Aku menyerah dan memilih kembali kekamar. Kurasa aku butuh tidur.
Ketika aku bangun hari sudah gelap. Pria iblis itu entah kemana aku tidak tahu. Kata salah satu pelayan dia keluar mengurus perkerjaannya. Aku hanya mengangkat bahuku acuh mendengar perkataan pelayan itu. Luis sudab pulang tapi dia bilang dia banyak tugas dan dari tadi tidak keluar dari kamar.
Aku berfikir apa yang bisa dilakukan untuk menghilangkan rasa bosan? Jadi kuputuskan untuk berkeliling mansion ini. Berapa luas bangunan ini bahkan aku tidak tahu tapi seluruh ruangan yang kutemui memiliki desain epik dan menakjubkan. Setelah kejadian aku masuk ke salah satu ruangan rahasianya dia memutuskan untuk mengubah segala ruangan rahasia menjadi tempat yang tidak rahasia. Itu kuketahui dari Ryu sehinga aku bisa bebas menjelajahi seluruh ruangan tanpa rasa takut dan khawatir.
Aku terus berjalan hingga sampai ke bagasi pria iblis ini. Wow! Menakjubkan! Mobil mewah yang pasti harganya ratusan juta terpampang nyata dan banyak. Pindah ke ruangan lain ternyata tempat basket, didalam rumah? Ini gila. Aku terus menjelajah, ruang bioskop, kolam renang, ruang musik, bahkan bowling? Berapa harga mansion ini?
Aku tidak tahu bahwa perpustakaan yang dalam satu detik aku mengetahui tempat ini sudah kujadikan tempat favoritku terhubung langsung dengan ruang kerja pria iblis itu. Sedikit penasaran aku masuk ke dalam ruang kerja pria itu. JKstarope. Seperti sebuah nama perusahaan? Dan menakjupkan ketika photo pernikahan kami terpampang besar disana. Ada sedikit bungga api kecil di hatiku. Hanya sedikit. Kurasa ayah dari bayi ini memang menyukaiku. Atau dia kasihan denganku setelah apa yang dia toreh sehingga mencoba menebusnya?
Aku pergi keluar dari pintu depan dan pria iblis itu tepat berada didepan pintu. Sedikit terkejut aku mencoba menampilkam kembali wajah acuhku.
" Puas berkeliling honey?" Tanyanya biasa. Bahkan diwajahnya terdapat senyum ramah seperti biasnya. Dia tidak marah aku masuk kedalam ruang kerjanya?
" Kau tidak marah?" Tanyaku padanya. Dua mengerutkan keningnya bingung.
" Untuk apa?"
" Aku mencoba mencuri data penting di dalam ruang kerjamu dan aku akan menghancurkanmu dan membuatmu bangkrut!" Kataku. Apa aku terlihat seperti bocah yang marah karena tidak diberi permen? Dia menarik salah satu sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman yang seksi.
" aku tidak pernah memiliki data penting honey. Hanya kamu satu-satunya hal penting dalam hidupku"
" Gombal mukio! Pembohong!" Kataku dalam bahas indonesia dan jawa. Dia sekarang sedikit paham ketika aku berkata dalam bahasa indonesia jadi aku akan membuatnya bingung dengan bahasa jawa. Ini setidaknya seimbang karena aku juga sering tidak tahu bahasa apa yang dia gunakan. Seperti rasanya bahasa itali, atau portugal. Entahlah aku malas mencari tahu juga.
" Persiapkan dirimu honey, kita akan menghadiri sebuah pesta"
" TIDAK MAU!" kataku sengit. Dia memberengut lucu. Tapi itu tidak membuatku melunak. Siapa yang bilang jika dia menampilkan wajah seperti itu akan membuatku menjadi baik? Aku bahkan sudah pernah mendapat cambuk dan pukulam darinya. Dia tetaplah iblis.
" Harus mau Honey, atau kita bisa menganti pesta dengan aktifitas panas di ranjang. Bagaimana?"
" Aku bersiap sekarang. Biar aku ganti baju!"
Lagi-lagi aku kalah. Tapi lebih baik lelah dengan pesta dari pada lelah dibuat oleh pria iblis itu. Aku tidak mau mendesah dibawahnya. Dapat kulihat dia tertawa geli. Arghhhh kenapa harus selalu kalah dengan dia?
