Aku merasakan nyeri di hatiku. Air mataku entah kenapa tiba-tiba jatuh. Entah karena alasan apa aku juga tidak tahu. Ini lebih sakit daripada waktu leonel mengambil kesucianku, juga lebih sakit daripada cambukan dan pukulannya.
" Nyonya?" Entah bagaimana Darius tiba-tiba bisa berada didepanku. Aku segera mengusap mataku kasar. Beruntung perempuan tadi dan para pelayannya sudah pergi, hanya menyisakanku dan Darius di aula sebesar ini.
" Oh, hai. Disini banyak debu, mataku tadi terkena daun mawar karena tidak hati-hati. Aku ingin kembali ke kamar. Bye Darius"
Aku kembali ke kamar dan duduk didepan balkon. Sekarang hampir jam 10. Jika benar Leonel akan kembali jam 10 mungkin aku bisa menanyakannya perihal aku ini apa.
Mataku melihat rombongan mobil masuk ke dalam area mansion. Aku melihat Leonel keluar dari salah satu mobil, aku berlari menuju pintu hendak mengampirinya tapi__ aku penasaran siapa yang akan dia temui? Aku atau Wanita cantik itu?
Malam semakin larut, aku tidaklah patut untuk berharap banyak pada hal yang tidak mungkin. Jarum jam menujukan pukul 1 dini hari. Dan pria iblisku menghabiskan waktu dengan wanita cantik itu. Air mataku turun begitu saja. Bahkan tanpa tahu alasan untuk apa aku menangisinya.
Salju turun semakin deras, dan aku masih tidak mempunyai alasan untuk air mataku yang mengalir sama derasnya. Hanya rasa sakit dan nyeri yang kurasakan di d**a. Apa aku cemburu? Aku membenci Leonel!
Aku melewatkan makan malamku dan pagi ini aku bangun dengan mata sembab serta perut kelaparan. Bodohnya diriku menangisi lelaki terkutuk itu. Aku menyeka mataku yang bengkak, maafkan aku anakku karena semalam aku tidak memberimu makan tapi tenang saja pagi ini aku akan memberikanmu makanan yang enak. Mandi air hanggat sedikit menenangkanku. Kemudian kubuka lebar koperku dan mengambil beberapa pakaian disana. Tshirt warna putih serta celana traning dapat kutemukan. Ajaib! Bagaimana Leonel tahu aku menyukai setelan seperti ini?
Cih! Aku meruntuki pikiranku!
Aku turun ke lantai bawah, mencari-cari dimana dapur dan ruang makan. Perutku sudah protes dan aku sedikit merasakan sakit diperut bagian bawahku. Aku harus buru-buru makan kasihan anakku. Sesampainya didapur kudapati Leonel dan wanita itu. Aku sengaja diam berdiri didepan kabinet dan mereka tidak mengetahui keberadaanku. Apa yang mereka obrolkan?
" Honey, kau ingin kopi atau jus buah saja? Atau kau ingin aku membuatkanmu teh?" Tanya perempuan itu lembut. Dia mengenakan setelan gaun tidur yang berkelas, make up tipis, body yang sangat anggun dan rambutnya sudah tertata rapi membentuk gelungan layaknya keluarga kerajaan. Aku mendesah pasrah, bahkan meskipun aku tidak menyukai Leonel tapi wajah pria iblis itu benar-benar sempurna jika disandingkan dengan wanita ini. Wanita itu juga jauh lebih cantik dari Anna perempuan yang kami temui dipasar malam. Gaunnya terlalu banyak mengekspos d**a, apa leoenel menikmatinya? Bahkan tidak risih. Dia juga tidak menampilkan wajah dinginnya. Terlihat biasa saja.
" Terserah kau saja"
" Honey, aku siapkan sarapannya iya. Oh iya Paman mengundang kita untuk makan malam dan membahas rencana pernikahan. Nanti jam 9 malam kita bisa pergi tidak?"
" Nanti biar Ryu atur"
Sudahlah, acuhkan mereka. Leonel yang membawaku kesini jadi apa yang terjadi diantara mereka biar saja. Toh dia yang berkata bahwa dia mencintaiku.
" Honey..." kata leonel dia berdiri dari duduknya. Wanita disebelah leonel terkejut dan wajahnya seketika memucat.
