Aku membawanya kembali pulang kemansion setelah beberapa saat kemudian Arsy bangun dan dia mengeluh sakit kepala. Sampai rumah aku meminta dokter memeriksa keadaanya. Ayah Nora mengantikan Nora memeriksa Arsy karena Nora masih harus berada dipernikahan itu.
" Kandungannya baik-baik saja. Dan kurasa dia hanya kelelahan. Harus banyak-banyak istirahat dan jangan membuat dia mendapat beban pikiran. Hanya itu saja nak, tebuslah beberapa vitamin untuknya" kata Mr. Kim. Aku menganguk dan dia pergi.
Kupandangi perban yang membalut lehernya dengan penuh penyesalan. Andaikan aku bisa sedikit mengontrol kecemburuanku! Aku ikut berbaring di sampingnya dan memeluknya. Berkali-kali kucium kening juga pipi putihnya. Wanitaku! Andaikan dia tahu betapa berharganya dia dihidupku karena dialah penyelamat hidupku dan satu-satunya orang yang mampu membuatku berjanji.
" Pergilah! Jangan menciumiku kau mengangu tidurku! Dasar!" Katanya seraya mendorong tubuhku menjauh naman tidak bisa karena tenaganya masih lemah.
" Maafkan aku Honey" kataku seraya mencium keningnya.
" Gak! Enak aja main maaf-maafan. Gak tahu apa aku bisa jauh lebih gila dari kamu? Heh enak aja. Gak! Gak ada maaf-maafan dengan mudah tanpa persyaratan!" Dasar gadis kecilku yang pandai mencari kesempatan.
Aku mengubah posisi tubuhku dari rebahan dengan satu tanganku menyangga tubuhku berada tepat diatas tubuh kecil Arsy. Lihat dia mulai ketakutan. Dengan berlahan aku mendekatkan bibirku ke bibirnya. Dia menerima? Jelas saja tidak. Bahkan pemberontakn adalah makanan ku sehari-hari jika aku ingin memeluk atau menciumnya. Aku ikut bertindak lebih kasar jika dia mulai memberontak hingga akhirnya dia pasrah menerima. Aku melembutkan ciuamanku. Rasanya menjadi candu. Rasa manis dan lembut membuat hatiku berdebar-debar.
" Pertama aku benci jika melihat orang lain memelukmu. Bahkan jika itu ayahmu sendiri tapi okelah tak masalah jika ayahmu ingin memelukmu. Tidak jika orang lain. Paham?" Kataku. Dia memberngut lucu dan menatapku marah.
" Kedua jaga kesehatanmu dan ketiga aku bertanya-tanya kau ingin kuliah tidak? Bukankah pendidikan terakhirmu hanya senior high school? " kataku. Dia sedikit terkejut ketika aku menawarinya kuliah.
" Keempat. Besok pagi bangun pagi karena kita akan pindah ke amerika. Paham? Sekarang tidur!" Aku mencium keningnya sekilas kemudian memeluknya. Dia masih berusaha mendorong tubuhku pergi menjauh tapi menyerah seperti malam-malam sebelumnya dan jatuh tertidur. Wanitaku tertidur lelap dipelakanku.
****
Keesokan paginya pria iblis itu tidak main-main. Kami berangkat pergi kebandara. Entah pergi kemana jet pribadi pria itu. Walaupun jujur aku juga ingin tahu bagaimana menaiki jet mewah itu. Ronald dan Nora tidak ikut karena ada beberapa pekerjaan dan Luis memilih untuk tetap tinggal di Itali. Dia tidak ingin pergi ke Amerika. Entah dibagian negara mana nanti kami tinggal tapi aku tidak perduli. Dipikiranku masih terngiang-ngiang tentang tawaranya semalam. Kuliah? Masuk universiti tidak ada dalam kamus hidupku karena dulu aku tahu hal itu tidak akan mungkin. Sebagai anak tertua aku tahu bahwa tangungjawabku besar. Dan aku masih memiliki seorang adik juga.
Setelah melalui ruang pemeriksaan dan imigrasi kami sampai ke kursi dimana kami duduk. Ini seperti__ entahlah, tapi ini berbeda sekali disaat aku mengambil cuti untuk pulang kampung. Pesawat yang kunaiki sepertinya kelas atas.
Aku memutuskan untuk duduk disebelah cendela dan leonel duduk disampingku dengan wajah pucat pasi. Ada apa dengan dirinya? Apa dia takut naik pesawat? Sementara Ryu dan Darius duduk disamping kami. Aku mengabaikan leonel, terserah dia mau sakit atau tidak aku juga tidak perduli. Kurasa dia masuk angin.
Masuk angin? Aku tertawa dengan pikiran yang tiba-tiba melintas diotakku. Masuk angin? Benarkah orang luar negeri bisa masuk angin? Terlebih iblis seperti dia apa benar-benar masuk angin? Iblis masuk angin? Aku tertawa pelan. Membayangkan diriku mengerik pungungnya seperti di indonesia membuatku tergelak kecil. Apa dia akan kesakitan sama sepertiku ketika ibukku mengerik pungungkku karena masuk angin? Lagi-lagi aku tertawa, apa iya Iblis seperti dia bisa merasakan kesakitan?
