Episode 10

2590 Kata
Dia mengajakku kesebuah pasar malam yang menjual banyak makanan, liurku terasa meleleh. Aku meminta banyak makanan penutup. Ice cream, kue dan entahlah. " Lenonel, kau suka pergi kepasar malam juga?" Seorang gadis cantik datang menghampirinya. Aku tidak tahu kenapa tapi tangganku reflek memegang lengan pria iblisku. Gadis cantik itu memandang kami sedikit terkejut, warna bola matanya yang berwarna abu-abu terang membuatku takjup. " Hai, Anna apa kabar? Iya, istriku ingin jalan-jalan ke pasar malam--" " Aku tidak ingin! Kau yang memaksa!" " Ya honey, tapi kau memesan banyak makanan dan satu-satunya makanan yang sudah kau makan hanya ice crem vanila ini dari sekian banyak kantong yang kubawa" " Anakmu tidak mau makan karena melihat wajahmu!" Jawabku ketus. Dia tertawa pelan. " Honey, kau sanggat mengemaskan! Jangan banyak alasan, kau harus memakan apa yang sudah kau beli!" " Anak? " tanya Anna penasaran. Aku hanya diam sementara leonel menganguk pelan. Wajah perempuan itu sulit dijelaskan dan kurasa dia menyimpan hati untuk leonel. Rasa kecewa dan sakit hati terlihat jelas diraut wajahnya sekarang. Anna mati-matian mencoba menghentikan air matanya tapi dia tidak bisa. Air mata itu jatuh begitu saja. Apa aku atau leonel menyakitinya? Apa dia pernah memiliki hubungan dengan Leonel? " Tunggu, kapan kalian menikah? " " Lusa, kau bisa datang Anna? " " Lenoel, kukira aku bisa mengambil hatimu!" Katanya pasrah. Air mata itu kini mengalir deras dan aku dengan tidak tahu dirinya hanya diam seraya menikmati ice cream dan drama didepan mataku. Dimana rasa ibaku? Wajah leonel mengeras ketika perempun itu berkata. Wajahnya seperti menujukan bahwa dia tidak perduli. Aku memandanh perempuan itu yang kini juga memandangku. Jujur, dari segi apapun aku kalah! Dia mengunakan pakaian branded, tas mahal, make up tipis tapi menawan, dan rambut pirang serta mata yang indah. Aku melihat diriku sendiri, rasa malas menghantuki, kenapa aku tidak secantik dirinya? " Kau terlalu banyak berharap! Aku tidak melakukan apapun!" Kata leonel dingin. Aku menatapnya. Leonel tampan! Dengan rambut hitam lebat, wajah yang seperti dewa yunani, dengan cabang dan rambut halus disekitar rahang dan pipinya. Tinggi badan yang kurasa 187 atau lebih, dengan badan yang sempurna! Jika disandingkan denganku sungguh seperti malaikat dan tukang kebunnya! Aku menghentakan tangganku sebal. Ada apa dengan mood ku? Mengetahui fakta bahwa aku jelek membuatku murung dan ingin memukul leonel. Tunggu, dia pria iblis! Dia yang menyeretku ketempat ini, dia juga yang telah membuatku merasa nyawaku tak ada gunanya. Lantas kenapa aku mengaguminya? Ada yang salah dengan otakku! " Honey, kenapa ?" " Aku benci kamu!" Leonel mengerutkan keningnya bingung. Tapi aku melanjutkan perkataanku dengan tidak tahu malunya. " Kau terlihat tampan dan perempuan itu terlihat cantik! Dan aku seperti pembantumu! Kenapa kau tidak dengan dia saja!" Seketika pria iblis tampanku tertawa. Dia memelukku, ditempat umum! Menciumi pipiku dengan sangat cepat. Ada apa dengan diriku? Ya Tuhan, mana urat maluku? " Aku mau pulang!" Kataku malas. Kuhentakan kakiku meninggalkan mereka berdua. Bodyguard yang tadi berjalan jauh dibelakangku sekarang berlari panik menghampiriku. Berjalan posesif disekelilingku sementara pria iblisku masih berbincang dengan wajah dingin dengan perempuan yang sekarang berwajah sembab. Aku sebenarnya tidak tega tapi aku tidak tahu kenapa aku merasa bangga saat leonel mengatakan bahwa aku istrinya. God! Arsy! Dia iblis! Dan kau sebentar