Aku segera pergi kekamar tapi-- sudah kubilang rumah ini luas bahkan mungkin tiga kali lapangan bola. Dan aku lupa dimana arah jalan menuju kamar. Aku kembali ke pria iblis itu. Dia mengerutkan keningnya bingung. Tidak! Aku tidak ingin meminta bantuanya jadi aku kembali pergi meningalkan leonel.
Aku bodoh! Dengan bergegas aku mengejar salah satu pelayan yang untunglah terlihat olehku. Aku memintanya untuk mengantarku kembali kekamar. Pelayan itu menganguk ramah lalu menujukanku jalan menuju kamar dengan menaiki lift.
Rumah yang menyebalkan! Sama seperti pemiliknya!
Kami pergi ke pesta. Aku sengaja duduk jauh ketika berada dimobil mewahnya. Sedikit risih dengan pakaian yang sekarang kugunakan. Pakaian bertabur berlian ini sunguh terasa pas ditubuhku tapi aku tidak nyaman. Mengetahui bahwa harga gaun ini bisa digunakan untuk makan 100 keluarga dalam satu bulan entah kenapa membuatku merasa bersalah. Dunia sunguh tidak adil. Mereka yang kaya akan semakin kaya sementara yang miskin akan semakin menderita.
Aku tidak tahu jenis pesta apa yang kami datangi. Suasana hotel sangat ramai oleh orang-orang berkelas. Mereka sangat cantik dengan gaun dan riasan mereka sementara aku gugup ketika sadar bahwa aku hanya memoleskan lipblam agar bibirku tidak kering. Bahkan aku tidak memakai bedak. Rambutku kubiarkan terurai begitu saja dengan gelombang alaminya. Kulihat leonel yang juga melihat kearahku, apa yang dia pikirkan tentangku? Dia tersenyum pelan lalu menelfon seseorang dengan bahasa asing yang aku tidak ketahui sama sekali. Sejurus kemudian dia meningalkanku dimobil dan nora masuk kedalam mobil.
" Hallo Arsy, maaf iya tapi aku akan sedikit meriasmu. Sungguh kau terlihat cantik tapi izinkan aku menambahkan sedikit" katanya ramah. Aku hanya menganguk. Toh tidak ada gunanya menolak dan aku ingin terlihat lebih baik dari orang-orang berkelas itu.
" Berapa lama kau kenal pria iblis itu?" Tanyaku padanya disela dia mulai merias wajahku.
" Siapa? Leonel? Aku anak dari teman ayahnya"
" Kau sudah menikah?" Tanyaku lagi. Dia menganguk dan dengan bangganya menceritakan pernikahan serta kehidupanya. Dia adalah seorang dokter. Sudah memiliki 2 anak kembar laki-laki yang sekarang berumur 7 tahun.
" Beruntungnya sekali dirimu berhasil ditemukan Leonel. Tidak maksutku beruntung sekali leonel bisa menemukanmu. Nah sudah siap. Kau tampak mempesona!"
" Maksutnya? Siapa yang beruntung siapa?" Tanyaku bingung. Nora hanya tersenyum dan dia bergegas keluar dari dalam mobil.
Pesta ini diselengarakan untuk mereka-mereka yang berlebihan uang. Aku memasuki tempat ini dengan Leonel yang berjalan disampingku. Ryu berjalan didepan dan Ronald serta Nora berjalan bersisihan dibelakang. Belakangan baru kuketahui dari Ryu jika Nora dan Ronald adalah pasangan.
Suara musik mengalun keras, minuman alkohol, makanan desert mewah dan apapun itu yang sama sekali tidak menjadi fokus mataku. Mataku hanya terfokus pada penari-penari perempuan cantik dibeberapa tempat. Ini bukan jenis pesta yang mana kau bisa berdansa pelan dengan pasanganmu. Ini lebih seperti clup. Clup? Darimana pikiran itu muncul dikepalaku sedangkan aku tidak pernah menginjakan kakiku di clup? Dan tidak ada Clup ditempat mewah seperti ini! Para pelayan berlalu lalang menyajikan minuman beralkohol. Leonel terus mengajakku masuk kedalam pesta lebih dalam. Lalu tiba-tiba kami menghentikan langkah kami. Entah apa yang terjadi tapi dapat kulihat Ryu sedang berbicara dengan seseorang lelaki dan berbadan besar. Ryu memiliki postur tubuh seperti orang amerika dengan badan berotot dan tinggi yang sempurna tapi wajahnya sama sekali tidak terlihat seperti orang Amerika. Dia lebih mirip ke Asia. Sama sepertiku.