" Ada apa sayang?" Tanyanya. Aku semakin melebarkan senyumku. Aku butuh koin untuk mengerik pungungnya! Ah untuk apa juga aku perduli.
" Kau terlihat pucat, kau baik-baik saja. Kita bisa menunda kepergian kita. Kau kan kaya? Dan kehilangan tiket pesawat pasti tidak akan membuatmu rugi bukan?" Kataku.
Dia mengeleng pelan.
" Aku baik-baik saja, semoga. Dan terimakasih telah perduli sayang, aku hanya sedikit merasa mual__" selesai mengatakan kalimat itu Leonel muntah dikedua tangannya. Aku panik, pesawat sudah lepas landas sekarang. Segera kupangil Ryu dan Darius. Dan dengan sigap pula kubantu dia membersihkan diri dikamar mandi.
Aku meruntuki kebodohanku, kenapa aku membantunya. Harusnya aku membiarkan saja. Tapi tubuhku secara refleks berdiri dan melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Setelah kami duduk Ryu datang dengan beberapa irisan lemon segar. Aku mengerutkan keningku. Leonel mengalami gejala kehamilan yang seharusnya kualami?
Tepat saat itu aku tertawa keras. Leonel hanya pasrah dan duduk sambil menghisap irisan lemonnya.
" Dasar, kau mengidam? Muntah hanya dipagi hari? Bagaimana rasanya?" Tanya Ryu. Aku semakin tertawa lebar. Melihat dia seperti ini tidak membuatku merasa kasihan justru merasa lucu. Iblis ini mengalami gejala kehamilan karena istrinya yang sedang hamil.
" Apa kau mengalami seperti ini setiap pagi sayang?" Tanyanya. Kok jadi aku sih? Kenapa dia khawatir melihatku? Aku baik-baik saja. Aku mendengus sebal.
" Kau yang muntah, aku baik-baik saja. Hanya 2 minggu setelah aku tahu bahwa aku hamil."
" Maafkan aku Sayang, sunguh aku tidak pernah ingin menyiksamu dengan hal seperti ini " katanya. Dia memelukku. Aku hanya diam membiarkan dia memelukku toh percuma menolak karena aku tetap saja kalah.
" Itu hanya muntah biasa, aku sudah pernah kau cambuk, sayat pakai pisau, kau pukul, tendang bahkan kau perkosa! Dasar." Kataku pelan. Dia melepas pelukannya dan menatapku penuh penyesalan. Aku menjadi risih.
" Apa sih, udah ah gak usah lebay lagian yang gak sehat kamu, bukan aku!" Kataku sewot. Pria iblis itu mengangguk dan membenarkan letak duduknya. Setelah menghabiskan irisian lemon dia terlihat lebih baik.
Aku menyuruhnya untuk tidur dan dia tidur dengan mendekap seluruh tubuhku. Aku menyesal menyuruhnya tidur jika seperti ini. Dia bilang aroma tubuhku menenangkan. Ini mengingatkanku sebelum menikah dulu dan aroma tubuhnya juga menjadi salah satu penenangku.
Jika aku tidak salah ini sudah 3 bulan aku mengandung bayinya. Dan entah kenapa aku tidak ingin kehilangannya. Berbeda aku yang dulu tidak menginginkannya sekarang aku benar-benar berharap bahwa bayi ini sehat dan kelak ketika dia lahir dia akan bahagia. Aku mengusap perutku pelan. Membayangkan betapa mengemaskannya dia kelak.
" Apa sakit honey?" Tanya leonel tiba-tiba. Aku mengeleng.
" Aku hanya ingin mengusapnya. Itu saja"
" Beritahu aku jika dia mulai menendang, aku ingin merasakannya"
Aku tidak menanggapi perkataan leonel dan memilih untuk tidur.
Aku bermimpi berada dibawah salju yang putih, dengan mantel berwarna hitam dan rambut yang terurai. Hanya saja kakiku tanpa alas dan aku tidak merasa kedinginan. Aku mengamati sekelilingku, hanya hamparan salju tanpa ada apapun. Tidak ada seorangpun disini, bahkan sebuah pohonpun tidak ada. Dan sesorang dengan jubah merah mengulurkan tanggannya untukku. Tapi aku tidak jatuh! Untuk apa dia mengulurkan tangganya?
Dan kenapa wajahnya tidak terlihat?
Aku tersentak bangun, hawa dingin tidak menyambutku tapi pemandangan penuh salju putih dan tumbuhan tanpa daun memenuhi mataku. Aku sudah berada di mobil. Hebat sekali mereka bisa membawaku keluar dari pesawat, ruang imigrasi, dan keluar dari bandara tanpa ada masalah. Ah, masalah akan selesai jika kau memiliki banyak uang. Dengan pelan aku mengeliatkan tubuhku, tidak ada Leonel disini. Hanya ada Darius yang mengulurkan sebotol air untukku. Sudah berapa lama aku tidur?