lagi akan jadi seorang istri dari iblis! Aku masuk kedalam mobil, dan para boduguardnya berdiri disamping mobil. Beberapa menit kemudian leonel datang dengan plastik makanan penuh serta sebuah boneka beruang putih ditanggannya. Dia mengacak rambutku pelan, lalu mencium keningku lama. Jujur, aku menikmatinya. Aku mendorong tubuhnya pelan. Ada apa denganku Tuhan? Kenapa aku jadi seperti ini? Jadi seperti ini rasanya di cium pria tampan? Dedemit! Lupakan hal gila ini Arsy! " Honey, keningmu berkerut hebat" katanya manis. Arghhh, aku frustasi! " Jadi aku tampan?" Tanyanya lagi mengodaku. Aku memukul wajahnya malas. Kenapa dia jadi seperti ini! Kupeluk boneka beruang yang baru saja kudapatkan darinya. Aku memalingkan wajahku darinya, lalu dengan kasar aku melepas gegaman tanggannya di tangganku. Aku tidak mau meledak karena sekarang jantungku terpompa keras. Dia tertawa pelan, lalu membiarkan diriku tanpa mengodaku lagi. Aku mengantuk! Anak ini mengajak diriku untuk terus tidur. Dan kau tahu, ketika aku terbangun aku sudah berada didalam kamar dengan selimut dan leonel yang memelukku. Kulihat dari jendela malam sudah datang. " Pergi!" Kudorong tubuhnya menjauh dariku tapi bukannya menjauh malah semakin melekat. Aku menyerah! " Aku ingin kamu! Dan aku udah gak bisa nahan lagi!" Katanya pelan dan tepat ditelingaku. Tubuhku seketika merinding. Dia dengan tiba-tiba mencium pipiku, melumat telingaku dan kenapa aku ingin lebih? Ciumannya terus berlanjut, bahkan dia membuat kismark dileherku. " Ahhh, leo.. nell.. hentikan!" Kucoba mendorong tubuhnya, tapi justru aku yang semakin terdorong. Dia mengunci tangganku diatas kepalaku, lalu melumat bibirku lembut. Benar-benar lembut sehingga membuatku merasakan gelayar aneh hingga sampai keubun-ubunku. " Yes honey, sebut namanku" " Leonel, ahh... hentikan.. leo.. " " Settt, nikmati ini honey!" Tanggannya dengan nakal meremas dadaku lembut, aku mendesah hebat. Lalu dibukanya bajuku dan dia melumay dadaku lembut. Membuat tubuhku bergetar hebat. Tidak lagi ada penolakan karena tubuhku pun seperti meminta dan mendamba sentuhannya. Tanggannya terus turun hingga sampai pusat tubuhku. Aku mendesah hebat ketika jarinya masuk dilubang surgawiku. Tapi karena aku masih terlalu sempit, tangganya membuatku merasakan sakit. " Leonel sakit!" Pekikku tertahan. Dia seketika berhenti, lalu dengan pelan mencabut tangganya. Aku merasakan kehilangan tapi aku hanya diam. " Sory honey, aku akan pelan" dia memposisikan badanya dibawahku dan kemudian kurasakan lidahnya lembut menari dipusatku. " Arghh, leonel.. please, stop it!" " Nikmati ini honey!" Aku menyerah, ketika kurasakan tubuhku tidak mampu menahan serangan-serangannya. Rasa yang membuat tubuhku seketika lemas, aku terengah-engah ketika aku sampai pada orgameku. Leonel kembali mencium bibirku pelan, menelusupkan lidahnya kedalam rongga mulutku dan mengabsen segala hal yang ada di dalamnya. " Honey... " Sedetik kemudian kurasakan kakiku terbuka lebar olehnya dan juniornya sudah siap menembus diriku. Aku menatap ngeri melihat betapa besar dan panjang dirinya. Tidak akan muat! " Ahhh... leonel... " Tapi nyatanya dia mampu berada didalam diriku dengan penuh. Membuatku bergerak pelan karena dia tidak melakukan apapun dan hanya diam dengan masih mencium bibirku. Rasanya menganjal, aku engan mengakui bahwa itu nikmat. Berlahan dia bergerak pelan membuatku mendesah tidak karuan. Apa ini rasa nikmatnya b******a? Bagaimana mungkin aku menikmati ini sementara aku tidak menyukainya? Atau hatiku yang sudah membodohi otakku