" Honey? Leonel kenapa kau memangilnya honey? " tanyanya. Wajahnya memerah dan kulihat matanya mulai berlinang air mata.
" Dia__ istriku" jawab leonel tenang. Oh dia mengakuinya? Atau hanya karena anak yang kukandung?
" Istri? Dia.. lalu aku ini apa?!" Wanita itu berteriak nyaring, dia mengambil gelas kopi yang tadi dia buatkan untuk Leonel dan membantingkannya ke lantai. Gelas itu pecah berhamburan. Para pelayan didapur memilih untuk menunduk.
" Alberta, kita memiliki kesepakatan!"
" Kesepakatan? Bukan aku! Tapi kau dengan kakek dan juga ayahku! " kata wanita itu. Alberta kemudian pergi begitu saja.
" Maaf Tuan kami tidak tahu bahwa nona Albert berada di mansion utama" kata Darius. Dia kapan datang dan berdiri dibelakangku?
Aku hanya menatap Leonel diam dan Leonel berlari mengejar Alberta, atau albert?
Rasa sakit diperutku kembali mengingatkanku akan makan. Aku segera bergegas menuju meja makan dan mengambil segelas s**u stroberi serta roti isi. Memakannya dengan lahap sebelum kemudian meminta pelayan untuk membuatkanku nasi goreng.
" Darius, duduklah. Temani aku makan" kataku pada Darius. Untuk saat ini hanya dia satu-satunya orang yang kuangap normal setelah Ryu. Menjadikan pria ini teman bukan pilihan yang salah.
" Tidak nyonya, saya akan berdiri disamping anda selagi anda menikmati makanan anda."
" Oh, ayolah jangan kaku seperti itu. Aku tidak akan makan jika kau tidak makan!"
Darius mengalah dan duduk dididepanku seraya menikmati kopinya. Beberapa menit kemudian Mr. Kim menghidangkan nasi goreng yang terlihat sangat lezat. Liurku seakan menetes.
Tidak perduli bahwa makanan itu masih panas aku melahapnya dengan cepat. Ini benar-benar enak. Tapi baru saja beberapa suapan aku mendengar langkah kaki berlari dan sedetik kemudian Darius berdiri. Dengan gesit dia berlari kearahku. Menarikku keras sehingga aku hampir jatuh dari kursiku beruntung Darius menompang tubuhku hingga aku tidak terjatuh dilantai. Tapi kurasa Darius masih kalah cepat karena sedetik kemudian kurasaka punggungku nyeri begitu hebat. Perih dan sakit. Darah segar mengalir mengenai tshirt putihku. Darah? Seseorang menembakku?
Darius memposisikan tubuh besarnya didepanku, aku merintih sakit. Perutku kembali merasa kram dan punggungku mengeluarkan banyak darah. Mungkin jika Darius tidak menarikku maka peluru itu akan mengenai kepalaku. Aku mencoba mencari tahu apa yang terjadi dan ketika aku berhasil mengintip dari balik pungung Darius aku terkejut dengan hal gila lagi. Albert menodongkan pistolnya kearah kami dan Leonel menahan marah.
" Sekarang kau pilih aku atau perempuan burukmu ini sayang? Jika kau pilih aku maka biarakan dia pergi tapi jika kau pilih dia maka kau sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya!" Katanya. Aku bosan. Bosan dimana hidupku selalu saja berada dalam bahaya. Aku melangkah maju berada tepat didepan Darius. Darius yang panik mencoba membuatku kembali berada dibelakang tubuhnya tapi sudah terlambat karena kini todongan pistol itu sudah berada tepat berada didepanku. Aku mengamati wajah pria iblisku, kini dia pucat pasi tidak tahu harus berbuat apa. Tangganya mengepal menahan amarah. Dan aku menantang mata marahnya. Satu-satunya cara melawan orang gila adalah ikut menjadi gila. Jadi aku akan menjadi gila untuk mengalahkan wanita didepaku yang juga gila.
"Temba aku, tepat dikepalaku. Dan kita lihat siapa perempuan yang dicintai oleh laki-laki yang sangat kau cintai. Aku atau dirimu?" Kataku padanya. Perempuan itu menatapku marah. Aku membalas tatapan marahnya.