" Tuan sedang ada urusan Nyonya jadi beliau meminta kita untuk ke mansion terlebih dahulu. Apa ada yang anda butuhkan?" Tanyanya sopan.
" Berhenti bersikap sopan Darius, rasanya aku terlalu muda dibandigkan denganmu. Aku hanya penasaran jika aku kabur apa kau bisa menangkapku?" Kataku seraya tertawa lucu. Bukan jenis tawa yang menantang tapi lebih ke bercanda. Darius balas tertawa, dia lalu membuka sedikit lebar tirai mobil, menampakan jalanan yang tertutup salju.
" Saya memiliki 4 anak dan satu orang tua yang harus saya hidupi, jika anda pergi dan saya tidak bisa membawa anda kembali maka saya akan kehilangan 5 nyawa. Jadi mohon kerjasamanya Nyonya"
" Aku hanya bercanda, jangan diangap serius. Lagipula aku tidak memiliki persiapan apapun untuk kabur. Jadi lebih baik aku menyimpan baik-baik rencana yang rasanya sia-sia" jawabku sekenannya. Aku kembali melihat jalanan yang tertutup salju hingga tidak lama kemudian kami sampai disebuah mansion megah.
Darius memberiku sebuah mantel sebelum kami turun dari mobil. Benar saja suhu dingin langsung menghantam wajahku. Ketika kami masuk ke mansion sudah ada beberapa pelayan yang menyambut kami.
" Nyonya, ini Mr. Kim, dia kepala pelayan dirumah ini jadi jika ada apapun yang anda butuhkan silahkan hubungi saya atau Mr. Kim" aku menganguk mendengar penjelasan Darius.
Mr. Kim mengantarku ke kamar yang akan kami tempati. Barang kami sudah ada disana bahkan punya Leonel pun juga. Aku memandang kamar luas yang lagi-lagi membuatku terpana dengan desain dan keindahannya. Balkon kamar ini lagi-lagi juga mengarah ke laut. Begitu suka kah leonel dengan laut?
Darius, aku butuh beberapa pendapatnya. Aku ingin mendiskusikan tentang kuliah. Jika dilihat usia Darius hampir sama dengan ayah jadi mungkin lebih nyaman berdiskusi denganya dari pada dengan Leonel. Hanya saja, bukankah aku sedang hamil? Jadi untuk apa kuliah? Rasanya itu hanya akan menjadi hal yang sia-sia karena leonel tidak mungkin mengizinkanku keluar dari mansion megahnya. Aku merebahkan tubuhku di sembarang sofa, mengamati langit-langit kamar dengan bosan, berfikir dan mengandai-andai banyak hal hingga aku baru sadar bahwa sedari tadi ada suara piano yang bermain dengan lembut.
Aku penasaran jadi kuambil jaketku dan berlari keluar dari kamar, menjelajah ruangan demi ruangan hingga berada tepat didepan aula besar yang tanpa pintu. Dengan hiasan bungga angrek dan mawar. Ditengah-tengah aula ada seorang gadis dengan rambut pirang dan kulit yang seputih salju hanya saja terlihat sedikit pucat. Dia bermain dengan angun. Pakaiannya jelas menujukan bahwa dia berada di kelas atas. Ada 2 pelayan yang bersamanya. Aku berjalan mendekat, lalu bersembunyi di belakang pilar. Gadis itu berhenti bermain piano dan merengangkan tanggannya.
" Seperti biasa anda memang luar biasa nona, apa ada yang nona butuhkan?" Tanya salah satu pelayan.
" Tidak Mia, oh iya Darius bilang kapan tuan akan kembali?"
" Apa Nona sunguh sedang merindukan Tuan? Tuan Darius bilang saat ini Tuan leonel sedang ada urusan, dia mungkin akan kembali pukul 10 malam nanti nona, hadiah apa yang akan nona siapkan untuk menyambut kedatangan Tuan?" Kata Mia. Aku masih berada diposisiku. Gadis itu siapanya Leonel?
" Salahkah aku jika aku merindukan suamiku Mia?" Kata Gadis itu seraya tertawa pelan. Suami? Leonel?
" Aku menyiapkan beberapa gaun malam yang indah. Entah Leonel nanti menyukaiku atau tidak tapi kami sudah tentu saling merindu dan harus menuntaskan hasrat kami bukan? Oh iya, Mia bantu aku berdandan iya. Aku ingin terlihat cantik ketika Leonel nanti pulang"
" Tentu Nona"
Dia istri Leonel? Jadi aku ini apa? Apa karena aku sedang hamil jadi dia berbaik hati padaku, mengatakan bahwa dia mencintaiku dan kemudian kelak mengambil bayiku? Lalu membuangku seperti sampah?