sehingga sikapku melunak dengannya? Aku bahkan tidak sadar kapan dia melepas pakaianku juga pakaian yang dia kenakan. Tunggu, bukankah semenjak aku bangun dari tidur tadi aku tidak mengenakan apapun? " Ohhh, honey... " dia mendesah pelan, melumat bibirku, leherku bahkan gundukan kenyal didadaku pun tak luput dari lumatannya. Dia terus memompa tubuhku, dan aku jangan ditanya harus bagaimana. Aku membiarkan tubuhku mengambil alih pikiranku. Rasa nikmat membuatku terus melayang tampa mampu memikirkan apapun. Pikiran kosong, hanya kenikmatan tiada tara yang baru kutemui. " Ohh, honey.. aku hampir sampai.. Ohh, Honeyy!" Leonel ambruk begitu saja diatasku setelah kurasakan cairan hanggat memenuhi rahimku. Aku lelah! Entah berapa kali aku o*****e, masih sempat kurasakan dia mencium kening dan pipiku sebelum akhirnya melumat bibirku pelan. " Good night honey, have a nice dream!" Leonel membenarkan letak selimut kami, lalu menekan tombol remote yang membuat lampu mati seketika. Aku merapatkan tubuhku kedirinya dan dia memelukku erat. Aku takut gelap tapi berada dipelukannya membuatku merasa aman. Lucu, tapi aku merasa aman di pelukan iblis seperti dia. Tidak mungkinkan aku jatuh cinta padanya? Anggap saja ini ulah bayi yang kukandung! **** " it's day, it's the day!" Luis berteriak kegirangan memutariku yang sedang mengunakan baju pengantin. Aku hanya diam, kulihat diriku terlihat begitu cantik dilayar cermin, hiasan yang sederhana, gaun yang terlihat sederhana juga tapi sungguh memiliki kesan sanggat mewah. Luis ikut bercermin dengan diriku dan dia asik memuji penampilannya yang luar biasa. Sejak aku terbangun, leonel tidak lagi berada disisiku, tapi dia berbaik hati menyalakan semua lampu sehingga aku tidak merasa ketakukan ketika mataku terbuka. Dimana dia sekarang aku tidak tahu, bahkan jika dia menghilang dihari pernikahan ini aku juga tidak perduli. Tapi kurasa dia tidak akan melarikan diri dari hari ini. " Luis, bisa tinggalkan kami sebentar?" Katanya pelan. Luis menganguk lalu pergi begitu saja. Sementara aku menundukan wajahku karena malu. Kejadian semalam dan penampilanku hari ini sungguh membuat wajahku terasa memerah. " kau sanggat cantik honey" katanya seraya merapikan rambutku yang sebenarnya sudah sanggat rapi oleh penata rias itu. Kurasa dia penata rias yang sanggat terkenal. " Aku ada hadiah untukmu, semoga kau menyukainya" katanya lagi seraya mencium keningku sebelum akhirnya dia pergi. Oke, jadi mana hadiahnya? Setelah dia pergi seseorang masuk keruanganku dan langsung berlari memelukku. Tubub yang lebih besar ini, rambut hitam legam ini dan wanggi parfum ini, Ersya? " Ohh, jangan menangis kakak, make up mu akan luntur!" " Ayah, ibu apa dia ikut? " " hanya aku, maaf tapi aku tidak ingin kesehatan mereka menurun dan indonesia ke itali sungguh memakan waktu yang lama. Aku lelah tapi melihatmu dalam gaun ini sungguh luar biasa" katanya seraya memelukku. Aku menatap wajahnya, ini hadiah terindah bagiku. Dan sekarang bayanganku didampingi oleh luis serta Ersya dihari besar ini akan menjadi nyata. " Bagaimana kau datang?" " Tentu saja pacar mu datang kerumah mengatakan segalanya dan dia juga yang membawaku kesini. Ralat, bukan dia tapi asistennya. Aku bertemu dengannya 1 bulan yang lalu, dia pria yang tampan. " " Satu bulan yang lalu? Dia kerumah? " " Ya, beberapa kali kak, mungkin ini pertemuan ke 4 ku," katanya manis. Pintu kembali terbuka, memunculkan Luis juga Leonel. Luis menarik tanggan Ersya dan membawanya keluar setelah membisikan sesuatu yang aku tidak tahu. Tinggal diriku