Seperti aku yakin Leonel akan memilihku saja?
" Albert, hentikan kumohon jangan bertindak jauh!" Kata Leonel keras dan tegas. Aku menyungingkan senyumku mengejek kearah perempuan itu.
" Kau pilih, aku atau perempuan ini sayang. Cepat pilih. Jika kau pilih aku maka biarkan aku membunuh perempuan ini dan jika kau pilih dia maka tembak saja aku!" Katanya seraya berurai air mata. Dia mengubah pernyataanya?
" Aku siap mati kapan saja" kataku seraya tersenyum kearah pria iblis ku.
" Aku tahu bahwa kau tetap tidak akan pernah mencintaiku. Jika aku tidak bisa mendapatkanmu maka dia juga tidak bisa!" Tepat setelah kata itu selesai terucap aku mendengar suara tembakan. Aku menutup mataku. Apakah aku akan mati?
Ternyata tidak! Ryu datang. Dia menembak pistol yang Albert bawa sehingga sekarang dia tidak memiliki s*****a karena pistol itu terjatuh. Punggungku masih mengeluarkan darah dan disaat yang sama perutku merasa kram. Darah segar mengalir dikedua kakiku.
" Darius! Kumohon. Perutku!" Kataku ke Darius. Darius dengan sigap meraih tubuhku yang hampir jatuh.
" Tuan__"
" Bawa dia kerumah sakit Darius kami akan menyusul!" Kata Ryu ketika melihat Leonel hanya diam terpaku tanpa mampu berucap sama sekali. Darius dengan sigap mengangkat tubuhku dan segera keluar menuju mobil. Dapat kulihat wanita itu menjadi gila, dia meraih pisau buah dan memotong lengannya. Sebegitu cintakah dia dengan leonel?
" Kau pilih aku atau dia leo? " kata wanita itu sambil mengangkat tanggnya yang berlumuran darah tinggi-tinggi. Leonel mengertakan giginya dan dengan marah dia berjalan mendekati Albert. Dia pasti khawatir melihat Albert berlumuran darah. Dia lebih khawatir terhadap wanita itu dari pada anak yang kukandung? Ini menyakitiku.
" Bukankah aku sudah bilang bahwa kau tidak boleh melebihi batas? Alberta?" Katanya. Aku terkejut ketika kemudian dia menodongkan pistolnya ke kepela Albert. Entah siapa nama gadis itu, Albert atau Alberta? Jadi Leonel memilihku, itu membuat hatiku menghangat.
" Leonel, pergilah dan jangan berbuat hal gila atau gadismu yang akan menderita!" Kata Ryu, dia meraih tangan Albert dan membungkus lengannya yang mengeluarkan darah.
Perutku semakin sakit, dan aku semakin takut kehilangan bayiku.
Aku tidak tahu kenapa tapi aku menjadi takut jikalau saja aku kehilangannya. Bayi yang kukandung. Meskipun aku membenci ayah dari bayi ini tapi dia tidak bersalah dalam hal apapun. Bayiku harus tetap selamat. Leonel datang tepat sebelum Darius menjalankan mobilnya. Dia lantas duduk disebelahku dengan wajah pucat pasi.
" Leonel, kumohon. Bayinya! Aku membencimu tapi bayi ini tidak bersalah kumohon!" Kataku takut. Aku menangis. Dia memelukku.
" Maafkan aku Honey! Darius percepat!" Katanya sama paniknya dengaku.
" Maafkan aku Tuan, saya salah karena menarik Nyonya hingga jatuh dari kursi. Saya sangat bersalah, saya pantas menerima__"
" Darius hentikan. Fokuslah menyetir. Kau melakukan hal yang tepat. Andaikan kau tidak menarik tubuh Arsy maka nyawanya sudah pasti melayang. Fokuslah menyetir. Terimakasih Darius" Leonel berkata sambil memeluk tubuhku. Aku merasakan perutku semakin karm. Kehilangan banyak darah membuatku pening dan kemudian semuanya menjadi gelap.
Ketika aku bangun hanya ada Darius disampingku. Aku tersentak kaget, bagaimana dengan bayiku.
" Darius bayiku?" Kataku panik. Kuraba perutku yang belum membuncit. Darius menenangkanku dan dalam diam dia membenarkan infus yang terpasang dilenganku.
