Leonel.
Aku terbangun dijam 6 pagi, ketika kuraba tempat disebelahku sudah kosong. Seketika aku panik ketika Arsy tidak berada disampingku. Aku mengambil pakaianku, mengenakannya dengan terburu dan berlari menuju lantai bawah. Tunggu kenapa tidak kuperiksa lewat cctv saja? Panik membuatku kehilangan sedikit kepintaranku. Ah sudahlah aku sudah terlanjur dilantai bawah.
" Arsy?" Pangilku. Beberap maid yang berlalu lalang seketika berhenti dan mengatakan bahwa Arsy pergi jalan-jalan dengan luis dan Ersya. Di waktu yang sepagi ini?
" Kemana mereka pergi?"
" Nona luis mengajaknya ke danau tuan"
Aku mengambil jaketku dan berjalan menuju danau. Udara pagi memang menyegarkan tapi tidak jika dia harus pergi sepagi ini. Bahkan matahari belum terlihat terbit. Satu hal yang sampai saat ini membuatku dongkol adalah dia yang tidak perduli dengan ponselnya. Tidak perduli jika aku menelfon atau mengirim pesan, juga tidak perduli apa fungsinya. Dia bahkan membiarkan ponsel mahal itu mati begitu saja karena kehabisan baterai. Dan aku akan kalang kabut ketika tidak mengetahui bagaimana keadaanya. Seperti saat ini, aku terbangun dengan melihat ponselnya yang tergeletak tak berdaya disampingku membuatku susah melacaknya lewat gps yang sengaja kupasang.
Saat aku sampai disana kulihat mereka tengah memberi makan anak itik dan induknya. Aku gemas! Aku khawatir tapi dia seakan tidak perduli. Ersya dan Luis mendelik takut begitu aku sampai dengan muka marahku. Tanpa berkata apa-apa Luis menarik tangan Ersya pergi menjauh sementara Arsy terlihat bingung. Ketika dia menoleh kebelakang dia melihatku dengan pandangan terkejut.
Dia berlari kearahku, sungguh aku benci ketika dia seperti itu, bagaimana jika dia jatuh?
" Kau demam?" Tanyanya. Dia menempelkan kedua tanggannya yang dingin kewajahku. Aku tersentak kaget. Ini dirinya atau baby yang tengah dia kandung yang merubahnya. Aku tahu terkadang dia memandangku seperti hendak membunuhku, terkadang juga dia tidak mau herpisah denganku, dan kata nora itu wajar karena dia sedang mengandung.
" Kenapa tidak bilang kalau ingin jalan?" Tanyaku seraya meraih tangganya. Kulepas jaketku dan kupakaikan untuknya. Aku tidak ingin dia masuk angin.
" Kau sakit? Wajahmu merah?"
" Tidak!"
" Tapi wajahmu merah!" Dia masih kekeuh. Aku menghela nafas, niat hati hendak marah tapi lihat wajah inoncentnya, seketika rasa marahku hilang.
" Aku habis berlari!"
" Kenapa berlari?" Tanyanya lagi. Aku menuntun tanggannya menuju salah satu kursi taman. Mengajaknya duduk menikmati matahari terbit.
" Kau tidak bekerja?" Tanyanya lagi. Oke, ini ulah baby yang dia kandung! Bagaimana mungkin dia bisa jadi perduli denganku? Bahkan dia sudah banyak bertanya kepadaku! Dia biasanya diam mengacuhkanku.
" Kau mau aku berkerja di hari setelah kita menikah?"
" Kau yang memaksa!"
" Ya, aku yang memaksa. Mau bulan madu dimana honey?"
Dia diam. Apa aku merubah moodnya?
" Kita pulang honey, sarapan dan kurasa kau masih butuh tidur karena matamu terlihat lelah"
Dia masih bungkam. Ya Tuhan, jika aku tidak mencintainya sudah kupastikan kuceburkan saja ke danau tubuh kecilnya.
" Honey? Jangan mengacuhkanku!"
Lihatlah, dia masih bungkam!
" Honey?"
" Diamlah! Aku sedang berfikir!"
Aku mengerutkan keningku, apa yang dia pikirkan? Aku mengecup pipinya sekilas, bibir dan juga kening. Dirinya sudah menjadi candu untukku ketika kuketahui semua fakta yang sanggat menguntungkan untukku.
" Apa yang sedang kau fikirkan?"
" Kau berbohong padaku!"
" Tentang? "
" Kau bilang kau akan mengajakku bertemu dengan Laira!"