dan leonel. Pria iblis yang sebentar lagi akan menjadi suamiku! " Kau menyukainya? " tanyanya pelan. " Terimakasih" kataku manis. Bagaimana pun bertemu dengan Ersya sudah merupakan hadiah terbesar untukku. " Wellcome, honey" Pernikahan ini digelar dengan megah, bahkan artis-artis dari luar negeri pun datang. Juga orang-orang penting yang sedari tadi diperkenalkan oleh leonel ke diriku. Aku hanya menganguk dan sesekali tersenyum. Petinggi negara, juga beberapa orang penting hadir diacara ini. Wow, sekaya apa suami iblisku itu? Pria iblis itu mengandeng tangganku kemanapaun, kakiku terasa lelah. Bahkan setelah jamuan makan malam, acara masih terus berlanjut. Ersya pergi bersenang-senang dengan Luis, dan sudah kukatakan kepada Luis untuk tidak memberinya alkohol. Leonel mengajakku berdansa, walaupun sudah berkali-kali kukatakan aku tidak bisa berdansa tapi dia masih tetap membawaku kekerumunan. " Kau lelah honey?" Aku hanya diam, masih kuikuti gerakan tubuhnya yang pelan. Sungguh aku lelah, tapi aku takut mengatakannya pada leonel. " Terimakasih honey" katanya seraya menunduk mencium keningku, lalu bibirku sekilah. Bau alkohol dari mulutnya sontak membuatku mual. Aku membekap mulutku dengan dadanya. Menghirup aroma tubub dan parfum yang dia gunakan tapi itu tidak membantu. Oh, bayi dalam perutku sudah mulai protes. " kamar mandi!" Aku menarik tangganya, berjalan tergesa menuju kamar mandi, menjahui kerumunan yang sempat beberapa kali mencoba menghentikan kami. " Honey?" " Kau minum alkohol!" Kataku masam. Perutku semakin bergejolak. Aku sudah tidak tahan, dan aku memuntahkan makan malamku ditangganku. Padahal kamar mandi tinggal beberapa langkah, kenapa anak ini tidak sabaran seperti ayahnya. " Honey, kau kelelahan? Maafkan aku honey" dia membopong tubuhku menuju tandas, membantuku memebersihkan tangan dan muntahan dari mulutku. Leonel bahkan langsung mengambil minyak dan mengoleskannya keperutku. Aku malu, gaun yang kugunakan harus dia angkat hingga sebatas d**a, menampakan kakiku yang jenjang dan hanya celana dalam hitam yang menutupi kemaluanku. " aku bisa melakukannya sendiri!" Kataku akhirnya tapi dia bersikeras untuk melakukannya. Dan dia adalah iblis yang keinginannya harus terpenuhi. " Aku akan mengambilkanmu pakaian, tunggu sebentar" katanya kemudian. Dia meningalkanku sendirian. Mungkin menikah dengannya tidaklah buruk, dia mengusahakan apa yang menjadi bahagiaku bukan? Ketika aku sedang bercermin, kudengar suara sepatu masuk, tapi itu bukan sepatu leonel. Maksutku kedengarannya seperti sepatu berhels tinggi. Bukankah kami berada dikamar mandi pribadi? " Hello manis, senang bisa berkenalan denganmu meskipun harus secara sembunyi karena leoneo tidak mengizinkan diriku dekat denganmu" katanya seraya tersenyum. Aku justru merasa sedikit ngeri dengan senyum manisnya. Dia perempuan dengan gaun hitam yang megah dan riasan yang sedikit tebal. Mungkin berumur 40 tahun? Tapi masih sanggat muda. Wajahnya seperti keturunan cina. " Anda? " tanyaku pelan. Kutampilkan senyum manisku. Leonel sudah mengatakan bahwa ayah dan ibunya meningal beberap tahun yang lalu. Dan dia tidak memiliki saudara. " Aku bibinya. Leonel harus ekstra keras menjagamu kurasa karena dirimu adalah pusat keterpurkannya. Ah, sulit membayangkan bagaimana jika dia kehilangan dirimu lagi manis" katanya masih dengan senyuman yang mampu membuat bulukudukku merinding. Kenapa dia mengatakan kata yang menyedihkan dengan sebuah senyuman penantian? " Aku harus segera pergi, kita mungkin akan sering bertemu manis. Jangan