" Maaf nyonya, saya benar-benar minta maaf!" Kata Darius. Dia berlutut dilantai. Wajahku seketika pias. Bayiku?
" Saya benar-benar minta maaf nyonya!" Kata Darius. Kulihat dia menangis. Aku hanya diam menatap kosong dinding didepanku.
" Darius, katakan apakah aku kehilangannya?"
Darius hanya menunduk. Aku tahu apa jawaban dari pertanyan ku. Bayiku__
Darius masih berlutut hingga pria iblis itu datang masuk keruangan kami. Aku tidak menatap matanya. Kehilangan bayi yang hampir selama 3 bulan kukandung membuatku merasakan sakit. Rasa sakit ini lebih parah. Bahkan melebihi rasa sakit ketika pria iblis itu mengambil kesucianku.
Kau tidak bisa mengalahkan bagaimana rasa sakit dari seorang ibu yang kehilangan anaknya meskipun pertama kali aku tidak pernah mengharapkan keberadaanya tapi tetap saja rasanya sakit. Rasa pahit dan getir yang tiba-tiba datang ke ulu hati.
" Darius bangunlah. Ini bukan salahmu. Aku satu-satunya orang yang patut disalahkan" kata Leonel. Dia duduk disampingku.
" Dokter memintaku memilih, dirimu atau tidak untuk keduanya. Dan aku memilihmu. Maafkan aku. Bukan dirimu yang tidak bisa menjaganya tapi aku sebagai seorang ayah yang gagal untuk melindungi istri juga anaknya. Maafkan aku honey!" Katanya seraya meraih tanganku.
Aku...
Aku membencinya! Aku menepis tanganya kasar. Dengan bruntal mencoba mencabut selang yang menempel ditubuhku. Menangis frustasi dalam segala ketidakadilan dalam hidupku. Kenapa begitu menyedihkan! Aku meraung menangisi kepergiannya. Bahkan aku belum mendapatkan hasil usg dari bayi kecilku. Apa ini doa yang Tuhan kabulkan? Bukankah dulu aku ingin bayi ini tidak ada? Tapi kenapa ini menyakitkan?
" Maafkan aku honey, maafkan aku, kumohon. Tenanglah sayang"
Hingga akhirnya obat penenanglah yang mematikan segala gerak tubuhku. Aku hanya mampu menatap datar dinding dihadapanku. Tidak kuperdulikan siapapun yang mencoba berbicara denganku. Aku lebih memilih untuk diam membisu. Sebenci apa Tuhan terhadapku sehingga membuatku merasakan sakit yang luar biasa ini? Apa yang sudah kulakukan dimasa lalu hingga apa yang kualami semenyakitkan ini?
Salju semakin deras. Hari ini dokter sudah memperbolehkan diriku pulang. Aku pulang dengan ditemani Darius dan Leonel. Darius dengan sigap membantuku dalam segala hal. Dia seperti seorang dukun yang mampu membaca pikiran. Ketika aku ingin minum dia dengan sigap mengambil air mineral. Ketika aku ingin melihat jalanan dia dengan sigap membuka cendela dan aku tidak mengatakan sepatah kata apapun tapi dia mengerti dengan apa yang aku inginkan.
Mobil berlahan memasuki mansion megah, beberapa pelayan menyambut kami dan ketika pintu terbuka perempuan itu masih berada disana. Aku menatapnya datar. Dan perempuan itu menyungingkan senyum liciknya. Aku ingin memukulnya, melemparkannya ke kolam buaya atau memasukan dirinya kekandang singga tapi aku tahu sebuah cara yang ampuh untuk membuatnya semakin terluka.
" Leonel, kau mencintai perempuan itu?" Tanyaku ke leonel cukup keras sehingga perempuan itu mendengar. Leonel menatapku lalu tidak menjawab dan hanya diam menatapku. Aku tidak tahu alasan kenapa wanita itu masih ditempat ini. Pastilah dia seseorang yang berharga karena masih bisa berada disini.
" Jawablah" kataku pelan.
" Aku ingin bilang tidak, dan kenyataanya tidak. Tapi sesuatu yang rumit terjadi diantara kami. Hanya dirimu satu-satunya!" Kata leonel pelan. Dia berbisik ditelingaku. Aku mengembangkan senyumku.