Wajahku seketika mengeras. Laira? Wanita picik itu terpaksa kubiarkan pergi karena kesepakatan merugikan dengan Bibi Feng. Aku kalah, tapi aku berjanji aku akan membalas apa yang telah mereka lakukan.
" Aku akan menepati apa yang akan kukatakan, tapi tidak untuk saat ini honey"
Dia kembali diam, mungkin aku memang merubah moodnya!
Aku mencium pipinya pelan. Dia mengerucutkan bibirnya.
" Ayo pulang, sarapan..."
Kami pulang, sarapan, dan Arsy lebih banyak menghabiskan waktunya dengan Luis juga Ersya. Apa yang mereka obrolkan hanya sebatas masa remaja dan mengolok hubungan Luis yang beberapa hari kandas.
Aku mengamati mereka seraya sesekali melihat laptopku. Mengendalikan semua perusahaan dengan benda kecil ini. Ronald memberitahuku bahwa nenek tua dan lelaki yang saat itu ditemui Arsy tidak dapat dilacak. Bahkan perempuan yang dia bunuh pun rasanya tidak mati juga. Apa ini sandiwara? Tapi siapa? Hanya orang terdalam yang mengetahui agendaku hari itu. Dan tidak mungkin jika salah satu temanku berkhianat.
" Ersya, kau hanya bisa disini 2 hari, besok kau harus kembali bukan? Aku sudah menyiapkan pesawatnya. Hati-hati, mungkin kami bisa mengantarmu sampai bandara" kataku menengahi mereka yang sedang berdebat tentang apakah Devin tampan atau tidak. Siapa lagi yang memulai hal bodoh itu kalau bukan Luis!
" Tidak bisakah kau tinggal lebih lama? " kata Arsy mengiba. Ersya mengeleng pelan.
" Kau! Buat adikku tinggal lebih lama! Harus!" Kata Arsy membentakku. Aku hanya tersenyum sementara Ersya terkejut bukan main. Yah, inilah kelakuan kakakmu yang selalu membentak dan memakiku Ersya.
" Kak Arsy, bukan dia yang memutuskan tapi aku yang membuat keputusan. Dia bahkan mengizinkan diriku selama sebulan disini, tapi ibu dan ayah butuh aku. Ujian tengah semester juga sedang menantiku. Maaf, "
Arsy menghela nafasnya pasrah. Dia hanya menganguk pelan dan berkata bahwa dia mengantuk. Ini jam 11 pagi, Nora bilang dia bisa tidur jika mengantuk tapi usahakan diatas jam sepuluh, tidak baik untuk kondisi orang hamil. Ersya bahkan tidak tahu kalau Arsy hamil.
Aku menyusulnya keatas, dia sudah merebahkan tubuhnya diranjang.
" Kenapa? Mood mu berubah lagi?" Tanyaku. Dia mendengus sebal.
" Pelukk!" Katanya masam.
Sungguh, percaya padaku, jika dia tidak hamil dia tidak mungkin meminta hal gila yang tak akan dia minta seperti itu. Aku berterima kasih banyak pada bayiku karena berkat dia mengidam yang aneh-aneh aku bisa lebih dekat dengan Arsy.
" Ini bayinya!" Katanya lagi. Aku tersenyum, lalu meletakan jasku asal dan melepas kemejaku. Kuikuti dia yang merebahkan tubuh kecilnya, memeluknya dari belakang dan mengusap pelan rambutnya.
" Mau yang lebih? Aku bisa memberikan yang lebih jika kau mau, meskipun kau tidak meminta."
" Hemmm!"
" Honey? I love u!" Akhirnya kata itu kuucapakan.
Sayangnya dia sudah jatuh tertidur. Ah, kenapa dia begitu mengemaskan! Aku kembali terus menciummi pipi dan bibirnya. Dia bahkan tidak bangun.
Aku bangkit dari tidurku, membuka laptopku dan membaca pesan dari Ryu. Wanita tua itu pernah berkerja di perusahaan Bibi Feng. Dan perempuan yang ditembak itu adalah Laira. Tapi lelaki itu, dia tidak tahu.
Bukankah ini aneh? Jika memang dia laira, itu berati dia tahu jika agenda hari itu adalah pergi ke toko, tapi bagaimana bisa dia tahu jika Arsy mencoba melarikan diri dariku? Dan dia bisa tahu dimana Arsy berlari.