jauh-jauh darinya atau kau akan diculik seorang perempuan tua. Sampai jumpa" Aku berpegangan kuat dengan meja. Jika tidak tubuhku mungkin sudah luruh kelantai. Aku takut! Leonel... " Honey? " hampir saja aku terjatuh karena mendengar perkatannya. " Siapa yang baru saja mengunjungimu? " tanyanya. Aku yakin dia masih bisa mendengar suara langkah kaki yang semakin menjauh. " Seseorang yang berkata bahwa dia bibimu" leonel mengeraskan rahangnya, sungguh sangat kelihatan olehku. Dia menaruh pakaian yang dia bawa begitu saja dimeja lantas menarik tubuhku menuju lantai atas. Lantai atas lebih banyak penjaga. Dan ruangan itu hanya berisi beberapa orang kepercyaan leonel. " Apa yang dia katakan? " tanyanya. Aku menatapnya bingung. " Maksutnya?" " Katakan apa yang dia katakan. Semuanya!" Jawabnya seraya membawaku ke walk in closet kamar kami. Membuka berlahan gaun yang kugunkana dan membuangnya asal sehingga kini aku melihat diriku sendiri hanya berbalut pakaian dalam dicermin. " Berikan bajuku! Aku bisa melakukannya sendiri dan tutup matamu!" Kataku. Aku berbalik cepat menutup kedua matanya dengan tanganku. Dia hanya tersenyum kecil tapi tidak mengalihkan tangganku dari matanya. " Baiklah, aku akan menutup mataku. Kau bisa menganti bajumu. Setelah itu katakan apa yang perempuan itu katakan" Berlahan aku menarik tangganku setelah memastikan dia benar-benar menutup matanya. Aku berpakaian cepat. Memilih pakaian secara asal karena gaun yang diambilkan leonel untukku dia taruh begitu saja dilantai bawah. " Sudah" kataku pelan. Dia membuka matanya. Lalu menarik tangganku agar aku duduk disebalahnya. " Jadi?" " Apa?" Tanyaku bingung. Dia merasa gemas tapi aku sungguh tidak tahu. Leonel mengecup bibirku sekilas. Kemudian membawaku duduk dipangkuanya. Aku tidak suka seperti ini karena kurasakan sesuatu dibawah bokongku mulai mengeras. " Turunkan aku. Aku tidak mau, terasa tidak nyaman dan menganjal!" Kataku polos. Dia terkekeh pelan. " Semakin kau bergerak semakin dia mengeras. Katakan apa yang perempuan itu katakan sayang. Semuanya. " " Dia berkata selamat untukku atas pernikahan ini--aku tidak mau menikah denganmu! Tapi kau memaksa. Dan mengatakan bahwa kau harus menjagaku sunguh-sunguh karena sekarang akulah sumber segala keterpurukanmu. Maksut kata itu apa? " Leonel mengecup pipiku cepat. " Hanya itu? " aku hanya menganguk menjawab pertanyaanya. " Dimana Ersya? " tanyaku. Aku merindukan adikku. Karena sejak tadi pagi Luis sudah menguasai adiku. Mengajaknya kesana dan kesini. " Dia sudah tidur dengan Luis. Kau merindukanya? " " Ya" " Kau akan menemuinya besok pagi di waktu sarapan. Dan sekarang, buat dia tertidur" katanya seraya melumat bibirku. Aku menolak keras. Bau alkohol membuat bayinya protes. Apa Leonel belum sikat gigi. " Honey..?" " Pergilah gosok mulutmu! Kenapa kau minum alkohol tapi tidak mabuk?" Aku turun dari pangkuannya dan berlari menuju kamar mandi. Kembali memuntahkan makan malamku yang hanya sedikit. Leonel menyusulku, mengusap tengkukku dan memijatnya. " Jangan berlari honey, kau bisa memuntahkan di lantai. Aku tidak suka kalau kau berlari. Bagaiman jika kau jatuh?" Katanya khawatir. Aku tidak berbohong dia benar-benar khawatir. Mungkin bukan aku yang dia khawatrikan tapi bayinya. " Aku mau mandi!" " Aku juga, kita mandi bersama" " Tidak mau!" " Menolak adalah langkah yang salah honey!" Dia benar-benar menelanjangiku dikamar mandi, tapi dia cukup manusiawi ketika tidak menyentuhku lebih karena tubuhku sudah benar-benar lelah. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN