukan? Bermalas-malas? Memangnya apa yang selama ini kulakukan selain bermalas-malas?
Akhirnya kukatakan pada Darius bahwa aku akan berjalan-jalan mengelilingi rumah dan dia bisa mengawasiku melalui cctv. Saranku langsung dia tolak mentah-mentah. Jadi aku membiarkannya berjalan disampingku. Dia berjalan diam seakan takut jika langkah kakinya menggangunku. Aku jadi menrindukan Luis yang mulutnya seperti tidak lelah mengocehkan sesuatu yang tidak jelas. Aku meminta Darius untuk berjalan 10 m dibelakangku dan dia setuju. Ini lebih memberikanku privasi.
" Apa yang kau katakan jelas kita harus menghormati Nyonya daripada nona, tapi aku merasa kasihan melihat nona bahkan tidak mampu mengambil hati tuan. Sudah hampir 1 tahun bukan?" Kata salah seorang pelayan. Aku tidak tahu tapi mereka bergosip dan aku penasaran apa saja yang akan mereka gosipkan.
" Jangan berkata apapun lagi, Mr. Kim akan memecat kita jika kita ketahuan mengosip. Apapun itu lebih baik kita mengikuti perintah saja!"
" Tapi, diantara nyonya dan nona memang lebih pantas nona yang menjadi nyonya. Dia cantik dan elegan. Sementara Nyonya saat ini terlihat seperti anak kecil. Kita bahkan tidak tahu namanya"
" Hentikan Kate, kita akan berada di bahaya jika Mr. Kim tahu kita mengatakan seperti itu__"
" Dorr, kalian ketahuan." Kataku semangat. Mereka tersentak kaget dan menunduk. Oh ayolah aku tidak akan mengadukkan mereka.
" Tidak apa, kalian bebas bergosip kok, aku tidak marah. Jadi tidak perlu khawatir"
" Maafkan kami Nyonya" Oh ayolah aku bahkan baik-baik saja.
Aku hanya tersenyum kecil dan meninggalkan mereka, berjalan semakin jauh hingga kakiku membawaku ketaman ini. Ada ratusan bungga matahari yang tumbuh lebat. Tunggu bukankah diluar turun salju bagaimana bisa bungga ini tumbu? Bahkan tidak ada salju disini?
Ternyata ini rumah kaca. Aku berjalan hingga kemudian kulihat albert duduk diam mengamati satu-satunya bungga mawar merah disana. Dia menangis? Kuminta Darius untuk sedikit menjauh dan dengan berlahan aku menghampirinya.
" Kenapa kau menangis? Patah hati?" Tanyaku. Dia terkejut dan buru-buru menghapus air matanya. Sekali lagi menatapku bermusuhan. Yang lebih membuatku terkejut adalah gambar Ryu diponsel Albert.
" Ryu terlihat tampan di ponselmu" kataku. Dia buru-buru menutup ponselnya dan berdiri.
" Apa perdulimu? Jangan mengganguku!" Katanya marah. Dia meninggalkanku dan aku menempati sauna tempat dia duduk. Tidur disini pasti menyenangkan.
Aku tidak tahu berapa lama aku tertidur, tapi ketika aku bangun buket bungga tulip yang indah dan berwarna warni berada disapingku. Kulihat Darius duduk berjarak 10 meter dariku sedang bermain ponsel. Aku memegang buket itu, disana tertulis : maaf tidak bisa menemanimu tidur malam ini honey, aku ada beberapa urusan. Jangan lupa makan. I love u.
Ohh, i hate you to! Aku mendecak kesal. Kupangil salah satu pelayan yang datang untuk membawakanku makan. Ini sudah jam makan siang. Aku merobek kertas ucapan dibungga itu lalu kuberikan bungva tulip yang harganya mahal itu kepada salah satu pelayan. Dia terlihat bingung tapi aku hanya tersenyum kecil melihatnya.
" Untukmu, selamat berkerja" kataku seraya memakan apa yang dia bawakan untukku.
Dia menganguk terimakasih dan kemudian undur diri. Aku menikmati makan siangku dengan nyaman. Makanan ini enak, dan mahal jelas saja. Bisa dibilang ini cocok untuk perbaikan gizi.
" Darius, ayo makan. Aku tidak akan bisa menghabiskan makan siangku sendiri. Dan menu disini banyak sekali"
Darius mengeleng pelan. Dia bahkan tidak beranjak dari tempatnya dan alasan yang dia lontarkan membuatku mati-matian menahan kesal.
" Tuan akan membunuh saya jika saya makan siang dengan Nyonya. Tuan nanti cemburu Nyonya."
Ah, dia selalu saja menyebalkan.
Dan aku menyipitkan mataku ketika kulihat Mia salah seorang pelayan Alberta berdiri diam disalah satu tembok. apa dia memataiku?
***