Ponselku berbunyi, Ronald menelfonku dan mengatakan bahwa dia sudah berada dilantai bawah dengan Ryu. Aku kembali mencium pipi Arsy sebelum akhirnya pergi kebawah menemui mereka.
" Kau juga merasa ini aneh kan Nel? Ada lagi yang ingin aku sampaikan, kurasa... ah. Dinding rumahmu banyak telinga. Tidak, hanya satu atau mungkin dua!" Kata Ryu pelan. Dia mengamati sekeliling.
Satu pikiranku menyentak kepalaku. Dimana Laira?
" Gadis itu tidak melakukan operasi plastik Nel, tapi dia memakai semacam topeng yang bisa menyerupai wajah seseorang. Kurasa, dia tidak benar-benar melakukan operasi seperti yang waktu itu. Aku menyelidiki dimana bisa membeli topeng seperti itu dan salah satu orang kepercayaan Bibi Feng membelinya. Jadi, ada kemungkinan jika..."
" Leonel?" Suara lembut itu menghentikan aktifitas diskusi kami. Arsy berdiri bingung diatas tangga sembari matanya mencari sosok yang tidak dia jumpai. Mungkin dia mencari Ersya.
" Yes Honey?"
" Kenapa kau menaruh angsa mati didepan balkon?" Katanya sedikit takut. Angsa mati?
Aku bergegas menuju kearahnya, dan temanku seketika langsung memerintahkan orang-orangku untuk berjaga. Angsa mati? Siapa yang berani menaruh ini?
" Tidak perlu sealay ini juga!" Sindirnya dalam bahasa indonesia. Aku sudah sedikit paham dengan apa yang dia bicarakan sekarang. Dia tidak tahu saja bahwa ada yang menginginkan kematiannya untuk keterpurukan dan kehancuranku.
Ketika aku sampai dibalkon kamar memang terdapat angsa mati disana. Hanya aku yang memiliki akses masuk, juga laira dan ronald. Tapi ronald bersamaku sejak tadi, jadi kemungkinannya laira. Tunggu bagaimana jika ronald berkhianat? Tidak mungkin!
Tapi bagaimana bisa laira? Sementara penjagaan disini begitu ketat!
Kupeluk tubuh Arsy dan membawanya ke kamar bawah. Jangan dibilang mudah untuk memeluknya karena dia menolak bahkan memakiku. Walaupun akhirnya dua menyerah hanya diam dan sedikit terlihat bingung.
Teman-temanku sudah berkumpul mengelilinginya kecuali Nora karena dia harus pergi menemani anaknya yang sedang sakit.
" Siapa yang masuk kekamar tadi?" Tanya Ryu, Arsy mengeleng pelan tanda dia tidak tahu. Diwajahnya terlihat jelas bahwa dia malas dan dongkol.
" Ketika aku bangun Angsa itu sudah tersembelih disana. Aku ingin Angsa panggang!" Aku tersenyum kecil.Teman-temanku mengeleng seraya menahan tawanya.
" Kau tidak takut?"
" Aku tidak melihat siapa yang menyembelih, yang kulihat adalah angsa yang mati tersembelih. Kepalanya belum putus juga. Untuk apa aku takut?"
Aku menghela nafas pelan sementara Ronald memeriksa semua cctv.
Ternyata angsa itu terbang dan jatuh di sana. Mencoba menepis semua hal aneh tapi rasanya tetap ada yang tidak benar. Kurasa aku perlu meningkatkan kewaspadaanku. Atau ini hanya kekahawatiranku saja? s**t! Seperti ini rasanya jatuh cinta dan takut kehilangan?
***
Aku menghela nafas pasrah. Setelah semalam berdebat dengan si Iblis dan hasilnya nihil, pagi ini kami mengantar Luis sampai bandara. Rasanya benar-benar seperti mataku diolesi bawang merah. Aku mencoba menahan air mataku mati-matian tapi tetap saja akhirnya jatuh. Meskipun aku sangat tidak ingin menangis dan terlihat lemah dimata iblis itu tapi aku tidak mampu. Terlebih adik tersayangku sekarang sudah memasuki pesawat. Jangan ditanya bagaimana aku bisa mengantarnya hingga dia masuk pesawat, jika pria yang mati-matian mencoba memelukku-- yang sedari tadi kutolak-- adalah pemilik pesawat ini.
Ini anugrah apa hukuman sih Tuhan tiba-tiba menjadi kaya raya seperti ini. Bahkan rasanya jika aku ingin sebuah negara pria iblis ini akan mewujudkannya!