" Leo, berapa tingkat?" Tanya Ryu. Leonel menyerahkan selembar kartu nama dan kemudian pelayan itu membungkuk hormat. Dia lalu mengarahkan kami menuju ke sebuah aula dengan banyak perempuan kaya yang mendominasi. Gaun mahal, sepatu mewah, tatanan rambut yang elegan dan banyak hal lain lagi. Yang membuatku risih adalah mereka yang mengumbar belahan d**a mereka.
" Ini pernikahan salah satu kolega kami Arsy. Kuharap kau menikmati pestanya sayang." Kata Nora. Dia lalu berlalu pergi dengan Ronald menuju bar minuman. Ryu masih setia berjalan didepan kami menuju seorang lelaki tua dan perempuan muda. Apa mereka pengantinya? Lelaki itu mungkin berumur 60 tahun dan perempuan itu masih sangat muda!
" Selamat atas pernikahannya Tuan Alex. Kau sangat pandai memilih istri." Kudengar Ryu memberi ucapan selamat kepada mereka. Seriusan mereka pengantinya?
" Hallo Mr. Leonel, suatu kehormatan anda bisa datang di pernikahan kami. Semoga anda menikmati pestanya"
Leonel tersenyum dan balas menerima pelukan serta uluran tangan pria itu. Aku hanya diam mengamati interaksi mereka. Jika dipernikahanku aku menampilkan wajah masam dan sedikit senyum berbeda dengan pengantin yang sekarang didepanku. Senyum lebar terpancar nyata dukedua belah pihak.
" Senang bertemu denganmu Mrs. Smith, Leonel sangat beruntung memiliki anda dihidupnya" katanya ramah kepadaku. Aku balas tersenyum. Jadi nama belakang Leonel adalah Smith? Yang dia katakan benar Leonel beruntung mendapatkanku tapi aku seperti tertimpa musibah mendapatkanya!
" Senang bertemu dengan anda juga Mr..." well aku tidak tahu namanya.
" William honey, namanya Alex William. Founder dan CEO dari majalah Fasion serta direktor film" kata Leonel ketika melihatku sedikit bingung harus menyebut namanya siapa.
" Ya, Mr. William. Senang bertemu dengan anda juga" kataku akhirnya. Mataku seperti menangkap sosok yang kukenal. Postur tubuh itu__
"Maaf kurasa aku mengenali salah satu tamumu sebagai temanku Mr. William" kataku seraya tersenyum dan berlahan undur diri. Leonel menatapku datar tapi dapat kulihat rasa penasaran dan marah dari kedua matanya. Aku mengabaikannya lalu berjalan menuju samping aula dimana aku melihat Bang Dhean.
Terus berjalan diantara kerumunan dengan Ryu yang mengikutiku. Aku tahu kenapa Ryu yang mengikutiku karena jika saja aku bertemu Bang Dhean dan Leonel yang berada dibelakangku maka aku yakin Leonel akan membunuhnya karena cemburu. Hei, bukan karena aku besar kepala tapi memang kenyataanya di pencemburu. Hanya saja aku tidak menemukan apapun. Hanya taman dengan ratusan bungga mawar dan hiasan lampu kecil serta meja-meja berisi penuh makanan. Aku terus mencari dan masih tidak ada apa-apa.
"Kecewa tidak menemukan apapun nona? Atau hanya alasanmu saja mencoba kabur dariku Honey?" Leonel tiba-tiba sudah berdiri dibelakangku mengantikan Ryu. Sejak kapan dia datang. Aku memutar kedua bola mataku bosan. Lihatlah sikapnya yang semakin membuatku membencinya.
" Siapa dia Honey?" Tanyanya.
" Aku tidak menemukan siapapun. Puas!" Kataku padanya. Aku bergegas menyusul Ryu tapi kemudian seseorang tanpa sengaja menbrakku atau aku tanpa sengaja menabraknya sehingga membuat pria iblisku serta Ryu bergegas menghampiriku. Aku menatap pria yang menabrakku dan sedetik kemudian aku terpaku. Bukan pada ketampananya tapi dia adalah orang yang sangat kukenal dan ingin kutemui. Bang Dhean!
" Arsy?" Katanya pelan. Dia bahkan hampir tidak bisa berucap karena terkejut. Sedetik kemudian aku memeluknya. Dia balas memelukku.