" Aku tahu, terimakasih" aku mencium tepat bibir leonel. Melumatnya sedikit ganas dan leonel membalas apa yang kulakukan. Ini kulakukan dengan sengaja. Bukankah perempuan itu sangat mencintai Leonel jadi apakah hatinya hancur berkeping-keping setelah melihat ini?
Apa aku kejam? Ya! Dan mereka yang mengubahku, atau takdir yang membuatku seperti ini. Aku melepas ciumanku setelah kurasa aku hampir kehabisan nafas. Leonel terengah-engah sama sepertiku yang terengah-engah.
" Aku melakukan ini hanya agar wanita didepanmu terasa hancur sama seperti dia menghancurkanku!" Bisikku pelan ditelinga leonel. Kubuat caraku berbisik semesra mungkin. Leonel hanya tersenyum kecil.
Aku berbalik dan melihat wanita itu. Air mata turun deras menuruni matanya. Kesedihan dan kekecewaan terpancar jelas dimatanya. Aku berjalan mendekatinya dan berbisik pelan ditelinganya.
" Satu-satunya hal yang membuat leonel takut adalah kehilanganku, jadi bunuh aku jika kau bisa. Dan itu hanya akan menambah penderitaan dihidupmu. Satu lagi, aku tidak pernah takut untuk mati! Aku bahkan berharap untuk mati. " Kataku pelan. Albert mengeram marah.
" Kau tidak tahu apa yang terjadi diantara diriku dan Leonel. Dia tidak mencintaimu! Dia__"
" Aku tidak perduli apakah dia mencintaiku atau tidak, juga tidak perduli serumit apa hubunganmu dengannya. Yang perlu kau tahu adalah kau membuatku merasakan kehilangan dan aku akan membuatmu merasakan kehilangan juga!"
" Aku akan berbicara dengan kakek, agar dia mendepakmu dari tempat ini. Dan membunuhmu. Leonel tidak mungkin melawan kakeknya. Apa kau tidak tahu?" Aku menyungingkan senyum licikku. Apakah dibelakangnya berdiri kakek leonel. Apakah dia yang mendukungnya?
" Sudah kubilang aku tidak perduli. Bahkan jika kakek leonel membuangku aku tidak perduli atau dia membunuhku aku juga tidak perduli. Yang kuperdulikan sekarang adalah menyusun satu persatu untuk membuatmu merasakan kehilangan. Persiapkan dirimu karena aku tidak ahli dalam menembak!" Kataku datar. Dia tersentak kaget tapi masih menampilkan wajah kecutnya. Aku kembali menyungingkan senyum licikku. Apa sekarang aku seperti iblis?
Aku berbalik hendak pergi menuju kamar tapi sungguh aku ingin menampar wajah mulusnya. Jadi kuurungkan niatku dan kutampar keras wanita itu. Tidak ada siapapun yang berani menghentikanku bahkan Leonel diam saja. Bahkan para pelayan yang awalnya terlihat setia bersamanya memilih untuk menunduk. Ryu hanya memandang sambil tersenyum sedikit senang. Darius masih diam.
" Kau__"
" Itu hanya sebagian kecil rasa sakit dari apa yang kurasakan!" Kataku. Dapat kulihat wajahnya memerah. Bahkan aku sendiri merasa tanganku sangat sakit.
" Leonel dia__" sebelum wanita itu melanjutkan perkataanya Leonel lebih dulu menghampiriku dan meraih tangaku. Dia melihat tanganku yang memerah.
" Ayo keatas, kuobati tanganmu. Bekas infus menimbulkan darah keluar lagi sayang" katanya ramah seraya membawa tubuhku pergi. Aku tersenyum mengejek kearah Albert. Kau sudah kalah bukan jadi silahkan saja berbicara kepada kakeknya karena aku sudah merasa menjadi gila dan iblis sudah mulai merasukiku.
" Kau tahu albert, seberapa keras kau berusaha kau tidak akan mendapatkan apapun karena wanita itulah yang mampu mengimbangi keras lembutnya leonel. Jadi hentikan tingkah bodohmu. Bahkan jika kau mau berbicara dengan kakek itu tidak akan mengubah apapun!" Dapat kudengar Ryu berbicara sebelum pintu kamar tertutup oleh leonel.