Luis tidak ikut karena dia ada kelas dan Leonel sangat tidak suka jika dia bolos pelajaran. Hanya Ryu yang sudah sangat bisa akrap denganku yang menemaninya dan memilih tetap berada di mobil dengan alasan cuaca panas. Suhu diluar sekarang memang sedang panas mengingat ini musim panas tapi ketika malam suhu akan berubah menjadi dingin.
Pesawat lepas landas tanpa kendala dan aku yang sekarang banyak kendala. Aku tidak ingin kembali ke mansion! Aku tidak ingin berada dekat dengan pria iblis ini! Aku ingin pulang ke indonesia bertemu dengan ayah dan ibuku.
" Aku ingin pulang ke indonesia!" Kataku kearahnya.
" NOPE!" katanya tandas. Aku mengalah. Tidak juga sebenarnya karena lebih tepatnya aku kalah. Bagaimanapun aku tidak mampu melawan iblis ini. Mungkin jika aku memberengut lucu dia akan menurutiku. Cih! Tak sudi aku menampilkan wajah imutku didepan pria iblis ini. Menjijikan!
" Jangan memandangku seperti itu baby, nanti kau jatuh cinta"
" CIH!"
Kami pulang ke mansion dan aku pergi begitu saja menuju taman. Dia datang tak lama kemudian dengan makanan dan sebuah laptop. Sudah 3 hari ini dia mengurus segala perkerjaanya dengan benda pipih itu. Aku penasaran sebenarnya dia itu berkerja sebagai apa. Perusahaan apa yang dia punya? Tidak ada alasan menolak makanan yang dia berikan karena aku memang lapar.
" Kau harus segera ke kantor!" Kataku datar. Dia hanya tersenyum.
" Honey, kau ingin bulan madu kemana?" Tanyanya. Aku tersedak makananku seketika. Bulan madu?
" Kau pikir siapa yang mau kau sentuh! Dasar tidak punya urat malu! Kalau orang jawa bilang kau itu Rai gedek, gak punya malu!" Kataku seraya menghabiskan air putih digelas.
" Bagimana jika--"
" Kita tidak akan kemana-mana. Jangan bermimpi!" Kataku seraya pergi meningalkannya dengan membawa makananku. Kulihat dia mendesah kecewa. Enak saja dia seenaknya bilang mau bulan madu, menikah aja kalau bukan karena diancam aku tidak mau.
Aku berjalan cepat menuju dapur. Menaruh kembali piring makanku di meja dan entah kenapa aku ingin membuat makananku sendiri. Selama disini makanan selalu dengan cita rasa itali. Aku ingin gado-gado. Atau ayam penyet, lotek, sayur gudek, ohh perutku sekarang benar-benar ingin makan soto!
" Ada yang bisa saya bantu nona?" Salah satu pelayan datang menghampiriku ketika melihatku membuka kulkas.
" Apa ada kunyit? Juga kencur dan ketumbar? Daun salam?" Kataku padanya. Dia terlihat bingung dengan apa yang kuucapkan. Aku penasaran apa nama bahan-bahan itu dalam bahasa itali.
Pelayan itu terlihat bingung hingga kemudian Ryu datang melihat kami.
" Apa yang kau lakukan? Mencari sesuatu?" Tanyanya.
" Ya. Pinjam ponselmu!" Kataku padanya. Dia mengerutkan keningnya bingung tapi sejurus kemudian mengambil ponselnya. Aku mengetikan nama dari bahan yang ku butuhkan dan memperlihatkanya ke Ryu.
" Apa ini?"
" Aku butuh itu!"
" Ya tapi masalahnya aku bahkan tidak tahu apa ini!" Katanya seraya melihat kembali dengan jelas gambar yang kutunjukan padanya. " Dan dimana ponselmu? Kau memiliki ponselmu sendiri!"
" Tidak berguna!" Kataku masam pada akhirnya. Ryu mendelik kesal mendengar perkataanku. Tapi sejurus kemudian dia mendesah pasrah.
" jika bukan karena kau istri Leonel aku sudah pasti akan membawamu ke Hutan belantara!" Katanya dongkol. Aku menyungingkan senyumku.
" Berburu rusa? Kau bisa berburu rusa jika pergi ke hutan!"
" Ya Tuhan ini membuatku gila! Bagaimana leonel bisa jatuh cinta padamu?" Kata Ryu dan dia berlalu pergi begitu saja. Benarkah pria iblis itu jatuh cinta padaku? Apa aku harus mencintainya dan bersikap ramah padanya? Ah tidak mungkin!