" Bang Dhean.. aku... aku..." Aku tergagap dan menangis. Aku tidak tahu kenapa aku menangis sungguh.
" Kau dimana saja bodoh?! Aku mencarimu! Tidakkah kau tahu betapa khawatirnya kami?" Katanya khawatir. Aku tahu dia benar-benar khawatir. Aku malah menangis sesengukan dipelukannya.
" Aku merindukanmu. Sungguh!" Katanya.
Sedetik kemudian semua tidak terkendali. Sebuah tanggan menarikku keras dan seseorang memukul Bang Dhean. Dia terkapar jatuh oleh serangan tidak terduga ini. Aku panik, karena detik selanjutnya sebuah pistol ditodongkan tepat dikepalanya. Leonel menodongkan pistol itu tepat dikepala Bang Dhean. Darah mengalir dari hidung Bang Dhean karena pukulan Leonel tadi.
Saat aku hendak melarang Ryu dan Darius sudah berdiri didepanku. Aku ingin mengamuk.
" b*****t apa yang kau lakukan! Lepaskan aku!" Makiku pada Darius. Ryu hanya terkekeh melihatku dan sekarang aku baru saja melihat betapa menakutkannya Ryu.
Aku tidak mengetahui apa yang mereka katakan. Tapi kepanikan kembali melandaku ketika kulihat Leonel menarik pelatuknya. Aku berfikir keras lalu dengan kasar kugigit tangan Darius dan menghentakannya keras. Berhasil lepas dari Darius aku berlari menuju salah satu meja. Mengambil sebotol angur dan memecahkan botol itu. Beling berceceran di rumput taman ini. Aku mengambil beling yang besar lalu meletakannya tepat dibawah leherku. Jika tidak seperti ini maka semuanya tidak akan terkendali. Satu-satunya yang membuat Leonel takut adalah kehilangan nyawaku. Semoga saja!
" Jangan mendekat atau aku akan mengoreskan benda ini keleherku!" Kataku keras ketika kulihat Darius dan Ryu hendak mendekatiku. Leonel melihatku dia mengeram marah. Aku tersenyum sinis lalu menantang mata marahnya. Aku sudah gila!
" Arsy! Jangan gila!" Bentak Bang Dhean. Aku hanya menatapnya, tidak tahukah dia kalau aku tidak melakukan ini nyawanya terancam. Dia belum tahu siapa pria yang menodongkan pistol tepat dihadapanya itu!
" Pergi darinya atau aku akan mengoreskannya!" Kataku ke Leonel. Leonel menatapku masih dengan pandangan marahnya. Oh aku siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Karena leonel tidak bergerak dari tempatnya aku mengoreskan sedikit kaca itu ke leherku tanda bahwa aku tidak main-main. Darah keluar dari leherku. Meskipun sedikit tetap saja aku merasa sakit.
" ARSYANNA BEESERA! Jangan lakukan itu bodoh!" Kata Bang Dhean. Leonel menatapku. Masih menodongkan pistolnya ke arah Bang Dhean.
" Tuan, oke aku sudah beristri dan dia adalah seseorang yang mengangapku kakak begitu juga sebaliknya aku mengangapnya adik. Turunkan pistolmu kumohon!" Kata Bang Dhean memohon. Leonel masih menodongkan pistolnya dan memandangku marah. Aku kembali marah. Dengan sedikit dongkol aku mencoba mengores leherku kembali, tidak perduli darah segar mulai turun mengalir menuruni leherku.
" Arsy! Jangan gila Raudah akan membunuhku jika kau melakukan itu dan Ersya juga akan membenciku. Sungguh jangan konyol!"
" Turunkan pistolnya atau aku tidak main-main!" Kataku ke leonel. Dia masih tidak bergeming. Ketika aku hendak mengores kembali lebih dalam leherku dan pria iblis yang katanya mencintaiku itu terlihat menahan marah dengan penuh tekat aku mengores leherku lagi. Aku meringis kesakitan.
" Cukup! Ryu pangil Nora. Dan kau jelaskan siapa dia!" Katanya seraya menurunkan pistolnya. Bang Dhean segera berlari menuju diriku. Detik selanjutnya adalah sahabatku Raudah yang berlari panik menghampiriku juga. Dimana dia tadi? Aku tidak melihatnya.
" Arsy! Ya Tuhan apa yang kau lakukan? Pangil dokter__" sebelum dia melanjutkan kata-katanya Darius menarik mereka mundur dan Nora datang dengan beberapa perlengkapan obat. Hei apa Nora berlari? Kenapa begitu cepat sampainya?
Aku menyeringai dihadapan pria iblis itu dan sebelum aku menjelaskan apapun Ronald sudah datang dengan beberapa berkas dan berkata dalam bahasa asing yang aku sama sekali tidak paham.
" Apa aku mengacaukan pestanya?" Tanyaku ke Nora. Nora mengeleng dan tersenyum ramah dia lalu membalut luka dileherku yang ternyata cukup dalam.
" Kau nekat sekali sayang sampai melukai dirimu sendiri? Setelah melihat pertikaian aku meminta Ronald untuk mengosongkan taman ini. Beruntung juga keadaan sedang sepi karena fokus utama sekarang adalah Aula." Kata Nora. Aku meringis pelan.
" Iblis itu tentu tidak akan melepaskanku dengan mudah setelah kejadian ini bukan? Nora, temanmu itu gila. Main asal todong pistol saja! Jika aku tidak seperti ini dia bisa saja membunuh Dhean!" Kataku.
" Dia tergila-gila padamu. Nah hati-hati dan jangan sampai terkena air dulu. Mungkin kita akan pulang tanpa mengikuti pesta. Aku dan Ronald akan tingal sebatas menghormati saja. Kalian pulanglah."
" Gak mau!" Kataku tandas.
" Honey, jangan membantah!" Kata Pria Iblis yang sedari tadi hanya diam berdiri disampingku. Aku membuang wajahku kelain arah. Perduli setan! Aku marah denganya!
" Raoudah kau hamil?" Pekikku kaget. Tanpa memperdulikan Leonel juga yang lain aku berlari menghampiri Raoudah. Sudah hampir setengah Tahun kami tidak bersama dan sekarang perutnya sudah besar. Bang Dhean berdeham sebentar sebelum kemudian menganguk.
" Dan aku suaminya!"
" Wow! Jangan bercanda. Kenapa kalian tidak memberi undangan kepadaku? Sudah berapa bulan? Ya Tuhan ini gila! Jangan bercanda!" Kataku.
" Kami tidak bercanda, sudah 4 bulan. Memang terlihat besar iya Syi? Gak tau juga kata dokter badan aku tebel. Gak tau maksutnya apa juga. Gimana mau ngabarin kamu, kamu aja hilang" kata Raudah. Aku meringis.
" Iya, diculik iblis! Bagaimana kalian bisa sampai disini?"
" Mempelai perempuan adalah saudara sedarahku. Beda ayah satu ibu. Dan kami berhubungan baik" kata Raudah. Aku hanya menganguk seraya tersenyum.
Ryu datang menghampiri kami, lalu memberikan kartu namanya ke Bang Dhean. Saat aku sedang fokus menatap mereka tiba-tiba saja tubuhku terasa melayang. Aku merasa sangat pusing. Bayangan aneh muncul dikepalaku. Seorang anak kecil dengan lumpur, pria kekar, pengusuran rumah, dan yang terakhir sebuah uluran tangan sebelum akhirnya semuanya gelap.
***
Pof. Leonel
Aku masih diam menatap mereka berbicara. Dapat kulihat betapa bahagianya wanitaku dapat bertemu dengan mereka. Ronald berkata bahwa pria itu adalah seseorang yang sudah Arsy angap kakak. Dan selama hampir 4 tahun lelaki itu juga yang menjaga Arsy. Rasanya ingin marah ketika mengetahui selama 4 tahun mereka bersama tapi begitu Ronald berkata bahwa hubungan mereka tidak lebih dan lelaki itu sudah sejak awal jatuh cinta dengan perempuan yang sekarang juga sedang hamil membuatku menurunkan emosiku.
Aku menyesal dengan kebodohanku sehingga sekarang leher wanitaku terluka karena kecemburuanku. Dia pasti marah besar kepadaku.
Kepanikan melandaku ketika kulihat Arsy terhuyung. Dengan sigap aku berlari kearahnya dan menangkapnya sebelum tubuh kecilnya benar-benar jatuh ketanah. Dia pingsan. Nora segera mendekat dan mengecek apa yang sedang terjadi. Kami semua tidak tahu apa yang sedang terjadi karena tadi semua baik-baik saja. Perempuan hamil itu terlihat lebih panik dari kami. Dan aku penasaran betapa dekatnya hubungan mereka dulu?